Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
251. Aruna Sakit


__ADS_3

Sementara itu di Rumah Sakit tempat Ria dirawat. Saat itu Kenzo terlihat sangat cemas. Para tenaga medis terlihat berlarian ke sana kemari dan itu membuat jantung Kenzo berdetak tak karuan.


Karena penasaran, Kenzo pun menghadang langkah seorang perawat dan menanyakan kondisi sang kekasih.


" Sebentar Mas. Sedang ditangani dokter...," kata sang perawat dengan sabar.


" Terus sampe kapan Saya harus nunggu tanpa kepastian Sus...?" tanya Kenzo.


" Sabar sebentar lagi ya Mas...," sahut sang perawat sambil berlalu.


Kenzo nampak menghela nafas panjang karena tak kuasa bersabar. Tiba-tiba matanya melihat kesibukan di depan ruang UGD. Ia melihat para perawat dan dua orang dokter menyambut sebuah mobil Ambulans yang baru saja tiba. Ada polisi berseragam juga yang ikut di dalam Ambulans dan itu membuat Kenzo bergumam kesal.


" Ck, giliran pasien yang ditemenin Polisi aja baru deh pada gercep...," gumam Kenzo sambil mencibir.


Semua orang tiba-tiba diminta menepi saat brankar akan masuk ke ruang UGD. Kenzo pun terpaksa menepi karena tak ingin 'didamprat' petugas yang terlihat super sibuk itu.


Saat brankar melintas di sampingnya, tak sengaja Kenzo melihat pasien yang ditutupi selimut itu. Kedua mata Kenzo membulat saat menyaksikan siapa yang terbaring di atas brankar itu.


" Itu Bu Luluk kan ?. Kenapa kondisinya kaya begitu sih...?" batin Kenzo sambil bergidik ngeri.


Bagaimana tidak. Saat itu Kenzo melihat selimut yang menutupi tubuh Luluk nampak berubah warna menjadi merah dan basah oleh darah. Wajah Luluk pun dipenuhi bercak darah yang entah berasal darimana. Luluk nampak diam tak bergerak entah masih hidup atau bahkan telah meninggal dunia.


Kenzo tersentak dan pandangannya teralihkan saat seorang perawat menyebut nama Ria.


" Keluarga pasien Ria...!" panggil seorang perawat.


" Iya Saya Sus...!" sahut Kenzo lalu menghampiri sang perawat.


" Pasien Ria sudah bisa dijenguk sekarang...," kata sang perawat.


" Makasih Suster...," sahut Kenzo lalu bergegas masuk ke dalam ruangan.


Di dalam ruangan Kenzo melihat Ria terbaring lemah dengan mata terpejam. Seorang perawat dan dokter nampak baru saja selesai mengecek kondisi Ria.


" Selamat malam dok...," sapa Kenzo.


" Selamat malam...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


" Gimana kondisi Ria dok...?" tanya Kenzo.


" Pasien Ria baik-baik aja. Darah yang tadi ditemukan di tubuhnya sebagian besar bukan darahnya. Kami ga menemukan luka terbuka di tubuhnya. Hanya sedikit luka lebam dan itu pun bisa sembuh dengan salep...," sahut sang dokter.

__ADS_1


" Alhamdulillah. Kalo itu bukan darahnya, jadi itu darah orang lain dok ?. Tapi ga ada siapa pun di sana saat Kami menemukan Ria...," kata Kenzo gusar.


" Kami juga sedang menyelidiki darah itu di lab. Kami harap Anda bersabar menunggu hasilnya...," kata sang dokter.


" Begitu ya dok...," kata Kenzo sambil mengangguk kan kepalanya.


" Kalo gitu Kami permisi dulu. Pasien boleh didampingi tapi tolong jangan diajak bicara terlalu banyak ya Mas. Biarkan pasien istirahat untuk memulihkan tenaganya..., " pesan sang dokter.


" Baik dok, makasih...," kata Kenzo.


" Sama-sama...," sahut sang dokter sambil berlalu.


Kenzo pun duduk di samping Ria. Ia menatap Ria dengan tatapan penuh sesal. Perlahan Kenzo mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Ria. Ada rasa haru menyeruak di hatinya saat mendengar dokter mengatakan kondisi Ria yang baik-baik saja.


" Aku janji setelah ini ga akan pernah membiarkan Kamu sendirian lagi Sayang...," gumam Kenzo sambil menggenggam jemari Ria dengan erat.


\=\=\=\=\=


Aruna tiba di rumah saat tengah malam. Rasa lelah ditambah kantuk yang menyerang menyebabkan Aruna tertidur dengan nyenyak. George dan Matilda yang mengantarkan Aruna pulang pun tak tega membangunkannya.


