Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
322. Ungkapan Hati Rasyid


__ADS_3

Saat yang dinanti oleh Rasyid pun tiba. Tepat menjelang tengah malam ia dan Aruna mulai berkomunikasi dengan arwah Sheina.


Aruna tak sendiri. Seperti biasa ia didampingi oleh suaminya. Kali ini George dan Matilda pun ikut menemani. Sedangkan Bi Mey menjaga bayi kembar Aruna yang sedang tidur di kamar.


Suasana di dalam ruangan terasa hening. Hawa dingin perlahan menyeruak hingga membuat Rasyid sedikit bergidik. Rasyid menatap Aruna dengan tatapan cemas. Namun saat ia melirik kearah Kautsar, ia melihat suami Aruna itu menggerakkan bibirnya seolah sedang mengucapkan sesuatu. Meski tak tahu pasti apa yang diucapkan Kautsar, namun Rasyid merasa jauh lebih tenang.


" Dia ada di sini...," kata Aruna tiba-tiba hingga mengejutkan Rasyid.


" Siapa Run...?" tanya Rasyid.


" Kak Sheina Mas. Dia ada persis di depanmu. Sekarang Kak Sheina sedang menundukkan kepalanya...," sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.


" Apa Aku bisa memeluknya Aruna...?" tanya Rasyid penuh harap.


" Maaf, ga bisa Mas. Tapi Aku bisa membantumu merasakan kehadirannya. Gimana Mas, apa Kamu mau mencobanya...?" tanya Aruna.


" Iya, Aku mau Aruna...," sahut Rasyid antusias.


" Sekarang ulurkan tanganmu, buka telapak tangan dan pejamkan matamu. Jangan lupa tetap berdzikir supaya Kamu ga mengg*la nanti...," kata Aruna sambil tersenyum.


Rasyid ikut tersenyum lalu melakukan apa yang dikatakan Aruna. Tak lama kemudian tangan Rasyid tampak bergetar saat ia merasa udara hangat menerpa telapak tangannya yang terkembang itu. Dan tanpa Rasyid sadari air mata jatuh menitik di wajahnya.


" Kamu merasakan kehadirannya kan Mas...?" tanya Aruna dengan suara bergetar.


" Iya Aruna...," sahut Rasyid dengan suara parau.


" Sekarang katakan apa pun yang mau Kamu sampaikan Mas...," kata Aruna.


Rasyid mengangguk. Ia berusaha mengendalikan diri agar tak menangis di depan arwah istrinya. Namun setelah ditunggu beberapa saat, Rasyid tak juga mengatakan apa pun. Aruna yang mengerti bagaimana kondisi Rasyid pun memulai komunikasi dengan arwah Sheina lebih dulu.


" Apa kabar Kak...?" sapa Aruna sambil menatap tempat kosong di hadapan Rasyid.


" Aku ga baik- baik saja Aruna. Aku ga tau kenapa...," sahut arwah Sheina gusar.


Aruna tersenyum kecut mendengar jawaban arwah Sheina. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.


" Kamu masih kenal dengan Mas Rasyid kan Kak...?" tanya Aruna tiba-tiba.


" Tentu saja. Rasyid adalah pria terbaik yang pernah Aku kenal Aruna...," sahut arwah Sheina sambil tersenyum.


" Betul Kak. Dan dia Suamimu sekarang...," kata Aruna.


" Suamiku...," ulang arwah Sheina sambil menatap Rasyid dengan tatapan sendu.


" Kenapa Kakak sedih...?" tanya Aruna hingga mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu terutama Rasyid.

__ADS_1


" Aku telah membuatnya kecewa kan...," sahut arwah Sheina dengan lirih.


Aruna mengulang apa yang diucapkan arwah Sheina hingga membuat semua orang mengerti apa yang sedang ia dan arwah Sheina bicarakan.


" Kenapa Kamu berpikir seperti itu Kak...?" tanya Aruna.


" Karena Aku masih tertahan di sini Aruna. Bukan kah harusnya Aku bisa pergi seperti yang lain...?" tanya arwah Sheina tak mengerti.


