Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
243. Nama Luluk


__ADS_3

Malam itu tiga bayangan nampak berkelebat di sekitar halaman rumah orangtua Pipit. Mereka adalah George, Matilda dan Aruna.


Rupanya mereka datang untuk menuntaskan semua urusan yang menjadikan Pipit sebagai salah satu korbannya.


Suasana di sekitar rumah terlihat lengang. Rupanya warga sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu karena mereka merasa suasana malam ini sedikit berbeda dari biasanya. Lebih mencekam dan udara terasa sangat dingin. Padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan malam.


" Kata Ria di sini selalu rame ga kenal waktu. Buktinya sekarang malah sepi dan ga ada apa-apa. Bahkan ga satu pun tetangga Ria yang nongol...," gumam Aruna sambil menatap teras rumah Ria yang biasanya selalu ramai itu.


" Ssttt..., coba Kamu liat itu Aruna...," kata Matilda sambil menarik Aruna untuk sembunyi.


Saat itu Aruna melihat Luluk tengah mengendap-endap di depan rumah Ria. Kemudian Luluk nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ingin memastikan jika kondisi saat itu benar-benar sepi dan tak ada yang melihat kehadirannya di sana.


Kedua mata Aruna membulat saat melihat Luluk mengangkat pot bunga yang ada di depan rumah kontrakan Ria. Kemudian Luluk meletakkan sebuah bungkusan kain berwarna hitam di sana lalu kembali meletakkan pot besar di tempat semula. Setelahnya Luluk nampak berjalan santai menuju ke rumahnya sambil tersenyum puas.


" Dia naro apaan di sana Tante...?" tanya Aruna penasaran.


" Kita tunggu di sini aja. Om Kamu lagi ngecek ke sana...," sahut Matilda sambil menunjuk ke depan rumah Ria.


Terlihat saat itu George tengah mengangkat pot bunga berukuran besar itu dengan mudah. Kemudian dia meraih beberapa bungkusan hitam yang ada di bawah pot dan menyerahkannya kepada Matilda.


Matilda nampak membuka satu per satu bungkusan kain hitam itu. Aruna hanya bisa melihat karena George melarangnya untuk menyentuh bungkusan kain hitam itu.


" Di sini ada kertas yang bertuliskan nama-nama orang. Tulisannya udah pudar karena terkena air saat pot disiram oleh pemiliknya. Tapi yang ini masih kering, mungkin ini yang baru aja dia taro...," kata Matilda sambil membuka gulungan kertas putih yang terbungkus kain hitam itu.


" Nama siapa di sana Tante...?" tanya Aruna tak sabar.


" Ria...," sahut Matilda cepat hingga mengejutkan Aruna dan George.


" Apa maksudnya Tante...?!" tanya Aruna panik.


" Keliatannya Luluk bertugas memilih nama orang yang akan ditumbalkan. Dan untuk pekerjaannya ini dia mendapat upah yang lumayan besar. Aku dengar dia malah tinggal gratis di rumah kontrakan itu...," kata George.

__ADS_1


" Tapi kenapa Ria yang dia pilih untuk jadi tumbal berikutnya Om. Apa karena makhluk itu hanya menginginkan darah suci...?" tanya Aruna.


" Kamu betul Nak...," sahut George.


" Sekarang yang harus Kita cari dimana makhluk itu sembunyi dan siapa pelaku pesugihan itu...," kata Matilda.


" Soal itu Kamu ga perlu khawatir Sayang. Aku sudah menemukan tempat dimana makhluk itu sembunyi...," kata George.


" Dimana Om...?" tanya Aruna.


" Di rumah Ria. Ada di kamar tepatnya...," sahut George hingga mengejutkan Aruna.


" Mustahil di sana Om. Kan Ria juga tinggal di sana. Jangan-jangan...," ucapan Aruna terpotong.


" Luluk menutupi semuanya dengan menjadikan teras rumah Ria sebagai base camp untuk para tetangga berkumpul. Alasannya cuma satu yaitu ingin mengawasi kamar rahasia tempat makhluk itu sembunyi. Selain itu Luluk bisa mengamati semua pergerakan warga penghuni kontrakan dari sana. Dengan begitu akan mudah baginya menentukan siapa yang akan menjadi tumbal berikutnya...," sahut George.


" Astaghfirullah aladziim. Ria pasti ga tau kalo rumahnya adalah kamar rahasia untuk melakukan pemujaan. Pantesan katanya dia sering merasa ngantuk yang luar biasa dan ga inget apa-apa sampe pagi...," kata Aruna.


" Itu karena hanya saat Ria tertidur lah maka makhluk itu bisa bekerja maksimal...," sahut George.


