Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
254. Rencana Melamar


__ADS_3

Sementara itu di Rumah Sakit lain Kenzo tengah menemani Ria. Ia duduk di samping Ria dan terus mengamati wajah sang kekasih.


Tiba-tiba pintu terbuka dan tampak lah Erlan dan istrinya di ambang pintu hingga membuat Kenzo terkejut.


" Papa, Mama. Kok bisa ada di sini juga...?" tanya Kenzo sambil menghampiri kedua orangtuanya.


" Kamu lupa kalo Papa selalu mengawasi Kamu Nak...?" tanya Erlan sambil menatap Kenzo dengan tatapan tajam.


" Maksud Papa apa...?" tanya Kenzo tak mengerti.


" Ssttt..., Kita bicara di tempat lain aja Pa. Ga enak kalo di sini. Ria juga perlu istirahat kan...," kata Nina mengingatkan.


" Ok, terserah Mama...," sahut Erlan pasrah.


" Ayo Nak...," ajak Nina sambil menggamit tangan Kenzo dan mengajaknya keluar.


" Tapi Aku ga bisa ninggalin Ria sendirian Ma...," tolak Kenzo sambil melirik kearah Ria.


" Kamu ga usah khawatir. Ria udah Mama titipin sama perawat di sini yang udah pasti handal dan tau gimana menghandle pasien...," kata Nina sambil tersenyum.


" Selamat malam Bu...," sapa seorang perawat dari belakang Nina.


" Selamat malam. Nah ini dia orangnya. Sekarang Kamu bisa ikut Mama kan...?" tanya Nina.


Kenzo menatap perawat di depannya dengan intens seolah sedang menilai sejauh mana kesanggupan sang perawat menjaga Ria.


" Ck, apaan sih Kamu. Ayo ikut...," kata Nina sambil menarik tangan Kenzo dengan paksa.


Kenzo pun terpaksa mengikuti langkah kaki sang Mama menyusul sang papa yang sudah berjalan lebih dulu.


Saat itu lah tak sengaja mereka berpapasan dengan dokter yang menangani Ria tadi. Kenzo pun menggunakan kesempatan itu untuk bertanya perihal darah aneh yang ditemukan di sekujur tubuh Ria.


" Kenzo...," protes sang Mama yang kesal karena merasa Kenzo mengulur waktu.


" Sebentar Ma. Aku nyusul nanti...," kata Kenzo sambil mendekati sang dokter.


" Ok, tapi jangan lama-lama ya Nak...!" kata Nina.

__ADS_1


" Iya Ma...!" sahut Kenzo sambil mengejar sang dokter.


" Gimana dok, apa hasil lab tentang darah di tubuh Ria udah ketauan...?" tanya Kenzo penasaran.


" Dugaan sementara itu darah binatang buas Mas...," kata sang dokter.


" Binatang buas...?" ulang Kenzo tak percaya.


" Betul. Tapi Saya bisa maklum kalo Mas Kenzo ga percaya...," kata sang dokter sambil tersenyum.


" Maksud dokter ada analisa lain...?" tanya Kenzo hati-hati.


Sang dokter mengangguk lalu mengajak Kenzo menepi dan mulai menjelaskan apa yang ia temukan.


" Ehm, mungkin ini memang sulit dipercaya. Darah yang melekat di tubuh pasien Ria itu memang identik dengan darah binatang buas sejenis anjing atau ular. Sulit dideteksi Mas. Tapi Saya menarik kesimpulan jika itu darah makhluk jadi-jadian yang mencoba menyakiti Ria...," bisik sang dokter hingga membuat Kenzo terkejut.


" Mmm..., entah ini berhubungan atau ga. Sebenernya Ria baru aja mengalami kejadian mistis dok. Saya menduga dia disakiti oleh sosok makhluk tak kasat mata. Saya dan warga menemukan Ria terperangkap di kamar dalam kondisi penuh darah. Ga ada siapa pun di sana selain Ria. Dan Saya panik waktu ngeliat banyak darah di tubuh Ria, apalagi pakaiannya juga robek ga beraturan...," kata Kenzo dengan suara pelan.


" Keliatannya Ria memang hampir dilukai oleh makhluk itu Mas Kenzo. Tapi beruntung Ria berhasil melawan dan itu menyebabkan makhluk itu terluka...," kata sang dokter.


" Syukur lah kalo Ria ga terluka sama sekali...," sahut Kenzo sambil bernafas lega.


" Kasian sekali Ria, apa bisa disembuhkan dengan cepat dok...?" tanya Kenzo prihatin.


