Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
109. Menagih Bayaran


__ADS_3

Kautsar yang mendapat tatapan tak bersahabat dari Aruna pun nampak salah tingkah. Mengerti jika sang istri sedang dalam mode 'ngambek', membuat Kautsar maklum meski pun ia tak mengerti apa penyebabnya.


" Jin itu udah pergi Sayang...?" tanya Kautsar.


" Udah...," sahut Aruna kesal.


" Dia ngomong apaan sih, kok Kamu jadi jutek kaya gini...?" tanya Kautsar.


" Ngomong soal masa lalu Kamu...," sahut Aruna cepat.


" Masa lalu yang mana...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Soal Wenni..., " sahut Aruna sambil menatap Kautsar penuh tanya.


" Wenni...?" ulang Kautsar sambil mengerutkan keningnya.


" Iya. Apa Kamu ga mau jelasin soal dia...?" tanya Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum.


" Harus sekarang jelasinnya. Apa ga nunggu dulu sampe urusanmu sama makhluk merah yang gangguin Robi itu selesai...?" tanya Kautsar dengan sabar.


Aruna nampak menimbang sesaat lalu mengangguk. Aruna sadar jika ucapan Kautsar benar. Bukan saatnya menggali masa lalu sang suami. Ada tugas lain yang menantinya saat itu dan Robi perlu segera mendapat pertolongan.


" Ok. Kita bahas itu nanti di rumah...," kata Aruna.


" Siaaapp Bos...," sahut Kautsar dengan posisi siap ala tentara hingga membuat Aruna tersenyum.


" Kalo gitu Kita ke kamar rawatnya Robi yuk...," ajak Aruna yang diangguki Kautsar.


Kemudian keduanya pun bergegas mendatangi kamar dimana Robi dirawat. Saat tiba di kamar yang dimaksud, mereka melihat kedua orangtua Robi sedang berdiri di depan ruangan. Melihat kehadiran Kautsar dan Aruna keduanya pun tersenyum. Bahkan kedua orangtua Robi langsung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Aruna dan Kautsar.


" Gimana kondisi Robi Om...?" tanya Kautsar sambil menerima pelukan ayah Robi.


" Alhamdulillah jauh lebih baik Nak. Sekarang lagi dibantu biar lebih nyaman berbaringnya...," sahut ayah Robi.


" Alhamdulillah, syukur lah kalo gitu...," kata Kautsar sambil tersenyum.


" Kami juga mau ngucapin Terima kasih sama Kamu ya Nak. Karena Kamu keukeuh yakin Robi masih hidup, jadi Robi ga jadi dimasukin ke kamar jenasah deh...," kata mama Robi sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.


" Sama-sama Tante...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Tapi kalo boleh tau apa yang bikin Kamu yakin kalo saat itu Robi masih hidup Nak...?" tanya mama Robi.

__ADS_1


" Gampang aja Tante. Semua juga pasti ngeliat kok kalo selimut yang nutupin wajahnya Robi bergerak naik turun. Walau pun lemah, tapi itu cukup ngasih informasi kalo sebenernya Robi masih bernafas...," sahut Aruna berbohong.


" Gitu ya. Tante juga udah bilang kaya gitu tadi tapi para perawat itu ga ada yang percaya..., " kata Mama Robi sedikit kecewa.


" Wajar Tante. Nafas Robi kan lemah banget, kalo ga teliti pasti Kita ga bakal ngeh kalo Robi masih bernafas tadi...," sahut Aruna yang diangguki Mama Robi.


Tak lama kemudian dokter dan perawat yang membantu menangani Robi pun keluar dari dalam ruangan. Semua orang menoleh dan melihat senyum di bibir sang dokter.


" Gimana keadaan anak Saya dok...?" tanya Mama Robi penasaran.


" Alhamdulillah ini di luar dugaan Bu. Anak Ibu ternyata kembali bernafas dan sekarang kondisinya baik-baik aja...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


" Alhamdulillah...," sahut kedua orangtua Robi bersamaan.


" Jadi sebenernya tadi kenapa dok. Apa itu yang disebut mati suri ya...?" tanya ayah Robi.


" Bisa juga disebut begitu. Ada sumbatan yang tak terlacak oleh alat tadi, dan rupanya setelah sumbatan itu terlepas pasien kembali bisa bernafas dengan normal...," sahut sang dokter.


