Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
194. Tindakan Aruna


__ADS_3

Dito masih menunduk kan kepalanya sambil menangis menyesali apa yang telah ia lakukan kepada Amanda, anak perempuan satu-satunya yang ia miliki.


Tiba-tiba suara bayi menangis terdengar menggema di dalam ruangan. Dito mengangkat kepalanya dan melihat sosok bayi dengan tali pusat melilit tangan dan kakinya tengah menangis sambil berusaha melepaskan diri dari ikatan. Dito mengenali bayi itu sebagai anak Amanda.


Tangis bayi itu makin keras saat sebuah tangan hitam besar terulur kearahnya. Dito membulatkan matanya saat melihat tangan hitam itu merenggut sang bayi dengan kasar lalu menggenggamnya erat dengan satu kepalan tangan dan membawanya ke atas.


\=\=\=\=\=


Aruna, Kenzo dan Kautsar berhasil masuk ke perusahaan milik Kakek Kenzo saat malam hari.


Ternyata setelah pertemuan mereka di kafe, Aruna memutuskan untuk segera bertindak. Kenzo pun segera menghubungi Simon sang Manager Personalia untuk meminta akses masuk ke area perusahaan.


" Baik Mas. Saya segera ke sana. Kita ketemu di pos security ya...," kata Simon dari seberang telephon.


" Ok, makasih Pak Simon...," kata Kenzo lalu mengakhiri percakapan mereka.


" Gimana Ken...?" tanya Aruna tak sabar.


" Kita ke kantor sekarang Run. Pak Simon bakal bantu Kita buat masuk ke dalam...," sahut Kenzo.


" Alhamdulillah. Ayo Sayang...," ajak Aruna sambil menepuk bahu Kautsar agar segera melajukan motornya menuju perusahaan Kakek Kenzo.


Kautsar mengangguk lalu mulai melajukan motornya perlahan meninggalkan kafe diikuti Kenzo.


Ketiganya tiba lebih dulu di depan perusahaan dan memutuskan menunggu Simon di sana. Tak lama kemudian terlihat sebuah mobil berhenti di samping motor Kenzo. Simon turun dari mobil lalu menghampiri Kenzo.


" Selamat malam Mas...," sapa Simon.


" Selamat malam Pak. Maaf ngerepotin. Tapi ada yang perlu Saya urus di dalam gudang. Bisa bantu Saya masuk kan...?" tanya Kenzo.


" Bisa Mas. Ayo ikut Saya...!" sahut Simon cepat.


" Tapi Saya ga sendiri lho Pak. Saya ngajak temen Saya Aruna dan Kautsar..., " kata Kenzo.


Simon menatap Aruna dan Kautsar bergantian kemudian mengangguk sambil tersenyum.


" Gapapa Mas. Saya percaya mereka orang baik. Jadi Saya ga punya alasan untuk curiga kan...," kata Simon.


" Alhamdulillah. Makasih Pak...," kata Kenzo, Aruna dan Kautsar bersamaan.


" Sama-sama. Yuk, Kita masuk sekarang..., " ajak Simon.

__ADS_1


Kenzo, Aruna dan Kautsar pun mengangguk lalu mengekori Simon.


Kemudian mereka menemui kepala security untuk minta ijin masuk ke dalam perusahaan. Tak sulit karena Simon langsung melakukan panggilan video call pada kakek Kenzo.


" Ada apa Kamu ke sana malam-malam begini Nak...?" tanya Kakek Kenzo.


" Ada yang perlu Kuurus Kek. Aku sama Aruna dan Kautsar juga kok...," sahut Kenzo.


Kemudian Kenzo memperlihatkan layar ponsel kearah Aruna dan Kautsar yang nampak melambaikan tangan sambil menyapa Kakek Kenzo. Kakek Kenzo tertawa dan membalas sapaan mereka dengan hangat.


Setelah melihat bukti yang terpampang jelas, kepala security pun memberi ijin masuk. Bahkan sang kepala security menugaskan salah satu bawahannya untuk mengawal mereka.


" Maaf sebelumnya. Bukan bermaksud ga sopan. Saya khawatir ini bakal lama. Jadi biar Pak Simon ga capek, lebih baik Bapak pulang dan istirahat di rumah. Makasih udah membantu Saya dan teman-teman...," kata Kenzo sebelum masuk.


" Sama-sama Mas. Perusahaan ini kan juga punya Mas Kenzo, Saya hanya membantu kok. Kalo ada apa-apa hubungin Saya secepatnya ya Mas. Saya pulang sekarang dan selamat malam...," pamit Simon.


Kenzo mengangguk lalu kembali bergabung dengan Aruna dan Kautsar.


Dengan bantuan security bernama Hasan, mereka pun bisa tiba di gudang dengan mudah. Kenzo pun meminta Hasan membuka pintu samping agar mereka bisa ke halaman di belakang gudang.


" Ke halaman belakang Mas...?" tanya Hasan untuk memastikan pendengarannya.


" Siap Mas...," kata Hasan lalu bergegas membuka pintu dengan kunci yang dipegangnya.


