
Elan dan keluarganya masih berkumpul dan tertawa bersama walau pun diwarnai kepura-puraan.
Mereka berusaha saling menjaga perasaan satu sama lain agar tak terjadi keributan. Yang paling menderita diantara mereka justru para wanita yang berusaha menenangkan suami masing-masing.
Setelah suasana yang dipenuhi ketegangan itu berlangsung lama, Edi pun pamit undur diri.
" Aku pamit dulu ya. Mau nganterin Puri check up ke Rumah Sakit...," kata Edi.
" Ke Rumah Sakit, apa Puri sakit Ed...?" tanya sang mama cemas.
" Ga Ma. Puri sehat kok. Kandungannya juga. Kami lagi program hamil dan kata dokter hasilnya bisa Kami dapat sore ini. Doain aja supaya Aku sama Puri bisa punya anak kaya Bang Elan...," sahut Edi dengan suara tercekat.
" Pasti, Mama selalu doain Kamu dan Puri tanpa Kamu minta Nak...," kata sang mama sambil tersenyum.
" Makasih Ma...," sahut Edi dan Puri bersamaan.
" Oh iya, dimana Kalian tinggal ?. Mungkin suatu saat Kami bisa berkunjung ke sana untuk ketemu Kenzo...," kata Edi.
" Oh boleh, dengan senang hati. Tapi nanti kalo Kami udah pindah ke alamat yang baru aja ya. Soalnya Aku sama Nina berniat pindah dari rumah yang sekarang. Maklum lah, rumah yang sekarang terlalu sempit sedangkan Kenzo juga butuh ruang untuk bermain...," sahut Elan cepat.
Edi tahu jika sang kakak sedang menolak memberikan alamat rumahnya dan itu membuatnya kesal.
" Ok gapapa..., " sahut Edi sambil tersenyum kecut.
Setelahnya Edi dan Puri berjalan meninggalkan Elan dan keluarganya tanpa menoleh lagi.
" Mudah-mudahan ga terjadi apa-apa ke depannya...," kata Elan penuh harap.
" Ayah juga berharap yang sama Nak. Entah kenapa Ayah juga mencium sesuatu yang aneh dari sikap Edi tadi...," kata sang ayah.
" Jangan berlebihan. Edi hanya kaget karena Kita menyembunyikan fakta sebenarnya tentang anak Elan selama ini. Mama khawatir dia malah berpikir buruk tentang Kita nanti. Andai Kamu ga main petak umpet kaya gini, pasti Edi dan Puri ga akan salah paham Lan...," sahut mama Elan ketus.
Elan hanya diam karena tahu akan sia-sia menentang ucapan sang mama. Ia melirik Nina yang saat itu tampak cemas.
" Insya Allah semua akan baik-baik aja. Kamu tenang aja Sayang...," kata Elan sambil mengusap punggung Nina dengan lembut.
" Iya...," sahut Nina sambil mempererat pelukannya pada Kenzo.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Setelah pertemuan itu Edi makin terobsesi untuk segera memiliki keturunan. Ia berpikir untuk menyaingi Elan dengan 'menampilkan' anak-anaknya nanti. Edi juga berharap jika anak yang dilahirkan Puri nanti adalah anak perempuan karena itu akan membuat sang mama senang.
Selama ini sang mama memang menginginkan anak perempuan. Tapi karena gagal memiliki anak perempuan, tak ada salahnya jika Edi mencoba memenuhi keinginannya itu bukan ?.
Edi pun menghalalkan segala cara untuk memiliki anak. Walau Puri keberatan dengan cara sang suami, namun Puri tak berdaya karena ancaman Edi ternyata masih membuatnya takut.
Hingga akhirnya Puri berhasil hamil setelah Edi pergi untuk melakukan ritual. Sebelumnya Edi sengaja meninggalkan Puri selama beberapa waktu dan kembali setelah dua bulan menghilang.
Saat Edi kembali ia dikejutkan dengan kondisi Puri yang sakit parah. Bahkan Puri harus dilarikan ke Rumah Sakit karena pingsan. Edi yang baru saja kembali dari 'menyepi' itu tak tahu apa pun tentang kondisi Puri. Ia hanya duduk diam sambil mengamati dokter mengecek kesehatan istrinya.
Edi nampak mengerutkan keningnya saat melihat dokter yang memeriksa kondisi Puri tersenyum simpul.
" Kenapa dok, apa yang terjadi sama Istri Saya...?" tanya Edi penasaran.
