Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
32. Nyari Kalisha...


__ADS_3

Setelah membantu Deon menyebrang ke tempat seharusnya, kini Aruna kembali disibukkan dengan sekolahnya. Aruna memang supel dan disenangi teman-temannya, meski pun begitu masih saja ada teman yang tak menyukainya. Bukan kah tak ada yang sempurna di dunia ini, begitu lah Aruna menyikapinya.


Teman sekelas Aruna, sebut saja namanya Kalisha terang-terangan membenci Aruna. Meski pun Aruna tak peduli, namun Kalisha selalu berusaha ‘bersinggungan’ dengan Aruna dimana pun mereka bertemu.


“ Ada masalah apaan sih Lo sama Kalisha Run...?” tanya Noni, teman Aruna sejak masih di bangku SMP itu.


“ Ga ada. Gue juga ga ngerti kok dia benci banget sama Gue. Padahal Kita sekelas lho Non...,” sahut Aruna.


“ Kayanya dia ngiri sama Lo Run...,” kata Noni.


“ Apa yang bikin dia ngiri. Kan dia lebih pinter dari Gue, orangtuanya juga lebih tajir dari orangtua Gue...,” sahut Aruna.


“ Itu yang harus Lo cari tau Run. Bahaya kalo orang kaya dia Lo abaikan. Bisa meledak sewaktu-waktu dan boommm... habis deh semuanya...,” kata Noni sambil membuat gerakan bom meledak hingga membuat Aruna sedikit bergidik.


“ Iya deh. Gue bakal cari tau nanti. Makasih udah ngingetin Gue ya Non...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Sama-sama, itu lah gunanya temen. Saling mengingatkan dan saling traktir. Iya kan Run...,” kata Noni sambil merengkuh pundak Aruna lalu membawanya ke kantin sekolah.


“ Sia*an, Lo ngerjain Gue ya Non...?!” kata Aruna lantang disambut tawa keras Noni.


Keduanya pun tertawa lalu duduk di salah satu kursi kosong setelah memesan dua mangkok bakso. Sambil menunggu pesanan mereka diantar, Aruna dan Noni asyik berbincang banyak hal. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi keduanya dengan lekat.


Saat Aruna dan Noni tengah asyik menyantap bakso, tiba-tiba Kalisha lewat di samping Aruna sambil membawa segelas es teh manis. Lalu dengan sengaja Kalisha menyenggol lengan Aruna hingga suapan Aruna melenceng dari mulutnya dan jatuh mengenai pakaiannya. Selanjutnya Kalisha juga sengaja menumpahkan es teh manis itu di mangkok milik Aruna hingga makanan itu tak bisa lagi dimakan.


“ Hei, cewek stress. Sengaja Lo ya...?!” tanya Noni lantang hingga membuat semua orang di kantin sekolah itu menoleh kearahnya.


“ Sorry ga sengaja...,” sahut Kalisha datar.


“ Ga sengaja Lo bilang. Liat nih, baju Aruna jadi kotor dan makanannya ga bisa dimakan lagi...!” kata Noni kesal.


“ Gue kan udah bilang ga sengaja, kok Lo sewot sih. Aruna aja nyantai, iya kan Run...?” tanya Kalisha sambil


mencibir.


“ Udah gapapa Non, lagian Gue udah ga mood lagi buat nerusin makan...,” sahut Aruna sambil menatap Noni dengan tatapan penuh makna.


“ Oh gitu. Ya udah kalo gitu, Gue juga udahan deh...,” kata Noni sambil siap berdiri.


“ Jangan, Lo terusin aja makan Lo. Gue tungguin kok...,” sahut Aruna dengan santai tanpa sekali pun menatap wajah Kalisha apalagi terprovokasi oleh ulahnya tadi.


Kalisha yang menyadari Aruna tak menganggap kehadirannya pun nampak kesal. Dia berusaha menarik perhatian Aruna dengan mengucapkan kalimat yang menyakitkan.


“ Jelas aja ga dimakan, kan banyak orang yang ngeliatin. Coba kalo ga ada orang, pasti Gue yakin makanan ini dibungkus terus dibawa pulang...,” sindir Kalisha yang memang beberapa kali melihat Aruna membungkus makanan yang tak habis dimakan untuk dibawa pulang.


“ Oh, kalo itu Gue juga tau. Dia sengaja bungkus makanan sisa itu untuk dikasih ke kucing yang baru aja melahirkan anaknya di depan sekolah sana...,” kata salah satu siswi bernama Hesti.


“ Oh kucing yang itu ya. Gue juga suka kasih makan kok. Seadanya aja. Kalo ada tulang ayam atau sisa bakso, ya Gue bawa ke sana...,” sahut siswa berkacamata bernama Zicko.