" Sebaiknya Kita bermalam di sini Sayang. Aku ga tega ninggalin Aruna sendirian...," kata Matilda sambil berbisik.


" Aku setuju...," sahut George cepat.


" Tentu Sayang...," sahut George sambil mengecup kening Matilda dengan sayang hingga membuat wajah sang istri merona.


Setelah membersihkan diri Georga dan Matilda pun pergi tidur. Sebelum tidur Matilda menyempatkan diri membasuh kaki, tangan dan wajah Aruna dengan air hangat. Matilda juga mengganti baju kotor Aruna dengan baju bersih yang ada di atas meja tempat setrika.


" Selamat tidur Sayang. Semoga Kamu mimpi indah ya...," bisik Matilda sambil mengecup kepala Aruna lalu memperbaiki posisi selimut Aruna.


Kemudian Matilda berbaring di samping Aruna. Ia mengamati wajah Aruna yang terlihat sangat lelah itu sambil tersenyum. Matilda mengusap kening Aruna saat dilihatnya Aruna mengerutkan keningnya.


Perlahan namun pasti rasa kantuk pun menyerang hingga Matilda pun terlelap di samping Aruna.


Saat tengah malam Aruna terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan tersenyum melihat keberadaan Matilda di sampingnya. Kemudian Aruna mengamati pakaian yang ia kenakan dan sadar jika Matilda lah yang telah mengganti pakaiannya tadi.


" Makasih Tante. Aku sayang sama Tante...," bisik Aruna sambil mengecup ujung jemari Matilda.


Tiba-tiba Aruna merasa nyeri di perutnya. Awalnya hanya nyeri biasa namun lama kelamaan terasa makin nyeri. Aruna meringis lalu membalikkan tubuhnya berharap bisa meredakan rasa nyeri yang menyergapnya. Namun sayangnya rasa nyeri itu tak jua pergi bahkan kian bertambah.


Aruna yang semula hanya meringis kini mulai melenguh menahan sakit. Matilda pun terbangun. Ia membuka matanya dan melihat Aruna yang meringkuk membelakanginya sambil memegangi perut.

__ADS_1


" Kamu kenapa Aruna...?" tanya Matilda cemas.


" Perutku sakit Tante...," sahut Aruna sambil meringis menahan sakit.


" Sakit gimana Nak ?. Nyeri, mules, kram atau apa...?" tanya Matilda beruntun.


" Aku rasa semuanya jadi satu Tante...," sahut Aruna hampir tertawa karena mendengar pertanyaan Matilda.


" Ya Allah. Jangan-jangan Kamu...," ucapan Matilda terputus karena Aruna mengerang lebih keras.


" Ini sakit banget Tante...," keluh Aruna sambil mulai menitikkan air mata.


Matilda pun terkejut lalu melesat cepat menuju ruang tengah dimana George berbaring. George yang memang selalu waspada itu pun langsung bangkit saat merasakan kehadiran Matilda.


" Kenapa Sayang...?" tanya George.


" Aruna...," sahut Matilda sambil menunjuk ke kamar Aruna.


" Aruna, kenapa Aruna...?" tanya George tak mengerti.


" Ikut Aku...," ajak Matilda sambil menggamit tangan suaminya lalu membawanya ke kamar Aruna.


George dan Matilda tiba di kamar Aruna dan melihat Aruna yang sedang menggeram kesakitan sambil menggigit bantal.


" Aruna kenapa...?" tanya George.


" Aku khawatir terjadi sesuatu sama bayi Aruna Sayang. Tolong bawa dia secepatnya ke Rumah Sakit...," kata Matilda dengan suara bergetar.


George terkejut mendengar ucapan Matilda. Tanpa pikir panjang George pun segera menggendong Aruna dan bersiap pergi namun Matilda menahannya.


" Jangan pergi dulu Sayang. Aku siapkan dokumen yang diperlukan Aruna dulu sebentar...," kata Matilda sambil meraih tas selempang Aruna.


Saat itu lah George merasa jika bajunya basah terkena cairan yang entah darimana asalnya. Namun aroma darah yang pekat membuat George sadar jika sesuatu yang buruk tengah terjadi pada Aruna. Apalagi saat itu wajah Aruna terlihat memucat dan tubuhnya melemah.


" Aruna...!" panggil George dan Matilda bersamaan saat melihat kepala Aruna terkulai ke samping pertanda ia jatuh pingsan.


" Kita pergi sekarang Sayang...!" kata George.


" Iya...," sahut Matilda.


Lalu George dan Matilda melesat cepat menembus malam menuju ke Rumah Sakit. Mereka seakan lupa jika cara mereka datang ke Rumah Sakit akan membuat orang-orang terkejut nanti.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2