Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
319. Perpisahan


__ADS_3

Jenasah Raka dijemput oleh keluarganya dan dibawa pulang ke Manado keesokan harinya. Yoga dan beberapa rekan polisi ikut mengantar jenasah Raka hingga ke peristirahatan terakhir. Namun Rasyid memilih tinggal karena harus mencari istrinya yang hilang.


Rasyid mencoba menemui Aruna untuk mencari jejak Sheina. Sebelumnya Aruna juga telah mengetahui kondisi Sheina dari Matilda dan George.


Kini Rasyid sedang menunggu kedatangan Aruna dan suaminya. Rupanya ia sengaja membuat janji bertemu dengan Aruna dan Kautsar di suatu tempat.


Tak lama kemudian Rasyid terlihat berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Aruna dan Kautsar. Dan tanpa banyak basa-basi Rasyid pun menceritakan semuanya kepada Aruna dan Kautsar.


Setelah bercerita Rasyid menundukkan kepalanya karena menyesal telah melukai Sheina.


" Jadi Aku ke sini untuk meminta bantuan Aruna. Aku ingin tau kemana George dan Matilda membawa istriku pergi. Aku juga penasaran bagaimana kondisi istriku sekarang...," kata Rasyid setelah lama terdiam.


" Ehm, Aku paham bagaimana perasaanmu Mas. Aku juga turut berduka atas musibah yang menimpamu. Tapi Aku ga bisa memaksa Aruna untuk mengatakan semuanya karena itu ranah pribadinya dan keluarga besarnya...," sahut Kautsar bijak.


" Hanya Aruna Satu-satunya harapanku Tsar. Aku hanya ingin bicara empat mata dengan istriku itu...," kata Rasyid putus asa.


" Apa Mas Rasyid masih menganggapnya istri setelah melukainya seperti itu...?" tanya Aruna tiba-tiba.


" Tolong jangan sudutkan Mas Rasyid kaya gitu Sayang. Mengerti lah karena Aku tau gimana perasaannya. Aku pernah ada di posisinya dan itu membuatku hampir g*la lho Sayang...," kata Kautsar mengingatkan.


Aruna menatap Kautsar sejenak. Ia pun menghela nafas panjang karena yakin jika yang diucapkan suaminya adalah kebenaran.


" Aku tau kemana mereka membawanya Mas. Tempatnya sangat jauh dari sini. Bisa tiga atau empat jam perjalanan. Tapi Kamu tenang aja. Aku dan Suamiku akan mengantar Kamu ke sana...," kata Aruna hingga membuat Rasyid tersenyum bahagia.


" Terima kasih Aruna. Kapan Kita ke sana...?" tanya Rasyid tak sabar.


" Terserah Mas Rasyid kapan bisa pergi...," sahut Aruna.


" Apa Kita bisa pergi sekarang...?" tanya Rasyid hingga mengejutkan Aruna dan Kautsar.


" Kalo Kita pergi sekarang gimana sama Anak-anak Bund...?" tanya Kautsar yang khawatir dengan persediaan ASl untuk kedua bayinya itu.


" Tenang aja Yah. Aku udah tambahin stok ASI sebelum Kita pergi tadi. Aku pikir cukup sampe besok siang...," sahut Aruna.


" Ok. Kalo gitu Kita bisa pergi ninggalin Anak-anak sebentar...," kata Kautsar yang diangguki Aruna.


" Satu hal yang ingin kukatakan, Kak Sheina tidak membunuh Raka. Temanmu itu mati akibat ulah manusia serigala lain. Jadi jangan oernah menyalahkan Kakakku atas kematian temanmu itu...," kata Aruna sambil menatap Rasyid lekat.


Rasyid mengangguk sambil tersenyum. Satu sisi ia sedih kehilangan Raka, namun di sisi lainnya ia bahagia saat tahu Sheina bukan pembunuh Raka.

__ADS_1


Sedikit kejam, tapi itu lah yang dirasakan Rasyid.


\=\=\=\=\=


Rasyid terkagum-kagum melihat bangunan antik di hadapannya. Aruna memang membawanya ke rumah George dan Matilda di atas bukit.