Aruna nampak menghela nafas panjang kemudian mengangguk.


" Aku tau apa sebabnya kenapa Aku masih tertahan di sini. Itu pasti karena dia...," kata arwah Sheina sambil menunjuk Rasyid.


" Kenapa Kamu berpikir jika dia yang membuatmu tertahan di sini...?" tanya Aruna yang juga didengar oleh semua orang.


" Pasti karena dia terus meratapi kematianku makanya Aku sulit untuk pindah ke sana Aruna. Tolong bilang sama dia, berhenti menyesali kepergian ku karena Aku ingin segera pergi ke tempat seharusnya seperti yang lain...," kata arwah Sheina lirih.


" Dia ga sengaja melakukannya Kak. Itu karena dia sangat mencintaimu. Bukan kah Kamu juga mencintai Mas Rasyid...?" tanya Aruna.


" Iya Aruna. Aku mencintainya. Aku juga tak ingin meninggalkannya tapi takdirku telah sampai. Aku ga bisa berbuat apa-apa selain menerimanya kan...," kata arwah Sheina.


Rasyid menegakkan kepalanya setelah beberapa saat mendengarkan ocehan Aruna. Dengan suara lirih akhirnya Rasyid menyampaikan rasa yang disimpannya itu.


" Aku minta maaf karena telah membuat langkahmu terhambat Sheina. Tapi Aku janji setelah ini ga akan meratap lagi. Sekarang ijinkan Aku mengatakan semuanya sebelum Kamu pergi...," kata Rasyid.


" Sheina Sayang. Dengarkan ungkapan hatiku untuk yang terakhir kalinya. Ungkapan yang belum sempat Aku sampaikan langsung dan selalu membuatku menyesal hingga detik ini...," kata Rasyid.


Tak ada sahutan, suasana masih hening karena semua menunggu Rasyid melanjutkan ucapannya.


" Sejak pertama mengenalmu hidupku berubah. Semangat hidupku bertumbuh seiring kedekatan Kita. Aku percaya pada pepatah yang bilang cinta pada pandangan pertama karena Aku mengalami itu...," kata Rasyid sambil tersenyum.


Semua yang mendengar ucapan Rasyid ikut tersenyum pertanda setuju dengan apa yang Rasyid ucapkan.


" Menjadikanmu Istriku adalah pencapaian terbesar dalam hidupku. Aku bahagia. Terlalu bahagia hingga Aku jadi lupa dan sedikit takabur. Aku beranggapan tak akan ada yang bisa memisahkan Kita. Dan Allah tak suka itu. Allah menegurku langsung dengan mengambilmu dari sisiku. Aku terkejut, Aku terpukul. Apalagi Allah mengambilmu dengan cara yang sangat menyakitkan. Allah mengambilmu dengan perantara luka yang Aku buat di pundakmu. Sialnya lagi luka itu akibat tembakan pistol yang selama ini jadi simbol kebanggaan ku sebagai aparat...," kata Rasyid mulai menangis.


Suasana haru pun menyelimuti ruangan itu. Aruna menatap George karena terkejut mendengar ucapan Rasyid.


" Apa ini Om. Kenapa Mas Rasyid masih ingat semuanya...?!" tanya Aruna bingung.


George hanya menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya. Meski tak mengerti Aruna hanya mengangguk dan kembali mendengarkan ungkapan hati Rasyid.


Dengan susah payah Rasyid melanjutkan ucapannya yang terhenti karena ia harus menghapus air matanya.


" Aku telah melukai Istriku. Bahkan Aku telah membuatmu menderita menjelang kematianmu. Dan Aku hanya sebentar berada di sisimu saat Kamu kesakitan akibat luka yang kubuat. Penyesalanku lainnya adalah karena Aku ga bisa menyaksikan pemakamanmu...," kata Rasyid lagi.