Ucapan Hesti dan Zicko tadi membuat Kalisha malu lalu bergegas pergi meninggalkan kantin diiringi sorakan semua orang.


“ Sia*an Lo Aruna...,” gumam Kalisha sambil mengepalkan tangannya.


“ Makasih ya teman-teman...,” kata Aruna sambil tersenyum kepada Hesti dan Zicko yang tadi membelanya.


“ Sama-sama. Kenalin,  Gue Zicko dan itu temen Gue namanya Hesti...,” sahut Zicko sambil menghampiri Aruna dan Noni lalu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Kemudian keempatnya saling berjabat tangan dan tersenyum.


“ Gue Aruna, ini temen Gue namanya Noni...,” kata Aruna sambil tersenyum.


“ Boleh gabung di sini ga Run...?” tanya Hesti.


“ Boleh dong...,” sahut Aruna dan Noni bersamaan.


“ Ok deh. Kalo gitu buat ngerayain pertemanan Kita, Gue traktir makan bakso ya...,” kata Zicko.


“ Ga seru lah Zick. Yang laen dong...,” kata Noni yang baru saja menyelesaikan makannya.


“ Gitu ya. Emangnya Yayang Noni mau ditraktir apa...?” tanya Zicko sambil mengedipkan matanya dengan lucu.


“ Hueekk.., jangan mulai lagi ya Zick. Jijay Gue...!” kata Hesti sambil menepuk punggung Zicko dengan keras hingga membuat Zicko meringis kesakitan.


“ Ya ampun Hesti, Lo jelous sama Noni...?” tanya Zicko dengan mimik lucu.


“ Jelous pala Lo peyang...!” sahut Hesti sambil bersiap memukul Zicko lagi.


Melihat ulah Zicko dan Hesti membuat Aruna dan Noni tertawa keras. Aruna seolah lupa jika noda di pakaian


seragamnya itu belum dibersihkan. Sedangkan pemilik sepasang mata yang sejak tadi mengawasi Aruna nampak tersenyum melihat Aruna tertawa.


\=====


Aruna nampak melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah. Saat itu ia mengenakan jaket milik Zicko yang sengaja dipinjamkan Zicko untuk menutupi noda di pakaian Aruna akibat ulah Kalisha tadi.


Saat trafic light erwarna merah, Aruna berhenti lalu mengedarkan pandangannya ke sisi jalan. Ia melihat seorang wanita sedang kebingungan. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang membimbing Aruna, gadis itu terlihat mendekati wanita itu.


“ Maaf, Ibu lagi ngapain di sini. Kok kayanya bingung banget...?” tanya Aruna.


“ Anak Ibu hilang...?” tanya Aruna.


“ Bukan hilang tapi pergi Mbak...,” sahut wanita itu lagi.


“ Pergi kemana...?” tanya Aruna.


“ Ga tau. Saya udah nyari kemana-mana tapi ga ketemu juga. Saya bingung...,” sahut wanita itu.


“ Kenapa Ibu ga lapor polisi aja...?” tanya Aruna.


“ Saya takut Mbak...,” sahut wanita itu.


“ Ga usah takut Bu. Kalo mau Saya bisa anterin Ibu ke kantor Polisi buat bikin laporan orang hilang sekarang. Gimana, mau ga Bu...?” tanya Aruna.


Wanita itu nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Kemudian Aruna menuntun wanita itu menuju ke motor miliknya. Saat wanita itu melangkah, terjatuh lah sebuah foto dan Aruna segera meraihnya. Aruna nampak membulatkan matanya saat melihat foto itu.


“ Ini kan kak Devia, Deon dan Derry. Ibu siapanya mereka...?” tanya Aruna.


“ Saya Sania, Maminya mereka...,” sahut Sania.


Mengetahui Sania adalah ibu kandung Deon, Aruna pun sigap membantu mempertemukan Sania dengan Devia dan Derry. Aruna menghubungi Jaka yang kemudian mengatur pertemuan Sania dan dua anaknya di rumahnya.


Pertemuan yang mengharukan pun terjadi. Sania yang telah mendengar cerita Jaka tentang anak-anaknya nampak berusaha menerima kepergian Deon meski hatinya sangat sakit.

__ADS_1


“ Mami ikhlas kehilangan Papi Kalian dan harta yang melimpah itu, tapi Mami ga bisa kehilangan Kalian. Tolong maafin Mami yang udah lalai menjaga Kalian. Maaf...,” kata Sania sambil terisak.