Kedatangan mereka bertiga disambut oleh Matilda dan George dengan tangan terbuka. Setelah berbincang sejenak Rasyid pun dibawa menemui Sheina yang saat itu tengah terbaring lemah di atas tempat tidur.


Air mata Rasyid luruh sudah. Ia terkejut melihat kondisi Sheina yang memprihatinkan. Tubuh sang istri tampak dibalut perban. Wajah cantiknya terlihat pucat dan Sheina terlihat sangat kurus padahal baru sehari mereka berpisah.


" Sayang...," panggil Rasyid sambil mendekati Sheina yang tengah terpejam itu.


Sheina langsung membuka mata saat mendengar suara Rasyid. Ia nampak tertegun melihat pria yang ia cintai tengah berdiri sambil menatap lekat kearahnya.


" Ra... syid...," panggil Sheina dengan suara bergetar.


" Iya Shei, ini Aku. Rasyid...," sahut Rasyid parau.


" Kamu datang Syid...," kata Sheina sambil mengulurkan tangannya.


Rasyid meraih tangan Sheina yang terulur itu lalu mengecupnya berkali-kali. Sheina nampak tersenyum bahagia melihat sikap Rasyid yang tak berubah meski pun telah mengetahui sisi gelapnya.


" Maafkan Aku Sayang...," kata Rasyid.


" Sssttt..., Kamu ga perlu jelasin semuanya sekarang Sayang. Istirahat lah supaya Kamu cepat pulih dan pulang ke rumah...," kata Rasyid.


Sheina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia kembali menyentuh wajah Rasyid dengan telapak tangannya yang dingin.


" Aku..., sejak mengenalmu duniaku yang suram itu jadi berwarna. Kamu membuatku tertawa dan percaya jika cinta tulus itu ada. Aku ingin jujur saat Kamu meminangku, seperti yang Aruna dan Matilda sarankan. Tapi Aku takut. Aku takut Kamu membenciku dan meninggalkan Aku Rasyid. Aku sadar telah berbuat curang dan membuatmu bingung. Maafkan Aku Sayang...," kata Sheina dengan air mata berderai.


" Gapapa Sayang. Aku paham kok. Aku udah dengar semuanya dan ngerti kenapa Kamu lakuin itu...," kata Rasyid sambil mengecup kening Sheina.


" Terima kasih telah menjadikan Aku Istrimu. Aku bangga bisa menyandang gelar Nyonya Rasyid. Aku merasa dihargai dan dihormati karenanya. Terima kasih Sayang...," kata Sheina lagi.


" Sama-sama Sayang. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan menjadi imam di hidupmu. Terima kasih juga karena bersedia menerima Aku dengan segala kekuranganku. Aku mencintaimu Sheina...," kata Rasyid sambil mengusap air mata yang menitik di wajah sang istri.


Sheina kembali tersenyum tapi kali ini disertai seringaian pertanda rasa sakit kembali menyapanya.


" Apa ini sakit...?" tanya Rasyid sambil menyentuh luka di pundak Sheina.

__ADS_1


Sheina mengganguk. Ia ingat bagaimana luka itu ia dapat.


" Maafkan Aku karena telah melukaimu Sayang...," kata Rasyid sambil mengecup jemari Sheina.


" Lupakan Sayang. Aku Gapapa kok...," sahut Sheina sambil mengusap kepala Rasyid dengan sayang.


Sheina memang sedang sekarat akibat luka di tubuhnya itu. Selain luka tembak, Sheina juga harus menanggung rasa sakit di punggungnya akibat tusukan pisau si pencuri apel. Meski pun Matilda dan George telah melakukan beberapa langkah pengobatan sesuai arahan Sheina, tampaknya itu tak banyak membantu.


Sheina sadar jika umurnya tak lagi panjang. Ia pasrah karena memang tak punya pilihan selain menerima takdirnya. Namun Sheina bahagia karena menjelang ajalnya Rasyid datang untuk mendampinginya dan bersedia memaafkannya.


