
Persiapan pernikahan Aruna dan Kautsar pun berjalan lancar. Kedua orangtua calon pengantin pun nampak bahagia karena Aruna dan Kautsar menyetujui permintaan mereka. Arka, Diana, Ahmad dan Hardini pun datang kembali ke Malang dengan membawa dokumen yang diperlukan untuk menikahkan Aruna dan Kautsar.
“ Karena Aruna masih kuliah dan Kautsar juga harus bekerja, gapapa kan kalo pernikahan mereka digelar di Malang aja Pak...?” tanya Arka sore itu.
“ Setuju Pak Arka, Saya dan Istri Saya ga keberatan kok...,” sahut Ahmad.
“ Terus resepsinya gimana Pa. Masa ga ngadain acara resepsi sama sekali...?” tanya Diana mewakili Hardini yang juga menginginkan resepsi pernikahan untuk anak mereka.
“ Insya Allah Kita gelar di Jakarta pas Aruna libur kuliah nanti Ma...,” sahut Arka sambil tersenyum.
“ Iya Bu. Biar sekalian Kautsar ngajuin cuti kerja nanti...,” kata Ahmad menambahkan.
“ Kalo gitu Kami setuju, iya kan Bu...?” tanya Diana sambil menoleh kearah Hardini.
“ Banget...,” sahut Hardini hingga membuat semua tertawa.
“ Sekarang dimana Kautsar Bu...?” tanya Ahmad sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
“ Sebentar lagi datang Yah. Katanya sih lagi di jalan...,” sahut Hardini.
“ Sama Aruna juga...?” tanya Ahmad yang diangguki istrinya.
Tak lama kemudian Aruna dan Kautsar datang sambil berboncengan. Melihat kedua calon pengantin yang nampak rukun itu membuat keempat orangtua itu bahagia.
“ Assalamualaikum, maaf telat...,” sapa Kautsar dan Aruna bersamaan lalu mencium punggung tangan keempat orangtua mereka bergantian.
“ Wa alaikumsalam..., gapapa Kami ngerti kok...,” sahut Ahmad sambil tersenyum.
“ Darimana sih kok baru sampe...?” tanya Diana.
“ Dari kampus Ma. Ada urusan sebentar tadi...,” sahut Aruna.
“ Kok bisa bareng sama Kautsar...?” tanya Diana lagi.
“ Mmm..., Kautsar yang jemput ke kampus tadi...,” sahut Aruna sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“ Iya Tante, Saya sengaja jemput Aruna biar bisa bareng ke sini...,” kata Kautsar menambahkan.
“ Oh gitu. Tapi kalo udah jadi menantu jangan panggil Tante lagi ya Nak. Panggil Mama, sama kaya Aruna...,” pinta Diana.
“ Siap Ma !. Eh maaf, keceplosan...,” sahut Kautsar sambil menutup bibirnya dengan telapak tangannya hingga membuat semua orang tertawa.
“ Wah rupanya ada yang ga sabar jadi menantunya Bu Diana ya...,” goda Hardini sambil tersenyum.
“ Ibu apaan sih...,” sahut Kautsar dengan wajah merona.
Tawa pun kembali menggema saat mereka melihat Kautsar salah tingkah karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
\=====
Malam itu Aruna sedang duduk di pinggir jendela sambil menatap keluar. Ia sengaja menunggu kehadiran ayahnya. Sayangnya setelah lama menunggu, Orion tak juga datang. Aruna beranjak dari jendela dan bersiap menutup jendela namun ia urungkan saat melihat George dan Matilda.
“ Om sama Tante kemana aja sih, kok baru keliatan...?” sapa Aruna dengan mata bebinar lalu memeluk George dan Matilda bergantian.
“ Kami lagi ada urusan Nak. Kenapa, Kamu kangen ya...?” goda Matilda sambil menyentuh rambut Aruna.
“ Iya Tante. Biasanya kan Kita ketemu dan ngobrol banyak...,” sahut Aruna cepat.
“ Kan udah ada Ayahmu yang menjagamu, jadi tugas Kami sedikit ringan Nak...,” kata George.
“ Tapi Ayah udah lama ga datang. Apa Ayah bak-baik aja Om...?” tanya Aruna.
“ Dia baik-baik aja. Cuma sedikit letih karena baru saja menghadapi beberapa musuh yang ingin mencelakaimu Nak...,” sahut George.
“ Apa Ayah terluka...?” tanya Aruna cemas.
“ Mana ada, Ayahmu terlalu tangguh untuk dihadapi meski pun oleh pasukan manusia serigala terkuat sekali pun...,” sahut Matilda mencoba meyakinkan Aruna.
“ Tapi selalu ada peluang gagal dalam setiap keberhasilan kan Tante...,” kata Aruna lirih.
“ Itu betul. Tapi Ayahmu sudah kembali seperti seharusnya sejak dia bicara denganmu Aruna...,” kata George.
“ Masa sih Om...?” tanya Aruna tak percaya.