" Insya Allah bisa. Dengan dukungan dari orang terdekat, Ria pasti bisa melewati semuanya...," sahut sang dokter cepat.


" Gitu ya. Eh, sebentar. Keliatannya dokter tau banyak soal hal-hal ghaib ya...," kata Kenzo sambil mengamati sang dokter dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


" Profesi Saya memang menuntut supaya Saya bisa belajar banyak hal Mas Kenzo. Pasien yang Saya temuin kan banyak. Mereka memiliki karakter yang berbeda dan dengan masalah yang pasti juga berbeda. Nah, ga jarang Saya harus berhadapan sama pasien yang sakit bukan karena penyakit medis tapi karena serangan ilmu hitam yang ga keliatan itu Mas. Makanya supaya bisa mengatasi dengan cepat tanpa harus bikin heboh Rumah Sakit ini, mau ga mau Saya harus belajar mengerti kalo ada hal lain yang berdampingan dengan kehidupan Kita ini...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


" Apa dokter berguru secara khusus...?" tanya Kenzo penasaran.


" Saya kenal sama seseorang yang memang sering berhubungan dengan hal ghaib Mas. Kami sering ngobrol dan dari sana Saya tau gimana sih kehidupan ghaib itu...," sahut sang dokter.


" Wah, Saya salut sama dokter yang mau capek-capek belajar sesuatu yang bukan bidangnya hanya karena ingin membuat nyaman pasien dan Rumah Sakit ini...," kata Kenzo antusias.


" Biasa aja Mas. Beberapa rekan Saya juga belajar kaya Saya kok. Jadi bukan Saya sendiri yang ngerti hal beginian...," sahut sang dokter merendah.

__ADS_1


" Iya Saya percaya...," kata Kenzo sambil menganggukkan kepalanya.


" Eh, keliatannya ibunya Mas Kenzo udah ga sabar tuh. Cepet ke sana sebelum dikutuk jadi batu nanti...," gurau sang dokter.


" Bisa aja nih dokter. Ok, Saya ke sana dulu. Makasih ya dok...," kata Kenzo sambil menjabat tangan sang dokter.


" Sama-sama...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


Setelahnya Kenzo berlari kecil menghampiri sang Mama.


\=\=\=\=\=


" Apa Ma, menikah...?!" tanya Kenzo sambil membulatkan matanya.


" Iya. Bukannya Kamu sama Ria saling cinta ?. Terus kenapa ga nikah aja...?" tanya Nina.


" Betul Nak. Melihat Ria yang tinggal sendiri di kota ini, Papa khawatir akan berbahaya untuknya. Apalagi ini bukan kali pertama Ria mengalami kejadian seperti ini kan...?" tanya Erlan.


" Secepatnya Kita lamar dia. Selain ga jadi fitnah, Mama jadi tenang karena Kamu juga ada yang ngurusin...," kata Nina.


" Aku bisa ngurus diriku sendiri Ma. Selama ini kan juga begitu...," protes Kenzo.


" Terserah, pokoknya Kamu harus nikahi Ria secepatnya Nak. Bertanggung jawab lah sebagai laki-laki. Sampe kapan Kamu mau macarin dia...?" tanya Nina kesal.


" Betul Nak. Lagian kan Papa kan udah janji sama Ria mau melamar dia untuk Kamu secepatnya. Eh, ditungguin kok Kamu malah ga ngasih info apa-apa sampe detik ini. Kalo ga ada kejadian ini mungkin Papa juga ga tau sampe kapan harus nahan malu karena udah terlanjur janji sama Ria...," kata Erlan gusar.


Kenzo terdiam mendengar ucapan kedua orangtuanya. Ia memang mencintai Ria dan berniat menikahinya tapi bukan dalam waktu dekat.


" Kamu bisa menjaganya setiap saat tanpa harus takut digerebek warga saat berduaan Nak...," kata Erlan mengingatkan.


Kenzo tersadar jika selama ini ia sulit menjaga Ria karena khawatir kedekatannya dengan Ria akan menimbulkan fitnah.


" Ok Pa, Ma. Aku mau nikah sama Ria secepatnya...!" kata Kenzo mantap.


Erlan dan istrinya nampak tersenyum bahagia. Nina langsung memeluk Kenzo erat sambil mengecup kepala sang putra. Kenzo pun membalas pelukan sang Mama sambil sesekali mencium pipi sang Mama.


" Ini baru Anak Papa...!" kata Erlan sambil menepuk punggung Kenzo dengan lembut.

__ADS_1


Kemudian ketiganya tertawa bahagia. Mereka kembali duduk untuk membicarakan rencana melamar Ria.


\=\=\=\=\=


__ADS_2