
Setelah menunggu selama berjam-jam, akhirnya Robi memutuskan pulang ke rumah. Ia merasa kesal karena telah menghabiskan banyak uang untuk mengerjai Aruna tapi hasilnya tak sesuai harapannya.
Robi nampak melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk melampiaskan rasa kesalnya itu. Hingga saat ia melewati tikungan tak jauh dari rumahnya, Robi dikejutkan dengan penampakan bayi berwarna merah yang tiba-tiba melintas di depannya.
Robi berusaha mengerem laju motornya namun justru motornya semakin hilang kendali dan menabrak pembatas jalan. Hentakan yang kuat menyebabkan tubuh Robi terpental ke luar jalan dan jatuh di atas semak-semak yang ada di sepanjang jalan itu.
Suara tabrakan motor dengan pembatas jalan juga menimbulkan suara gaduh yang menarik perhatian warga yang kebetulan melintas di jalan itu. Mereka menghentikan kendaraan masing-masing lalu bergegas menghampiri Robi yang terkapar di semak-semak pinggir jalan.
Diantara kesadarannya yang tinggal setengah Robi melihat penampakan bayi berwarna merah itu lagi. Kali ini bayi merah itu nampak mendekat kearahnya. Robi memejamkan mata saat bayi merah itu makin mendekatinya.
Robi menahan nafas saat merasakan hembusan panas di depan wajahnya yang ia yakini sebagai milik bayi merah itu. Perlahan Robi membuka matanya dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan makhluk merah di hadapannya.
Robi tertegun saat menatap bayi merah itu. Sekujur tubuh dan wajah bayi itu berwarna merah dalam arti sesungguhnya. Dengan tatapan yang menusuk dan taring mencuat di sela bibirnya. Dan dari belakang punggung sang bayi terlihat dua sayap yang mengepak lebar layaknya sayap kelelawar.
Saat bayi merah itu menyeringai memperlihatkan semua giginya yang tajam kehitaman itu, Robi pun jatuh pingsan saking takutnya.
\=\=\=\=\=
Pagi itu kampus digegerkan dengan kabar kecelakaan Robi. Aruna yang baru saja tiba di kampus bersama Kautsar pun nampak terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh salah satu mahasiswa kenalan Kautsar.
" Robi masuk Rumah Sakit Tsar. Kecelakaan kemarin...," kata Eki usai berjabat tangan dengan Kautsar.
" Robi mana...?" tanya Kautsar.
" Robi anak Teknik, kan seangkatan juga sama Lo...," sahut Eki.
" Oh Robi yang itu, kecelakaan dimana...?" tanya Kautsar sambil melirik Aruna.
" Kabarnya sih di jalan deket rumahnya. Warga yang nemuin. Kondisinya kritis sekarang. Makanya temen-temen lagi galang dana sukarela buat bantuin biaya operasinya Robi...," sahut Eki.
" Harus operasi juga...?" tanya Kautsar sambil mengeluarkan selembar uang ratusan ribu rupiah dari dompet lalu memasukkannya ke dalam kotak kardus yang dibawa Eki.
" Kayanya sih gitu. Lukanya parah banget Tsar. Eh ngomong-ngomong siapa nih, cewek Lo ya...?" tanya Eki sambil menatap Aruna.
" Bukan. Ini Istri Gue. Namanya Aruna...," sahut Kautsar sambil merangkul pinggang Aruna erat.
" Istri ?. Kapan Lo married ?. Wah, ga ngundang-ngundang nih...," kata Eki tak percaya.
__ADS_1
Kemudian Kautsar memperkanalkan Aruna dengan Eki. Aruna nampak salah tingkah karena Eki terus menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Jangan diliatin gitu dong, Suaminya ada di sini nih...," kata Kautsar sambil menarik Aruna ke dalam pelukannya hingga membuat Eki tertawa.
" Sorry, Gue beneran kaget. Sumpah...," sahut Eki sambil tertawa.
" Gue sama Aruna nikah udah lima bulan yang lalu tapi baru diramein Minggu kemaren di Jakarta. Sorry ga ngundang, banyak yang harus diurusin dan males aja jawab pertanyaan yang ga penting...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Wah, selamat deh kalo gitu. Ga nyangka cowok kaya Lo yang serius sama pendidikan bisa kecantol sama cewek. Pasti Aruna ini cewek istimewa yang bikin Lo mati kutu. Sampe Lo gercep gitu dan ga mau nunggu Aruna lulus kuliah dulu...," kata Eki sambil menaik turunkan alisnya.
" Lo bener. Dia emang istimewa banget buat Gue...," sahut Kautsar sambil menatap Aruna dengan lembut.
