Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
61. Hari Pertama


__ADS_3

Orion, George dan Matilda pamit undur diri saat sore hari menjelang Maghrib. Aruna menatap ketiga orang yang dikasihinya itu dengan mata berkaca-kaca. Kautsar yang berdiri di samping Aruna pun hanya bisa menatap interaksi mereka berempat sambil tersenyum.


“ Kok nangis sih Nak...,” kata Matilda sambil mencubit pipi Aruna dengan lembut.


“ Aku ga nangis kok...,” sahut Aruna cepat hingga membuat Orion dan George tertawa.


“ Kita masih bisa ketemu lagi kan...,” kata George di sela tawanya.


“ Betul. Mungkin memang ke depannya Kami ga akan terlalu sering mengunjungi Kamu Nak...,” kata Orion sambil memeluk Aruna dengan erat.


“ Kok gitu Yah...?” tanya Aruna sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap sang ayah.


“ Kan udah ada Kautsar yang nemenin dan jagain Kamu. Jadi Kami ga cemas lagi...,” sahut Orion sambil melirik kearah Kautsar.


“ Ayah, Om dan Tante ga perlu khawatir. Insya Allah Aku bakal jaga Aruna dengan baik...,” kata Kautsar mantap.


“ Tuh, Kamu denger kan...,” kata Matilda sambil tersenyum.


“ Itu kan emang tugasnya Suami. Ga usah pake janji segala Aku juga paham kok...,” sahut Aruna hingga membuat semua orang tertawa.


Tawa mereka terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Orion, George dan Matilda pun bergegas masuk ke dalam mobil yang langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu.


“ Keliatannya mereka buru-buru banget ya...,” kata Hardini sambil menatap mobil yang menjauh itu.


“ Khawatir ketinggalan pesawat Bu, kan mereka juga udah ditunggu sama temannya di bandara...,” sahut Diana asal.


“ Oh gitu ya...,” kata Hardini sambil tersenyum.


Kemudian semua orang masuk ke dalam rumah dan meninggalkan sepasang pengantin baru itu di teras rumah.


“ Kamu gapapa kan Run...?” tanya Kautsar sambil menyentuh bahu Aruna hingga membuat gadis itu terkejut.


“ Gapapa. Jadi sekarang Kita pake Aku Kamu nih ceritanya...?” tanya Aruna dengan mimik lucu.


“ Iya. Bukannya lebih bagus kedengerannya...?” tanya Kautsar.


“ Iya sih...,” sahut Aruna.


“ Sekarang Kita masuk yuk, udah hampir Maghrib tuh...,” ajak Kautsar sambil mengulurkan tangannya.


Aruna menyambut uluran tangan Kautsar lalu keduanya masuk ke dalam rumah sambil saling menautkan jari hingga membuat semua yang melihatnya tersenyum bahagia.


\=====


Setelah melaksanakan ijab kabul, Aruna dan Kautsar pun tinggal bersama di rumah yang disiapkan oleh Ahmad. Sedangkan kedua orangtua pengantin kembali ke Jakarta sehari setelah ijab kabul.


Meski pun tinggal di rumah yang sama namun Aruna dan Kautsar tidur di kamar berbeda. Hal itu sesuai kesepakatan mereka sebelum menikah dulu. Kautsar dan Aruna sepakat tidur terpisah sambil mencoba memahami karakter masing-masing. Mereka juga sepakat Aruna akan tetap melanjutkan kuliah hingga selesai sedangkan Kautsar bekerja seperti biasa.


Pagi itu Kautsar duduk menunggu Aruna di ruang tengah. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya terpaku pada pintu kamar Aruna yang terbuka dan memperlihatkan sosok Aruna yang telah siap berangkat kuliah.

__ADS_1


“ Kok tumben jam segini baru nongol Run...?” tanya Kautsar basa basi.


“ Iya, sorry. Aku ga bisa tidur semalam...,” sahut Aruna sambil menguap.


“ Nih Aku bikinin teh manis buat Kamu. Tapi udah dingin kayanya...,” kata Kautsar sambil menyodorkan segelas teh manis hangat kepada Aruna.


“ Makasih Tsar...,” sahut Aruna lalu meneguk teh manis itu dengan cepat.


“ Sama-sama. Oh iya, ini ada uang buat keperluan rumah tangga selama sebulan. Kamu pegang ya...,” kata Kautsar sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang kepada Aruna.


“ Uang apa...?” tanya Aruna karena ragu akan pendengarannya sendiri.


“ Uang bulanan...,” sahut Kautsar cepat.


“ Aku ga mau...,” kata Aruna.


“ Lho kenapa...?” tanya Kautsar tak mengerti.


“ Pokoknya Aku ga mau. Udah ya, Aku ke kampus dulu. Udah telat nih...,” kata Aruna sambil bergegas keluar dari rumah dan meninggalkan Kautsar begitu saja.


“ Tunggu Run, Aku anterin Kamu ya...!” panggil Kautsar tapi diabaikan oleh Aruna.


Kautsar pun bergegas mengejar Aruna yang melangkah cepat keluar rumah. Beruntung Kautsar berhasil mengejar Aruna. Ia menghentikan motornya di samping Aruna lalu menyerahkan sebuah helm kepada Aruna.


“ Naik...,” perintah Kautsar.


“ Tapi Aku mau naik...,” ucapan Aruna terputus.


Sesaat kemudian Kautsar melajukan motornya dengan cepat hingga membuat Aruna terlonjak kaget dan terpaksa mencengkeram erat jaketnya. Kautsar nampak tersenyum puas saat mengetahui Aruna yang ketakutan saat ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinngi.


