Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
294. Tiga Pengakuan


__ADS_3

Jeritan lantang Randu membahana di dalam ruangan namun tak mampu mengalahkan gema dzikir yang mengalun sejak beberapa waktu lalu.


Dari tempatnya berdiri Aruna memberi kode agar Kautsar segera mengakhiri semuanya.


Kautsar yang paham akan isyarat yang diberikan istrinya pun lagi-lagi berbisik di telinga ustadz Amril. Bukan karena Kautsar tak ingin melakukannya namun ia menjaga adab sebagai tamu yang tengah berkunjung. Karena itu sejak tadi Kautsar mengarahkan ustadz Amril untuk melakukan semuanya agar ia tak terkesan lancang. Selain itu Kautsar tak ingin warga mengetahui kelebihan yang dimiliki oleh istri cantiknya itu.


" Baik lah...," kata ustadz Amril sambil menganggukkan kepalanya.


Kemudian ustadz Amril membawa Dita untuk mendekat kearah Aruna yang saat itu berada di sudut aula. Posisi Aruna yang membelakangi jendela membuat warga di luar aula tak bisa melihat jelas bagaimana wajah Aruna.


Setelah menyerahkan Dita kepada Aruna, ustadz Amril pun bertanya.


" Apa Kita selesaikan semuanya sekarang Nak...?" tanya ustadz Amril.


" Iya Pak Ustadz...," sahut Aruna.


" Bagaimana caranya...?" tanya ustadz Amril.


" Ringkus Randu dan ikat dengan tali. Sebentar lagi arwah Kakek Dita akan bicara dan membongkar semuanya...," sahut Aruna.


" Membongkar semuanya...?" tanya ustadz Amril tak mengerti.


" Iya Pak Ustadz. Semuanya. Karena ada beberapa kejahatan tersembunyi yang dilakukan Dita dan Randu yang tak diketahui warga atau pun Polisi. Dan setelah semuanya terungkap, Saya serahkan pada Pak Ustadz bagaimana baiknya...," sahut Aruna.


" Baik lah. Apa Kamu baik-baik saja menjaga Dita sendirian...?" tanya ustadz Amril.


" Saya ga sanggup Pak Ustadz. Saya butuh bantuan Suami Saya...," sahut Aruna sambil menatap kearah Kautsar yang berdiri bersama warga.


" Jadi dia Suamimu...?" tanya ustadz Amril.


" Iya...," sahut Aruna mantap hingga membuat ustadz Amril tersenyum kagum.


" Biar Aku panggilkan. Terima kasih sebelumnya ya Nak...," kata ustadz Amril sambil tersenyum lalu meninggalkan Aruna untuk memanggil Kautsar.


" Sama-sama Pak Ustadz...," sahut Aruna lirih sambil mencekal kedua tangan Dita.


Ustadz Amril mendekati Kautsar lalu menepuk bahunya. Ia terlihat bicara sambil menunjuk kearah Aruna. Kautsar pun mengerti lalu bergegas menghampiri sang istri.

__ADS_1


" Kamu perlu bantuanku Sayang...?" tanya Kautsar.


" Iya. Aku khawatir ga bisa mengendalikan Dita karena tenaganya pasti akan sangat kuat nanti...," sahut Aruna.


Kautsar mengangguk tanda mengerti lalu berdiri tepat di samping Aruna.


Di depan sana ustadz Amril terlihat memberi aba-aba pada warga untuk meringkus Randu. Salah satu warga bergegas ke gudang untuk mengambil tali. Setelahnya warga pun berpencar untuk meringkus Randu yang tengah menjerit tanpa henti itu.


Randu yang terlihat kepayahan itu ternyata masih sanggup melawan saat hendak ditangkap. Warga pun sedikit kewalahan. Apalagi bau busuk yang menguar akibat darah yang keluar dari mulut Randu tadi membuat warga mual dan beberapa kali menjauh untuk sekedar menghela nafas.


Setelah perjuangan yang lumayan sulit, akhirnya warga berhasil meringkus Randu. Kedua tangan Randu diikat ke belakang sedangkan kedua kakinya diikat secara menyilang. Sedikit kejam namun warga sengaja melakukan itu karena tak mau ambil resiko jika Randu kabur nanti.


Setelah Randu tak berdaya, Aruna mendekatkan Dita kearah Randu. Tatapan tajam Dita seolah mengunci gerakan Randu.


" Sekarang akui perbuatan kotormu Randu...!" kata Dita dengan lantang.


Semua warga yang berada di dalam dan di luar aula terkejut mendengar ucapan Dita yang sedang kerasukan itu. Selama ini mereka tahu jika Randu kerap melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan dan mereka berusaha maklum. Namun ucapan Dita membuat warga bertanya-tanya.


" Perbuatan kotor yang mana Dita. Seingatku perbuatan kotor yang Kita lakukan sangat banyak...," kata Randu diantara kesadarannya yang tinggal setengah itu.


" Semuanya...?" ulang Randu tak percaya.


" Iya. Sekarang Randu...!" kata Dita tak sabar.


" Baik lah Dita. Karena ini permintaannya maka Aku tak perlu sungkan lagi...," kata Randu sambil tersenyum mengejek.