" Ga usah gombal deh, malu tau...," kata Aruna sambil melengos hingga membuat Kautsar dan Eki tertawa.
" Kalo gitu Gue lanjut lagi ya Bro. Sekali lagi selamat atas pernikahan Kalian. Makasih juga sumbangannya...," kata Eki sambil menjabat tangan Kautsar dan Aruna bergantian.
" Sama-sama...," sahut Kautsar dan Aruna bersamaan.
Kemudian Eki bergeser untuk menyapa mahasiswa lain yang baru saja masuk melalui gerbang kampus. Sedangkan Aruna dan Kautsar masih berbincang santai di depan kampus.
" Kok kebetulan banget ya...," kata Aruna tiba-tiba.
" Kecelakaan Robi...," sahut Aruna cepat.
" Kamu khawatir sama dia ya. Kan Aku udah pernah bilang supaya Kamu jauhin dia Sayang...," kata Kautsar sedikit kesal.
" Aku udah jauhin dia kok, Kamu tenang aja...," sahut Aruna sambil menggamit lengan Kautsar lalu menggenggam jemarinya erat.
" Terus omongan Kamu tadi apa maksudnya...?" tanya Kautsar.
" Sore kemarin Aku ngeliat bayangan merah itu lagi Tsar...," kata Aruna sambil berbisik.
" Dimana...?" tanya Kautsar.
" Di dalam kampus...," sahut Aruna sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada seorang pun yang mendengar pembicaraan mereka.
" Masa sih. Terus bayangan merah itu ngapain, nyakitin Kamu lagi...?" tanya Kautsar cemas sambil mengamati Aruna dari kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
" Aku gapapa Sayang. Dia keliatannya ngikutin Robi...," sahut Aruna ragu.
" Robi...?!" tanya Kautsar dengan suara sedikit keras.
" Sssttt..., ga usah teriak juga dong. Ga enak kalo yang lain denger...," kata Aruna sambil menyilangkan telunjuknya di depan bibir.
" Iya maaf. Abis Aku kaget banget Sayang. Kalo bayangan merah itu ngikutin Robi, artinya Robi adalah orang yang nyuruh makhluk merah itu buat nyerang Kamu dong...," kata Kautsar gusar.
" Bisa jadi sih gitu...," sahut Aruna cepat.
" Kurang ajar. Jadi dia naksir Kamu juga ?. Sejak awal Aku udah curiga kalo Robi emang punya niat ga baik sama Kamu. Makanya Aku minta Kamu jauhin dia. Ternyata semua terbukti kan...?!" kata Kautsar sambil meninju pohon yang ada di sampingnya.
" Ish, Kamu kok marah sih. Kan dia yang suka, tapi Aku ga...!" sahut Aruna sambil melengos tak suka.
" Eh iya, maaf. Jangan marah dong Sayang...," kata Kautsar sambil menarik tangan Aruna lalu menggenggamnya erat.
" Kamu nih selalu aja ngeduluin emosi daripada akal sehat. Heran deh Aku. Kok bisa sih orang kaya Kamu jadi orang berprestasi dan dapet kerjaan yang enak...," gerutu Aruna.
Mendengar ucapan Aruna membuat Kautsar tertawa geli.
" Aku emang emosian kalo itu berhubungan sama Kamu. Tapi soal berprestasi dan kerjaan sama emosi Aku kayanya ga ada hubungannya deh Sayang...," kata Kautsar di sela tawanya.
" Iya juga sih...," sahut Aruna sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal hingga membuat Kautsar kembali tertawa.
" Terus maksud Kamu bayangan merah itu yang udah bikin Robi celaka ya...?" tanya Kautsar saat tawanya reda.
" Aku belum tau pasti. Kan Aku belum liat kondisinya sekarang. Lagian kayanya Suamiku ini ga bakal ngijinin Aku jenguk dia deh...," sindir Aruna sambil melirik kearah Kautsar.
" Ok, Kamu boleh jenguk dia tapi bareng sama Aku ya. Gimana...?" tanya Kautsar.
" Ok. Itu jauh lebih baik...," sahut Aruna sambil mengacungkan jempolnya.
" Kalo gitu kasih tau Aku kapan mau jenguk Robi ya. Sekarang Aku berangkat ke kantor dulu. Assalamualaikum...," pamit Kautsar sambil mengecup kening Aruna.
" Wa alaikumsalam..., hati-hati...," kata Aruna yang diangguki Kautsar.
Sesaat kemudian Kautsar nampak melajukan motornya meninggalkan Aruna yang nampak berbalik menuju gerbang kampus.
__ADS_1
bersambung