Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
193. Perasaan Dito


__ADS_3

Kautsar mengusap punggung Aruna dengan lembut untuk menyadarkan sang istri dari lamunan panjangnya.


" Kamu gapapa Sayang...?" tanya Kautsar dengan lembut.


Meski suara Kautsar terdengar lirih namun masih bisa didengar oleh Aruna dan Kenzo. Aruna tersenyum sambil mengangguk sedangkan Kenzo nampak menatap kagum kearah pasangan suami istri di depannya.


" Aku gapapa kok. Kamu ga usah khawatir ya...," kata Aruna sambil balas mengusap punggung tangan Kautsar dengan lembut.


" Ehm, jadi gimana Run. Apa yang harus Kita lakukan...?" tanya Kenzo.


" Ruh bayi Amanda masih berkeliaran Ken. Niat Gue cuma satu yaitu membantu bayi itu menyebrang ke tempat seharusnya. Kalo ada sesuatu yang terjadi sama Pak Dito nanti anggap aja itu bonus...," sahut Aruna.


Kenzo dan Kautsar saling menatap sejenak. Keduanya paham apa yang dimaksud Aruna. Entah mengapa ada kengerian saat Aruna mengatakannya dan itu membuat Kenzo bergidik.


\=\=\=\=\=


Dito baru saja siuman dan sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Ia tahu jika saat ini dirinya tengah berada di klinik perusahaan.


Seorang dokter dan perawat masuk untuk mengecek kondisi Dito.


" Saya Gapapa kan dok...?" tanya Dito basa basi.


" Alhamdulillah Pak Dito baik-baik aja. Ga ada penyakit serius hanya kelelahan...," sahut dokter.


" Syukur lah. Saya lega dengernya...," kata Dito sambil menghela nafas panjang.


Sang dokter dan perawat pun nampak tersenyum. Lalu sang dokter memberikan beberapa jenis obat kepada Dito.


" Ini hanya vitamin Pak Dito. Bisa membantu Pak Dito agar cepat pulih ke kondisi normal...," kata sang dokter yang paham arti tatapan Dito.


" Ok, makasih dok...," sahut Dito.


" Sama-sama. Sekarang Pak Dito bisa istirahat sampe merasa enakan. Kami tinggal dulu ya Pak Dito...," kata sang dokter.


" Iya dok...," sahut Dito lalu segera meminum obat pemberian sang dokter.


Setelah meminum obat Dito kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dito memejamkan matanya dan kembali teringat apa yang dilihatnya di halaman belakang gudang tadi. Dito bergidik lalu bangkit kembali sambil menatap ke sekelilingnya dengan gusar.

__ADS_1


" Kenapa hantunya mirip sama Kenzo ya...," gumam Dito sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar.


Nafas Dito seolah terhenti di tenggorokan saat ia melihat sosok pria berdiri di sudut ruangan sambil menunduk. Pria yang mengenakan seragam karyawan gudang itu hanya diam seolah menunggu untuk disapa.


" Si... siapa Kamu...?" tanya Dito gugup.


Tak ada sahutan tapi perlahan pria itu mengangkat wajahnya lalu menatap Dito lekat. Meski wajahnya pucat, tapi Dito masih bisa mengenali pria itu.


" Reza. Sejak kapan Kamu kerja di sini...?" tanya Dito sambil menatap seragam yang dikenakan pria itu dengan tatapan tak percaya.


" Aku bukan Reza...," sahut pria itu dengan suara datar.


" Kalo bukan Reza, terus Kamu siapa ?. Mau apa di sini...?!" tanya Dito kesal.


Pria itu tersenyum lalu menghampiri Dito. Saat tiba di hadapan Dito pria itu mengarahkan kedua tangannya ke leher Dito lalu mencengkeramnya erat.


Dito mencoba melepaskan diri namun sayangnya cekikan pria itu terlalu kuat. Saat nafasnya hampir putus, Dito melihat bayangan bayi dengan tali pusat menjuntai melintas di belakang pria itu. Dito mengulurkan tangannya seolah ingin meminta bantuan.


Bayi itu menoleh lalu menggelengkan kepalanya. Kemudian ia berlari menjauhi Dito dan meninggalkan Dito dalam kondisi kepayahan sambil mengucapkan sesuatu.


" Pembunuh..., pembunuh...," kata bayi itu berulang-ulang hingga akhirnya Dito kembali jatuh pingsan.


\=\=\=\=\=


Saat itu Dito dalam kondisi tanpa busana dikelilingi cairan berwarna merah pekat yang ia yakini sebagai darah. Tiba-tiba sebuah tangan besar nampak terkembang kearahnya lalu menarik tubuhnya dengan sangat keras hingga tersentak ke depan.


