Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
150. Ruang Kerja Edi


__ADS_3

Di saat pertengkaran hebat antara Puri dan Edi terjadi, asisten rumah tangga mama Elan datang dan meminta Edi untuk datang ke rumah.


" Siapa yang menyuruhku ke sana...?" tanya Edi.


" Bapak Mas...," sahut sang asisten.


" Ada apa, kenapa mendadak...?" tanya Edi.


" Saya ga tau Mas. Tapi Saya liat pengacara pribadi Bapak datang. Terus Saya disuruh manggil Mas Edi ke rumah sekarang. Bapak juga udah nyuruh Mas Elan pulang tadi...," sahut sang asisten.


Mendengar ucapan asisten rumah tangga sang mama membuat mata Edi berbinar. Ia yakin jika hari ini adalah hari pembagian waris yang ia tunggu selama ini.


Bergegas Edi pergi mengikuti sang asisten rumah tangga dan meninggalkan Puri begitu saja. Puri nampak mengepalkan tangannya karena tahu jika suaminya akan mengamuk saat pulang nanti.


\=\=\=\=\=


Di ruang kerja ayah Elan terlihat semua orang berkumpul. Kedua orangtua Elan, pengacara pribadi ayah Elan, Elan dan Edi tampak duduk berhadapan.


" Silakan Pak Syam...," kata ayah Elan.


" Baik Pak. Begini Mas Elan dan Mas Edi. Hari ini Saya akan membacakan pemberian hibah dari Ayah Kalian. Hanya hibah dan bukan waris karena kedua orangtua Mas Elan dan Mas Edi masih hidup juga sehat wal afiat. Harta waris hanya dibagikan saat keduanya meninggal dunia nanti...," kata Syam membuka percakapan.


" Iya Pak Syam Saya mengerti. Tapi kalo boleh tau, apa tujuan hibah ini diberikan dan untuk siapa...?" tanya Elan hingga membuat Syam tersenyum.


" Begini Mas Elan. Ayah Anda telah berjanji memberikan hadiah untuk cucu pertama yang lahir. Beliau memang berjanji akan memberikan dua per tiga kekayaannya pada cucu pertamanya nanti. Tapi itu hanya gurauan. Saya tegaskan sekali lagi itu hanya gurauan. Tapi beliau memang menyiapkan sesuatu untuk cucu pertamanya itu...," sahut Syam.


Mendengar ucapan Syam membuat Edi menggertakkan rahangnya menahan marah. Sedangkan Elan terlihat santai.


" Oh itu. Saya tau Ayah cuma bergurau, makanya Saya ga pernah nganggep itu serius Pak Syam. Saya ga pernah berpikir untuk menjadikan anak Saya sebagai ajang untuk mencari uang...," kata Elan sambil melirik kearah Edi.


Edi yang merasa tersindir hanya melengos kesal.


Ternyata hibah yang dimaksud ayah Elan adalah berupa dua petak rumah yang sengaja disewakan.

__ADS_1


" Ayah serahkan itu untuk Kenzo. Sudah dibalik nama juga atas nama Kenzo. Kamu sebagai walinya berhak mengaturnya hingga Kenzo berusia delapan belas tahun, tapi tidak berhak memilikinya. Sengaja Ayah sewakan karena Ayah yakin Kamu ga akan mau menempati rumah itu. Yah, anggap saja uang sewa itu sebagai tabungan Kenzo sebelum dia menginjak usia dewasa...," kata ayah Elan.


" Makasih Yah. Aku ga akan mengambil sepeser pun uang dari penyewaan rumah itu karena itu bukan hakku. Aku hanya akan menyimpannya di Bank dan itu pun atas nama Kenzo...," sahut Elan.


" Itu bagus, Ayah setuju...!" puji ayah Elan.


" Terus gimana sama Edi Yah. Dia juga udah ngasih banyak Cucu buat Kita lho...," kata mama Elan mengingatkan.


Edi tersenyum tipis. Ia merasa tersanjung karena sang mama ingat dengan ketiga anaknya. Edi mengira jika sang ayah akan memberikan hadiah yang jauh lebih besar mengingat jumlah anaknya lebih banyak daripada Elan. Namun dugaan Edi salah besar.


" Mama tenang aja. Ayah ga mungkin bersikap ga adil. Ayah bakal serahkan toko sembako yang ada di jalan Parit itu untuk anak-anak Edi. Biar Edi dan Puri mengelolanya sementara waktu sampai anak-anak mereka dewasa. Bagaimana Edi...?" tanya ayah Elan.


" Iya, Aku terima Yah. Makasih...," sahut Edi dengan wajah membesi.


Kedua orangtua Elan nampak tersenyum puas karena bisa berbuat adil.


\=\=\=\=\=


Sepulang dari rumah orangtuanya, Edi menjerit marah lalu melemparkan semua benda yang ada di dekatnya ke lantai. Puri yang sudah menduga akan hal ini pun hanya membisu sambil berdiri di ambang pintu kamar.