" Selamat ya Pak. Istri Anda bukan sakit biasa. Bu Puri sakit karena memang seperti itu lah kondisi wanita di awal kehamilan...," sahut sang dokter sambil mengulurkan tangannya kearah Edi.
" Maksud dokter Istri Saya hamil...?" tanya Edi hati-hati.
" Betul Pak...," sahut sang dokter sambil tertawa.
Mendengar jawaban sang dokter membuat Edi terlonjak dari duduknya. Ia langsung menghampiri Puri yang saat itu masih belum sadarkan diri. Berkali-kali Edi menciumi Puri untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Sang dokter nampak tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Edi.
" Baik dok, makasih...," sahut Edi.
Edi menatap Puri dengan sayang. Ia bahagia karena keinginannya untuk punya anak sebentar lagi akan terwujud.
Tak lama kemudian Puri pun siuman. Ia mengerjapkan matanya dan terkejut melihat kehadiran suaminya di sana.
" Bang Edi...?" tanya Puri lirih.
" Iya. Ini Aku...," sahut Edi sambil tersenyum.
" Kapan Abang pulang ?. Terus Aku dimana Bang...?" tanya Puri sambil mengedarkan pandangan ke penjuru kamar.
" Aku baru aja pulang. Pas sampe rumah Aku ngeliat Bi Ipah lagi mondar-mandir sambil teriak-teriak. Pas Aku tanya dia bilang Kamu lagi pingsan. Makanya Aku langsung bawa ke sini karena Aku ga mau Kamu kenapa-kenapa...," sahut Edi.
" Oh gitu. Kepalaku emang sakit sejak bangun tidur tadi Bang. Badanku juga rasanya lemes banget kaya ga ada tulangnya...," keluh Puri sambil meringis menahan sakit.
" Gapapa. Itu wajar kok...," kata Edi sambil tersenyum.
__ADS_1
" Wajar gimana sih Bang...?" tanya Puri tak mengerti.
" Kata dokter keluhan kaya yang Kamu alami ini wajar di awal kehamilan...," sahut Edi santai.
Mendengar ucapan Edi membuat Puri meradang.
" Iya itu buat orang hamil. Tapi Aku kan..., eh maksud Kamu Aku hamil Bang...?" tanya Puri tak percaya.
" Iya...," sahut Edi mantap.
Untuk sesaat Puri menganga tak percaya. Namun detik berikutnya ia nampak menangis dan Edi pun segera memeluknya erat.
" Kita akan punya anak. Kita bisa rebut semuanya segera setelah anak Kita lahir Sayang...," kata Edi antusias.
Namun Puri nampak kecewa mendengar ucapan suaminya.
" Tolong jangan rusak kebahagiaanku dengan ambisimu itu Bang...," protes Puri.
" Apa maksudmu Puri. Sejak awal niatku memiliki Anak memang untuk itu dan Kamu juga setuju dulu...," kata Edi tak mengerti.
" Itu dulu Bang. Tapi sekarang Aku mau punya keluarga yang normal. Biar lah harta itu jadi milik Bang Elan karena memang begitu seharusnya kan...?" tanya Puri.
" Kemana arah pembicaraanmu ini Puri...?" tanya Edi dengan wajah merah padam.
" Maaf Bang. Harusnya Abang sadar kalo Abang hanya anak angkat walau pun Abang lahir dari saudara Ayah. Bang Elan lah yang anak kandung Ayah dan Mama. Jadi dia berhak atas harta Ayah dan Mama...," sahut Puri dengan berani.
Plakkk...!
Tamparan keras mendarat di pipi Puri dan itu membuatnya terkejut. Ia menatap nanar kearah Edi yang saat itu tengah menatap garang kearahnya.
" Lancang sekali. Siapa yang memberimu hak untuk mengatakan itu Puri ?!. Aku adalah anak mereka dan Aku ga mau harta Ayah jatuh ke tangan si Elan. Camkan itu atau Kau akan tau akibatnya...!" kata Edi lantang sambil mengguncang tubuh Puri dengan kasar.
Puri yang merasa kesakitan pun memohon untuk dilepaskan.
" Maaf Bang. Tolong lepasin Aku. Ingat Bang, Aku lagi hamil...," pinta Puri.
Edi menghentikan aksinya lalu meninggalkan Puri begitu saja. Puri nampak menatap kepergian Edi sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
\=\=\=\=\=
__ADS_1