Halaman belakang gudang terlihat lengang namun lumayan terang karena disinari lampu neon yang terpasang di beberapa bagian. Kenzo langsung melangkah menuju tempat dimana Dito mengubur peti kayu berisi bayi itu.


" Di sini tempatnya Run...!" kata Kenzo.


" Ok. Biar Gue gali sekarang...!" sahut Aruna.


" Aku aja...," sela Kautsar sambil mengambil potongan kayu yang ia temukan di tanah.


" Sebentar Mas, Mbak. Ini ada apa sebenernya. Kalian cari apa di sini...?" tanya Hasan sambil menatap Kenzo, Aruna dan Kautsar bergantian.


" Sebentar lagi Pak Hasan juga bakal tau. Pak Hasan tenang aja. Kita di sini bukan mau bikin yang aneh-aneh, Kita di sini justru mau membantu supaya ga terjadi sesuatu yang aneh-aneh...," sahut Kenzo.


" Jujur Saya bingung, tapi Saya percaya sama Kalian...," kata Hasan hingga membuat Kenzo, Aruna dan Kautsar tersenyum.


" Tolong bantu dzikir aja supaya semuanya berjalan lancar ya Pak...," pinta Aruna yang diangguki Hasan.


Kemudian Kautsar dan Kenzo mulai menggali tanah dengan cepat. Saat kedalaman mencapai setengah meter terlihat peti kayu yang mereka cari.

__ADS_1


" Kalian mundur, biar Aku yang ngambil...!" kata Aruna.


Kautsar dan Kenzo pun segera menyingkir untuk memberi kesempatan pada Aruna mengambil peti kayu berisi jasad bayi itu.


Aruna nampak memejamkan mata sambil terus berdzikir. Sesaat kemudian Aruna membuka matanya lalu mengulurkan tangannya kearah peti kayu itu. Aruna langsung membuka penutup peti tanpa mengeluarkan peti dari lubang galian.


Saat penutup peti terbuka, bau busuk pun menguar dan menyapa indra penciuman semua orang yang ada di sana. Kenzo segera menjauh karena tak tahan dengan bau yang menguar, sedangkan Kautsar dan Hasan tetap bertahan di samping Aruna.


Aruna menempelkan telapak tangannya ke jasad bayi yang terikat tali pusat itu. Menepuknya beberapa kali dengan lembut hingga membuat bayangan hitam yang mendiami peti keluar dan melesat ke udara dengan cepat.


Di saat bersamaan Dito melihat tangan hitam besar yang menggenggam bayi Amanda bergetar hebat. Lalu seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menyerang, tangan hitam itu pun melepaskan genggaman tangannya dari bayi Amanda hingga bayi itu meluncur jatuh.


Dito bergegas berlari menyambut tubuh sang bayi yang meluncur deras dari atas. Dito berhasil menangkapnya dan memeluknya erat. Tangis sang bayi pun berhenti saat Dito memeluknya.


" Makasih Kakek...," kata sebuah suara yang diyakini Dito sebagai anak Amanda, terdengar lirih dan dekat.


" Sama-sama Nak. Maafin Kakek ya. Maaf...," sahut Dito sambil menangis dan mempererat pelukannya.


Sementara itu di halaman belakang gudang, Aruna terlihat menoleh kearah bayangan hitam yang tadi melesat keluar dari dalam lubang. Ia tersenyum tipis lalu berdiri berhadapan dengan bayangan hitam itu.


Kemudian Aruna langsung menyerang bayangan hitam itu tanpa memberinya kesempatan untuk mengerti apa yang terjadi. Gerakan Aruna yang cepat membuat Hasan dan Kenzo membelalakkan mata karena kagum. Sedangkan Kautsar nampak siaga mengamati pertarungan itu.


Benturan terjadi dan menimbulkan ledakan besar. Aruna pun terhempas ke belakang dan hampir membentur tanah. Beruntung Kautsar sigap menahan tubuh Aruna lalu membawanya bergeser ke samping.


Sedangkan Kenzo dan Hasan nampak berpegangan pada sesuatu yang ada di sampingnya karena tanah yang mereka pijak terasa bergetar akibat benturan tadi.


" Lo Gapapa Run...?!" tanya Kenzo dari tempatnya berdiri.


" Alhamdulillah Gapapa Ken...!" sahut Kautsar mewakili Aruna.


Sementara itu akibat benturan tadi membuat bayangan hitam itu terpecah menjadi beberapa bagian. Ada darah kehitaman berbau busuk yang menetes di tanah seolah ada sesuatu yang terpotong-potong. Jumlahnya pun makin lama makin banyak hingga membuat udara di sekitar mereka dipenuhi bau busuk.


Beberapa saat kemudian serpihan bayangan hitam itu memudar lalu lenyap sama sekali.


" Alhamdulillah...," kata Aruna dan Kautsar bersamaan.


Kenzo dan Hasan yang mendengar ucapan hamdalah itu pun ikut bersyukur.


Sementara itu di tempat lain terlihat Dito tengah tersenyum lega saat tangan hitam yang tadi menggenggam bayi Amanda hancur lebur. Sesaat kemudian bayi dalam pelukan Dito pun ikut lenyap. Bersamaan dengan itu tubuh Dito pun terkulai lemah lalu jatuh pingsan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2