Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
149. Kembar Tiga


__ADS_3

Kehamilan Puri dilalui dengan penuh tekanan. Puri selalu ketakutan jika suatu waktu Edi melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya juga bayinya. Edi menjelma jadi sosok yang possesif dan pengatur. Meski pun tujuannya untuk kebaikan Puri dan bayinya, namun Puri merasa tak nyaman.


" Jangan lupa makan vitamin yabg kubeli ini. Ingat, harus habis. Kalo perlu tambahkan dosisnya...," kata Edi.


" Bukan Aku ga mau minum vitamin yang Kamu beli Bang. Tapi dokter udah ngasih vitamin untuk Aku minum. Aku ga mau kalo dicampur sama vitamin lain tanpa sepengetahuan dokter, bisa berbahaya untuk bayinya Bang...," sahut Puri yang diam-diam khawatir Edi akan meracuninya.


" Kau berani membantahku Puri. Aku ga mungkin membunuh Anakku, jadi berhenti lah protes ini dan itu. Lakukan saja apa yang Aku perintahkan...!" kata Edi lantang.


" Baik lah. Tapi sore ini Kita ada janji ketemu sama dokter kandungan. Apa Abang mau mengantarku...?" tanya Puri.


" Pasti lah. Tunggu Aku sampe Aku jemput Kamu nanti...," sahut Edi sambil berlalu.


Puri hanya terdiam sambil menatap Edi yang menjauh.


" Kenapa Kamu berubah Bang. Sekarang Kamu gampang sekali naik darah. Kamu juga kasar dan ga lembut lagi kaya dulu. Mana Edi yang dulu Aku cintai dan menyayangiku...?" gumam Puri sambil mengusap ujung matanya yang basah dengan jarinya.


\=\=\=\=\=


Setelah menjalani pemeriksaan rutin, diketahui jika Puri tengah mengandung tiga bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sudah barang tentu hal itu membuat Edi bahagia bukan kepalang. Misinya untuk mengalahkan Elan dalam jumlah anak dan jenis kelamin anak pun terwujud.


Kebahagiaan serupa juga dirasakan kedua orangtua Elan. Mereka bahagia menyambut kehadiran tiga orang cucu yang akan membuat rumah mereka ramai nanti. Sedangkan Elan dan istrinya hidup nyaman di kota H tanpa terusik dengan kehebohan Edi menyambut kehadiran ketiga buah hatinya itu.


Dan saat melahirkan pun tiba. Puri menjalani operasi ceasar untuk mengeluarkan ketiga bayinya. Dua bayi laki-laki dan satu bayi perempuan pun lahir dengan selamat. Mereka diberi nama Edwin, Edgar dan Cinta.


Ketiga bayi itu tumbuh dalam curahan kasih sayang dari kedua orangtuanya termasuk kakek dan neneknya.


Namun saat mereka memasuki usia satu tahun, Edi harus menerima kenyataan jika anak-anaknya tak sempurna. Edwin tak bisa melihat, Edgar tak bisa bicara, sedangkan Cinta menjadi anak yang tumbuh dengan keterbelakangan mental.


Edi yang semula bangga akan kehadiran ketiga anaknya itu mulai membenci mereka dan sering mengutuk mereka. Puri pun dibuat sedih karena perubahan sikap suaminya itu.


" Tiga anakku cacat. Apa yang bisa Kuharapkan dari mereka...," kata Edi tepat di hadapan Puri.

__ADS_1


" Mereka masih bisa sembuh andai Kau mau sedikit mengeluarkan uang lebih Bang. Tapi Kau terlalu pelit hingga ketiga anakku hidup terlantar tanpa pengobatan...," sahut Puri ketus.


" Jangan mulai lagi Puri !. Untuk apa Aku mengeluarkan uang banyak untuk anak yang tak bisa membuatku bangga. Setidaknya jadi lah anak yang bisa membuatku berharap dan bukannya menjadi beban untukku...!" kata Edi sambil tersenyum mengejek.


Puri terdiam. Bukan karena tak bisa menjawab ucapan suaminya. Tapi karena Puri lelah menghadapi sikap suaminya yang arogan itu.


Hari-hari yang dilalui Puri dan ketiga anaknya di rumah pemberian kedua orangtua Elan bagaikan di neraka. Edi tak lagi memperlakukan mereka dengan layak. Hampir setiap hari Edi marah pada anak dan istrinya itu. Puncaknya adalah saat ketiga anaknya berusia sepuluh tahun.


Kala itu Edi baru saja pulang dari kantor. Ketiga anaknya sedang bermain di ruang tengah. Mereka nampak bahagia. Namun kehadiran Edi membuat mereka takut lalu bergegas bangkit untuk masuk ke kamar.