Dito merasa sakit bukan kepalang saat tangan besar itu mengeratkan genggaman tangannya. Tubuh Dito serasa remuk bersama tulang yang juga remuk. Darah keluar dari berbagai lubang di tubuhnya. Dan Dito pun sekarat.


Saat tubuhnya remuk tak berbentuk, sebuah tali terulur kearahnya lalu mengelilingi tangan dan kakinya. Dalam sekejap kedua tangan dan kaki Dito terikat oleh tali itu hingga rasa sakit yang ia rasakan bertambah beberapa kali lipat.


Dan saat itu lah Dito sadar jika apa yang ia rasakan sama persis dengan apa yang dilakukan sang dukun pada bayi Amanda. Kemudian Dito juga merasa dibaringkan di suatu tempat dalam kondisi tubuh berlumuran darah. Dito tahu itu adalah peti dimana sang dukun menyimpan bayi Amanda.


Dito menjerit sekali lagi saat melihat pintu peti ditutup rapat. Dito pun meraung memohon agar dilepaskan. Tapi tak satu pun datang untuk menyelamatkannya.


Saat suaranya hampir habis karena terus menjerit, sebuah suara menegurnya.


" Sakit bukan ?. Itu lah yang Aku rasakan saat Kau meminta dukun itu menghabisiku...," kata sebuah suara lirih dan sedih.

__ADS_1


Dito menoleh dan mendapati bayi Amanda berdiri sambil menatapnya dengan tatapan sedih.


" Apa salahku Kakek ?. Kenapa Kau membenciku. Kenapa Kau membunuhku. Bisa kan Kau biarkan Aku hidup...?" tanya bayi Amanda.


Pertanyaan serupa terus menggema hingga membuat Dito menjerit sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ada darah mengalir dari sela jari tangannya yang makin lama makin banyak.


Dito membuka matanya dan terkejut saat berada di sebuah kamar yang ia kenali sebagai kamar Amanda.


Dito mengedarkan pandangan dan menyadari jika itu adalah malam pernikahan siri Amanda dengan Hambali, pria yang ia pilih untuk menikahi Amanda.


Di atas tempat tidur yang dihiasi bunga-bunga terlihat Amanda tengah menangis sedih. Rupanya Amanda tak ingin menikah dengan pria yang seusia ayahnya. Selain itu Amanda merasa tak mencintai Hambali.


Melihat Amanda menangis membuat sisi hati Dito bergetar. Ia sadar telah mengabaikan rasa sayangnya pada Amanda karena kemarahannya saat mengetahui kehamilan Amanda.


Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Hambali yang berdiri di ambang pintu dengan pongah. Melihat sosok Hambali saat itu membuat Dito muak.


" Menjijikkan sekali tingkahnya. Tapi kenapa Aku ga ngeliat itu semua saat dia datang melamar Amanda...," gumam Dito penuh rasa sesal.


Setelah menutup pintu Hambali nampak melangkah mendekati Amanda yang meringkuk di sudut kamar dengan tubuh bergetar dan wajah ketakutan.


" Kemari lah Amanda. Layani Aku...!" panggil Hambali sambil mulai melucuti pakaiannya.


" Aku ga mau...!" sahut Amanda.


" Jangan sok suci Amanda. Aku tau Kau sering melakukan itu dengan pacarmu...," kata Hambali mencoba bersabar.


Amanda kembali menggeleng. Tangisnya pun semakin kencang namun Hambali tak peduli. Dengan kasar ia menarik Amanda lalu melemparnya ke atas tempat tidur. Amanda nampak meringis menahan sakit saat tubuhnya membentur sandaran tempat tidur.


" Harusnya Kau berterima kasih padaku karena Aku masih mau menikahi perempuan bekas pakai macam Kamu Amanda !. Jadi ga usah bertingkah dan puaskan Aku sekarang...!" kata Hambali lantang sambil mulai mengoyak pakaian Amanda.


Amanda kembali menjerit dan berusaha kabur. Namun usahanya sia-sia. Dengan beringas Hambali menarik Amanda lalu menggaulinya dengan paksa. Terlihat Amanda sangat kesakitan saat Hambali memaksa melayaninya. Air mata nampak mengalir deras di wajah pucatnya.


Dito yang menyaksikan kebrutalan Hambali pada Amanda pun ikut menangis.


" Ya Allah, apa yang telah Kulakukan. Amanda, maafkan Papa Nak. Papa telah menghancurkan hidupmu. Benci lah Papa sebesar yang Kau mau. Tapi tolong maafkan Papa Nak...!" kata Dito di sela tangisnya.


Tangis Dito makin keras saat melihat Hambali masih melampiaskan hasratnya pada Amanda yang sudah dalam kondisi tak sadarkan diri akibat tak kuasa menanggung rasa sakit.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2