" Gitu ya dok...," kata ayah Robi sambil menganggukkan kepalanya.


" Untuk sementara pasien harus bedrest. Jangan melakukan aktifitas berat dan membahayakan. Pup dan pipisnya bisa pake pispot dulu ya Pak. Kalo kesulitan bisa panggil perawat untuk membantu nanti...," kata sang dokter.


" Kalo gitu Kami permisi. Ingat, jangan diajak bicara dulu ya. Pasien harus cukup istirahat dan hanya boleh ditemani satu orang...," kata dokter sebelum berlalu.


" Baik dok, makasih...," sahut kedua orangtua Robi bersamaan.


Sang dokter nampak tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya diikuti dua perawat yang sejak tadi bersamanya.


" Aku masuk duluan ya Pa. Aku penasaran mau liat kondisi Robi...," kata Mama Robi.


" Iya Ma...," sahut ayah Robi.


" Apa Saya boleh ikut masuk sebentar...?" tanya Aruna.


" Tentu saja. Ayo Kita masuk...," ajak Mama Robi sambil menggamit lengan Aruna dan membawanya masuk untuk menjenguk Robi.


" Tapi tadi kan dokter bilang...," ucapan Kautsar terputus saat ayah Robi menggelengkan kepalanya.


" Biar aja Nak, kan cuma sebentar. Asal dokter ga tau kan gapapa. Setelah mereka, baru giliran Kita yang masuk ke dalam...," kata ayah Robi.


" Iya Om...," sahut Kautsar cepat.

__ADS_1


Sementara itu Mama Robi dan Aruna nampak berdiri mengamati Robi yang tengah terbaring di atas brankar. Wajah Robi terlihat lebih tenang dan nafasnya pun lebih teratur. Mama Robi maju mendekati sang anak lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Robi.


Saat mama Robi sibuk menatap sang anak, Aruna nampak mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ia sedikit menghela nafas kesal saat melihat penampakan bayi merah itu lagi di dalam ruangan. Kali ini jin berwujud bayi merah itu nampak menempel di gorden jendela. Tengah bergelayut manja layaknya koala.


Perlahan Aruna berjalan mendekati jendela berpura-pura ingin melihat keluar melalui jendela kamar itu.


" Ngapain masih di sini...?" bisik Aruna sambil membulatkan matanya.


" Aku ga bisa pergi kalo ga ngajak dia...," sahut bayi merah.


" Kenapa begitu...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Aku sudah melakukan semua yang dia inginkan. Dan sekarang giliranku menagih bayaran...," sahut bayi merah itu.


" Ck. Apa aja sih kerjaanmu. Kenapa baru minta bayaran sekarang...?" tanya Aruna sambil berdecak sebal.


" Robi selalu melakukan pekerjaan berturut-turut. Hanya ada jeda sebentar terus lanjut lagi. Begitu seterusnya sampe Aku juga ga sempet Istirahat...," sahut bayi merah.


" Pekerjaan apa dan kenapa harus Kamu yang ngerjain...?" tanya Aruna.


" Banyak. Pekerjaan itu diantaranya bikin saingannya kecelakaan, bikin wanita yang dia inginkan bertekuk lutut di hadapan nya, juga membunuh seseorang...," sahut bagi merah sambil menjilati jemari tangannya.


" Segitu jahatkah Robi sampe harus terus menggunakan jasamu untuk menyingkirkan semua saingannya...?" tanya Aruna sambil menggelengkan kepalanya.


" Begitulah..., " sahut bayi merah itu cuek.


" Kamu lagi ngapain di sana Aruna...?" tanya Mama Robi tiba-tiba.


" Gapapa Tante. Cuma pengen tau ada apaan sih dibalik jendela itu...," sahut Aruna sambil melangkah mendekati tempat tidur Robi.


" Oh gitu. Apa Kamu masih mau ngeliat Robi...?" tanya Mama Robi.


" Cukup Tante...," sahut Aruna cepat.


" Kalo gitu Kita keluar yuk, gantian sama Papanya Robi...," kata Mama Robi.


" Ok Tante...," sahut Aruna lalu mulai mengekori mama Robi.


Sebelum keluar Aruna masih melirik kearah bayi merah itu. Bayi merah itu nampak melambaikan tangan kearahnya hingga membuat Aruna melengos. Bayi merah itu pun tersenyum senang karena berhasil menggoda Aruna.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2