
Rasyid dan dokter Sheina memang segera mempersiapkan pernikahan mereka. Bukan pesta mewah melainkan hanya sebuah acara sederhana. Dukungan dari rekan dan kerabat dekat membuat mereka semangat mempersiapkan semuanya.
" Yang penting sah di depan hukum agama dan negara...," kata Rasyid saat Raka menanyakan alasannya menikah dengan cara sederhana.
" Gue paham. Tapi apa Lo ga mikirin perasaannya Sheina. Dia kan dokter, kenalan dan temannya banyak. Kalo soal uang, Gue rasa tabungan Lo cukup lah untuk membiayai sebuah pernikahan yang mewah...," kata Raka.
" Ini permintaan Sheina kok. Menurut dia pernikahan sederhana aja cukup karena Kami kan sama-sama yatim piatu. Akan jadi pertanyaan banyak orang kalo di pelaminan hanya ada Gue sama dia tanpa orangtua. Dan Sheina ga mau di acara sakral nanti justru tamu malah sibuk ngomongin kekurangan Kami. Gue setuju karena sejujurnya Gue emang ga suka ribet...," sahut Rasyid.
Raka pun mengangguk tanda mengerti.
\=\=\=\=\=
Tamu sudah berdatangan di kediaman dokter Sheina. Ruang tamu telah disulap menjadi tempat yang cantik karena di sana lah akan digelar proses ijab kabul nanti. Sedangkan halaman rumah hingga ke jalan di depan rumah dokter Sheina telah disiapkan kursi-kursi untuk duduk para tamu.
Si dalam kamar terlihat sang calon pengantin wanita tengah dirias oleh seorang penata rias. Aruna dan Matilda setia menemani sambil bicara banyak hal.
" Kakak cantik banget pake kebaya itu, manglingi. Iya kan Tante...," puji Aruna.
" Betul Nak...," sahut Matilda.
" Alhamdulillah, makasih pujiannya...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.
Saat itu dokter Sheina memang terlihat berbeda. Terlihat sangat anggun dan makin cantik dengan kebaya putih dan jarik batiknya. Rambutnya disanggul dan dihiasi rangkaian bunga melati. Wajah cantiknya terlihat fresh dengan make up natural. Apalagi senyum terus menghias wajahnya hingga membuat aura kebahagiaan menular ke orang-orang di sekitarnya.
Tiba-tiba Bi Mey mengetuk pintu dan mengatakan jika rombongan pengantin pria telah hadir.
" Mas Rasyid dan rombongan udah datang Mbak...," kata Bi Mey sambil menatap kagum kearah sang majikan.
" Iya Bi, Kakak juga udah selesai kok...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Penghulu juga udah datang Mbak. Tinggal nunggu pengantin wanitanya aja...," kata Bi Mey lagi.
" Iya Bi, kenapa bengong kaya gitu. Sini masuk...," kata Aruna sambil membuka pintu lebih lebar.
BI Mey pun masuk dan langsung memeluk dokter Sheina sambil menangis. Ia terharu karena akhirnya sang majikan bisa mendapatkan pendamping hidup.
" Jangan nangis dong Bi, ntar Aku ikut nangis nih. Padahal sama tukang riasnya ga boleh nangis karena make up nya bisa luntur kalo kena air mata...," kata dokter Sheina berbohong untuk menggoda Bi Mey.
Berhasil. Bi Mey mengurai pelukannya sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
" Maaf Mbak, Saya terlalu senang karena bisa ngeliat Mbak Sheina menikah sebelum Saya mati...," kata Bi Mey sambil terisak.
" Hussh, jangan ngomong kaya gitu di hari bahagia kaya gini Bi. Kata orangtua pamali...," kata Matilda mengingatkan.
BI Mey terkejut lalu menepuk mulutnya sendiri dengan telapak tangan beberapa kali hingga membuat semua orang tertawa.
" Udah Bi, ntar bibir Bi Mey tambah monyong lho...," gurau Aruna disambut tawa semua orang di dalam kamar itu.
" Udah cukup. Sekarang Kita keluar yuk. Pasti Rasyid udah ga sabar ngeliat calon istrinya ini...," ajak Matilda yang diangguki semua orang.
Kemudian Bi Mey menuntun dokter Sheina melangkah menuju tempat ijab Kabul. Di belakangnya terlihat Matilda yang menuntun Aruna yang sedikit kesulitan melangkah dengan perut buncitnya itu. Kautsar yang melihat sang istri pun bergegas meraih kursi agar Aruna bisa duduk nyaman.
" Makasih Sayang...," kata Aruna sambil meringis.
" Sama-sama. Apa Kamu baik-baik aja Bun...?" tanya Kautsar.
" Gapapa Yah. Kelamaan duduk tadi makanya perutku rasanya ga nyaman...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Sementara itu ruangan menjadi hening saat dokter Sheina memasuki ruangan. Semua mata menatap kagum kearah sang pengantin wanita termasuk Rasyid. Ia baru tersadar saat Raka menyenggol lengannya.