Karena tergesa-gesa, Edwin yang tak bisa melihat itu menyenggol guci kesayangan Edi hingga pecah dan Edi marah besar.


" Dasar tol*l, Kamu itu ga bisa melihat. Bisa kan duduk diam tanpa menjatuhkan barang ?. Aku membelinya dengan uang tau...?!" maki Edi pada Edwin.


" Maaf Papa...," sahut Edwin sedih sambil menahan air matanya.


Lalu Edgar maju membela saudaranya. Ia protes pada sang papa yang telah memarahi kembarannya itu. Tapi karena tak bisa bicara, Edgar hanya bisa mengeluarkan suara aneh yang tak dimengerti Edi dan membuatnya makin marah.


" Apalagi ini. Kau mau ngomong apa ?. Jangan membantahku kalo Kamu ga bisa ngomong. Kalian berdua bikin kepalaku pecah. Laki-laki lemah, tak punya kekuatan, bod*h. Yang satu b*ta, yang satu bisu...!"maki Edi lebih keras lagi sambil mendorong Edgar hingga jatuh ke lantai.


Cinta yang juga melihat kedua saudaranya dimarahi sang papa pun mencoba membantu. Ia maju dan menarik ujung baju yang dikenakan Edi sambil bicara terbata-bata.


" Pap... Papa jangan ma... ma... ra... hin Ed... win dan... Edgar...," pinta Cinta.


Bukannya menuruti permintaan Cinta, Edi malah menepis tangan Cinta lalu mengatakan sesuatu yang membuat Cinta takut sekaligus sakit hati.


" Jangan pernah sentuh Aku. Kau bukan Anakku...," desis Edi sambil menatap tajam kearah Cinta.


Mendengar ucapan papanya membuat Cinta mundur ketakutan sedangkan Edi nampak tertawa puas. Di sudut lain Puri nampak berdiri kaku sambil membelalakkan mata melihat sikap suaminya itu.


" Bang Edi...!" panggil Puri lantang.

__ADS_1


Edi menghentikan tawanya lalu menoleh kearah Puri. Ia menunggu sang istri mengatakan sesuatu.


" Apa...?" tanya Edi santai.


" Apa yang Kamu bilang tadi Bang...?!" tanya Puri sambil mendekat kearah suaminya.


" Aku ga bilang apa-apa. Kalo Kamu ga percaya, Kamu bisa tanya sama ketiga anakmu itu...," sahut Edi.


Puri menoleh kearah ketiga anaknya dan ketiganya kompak menggelengkan kepala. Puri tahu ketiga anaknya berbohong karena tak ingin melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Setelah menghela nafas panjang Puri meminta ketiga anaknya masuk ke dalam kamar.


" Mama mau ngomong penting sama Papa. Kalian bertiga masuk kamar dulu ya...," pinta Puri dengan lembut.


" Iya Mama...," sahut Edwin mewakili kedua saudaranya.


Lalu Edwin mengulurkan tangannya dan Edgar pun sigap menangkap tangannya. Lalu keduanya berjalan bersisian menuju kamar. Sebelum masuk ke dalam kamar, Edwin dan Edgar menghentikan langkah mereka. Edwin memanggil Cinta karena tahu kembarannya tak bergerak dari tempatnya.


" Cinta sini...!" panggil Edwin.


Cinta tersentak mendengar panggilan saudaranya. Dengan langkah tertatih-tatih Cinta pun menghampiri dua saudara kembarnya. Sesekali Cinta menatap kedua orangtuanya seolah berharap mereka tak melanjutkan pertengkaran mereka.


" Mam... Mama...," panggil Cinta lirih.


" Kita di dalam aja ya. Mama mau ngomong penting sama Papa dan Kita ga boleh ganggu. Ga sopan...!" kata Edwin yang diangguki Edgar.


" Ga... so... pan...," ulang Cinta sambil menganggukkan kepalanya.


" Pinter. Ayo masuk...," kata Edwin sambil tersenyum.


Kemudian Edgar menggamit tangan Cinta dan membawanya masuk ke dalam kamar. Setelah memastikan Edwin duduk dengan benar di atas tempat tidur, Edgar pun melangkah menuju pintu dan menguncinya.


Puri menatap sedih kearah Edwin, Edgar dan Cinta. Ia melihat satu keistimewaan yang dimiliki oleh ketiga anaknya itu. Ikatan batin diantara ketiganya begitu kuat dan sulit diurai. Puri merasa itu adalah modal yang kuat untuk mereka menjalani kehidupan mereka nanti. Namun sayang suaminya tak bisa melihat itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2