" Bisa. Kamu mau ganti pake nama siapa Aruna...?" tanya George.


" Luluk Om, siapa lagi emangnya. Dia juga harus tau dan ikut ngerasain penderitaan yang dirasakan para korban. Enak aja dia milih calon tumbal dan dapet uang banyak. Sekali-kali dia juga harus jadi tumbal biar tau rasanya...," sahut Aruna kesal.


Matilda dan George tertawa mendengar ucapan Aruna. Setelah mengganti nama Ria dengan Luluk, kemudian Matilda kembali membungkus kertas tadi dengan potongan kain hitam itu. George pun bergegas mengembalikan bungkusan kain hitam itu ke tempatnya. Hanya satu bungkus kain bertuliskan nama Luluk sebab kain yang lain dibawa untuk diamankan oleh Matilda.


" Sekarang cukup di sini aja. Kita lanjut besok malam Aruna...," kata George.


" Kenapa ga malam ini aja diselesaikan semuanya Om...?" tanya Aruna.


" Memang begitu cara kerjanya Nak. Apa Kamu lupa itu. Keliatannya hormon kehamilanmu membuatmu jadi sosok yang ga sabaran ya Aruna. Tolong jangan ajari Cucuku jadi orang yang gegabah ya...," kata George dengan mimik lucu.

__ADS_1


" Ish, apaan sih Om. Aku cuma khawatir pengaruh ilmu hitam itu mencelakai Ria nanti...," sahut Aruna.


" Kamu tenang aja Nak. Ria akan baik-baik aja. Sekarang Kita pulang ya...," ajak Matilda yang diangguki Aruna.


Sesaat kemudian ketiganya pun melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Dari bawah pot terlihat asap tipis berwarna merah nampak keluar dari sela bungkusan kain berwarna hitam tadi. Dan itu pertanda jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada si pemilik nama yang tertera di dalam kertas.


\=\=\=\=\=


Malam saat dini hari. Luluk terbangun dengan tubuh bermandikan peluh. Luluk mengibaskan tangannya karena merasa sangat panas. Ia menoleh ke samping dan mendapati suaminya tengah tertidur lelap tanpa terusik dengan udara panas yang saat itu melingkupi ruangan.


" Dasar pel*r, nempel langsung mol*r. Kok bisa sih tidur nyenyak padahal udara super panas kaya gini...," gerutu Luluk sambil turun dari tempat tidur.


Kemudian Luluk melangkah keluar kamar dan melangkah menuju ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan hajatnya Luluk pun membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air. Kemudian Luluk meneguk isi botol hingga tersisa sedikit saja.


Setelahnya Luluk duduk di kursi sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Saat itu lah kedia bola mata Luluk membulat karena ia melihat penampakan empat anak balita yang pernah ia tumbalkan tengah duduk di lantai sambil menatap lekat kearahnya.


Luluk pun menjerit saking takutnya. Namun anehnya jeritan Luluk tak membangunkan suaminya. Bahkan suami Luluk seolah tak terganggu dengan suara racauan berikutnya yang keluar dari mulut Luluk.


" Pergi !. Jangan ke sini, pergi. Aku sudah mengirim Kalian ke sana kenapa balik lagi ke sini ?!. Pergi sana. Jangan balik lagi. Kalo Kalian balik berarti apa yang Aku dapatkan selama ini juga harus Aku kembalikan. Aku ga mau. Pergi sana...!" kata Luluk lantang sambil mengibaskan tangannya.


Keempat arwah balita itu nampak saling menatap kemudian melayang perlahan mendekati Luluk. Mereka melayang dengan kedua tangan terulur kearah Luluk sambil mengatakan sesuatu yang membuat Luluk ketakutan.


" Sekarang Kamu hidup enak dan tenang. Tapi sebentar lagi Kamu juga akan ikut merasakan penderitaan Kami. Tunggu saja. Waktumu akan segera tiba...!" kata keempat balita itu bergantian.


Suara arwah keempat balita itu memenuhi ruangan dan rongga telinga Luluk. Hingga perlahan mengalir darah segar dari kedua telinga Luluk dan itu membuatnya panik.


" Aku ga akan ke sana. Ga akan...!" kata Luluk sambil menutupi kedua telinganya yang terus mengalirkan darah.


" Sebentar lagi kan. Kami tunggu di sini yaa...," kata keempat balita itu sambil menyeringai dengan kedua tangan yang terus terulur kearah Luluk.

__ADS_1


Luluk menjerit keras lalu jatuh pingsan karena tak kuasa mengendalikan rasa takutnya.


bersambung


__ADS_2