“ Udah Mami. Aku dan Kakak udah maafin Mami. Kami ngerti kok kenapa Mami pergi, itu pasti karena Mami ga tahan kan sama ulah Papi. Lupain semua ya Mi, Kita kumpul lagi dan tinggal di rumah yang Kami beli pake uang Kak Deon...,” bisik Derry sambil memeluk Sania erat.


“ Iya Nak. Mami mau tinggal sama Kalian. Ayo Kita bangun lagi hidup Kita bertiga aja...,” sahut Sania antusias sambil tersenyum.


“ Mami pasti suka di sana. Rumahnya emang kecil Mi, tapi asri. Aku sama Derry bikin dekorasi yang unik biar Mami betah dan ga pergi-pergi lagi...,” kata Devia.


“ Iya iya. Mami pecaya, tapi ga dikasih boneka juga kan...?” tanya Sania sambil tertawa disambut tawa kedua anaknya.


Aruna, Jaka dan istrinya tampak tersenyum bahagia melihat kebahagiaan keluarga Deon. Aruna menatap langit sambil tersenyum membayangkan Deon tersenyum bahagia menyaksikan ibu dan saudaranya berkumpul lagi.


\=====


Setelah berhasil mempertemukan Sania dengan Devia dan Derry di rumah Jaka, Aruna pun pamit pulang. Meski pun semua orang berusaha menahannya, Aruna tetap bersikeras untuk pulang karena hari sudah malam. Dan kini Aruna tengah melajukan motornya di jalan raya di tengah hujan yang mengguyur Jakarta.


Karena hujan makin deras, Aruna memutuskan menepi di sebuah halte bus. Di sana ada beberapa orang pengendara motor yang juga tengah berteduh.


Aruna menoleh ke bagian kanan halte. Ia mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria tengah duduk sambil memegangi lehernya. Aruna menatap ke sekelilingnya dan yakin jika pria yang kesakitan itu bukan lah manusia karena tak seorang pun melihat keberadaannya apalagi peduli padanya.


Aruna menunggu semua orang kembali melanjutkan perjalanan mereka agar bisa berkomunikasi dengan hantu pria itu. Tapi belum lagi niatnya terlaksana, Aruna dikejutkan oleh suara jeritan wanita tak jauh dari halte tempatnya berteduh. Rupanya hantu pria yang ingin ditemui Aruna nampak tengah mengganggu wanita pengguna jalan. Aruna menghela nafas panjang lalu bergegas menghampiri mereka.


“ Ada apa Mbak...?” tanya Aruna.


“ A... ada han... hantu kepala buntung Mbak...,” sahut wanita itu dengan suara bergetar sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


“ Mbak salah liat kali. Ga ada apa-apa di sini...,” kata Aruna.


“ Saya ga bohong Mbak, hantu itu berdiri di depan Saya kaya mau nanya sesuatu. Terus dia bilang lehernya sakit, eh mendadak kepalanya jatuh menggelinding di jalan...,” sahut wanita itu sambil menangis hingga membuat Aruna iba.


“ Kalo gitu Saya bantu cariin Taxi biar Mbak bisa cepat pulang ya...,” kata Aruna.


“ I... iya. Tolong ya, kaki Saya udah lemes banget. Rasanya Saya ga sanggup kalo harus jalan lagi ke halte...,” sahut wanita itu dengan suara lirih.


Tak lama kemudian sebuah Taxi berhenti dan wanita itu bergegas masuk ke dalamnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Aruna, wanita itu meminta supir Taxi melajukan mobil dengan cepat.


Kemudian Aruna menoleh kearah hantu pria yang masih mematung sambil membawa kepala miliknya di tangan kirinya. Terlihat jika pangkal leher, tangan dan kepala pria itu berlumuran darah.


“ Kenapa mengganggu sih...?” tanya Aruna.


“ Aku hanya ingin bertanya...,” sahut hantu pria itu.


“ Bertanya juga harus baik-baik dong. Kalo caramu bertanya kaya gitu, ya jelas mereka takut lah...,” kata Aruna kesal.


“ Jadi Aku salah...?” tanya hantu pria itu.


“ Iya. Emangnya mau nanyain apa sih sampe harus nakutin kaya gitu...?” tanya Aruna.


“ Aku mau nanya dimana Kalisha...,” sahut hantu pria itu dengan nada suara sedih.


Mendengar nama Kalisha membuat Aruna teringat pada temannya yang juga bernama Kalisha yang sering membuatnya kesal.


“ Kalisha itu siapa...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Anakku...,” sahut hantu pria itu.

__ADS_1


Aruna menelan saliva dengan sulit. Ia berharap jika Kalisha yang dimaksud oleh hantu pria itu bukan lah Kalisha si pembuat onar itu.


Bersambung


__ADS_2