" Berhenti bermain-main Randu. Aku mulai muak denganmu...!" kata Dita hingga membuat Randu berhenti tersenyum.


" Perbuatan kotor yang Kau maksud adalah Kita sering bercinta di rumahku Dita. Kadang di rumahmu saat Kakek sia*anmu itu tak di rumah...," kata Randu sambil menatap wajah Dita.


Randu berharap wajah sang kekasih berubah merona karena malu. Namun sayang Randu tak mendapati rona merah di wajah Dita. Ia justru melihat aura permusuhan dan kebencian di wajah sang kekasih. Rupanya Randu tak menyadari jika saat ini Dita tengah kerasukan arwah Kakek kandungnya.


Kasak kusuk terdengar usai Randu membuat pengakuan pertamanya.


Merasa tak mendapat respon Randu pun kembali melanjutkan ucapannya.


" Selain itu Kita telah mengubur Kakekmu hidup-hidup di halaman belakang rumahnya. Kita melakukannya bersama-sama setelah Kamu memukul Kakekmu dengan kursi kayu itu. Apa Kau ingat Dita...?" tanya Randu.

__ADS_1


Pengakuan kedua Randu menimbulkan kehebohan. Semua warga menggeram marah saat mengetahui Kakek Dita yang dermawan itu mati mengenaskan di tangan cucunya sendiri.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Entah iblis mana yang membuatmu seperti itu Dita...!" kata beberapa warga dengan marah.


" Astaghfirullah aladziim. Ga nyangka Kamu bisa tega menghabisi nyawa Kakekmu sendiri. Padahal beliau sangat menyayangimu lho Dita. Beliau rela melakukan apa pun asal Kamu bisa tertawa bahagia. Tapi rupanya iblis di dalam hatimu telah membuatmu g*la Dita...!" kata warga dengan kesal.


" Lanjutkan...!" kata Dita sambil mengepalkan kedua tangannya.


" Dan Kita juga sepakat untuk menyingkirkan Mukhlis setelah dia menolakmu. Kamu tau Mukhlis mencintai Gladys dan itu membuatmu kesal. Apalagi saat Mukhlis membangun sebuah rumah yang konsepnya atas idemu tapi justru diberikan kepada Gladys, Kamu pun bertambah marah. Karenanya Kamu berniat menguasai rumahnya apa pun caranya. Kamu meminta sejenis racun yang mematikan padaku saat itu. Aku memberimu racun terbaik dan Kamu berhasil mengeksekusi Mukhlis dengan mulus...," kata Randu.


Ucapan Randu kali ini membuat gempar warga. Mereka tahu jika Mukhlis telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu namun mereka tak mengetahui jika Mukhlis meninggal karena diracun.


Ustadz Amril yang mendengar tiga pengakuan Randu pun dibuat menggelengkan kepalanya sambil berkali-kali mengucap istighfar.


" Subhanallah, Astaghfirullah aladziim..., Astaghfirullah aladziim...," kata ustadz Amril.


Di luar aula warga terlihat marah usai mendengar pengakuan Randu. Salah satu warga yang merupakan anggota polisi aktif langsung menerobos masuk ke dalam aula untuk menangkap Randu.


Randu nampak tak bisa berbuat apa-apa saat polisi membekuknya. Apalagi kondisinya yang terikat membuatnya sulit untuk melarikan diri. Namun ia terus meronta dan mengatakan banyak hal hingga warga bersorak memakinya.


" Ga tau diri !. Udah salah masih ga mau ngaku. Huuuu...!" kata beberapa warga saling bersahutan.


" Aku ga mau dijebloskan ke penjara sendirian !. Aku melakukannya atas permintaan Dita. Jadi tangkap dia juga bersamaku...!" teriak Randu sambil meronta.


Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi. Rupanya polisi yang menangkap Randu telah ada di luar aula sejak tadi. Ia mendengar semuanya lalu menghubungi kantornya untuk meminta bantuan guna mengevakuasi Randu dan Dita.


Warga menepi saat dua orang polwan menerobos masuk ke dalam aula. Dita pun ditangkap tanpa melakukan perlawanan. Namun sebelum Dita dibawa pergi oleh kedua polwan itu, Aruna meminta waktu untuk mengeluarkan arwah Kakek Dita dari dalam tubuh sang cucu.


" Keluar lah Kek. Dita harus dibawa ke kantor Polisi untuk mempertanggung jawabkan semuanya...," bisik Aruna.


Dita yang masih dirasuki arwah sang Kakek nampak mengangguk lalu memejamkan mata. Sesaat kemudian arwah Kakek Dita keluar dari raga Dita, sedangkan tubuh Dita langsung merosot ke lantai begitu saja. Beruntung kedua polwan itu sigap menahan tubuhnya hingga tak tersungkur ke lantai.


Dalam kondisi setengah sadar Dita pun dibawa ke mobil polisi. Warga kembali memaki dan menyoraki Dita yang melintas di depan mereka. Di dalam mobil polisi Randu yang semula menjerit itu pun terdiam saat melihat Dita dibawa masuk ke dalam mobil.


" Pasangan romantis yang salah jalan...," kata Reyhan sambil mencibir saat melihat mobil polisi itu meninggalkan aula warga.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2