Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
312. Hampir Aja


__ADS_3

Setelah kepergian Rasyid, Sheina nampak menghela nafas lega. Kemudian ia berlari ke balkon hotel setelah memadamkan lampu.


Di dalam kegelapan Sheina berdiri sambil menatap ke bulan purnama yang bersinar di langit. Ada kecemasan di wajahnya. Air mata pun nampak mengembang di kedua matanya hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa iba.


" Kenapa sekarang ?. Aku baru ingin memulai hidup berumah tangga dengan pria yang Aku cintai. Tapi kenapa takdir tak berpihak padaku. Apa salah jika Aku ingin mereguk manisnya bulan madu tanpa kutukan ini...?" gumam Sheina sambil menangis.


Perlahan namun pasti air mata menetes membasahi wajah cantik Sheina. Bersamaan dengan itu perubahan pun terjadi pada diri Sheina hingga sesaat kemudian wujudnya benar-benar berubah menjadi manusia serigala.


Sebelum melesat pergi manusia serigala jelmaan Sheina melolong panjang. Suaranya menggema di langit hingga membuat bulu kuduk meremang.


Suara itu juga terdengar oleh Rasyid yang sedang duduk di loby hotel. Rasyid langsung menoleh ke langit karena mengira suara itu berasal dari langit, terdengar jauh dan asing namun tetap membuat hatinya bergetar.


" Ya Allah, suara apaan tuh. Serem banget...," gumam Rasyid sambil menggedikkan bahunya.


Rasyid masih duduk di tempat semula dan kembali melanjutkan obrolannya dengan Raka melalui sambungan telepon.


Tiba-tiba Rasyid tersadar jika suara lolongan aneh itu pernah didengarnya di suatu tempat. Entah mengapa Rasyid teringat pada makhluk hitam berbulu yang memangsa anak perempuan di belakang toilet Rumah Sakit itu.


" Sorry Ka. Gue harus balik ke kamar. Kasian Sheina sendirian...," kata Rasyid.


" Lah gimana sih Lo. Masih pengantin baru tapi udah jauh-jauhan. Kalo kaya gitu caranya Gue maklum kalo Sheina sampe ngambek dan ga ngasih jatah Lo malam ini...," kata Raka.


" Apaan sih Lo. Udah dulu ya Ka. Assalamualaikum...! " kata Rasyid mengakhiri pembicaraan.


Setelahnya Rasyid bangkit dari duduknya lalu ia melangkah cepat menuju kamar tempat istrinya berada. Rasyid merasa khawatir jika makhluk hitam berbulu itu mendatangi istrinya.


Rasyid juga mencoba menghubungi ponsel sang istri tapi sayangnya Sheina tak merespon panggilannya.


" Ayo diangkat dong Sayang...," gumam Rasyid tak sabar.


Rasyid tiba di depan pintu kamar. Ia mematung sejenak karena ingat jika Sheina meminta waktu untuk sendiri tadi. Tapi perasaan tak nyaman yang melingkupi hatinya memaksa Rasyid masuk ke dalam kamar.


Rasyid terkejut saat mendapati kamar dalam keadaan gelap. Rasyid menghidupkan lampu kamar dan melihat ruangan yang kosong meski pun dalam kondisi rapi. Rasyid pun menoleh kearah balkon saat melihat tirai penutup jendela balkon berkibar tertiup angin.


Rasyid bergegas menuju balkon sambil memanggil nama istrinya.


" Sheina Sayang. Kamu dimana...?!" panggil Rasyid.

__ADS_1


Tak ada sahutan. Rasyid pun berbalik arah saat tak melihat Sheina di sana. Rasyid diliputi rasa cemas saat ia tak menjumpai istrinya di mana pun. Ia kembali menghubungi istrinya dan terkejut mengetahui ponsel istrinya ada di atas tempat tidur.


Tiba-tiba Rasyid mendengar suara berdebum di balkon. Ia menoleh sambil memasang sikap siaga. Perlahan Rasyid melangkah menuju balkon dan terkejut bukan kepalang saat melihat Sheina tengah berdiri membelakangi pintu dengan rambutnya yang terurai lepas.


" Sheina...," panggil Rasyid lirih namun tetap terdengar oleh Sheina dan membuat wanita itu menoleh.


" Rasyid...," panggil Sheina sambil tersenyum manis.


" Kamu... darimana...?" tanya Rasyid hati-hati.


" Aku ga kemana-mana. Dari tadi Aku di sini aja kok...," sahut Sheina sambil melangkah mendekati Rasyid.


" Kalo Kamu emang daritadi di balkon kenapa ga jawab waktu Aku panggil...?" tanya Rasyid sambil mengamati Sheina dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Aku ga denger Kamu manggil Aku. Mungkin karena terlalu asyik nikmatin pemandangan alam dari balkon jadi suara Kamu ga terdengar...," sahut Sheina.