" Peluk Aku Sayang, Aku mohon...," pinta Sheina dengan suara lirih.


Rasyid mengangguk lalu memeluk Sheina dengan erat. Ia juga menghujani wajah sang istri dengan ciuman hingga membuat Sheina tersenyum. Senyum yang amat manis yang mungkin tak akan pernah dilihat lagi oleh Rasyid. Karena setelah itu Sheina memejamkan mata lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Sheina pun meninggal dunia di dalam pelukan Rasyid. Suami yang sangat ia cintai dan mencintainya.


Melihat kepergian Sheina membuat Aruna dan Matilda bersedih. Aruna menyembunyikan tangisnya di pelukan suaminya karena tak kuasa menyaksikan perpisahan Sheina dan Rasyid. Sedangkan Matilda dan George menatap keluar jendela sambil menautkan jari.


Keheningan mewarnai ruangan itu. Terasa dingin dan senyap. Dan Rasyid masih memeluk Sheina dengan erat sambil menyenandungkan sholawat. Bahkan Rasyid juga mengayun pelukannya ke kanan dan ke kiri seolah sedang mengayun bayi. Nampaknya ia tak menyadari kepergian istrinya.


Rasyid baru tersadar istrinya meninggal dunia saat Sheina tak lagi merespon panggilannya. Perlahan Rasyid mengendurkan pelukannya. Dan saat itu lah kepala Sheina yang bersandar di pelukannya jatuh terkulai ke samping seolah tak memiliki penyangga.


" Sayang...," panggil Rasyid dengan suara bergetar sambil berusaha menopang kepala istrinya yang terkulai itu.


Rasyid terus mencoba membangunkan istrinya. Ia menepuk pipi Sheina dan menciuminya berkali-kali berharap Sheina merespon tindakannya itu. Rasyid ingat, biasanya Sheina akan kesal jika diperlakukan seperti itu. Namun kali ini Rasyid harus menerima jika Sheina tak akan bisa merespon semuanya karena wanita cantik itu telah pergi untuk selamanya.


" Sheina sudah pergi Rasyid...," kata George tiba-tiba.


Rasyid tertegun sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian Rasyid pun menangis. Awalnya hanya berupa isakan. Tapi tak lama kemudian Rasyid meraung keras sambil memanggil nama istrinya.


" Jangan pergi Sheina. Jangan pergi Sayangku. Sheinaaa...!" panggil Rasyid lantang sambil memeluk jasad istrinya.


Matilda yang berdiri di dekat jendela pun menatap suaminya berharap George memberi waktu pada Rasyid meratapi jasad istrinya itu. Namun George menggelengkan kepalanya dan Matilda mengerti apa artinya.


Kemudian George tampak mendekati Rasyid lalu memukul tengkuknya dengan tangannya hingga Rasyid jatuh tersungkur. Tubuh Rasyid pun dipindahkan ke sofa agar tak mengganggu Matilda dan Aruna yang akan merapikan jasad Sheina. Semua dilakukan dengan cepat dan teratur. Matilda masih bisa bicara sedangkan Aruna hanya diam membisu karena terlalu sedih.


" Aku bahagia bisa mengenalmu Sheina. Aku bangga menjadi saudarimu. Pergi lah karena tugasmu sudah selesai. Kami menyayangi Kamu Sheina...," bisik Matilda lalu mengecup kening Sheina sambil menitikkan air mata.


Kemudian jasad Sheina dibawa keluar rumah dan dibaringkan di sebuah batu menyerupai altar persembahan. Semua terdiam sambil menatap jasad Sheina yang mulai menghitam. Sesaat kemudian George maju ke altar lalu melakukan gerakan aneh hingga memunculkan api yang membakar jasad Sheina.

__ADS_1


Dari tempatnya berdiri, Aruna, Matilda dan Kautsar nampak menatap kobaran api yang semula kecil perlahan membesar lalu menghanguskan jasad Sheina. Doa yang panjang mengalun di hati mereka masing-masing untuk mengiringi kepergian Sheina.


bersambung


__ADS_2