Aruna, George dan Matilda saling menatap usai Rasyid mengatakan ini. Ketiganya kembali menatap Rasyid saat dia kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


" Aku mohon, maafkan Aku Sheina. Maaf atas luka yang telah Kubuat. Maaf atas kekhilafanku hingga membuat Allah murka lalu menghukum ku dan menjadikanmu media untuk mengingatkan Aku. Dan Aku tersadar, Allah adalah pemilik kehidupan semua makhluk Nya setelah Dia mengambilmu dariku. Maaf, tolong maafkan Aku Sayang...," kata Rasyid sambil terisak.


Arwah Sheina ikut menangis melihat Rasyid menangis. Ia mengulurkan tangannya bermaksud menyentuh wajah Rasyid namun sia-sia. Arwah Sheina nampak putus asa. Ia menggelengkan kepala dengan wajah bersimbah air mata.


" Aku memafkan dia Aruna !. Demi Allah Aku telah memaafkannya. Katakan padanya agar jangan bersedih lagi. Semua yang terjadi adalah bagian dari takdir dan bukan salahnya. Aku akan baik-baik saja jika dia baik-baik saja. Tolong ikhlaskan kepergianku. Karena tanpa keikhlasan dari Suamiku Aku tak bisa pergi dengan tenang menghadap Robbku...," kata arwah Sheina sambil menangis.


Aruna pun menyampaikan pesan arwah Sheina dan itu membuat Rasyid terpaksa tersenyum.


Dengan berat hati Rasyid mengucapkan kalimat yang menjadi sebab sirnanya hambatan yang menghadang langkah Sheina.


" Baik lah. Detik ini juga Aku mengikhlaskan istriku Sheina, untuk pergi menghadap Robbnya. Pergi lah Sheinaku Sayang...," kata Rasyid sambil merentangkan kedua tangannya ke udara.


Ajaib. Perlahan arwah Sheina terlihat melayang ringan di udara diikuti pendaran cahaya warna warni yang mengelilingi tubuhnya. Wajah pucat Sheina berangsur memudar berganti dengan wajah cantik segar yang dihiasi senyuman.


" Aku bebas Aruna. Aku bebas...!" kata arwah Sheina sambil tersenyum.


" Iya Kak. Pergilah, Kamu bebas sekarang...," sahut Aruna dengan suara yang hampir tak terdengar karena tertutupi suara tangisnya.


" Terima kasih Aruna. Sampaikan pada Rasyid jika Aku sangat mencintainya. Dan mencintainya adalah tindakan paling tepat di sepanjang hidupku. Aku pergi Aruna. Sampaikan salamku untuk semuanya. Selamat tinggal Aruna...!" pamit arwah Sheina sambil tersenyum.


Aruna mengangguk bersamaan dengan sinar terang yang datang menjemput lalu membawa tubuh Sheina ke atas, terus ke atas lalu hilang di kegelapan malam.


Sesaat kemudian Aruna terlihat oleng. Kautsar yang berada di samping Aruna pun sigap memeluk Aruna agar sang istri tak jatuh tersungkur di lantai.


" Kamu gapapa kan Sayang...?" tanya Kautsar.


" Aku gapapa Yah...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Apa Sheina bisa pergi Nak...?" tanya Matilda penasaran.


" Iya Tante. Kak Sheina udah pergi. Dia titip salam untuk semuanya...," sahut Aruna sambil menatap semua orang di ruangan itu satu per satu.


" Alhamdulillah...," kata semua orang bersamaan.


" Kak Sheina bilang, mencintai Mas Rasyid adalah tindakan paling tepat yang dia ambil selama hidupnya...," kata Aruna sambil menatap Rasyid.


Rasyid terharu mendengar pesan Sheina. Wajahnya yang semula gusar kini terlihat lebih tegar.


" Terima kasih Aruna. Aku merasa jauh lebih baik sekarang...," kata Rasyid sambil tersenyum.


" Sama-sama Mas. Jangan lupa bahagia karena Kak Sheina ingin Mas Rasyid bisa melanjutkan hidup sebagaimana mestinya...," sahut Aruna.


" Insya Allah. Aku akan berusaha bahagia Aruna...," janji Rasyid hingga membuat semua orang tersenyum lega.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2