\=====


Ria tertawa terpingkal-pingkal saat Aruna menceritakan apa yang terjadi pagi tadi.


“ Kok ketawa sih Ri, emangnya lucu ya...?” tanya Aruna kesal.


“ Ya ampun Aruna. Ternyata Lo tuh polos banget ya. Lo tau ga kenapa Kautsar ngasih Lo uang tadi...?” tanya Ria setelah tawanya reda.


“ Mana Gue tau...,” sahut Aruna.


“ Kautsar lagi nafkahin Lo dodol. Kan Lo udah jadi Istrinya, artinya itu tanggung jawab dia buat nafkahin Lo lahir batin. Yah, walau pun Gue yakin dia belum ngasih nafkah batin...,” kata Ria sambil melirik Aruna.


“ Apaan sih Ri. Jadi Gue harus terima gitu...?” tanya Aruna.


“ Iya lah. Kalo dia tersinggung malah Lo yang repot. Udah pernah denger kan apa yang bakal dilakuin para cowok kalo pemberian mereka diabaikan, apalagi sama cewek yang jelas-jelas jadi istrinya...,” sahut Ria cepat hingga membuat Aruna terdiam.


Suara dering ponsel mengejutkan Aruna. Ia segera meraih ponselnya dan melihat nama Kautsar di layar ponselnya itu.


“ Assalamualaikum...,” sapa Kautsar dari seberang telephon.

__ADS_1


“ Wa alaikumsalam. Kenapa Tsar...?” tanya Aruna.


“ Maaf Run, Aku pulang agak telat hari ini. Diajakin Bos ninjau proyek. Kamu gapapa kan di rumah sendiri...?” tanya Kautsar.


“ Gapapa...,” sahut Aruna datar.


“ Ok kalo gitu. Jangan lupa makan ya Run, Assalamualaikum...,” kata Kautsar lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


“ Cieee... cieee..., yang baru dapet telephon dari Suami. Ga usah jual mahal gitu Run. Ntar kalo Kautsar kepincut cewek laen, nangis Lo...,” goda Ria sambil tertawa.


“ Berisik Lo...,” sahut Aruna dengan wajah merona hingga membuat Ria tertawa makin keras.


\=====


Aruna keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Saat di dapur Aruna melihat sekelebat bayangan melintas di samping rumah. Aruna menajamkan penglihatannya dan yakin jika itu adalah bayangan manusia.


Aruna bergegas meraih sapu ijuk dan menggenggamnya erat. Perlahan ia menghampiri orang yang sedang merunduk seolah sedang mencari sesuatu itu lalu bersiap memukulnya. Sambil menghitung dalam hati Aruna mengayunkan gagang sapu ijuk ke punggung orang itu dan....


“ Pletak... pletak... pletak... “


“ Aww..., aduuhh sakit. Berhenti wooiii...!” jerit pria yang tak lain adalah Kautsar itu dengan lantang.


“ Kautsar !. Ngapain Lo di sini...?!” tanya Aruna.


“ Aruna...?!” panggil Kautsar lalu menepuk dahinya dan bergegas menarik tangan Aruna lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


“ Apaan sih, lepasin dong. Sakit tau...!” kata Aruna.


“ Maaf Run. Aku lupa kalo sekarang ada Kamu di rumah ini. Maaf ya. Aku kebiasaan naro kunci di pot samping rumah supaya Bu Jum gampang masuk ke dalam rumah buat naro baju Aku yang selesai dicuci. Maaf ya, ada yang sakit ga...?” tanya Kautsar sambil mengecek tangan Aruna yang tadi dicekalnya.


“ Gapapa, ga sakit kok...,” sahut Aruna sambil menepis tangan Kautsar.


“ Syukur lah. Kamu udah makan...?” tanya Kautsar.


“ Belum...,” sahut Aruna cepat.


Kautsar tersenyum kemudian mengajak Aruna keluar membeli makan malam. Mereka memilih makan sate ayam sebagai menu makan malam.


“ Maafin sikapku tadi pagi ya. Aku bingung waktu Kamu kasih uang. Aku ga bermaksud ngeremehin pemberian Kamu lho...,” kata Aruna tiba-tiba hingga membuat Kautsar tersenyum.


“ Iya gapapa. Aku ga marah kok. Uang itu adalah nafkah dari Aku untuk Kamu. Bisa Kamu pake juga untuk keperluan pribadi Kamu. Kalo kurang bilang ya...,” sahut Kautsar.


“ Tapi Papa masih ngasih Aku uang untuk keperluan pribadiku. Gimana kalo Kita patungan aja untuk pengeluaran bersama...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Ga usah. Insya Allah Aku masih sanggup menafkahi Kamu. Uang dari Papa Kamu simpen aja. Ntar kalo Aku perlu bantuan Kamu, Aku pasti bilang kok. Gimana...?” tanya Kautsar sambil menatap Aruna lekat.


“ Ok deal...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Kalo gitu Kita makan dulu yuk, perutku udah dangdutan nih daritadi...,” gurau Kautsar hingga membuat Aruna tertawa.

__ADS_1


Aruna dan Kautsar menyantap sate ayam plus lontong dengan lahap sambil berbincang santai. Saat itu lah Aruna melihat sosok makhluk halus tengah berdiri di belakang Kautsar sambil menatapnya dengan tatapan kosong. Aruna menghela nafas panjang karena harus kembali bersinggungan dengan kehidupan di dimensi lain.


Bersambung


__ADS_2