" Kondisiin mulut Lo, ntar ada lalat masuk kan bahaya...," bisik Raka hingga membuat wajah Rasyid bersemu merah karena malu.
Suasana khidmat pun menyelimuti ruangan saat ijab Kabul berlangsung. Air mata nampak menitik di wajah kedua pengantin saat kata 'sah' menggema di dalam ruangan.
Doa pun berkumandang dan diaminkan oleh para hadirin. Setelahnya kedua pengantin menanda tangani dokumen pernikahan mereka. Mereka juga saling menyematkan cincin di jari masing-masing.
Khutbah nikah disampaikan oleh pemuka agama. Semua menyimak isi khutbah yang disampaikan dengan santai. Sesekali tawa terdengar saat sang ustadz membuat banyolan hingga suasana lebih akrab.
Tepuk tangan pun menggema di ruangan saat Rasyid mencium kening sang istri. Setelahnya para tamu pun memberi ucapan selamat dan doa kepada kedua mempelai.
" Selamat ya Kak, semoga sakinah mawaddah warohmah dan cepet dapat momongan...," kata Aruna sambil memeluk dokter Sheina dengan erat.
" Aamiin. Makasih ya Run...," sahut dokter Sheina sambil menitikkan air mata.
" Jangan nangis dong, ntar make up nya luntur lho...," goda Aruna sambil mencubit pipi sang kakak angkat.
Semua tertawa saat melihat dokter Sheina berupaya mengusap wajahnya yang basah.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Setelah menggelar syukuran pernikahan secara sederhana, Rasyid dan dokter Sheina pun pergi berbulan madu keesokan harinya. Mereka memilih pergi ke Lombok sesuai keinginan dokter Sheina.
Mereka tiba di hotel saat siang hari. Letak hotel yang tak jauh dari tempat wisata Gili Trawangan membuat dokter Sheina antusias. Ia terlihat tak sabar untuk pergi berkunjung ke sana.
" Kita istirahat dulu dong Sayang. Dari kemarin kan Kita belum cukup istirahat. Ga usah khawatir, Kita bisa ke sana besok...," kata Rasyid sambil memejamkan matanya.
Dokter Sheina pun terpaksa menuruti ucapan suaminya. Ia mulai berbaring di samping Rasyid dan ikut memejamkan mata. Setelah beberapa saat Rasyid membuka matanya dan melihat jika sang istri terlelap di sampingnya.
" Tidur juga akhirnya...," gumam Rasyid sambil mengecup kening sang istri lalu memeluknya erat.
Mereka terbangun saat sore hari. Setelah menunaikan sholat Ashar berjamaah di kamar keduanya memilih keluar untuk makan di restoran yang ada di hotel.
Malam pun merambat naik. Saat itu langit malam nampak dihiasi bulan purnama. Di kamarnya dokter Sheina terlihat gelisah. Ia mondar-mandir di tengah ruangan hingga membuat Rasyid bingung.
" Kamu kenapa Sayang...?" tanya Rasyid sambil memeluk sang istri dari belakang.
" A... Aku gapapa...," sahut dokter Sheina sambil berusaha melepaskan pelukan Rasyid.
" Tapi badan Kamu dingin banget lho. Keringetan juga...," kata Rasyid sambil berusaha menyentuh kening istrinya yang terlibat basah.
" Aku cuma ga enak badan aja kok Sayang. Aku boleh minta tolong beliin obat ya...," kata dokter Sheina sambil menjauh.
" Obat apa, bukannya Kamu bawa obat kemarin...?" tanya Rasyid.
" Aku mau susu jahe. Tolong Kamu cariin ya...," pinta dokter Sheina mulai panik karena merasa tubuhnya akan segera berubah menjadi manusia serigala.
" Kalo itu kan bisa pesen lewat telephon Sayang...," sahut Rasyid sambil meraih ponselnya.
" Tapi Aku butuh sendiri sekarang. Tolong jangan ganggu Aku bisa ga...?!" tanya dokter Sheina gusar.
Rasyid terkejut namun berusaha maklum dengan sikap sang istri. Ia pun mengalah dan memilih meninggalkan dokter Sheina di kamar seorang diri.
" Ok. Kebetulan Aku juga butuh udara segar. Aku pergi dulu ya Sayang...," pamit Rasyid setelah mengecup kening sang istri.
Dokter Sheina mengangguk lalu bergegas mengunci pintu saat Rasyid keluar dari kamar. Rupanya ia tak ingin Rasyid melihatnya berubah menjadi monster.
" Maaf Sayang. Aku belum siap mengatakan semuanya...," gumam dokter Sheina.
Di balik pintu Rasyid nampak mematung sambil mengerutkan keningnya karena curiga dengan sikap sang istri. Namun setelah beberapa saat menunggu tak terdengar suara apa pun, akhirnya Rasyid melanjutkan langkahnya menuju loby hotel.
__ADS_1
bersambung