“ Jangan ngomong gitu Om, Aku jadi malu. Ini semua karena Om dan Tante yang udah sabar jagain Aku dan ngasih Aku pengertian. Jadi pas ketemu Ayah Aku ga terlalu kaget...,” sahut Aruna.
George dan Matilda nampak saling menatap kemudian tersenyum.
“ Selamat juga atas rencana pernikahanmu dengan Kautsar ya Nak...,” kata George.
“ Makasih Om. Tapi kenapa Om ga pernah ngasih tau kalo Ayahnya Kautsar itu Pak Ahmad, guru SMPku dulu...?” tanya Aruna.
“ Masa sih, mungkin Aku lupa atau justru Kamu yang ga dengerin...,” sahut George sambil menggaruk kepalanya.
“ Maklum lah Aruna Om Kamu kan udah ga muda lagi...,” kata Matilda sambil tersenyum hingga membuat Aruna tertawa.
“ Aku lagi nunggu Ayah, kenapa Ayah ga datang ya...,” kata Aruna sedikit kecewa.
“ Aku di sini Nak...!” kata Orion tiba-tiba lalu melompat masuk ke dalam kamar Aruna.
“ Ayah...!” panggil Aruna dengan wajah berbinar lalu menghambur memeluk sang ayah.
Matilda dan George nampak tersenyum melihat Orion dan Aruna yang saling memeluk itu.
“ Kenapa baru datang sih Yah, kan banyak pertanyaan yang harus Ayah jawab...,” kata Aruna dengan manja hingga membuat Orion tersenyum.
__ADS_1
“ Baik lah. Kita bicara di tempat lain yuk...,” ajak Orion.
“ Ok, siapa takut...,” tantang Aruna hingga membuat Orion, George dan Matilda tertawa.
Tak lama kemudian keempatnya melesat cepat menuju suatu tempat yang jauh. Aruna nampak tertawa bahagia karena bisa adu cepat dengan Orion, George dan Matilda.
“ Di bukit itu Aruna...!” kata Orion lantang.
“ Siap Yah...!” sahut Aruna sambil mempercepat larinya.
Aruna dan Orion terus berlari dan meninggalkan George dan Matilda di belakang mereka. Tentu saja bukan karena George dan Matilda tak mampu berlari cepat, tapi mereka sengaja memberi kesempatan Aruna dan Orion melepas rindu. Tak lama kemudian mereka berhasil menyusul Orion dan Aruna lalu ikut duduk di dahan pohon yang menjulang tinggi.
“ Jadi kenapa Ayah memintaku menikahi Kautsar...?” tanya Aruna.
“ Dia punya sesuatu di dalam dirinya yang Kamu butuhkan kelak...,” sahut Orion.
“ Apa Yah...?” tanya Aruna.
“ Banyak hal. Kesabaran dan kegigihannya menghadapi emosimu yang naik turun itu adalah salah satu alasan Ayah memilihnya Aruna...,” sahut Orion.
“ Kata siapa emosiku naik turun...?” tanya Aruna tak suka.
“ Kata Om dan Tantemu dong. Darimana Ayah tau semua tentang Kautsar kalo bukan mereka yang ngasih informasi...,” sahut Orion santai.
“ Ga perlu malu Aruna. Kami kan ngeliat bagaimana sikapmu saat berhadapan sama Kautsar dulu. Tapi walau pun udah digalakin dan dicuekin sama Kamu, Kautsar tetep sabar dan terus menjaga Kamu. Itu yang bikin Kami salut sama dia...,” kata Matilda sambil tersenyum.
“ Tapi Kautsar bilang kalo tugasnya selesai saat dia lulus SMA. Rupanya dia bohong ya...,” kata Aruna sedikit kesal.
“ Jangan marah Nak. Naluri dalam diri Kautsar untuk menjagamu sudah ada sejak lama. Mungkin karena terbiasa justru menimbulkan rasa aneh kalo ga ngelakuin itu. Makanya dia terus menjagamu tanpa dia sadari walau pun perintah untuk mengawasimu udah lama gugur...,” sahut George menengahi.
“ Kok Aku ngerasa kalo keputusan Ayah untuk menikahkan Aku dengan Kautsar bukan seratus persen buah pikiran Ayah ya...,” kata aruna sambil menatap Orion, George dan Matilda bergantian.
“ Itu memang keputusan Kami Nak...,” sahut Orion mantap.
“ Dan Kami senang Kamu mau menerimanya dengan lapang hati...,” kata George menambahkan.
“ Aku memang ga punya alasan buat nolak kan...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
“ Jadi Kamu siap menikah Nak...?” tanya Orion.
“ Insya Allah Yah. Apa Kalian bisa hadir di pernikahanku...?” tanya Aruna penuh harap.
“ Insya Allah Kami datang dengan wujud Kami sebagai manusia Nak...,” sahut Orion yang diangguki George dan Matilda.
Aruna nampak tersenyum bahagia dengan mata berbinar indah. Kemudian Orion, Aruna, George dan Matilda melanjutkan perbincangan mereka sambil menikmati pemandangan alam dari puncak bukit saat malam hari.
Bersambung
__ADS_1