" Jadi anak-anak Kita juga dapat bagian Bang ?. Alhamdulillah, harusnya Kamu bersyukur kan...?" tanya Puri tak mengerti.


" Aku ga terima Puri. Aku harus melakukan sesuatu...!" kata Edi sambil bergegas masuk ke dalam kamar.


Setelahnya Edi keluar dari kamar lalu pergi dengan mobilnya.


" Mau kemana Bang...?!" tanya Puri sambil mengejar hingga ke teras rumah tapi sia-sia.


Puri kembali ke dalam rumah dan terus menanti kepulangan suaminya. Selama berhari-hari Puri menunggu, Edi tak juga kembali. Ketiga anak mereka berkali-kali menanyakan keberadaan Edi namun Puri tak bisa menjawab.


Hingga akhirnya setelah menunggu hampir tiga minggu, Edi pun pulang. Sedikit berbeda karena Edi tak lagi banyak bicara. Ia hanya meminta kamar bermain anak-anak dikosongkan karena akan dijadikan ruang kerja. Puri menuruti permintaan suaminya dan memindahkan semua mainan anaknya ke teras samping.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Malam itu Puri terbangun karena tak menjumpai Edi di sampingnya. Puri yang khawatir ditinggal lagi pun bergegas mencari suaminya itu.


Puri terkejut saat mendengar suara mendesis yang sangat keras dari dalam ruang kerja suaminya. Karena khawatir terjadi sesuatu pada suaminya, Puri pun bergegas mengetuk pintu yang terkunci itu.


Suara desisan itu lenyap dan berganti suara benda berat yang jatuh dari ketinggian. Dan itu membuat Puri makin panik.


" Bang Kamu gapapa kan. Bang Edi, Kamu kenapa Bang...?!" tanya Puri sambil terus mengetuk pintu.


Terdengar kunci pintu dibuka dari dalam. Puri pun menunggu dengan sabar dan mengira suaminya lah yang membuka pintu.


Saat Puri membuka mulut untuk bertanya, sebuah tangan berukuran besar keluar dari balik pintu lalu menarik tubuhnya ke dalam ruangan. Puri menjerit namun suara jeritannya hilang begitu saja.


Puri menahan nafas saat mengetahui di dalam kamar begitu menyeramkan. Selama ini Puri tak pernah tahu isi dalam kamar itu karena Edi selalu mengunci pintu. Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari lampu lima watt berwarna merah di sudut ruangan hingga membuat ruangan itu terlihat remang-remang.


Puri nampak gemetar ketakutan saat mengetahui tangan besar yang menarik tubuhnya tadi berasal dari makhluk berwujud lintah raksasa yang ada di hadapannya.


Yang membuat Puri makin takut adalah karena bagian atas tubuh suaminya lah yang bertengger di atas tubuh lintah raksasa itu dengan kedua tangan yang elastis seperti karet. Melihat wujud suaminya yang setengah manusia dan setengah lintah membuat Puri terkejut.


" Ba... Bang E... di. Kamu kah itu...?" tanya Puri dengan suara terbata-bata.


Bukannya menjawab, lintah raksasa berkepala Edi itu justru menyeringai. Lalu ia mengendus tubuh Puri seolah mencari sesuatu. Puri memejamkan matanya karena takut jika lintah raksasa itu akan melukainya.


" Aku suka dia. Berikan dia padaku...," kata sebuah suara yang entah berasal darimana.


" Silakan. Tapi jangan habisi dia. Aku memerlukannya untuk mengasuh ketiga anak bod*h itu...," sahut Edi sambil tersenyum.


" Baik lah. Akan Aku sisakan untukmu nanti...," kata suara ghaib itu.


Tiba-tiba Puri merasa ada sesuatu yang menyergap lehernya. Terasa sakit dan perih. Puri memberanikan diri melirik kearah lehernya dan melihat seekor lintah sepanjang setengah meter, berwarna hitam kebiruan, dengan tubuh sebesar kepalan tangan orang dewasa nampak tengah asyik menghisap darahnya.


Puri menjerit untuk ke sekian kalinya sambil berusaha melepaskan lintah besar itu dari lehernya. Sayangnya Edi nampak tak terusik melihat istrinya tengah berjibaku melawan lintah besar itu. Tak lama kemudian Puri pun jatuh tersungkur ke lantai dengan darah membanjiri lehernya.


Tubuh Puri nampak mengejang saat lintah besar itu menghisap darahnya dengan rakus. Sesaat kemudian Puri pun jatuh pingsan. Melihat mangsanya tak sadarkan diri, lintah besar yang semakin besar karena menghirup darah Puri itu melepaskan gigitannya. Kemudian lintah itu menjilati ceceran darah Puri yang mengalir di lantai.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2