" Tapi Aku ga ngeliat Kamu di sana tadi...," kata Rasyid bersikeras.


" Masa sih. Apa Aku terlalu kecil sampe ga terlihat sama Suamiku sendiri..., " sahut Sheina merajuk.


" Bukan itu maksudku. Tapi Aku emang ga ngeliat Kamu di sana tadi...," kata Rasyid bingung.


Rasyid meneguk air liurnya dengan kasar karena melihat sosok Sheina yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia juga merasa asing di saat bersamaan.


" Dia Sheina atau bukan sih. Kenapa Aku ngerasa ada sesuatu yang berbeda sama dia...," batin Rasyid sambil menatap punggung polos Sheina.


Rasyid tersadar dari lamunan saat mendengar suara air mengalir di kamar mandi. Rasyid tahu jika saat itu sang istri tengah memancingnya untuk ikut bergabung. Namun entah mengapa Rasyid seolah kehilangan selera. Ia memilih duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Karena lelah berpikir, Rasyid pun tertidur di sofa. Tak lama kemudian Sheina keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan wajah yang tampak lebih fresh. Ia tersenyum melihat suaminya terlelap dalam posisi duduk bersandar.


" Hampir aja ketauan...," gumam Sheina sambil menghela nafas lega lalu bergegas mengenakan pakaiannya.


\=\=\=\=\=


Setelah menghadiri tasyakuran pernikahan Rasyid dan Sheina, Aruna harus segera dilarikan ke Rumah Sakit. Selain usia kandungan yang cukup, Aruna mengalami kontraksi hebat saat tiba di rumah. Beruntung Matilda dan George masih bersama mereka, hingga Kautsar tak terlalu panik saat melihat Aruna meringis kesakitan.


" Kita bawa ke Rumah Sakit sekarang Nak...!" kata Matilda lantang.

__ADS_1


" Iya Tante...," sahut Kautsar patuh lalu segera meraih tas berisi perlengkapan bayi.


" Jangan lupa baju ganti untuk Aruna. Jangan sampe setelah melahirkan Aruna justru ga pake apa-apa nanti. Kasian kan dia...," kata George mengingatkan.


" Kalo soal itu Om tenang aja. Tas ini udah diisi perlengkapan bayi dan ibunya kok...," sahut Kautsar sambil tersenyum.


" Bagus kalo begitu. Kita berangkat sekarang ya...," kata George sambil menggendong Aruna lalu membawanya pergi.


" Ayo Nak...," ajak Matilda sambil menggamit tangan Kautsar untuk mengikuti jejak suaminya.


Tak butuh waktu lama bagi mereka berempat untuk tiba di Rumah Sakit. Para petugas medis pun dibuat terkejut dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba itu. Namun perhatian mereka segera teralihkan saat Aruna mengerang kesakitan. Dengan sigap mereka membawa Aruna ke ruang bersalin.


Semula Aruna dijadwalkan melahirkan usai dokter Sheina pulang dari berbulan madu. Namun rupanya kedua bayi kembar dalam rahim Aruna tak sabar ingin melihat dunia hingga lahir lebih awal dari perkiraan dokter Sheina.


Beruntung dokter Sheina telah menunjuk dokter Fitria untuk menggantikan tugasnya jika sewaktu-waktu Aruna melahirkan saat ia tak ada di tempat. Dan saat Aruna dibawa menuju ruang bersalin, dokter Fitria pun segera menyusul.


Kautsar, Matilda dan George tampak mengikuti dari belakang. Langkah mereka terhenti di depan ruang bersalin saat pintu ruang bersalin ditutup.


" Suami Ibu Aruna...!" panggil seorang perawat saat Kautsar hendak melangkah ke kursi.


" Saya Suster...," sahut Kautsar.


" Dokter Fitria meminta Anda mendampingi Bu Aruna melahirkan...," kata sang perawat.


" Serius Sus...?" tanya Kautsar antusias.


" Iya Pak. Mari silakan masuk...," sahut sang perawat sambil tersenyum.


Kautsar pun tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam ruang bersalin untuk mendampingi istrinya melahirkan.


Di luar ruang bersalin George dan Matilda nampak menanti dengan cemas. Tiba-tiba sekelebat bayangan melesat cepat disertai angin yang cukup kencang. George dan Matilda tersenyum saat melihat kehadiran Orion di hadapan mereka.


" Aku pikir Kau terlalu sibuk untuk menyambut kelahiran Cucumu Nak...," kata George.


" Ternyata Aku ga bisa mengabaikan mereka Om. Aku pikir berada di dekat Aruna saat ia berjuang melahirkan bayinya adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Dan Aku di sini karena itu...," sahut Orion sambil tersenyum simpul.


George dan Matilda pun tersenyum mendengar jawaban Orion.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2