Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
300. Coba Belajar


__ADS_3

Dalam kegelapan malam terlihat George sedang membawa seseorang dalam gendongannya. Bukan Aruna atau Kautsar tapi sosok yang lain. Matilda yang berlari di sampingnya nampak tersenyum saat sosok dalam gendongan suaminya mulai membuka mata.


" Keliatannya dia mulai siuman Sayang...," kata Matilda.


" Ya Aku tau...," sahut George lalu menghentikan larinya.


Kemudian George meletakkan tubuh dalam gendongannya di tanah. Diantara sinar bulan yang temaram, sosok itu pun terlihat berubah perlahan. Sosok yang semula ditumbuhi bulu di sebagian tubuh dan wajahnya itu perlahan berubah menjadi sosok wanita cantik.


" Sheina...," panggil Matilda sambil mengguncang tubuh dokter Sheina dengan lembut.


" Mmmhh...," sahut dokter Sheina sambil membuka matanya lebar-lebar.


" Syukur lah akhirnya Kamu siuman...," kata Matilda sambil tersenyum.


" Aku kenapa Matilda...?" tanya dokter Sheina dengan suara serak.


" Kamu baru aja melewati fase perubahan seperti biasa Sheina. Apa Kamu ga tau itu...?" tanya Matilda.


" Aku...," ucapan dokter Sheina terputus saat George memotong cepat.


" Apa Kamu juga ga tau kalo Kamu baru aja memangsa anak kecil di toilet Rumah Sakit Sheina...!" kata George lantang sambil menatap tajam kearah dokter Sheina.


" Apa...?!" dokter Sheina terkejut lalu bangkit berdiri.


Dokter Sheina nampak mondar-mandir sambil menggigit kuku jari tangannya. Ada kecemasan di wajahnya. Sungguh dia tak ingat apa yang telah ia lakukan tadi. Dokter Sheina berhenti tepat di hadapan Matilda dan bertanya.


" Apa itu benar Matilda...? " tanya dokter Sheina sambil mengguncang tubuh Matilda.


" Kamu pikir Aku berbohong Sheina...?!" kata George marah.


" Sayang, jangan marahin dia terus. Tolong sabar sedikit ya...," pinta Matilda sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut.


George nampak melengos kesal. Sedangkan dokter Sheina masih menunggu jawaban Matilda.


" Matilda...," panggil dokter Sheina hampir menangis. Ia butuh kepastian dan khawatir jika yang diucapkan George benar-benar terjadi.


Matilda pun mengangguk dan itu membuat tubuh dokter Sheina luruh ke tanah. Sesaat kemudian ia menangis sambil meraung tak berkesudahan.


" Aku benci diriku sendiri. Kenapa Aku harus menanggung kutukan ini Matilda. Kenapa...?!" tanya dokter Sheina di sela tangisnya.


" Jangan salahkan takdir Sheina. Dan berhenti lah mengatakan jika ini kutukan. Tak ada yang ingin seperti ini. Anggota klan Kita semua bisa menerima kondisi ini pada akhirnya dan mereka belajar untuk mengendalikan hasrat liar itu. Kamu masih bisa belajar mengendalikan semuanya andai Kamu mau. Tapi Kamu terlalu sibuk dan ga punya waktu untuk belajar hingga akhirnya jadi seperti ini...," kata George kesal.

__ADS_1


" Belajar mengendalikan hasrat liar itu. Apakah bisa...?" tanya dokter Sheina.


" Bisa Sheina...," sahut Matilda cepat.


" Bagaimana caranya...?" tanya dokter Sheina sambil menghapus air mata di wajahnya.


" Belajar dan belajar. Kamu ga sendiri karena Aruna juga sedang belajar mengendalikan diri. Ga ada kata terlambat untuk belajar. Apalagi belajar untuk jadi lebih baik...," sahut George.


" Aruna juga masih belajar mengendalikan diri ?. Aku pikir dia sudah sangat mampu beradaptasi dengan semuanya...," kata dokter Sheina.


" Bukan kah Kamu bicara banyak hal tentang itu sama Aruna Shei ?. Kami liat lho saat Kamu dan Aruna bertemu dan membahas banyak hal di kafe tempo hari...," kata Matilda.


" Kalian tau itu. Apa Kalian marah karena Aku lancang mengajak Aruna bertemu...?" tanya dokter Sheina yang tahu jika George dan Aruna bertugas mengawal Aruna.


" Kami ga marah. Apalagi setelah Kalian saling mengikat janji untuk menjadi saudari. Kami senang melihatnya. Bukan begitu Sayang...?" tanya Matilda sambil melirik kearah suaminya.


" Iya...," sahut George.


" Nah karena itu Kamu ga perlu malu. Kamu bisa tanya banyak hal sama Aruna. Atau kalo Kamu mau Kamu boleh belajar bareng sama Aruna nanti...," kata Matilda.


" Kalo gitu Aku setuju. Aku bakal buat janji sama Aruna biar bisa belajar bareng. Boleh kan...?" tanya dokter Sheina.


" Tentu...," sahut Matilda sambil tersenyum.


" Kenapa Aku harus melakukannya...?" tanya dokter Sheina.


" Lakukan saja, nanti Matilda akan menjelaskan semuanya..., " sahut George dengan enggan.


Dokter Sheina mengangguk lalu mulai mendial nomor telephon Rumah Sakit. Seorang perawat menerima panggilan dan menyampaikan berita buruk untuk dokter Sheina


" Selamat malam, Saya dokter Sheina. Tolong sampaikan sama Suster Mita kalo Saya harus pergi ikut sepupu Saya. Ini mendadak banget makanya Saya ga sempat balik ke ruanagn untuk ambil tas tadi. Tolong minta Suster Mita untuk mengamankan tas dan ponsel Saya ya Sus...," kata dokter Sheina.


" Baik dok, akan Saya sampaikan nanti...," sahut sang perawat dari seberang telephon


" Alhamdulillah, makasih ya Sus...," kata dokter Sheina.


" Sama-sama dok. Tapi pas dokter pergi ada kejadian menggemparkan di Rumah Sakit lho dok...," kata sang perawat.


" Oh ya. Kejadian menggemparkan apa Sus...?" tanya dokter Sheina pura-pura penasaran.


" Ada anak perempuan hilang di toilet dok. Awalnya Kami mengira kalo anak itu hilang diculik. Tapi ternyata salah satu petugas kepolisian menemukan jasad anak perempuan itu di belakang toilet...," kata sang perawat.

__ADS_1


" Jasad, apa itu artinya anak perempuan itu meninggal...?" tanya dokter Sheina.


" Betul dok. Jasadnya sedang diurus sama pihak Rumah Sakit dan kepolisian..., " sahut sang perawat.


" Kepolisian. Cepet banget udah melibatkan kepolisian..., " kata dokter Sheina lebih seperti gumaman.


" Kan yang nemuin jasad anak perempuan itu memang polisi yang lagi bebas tugas dok. Makanya dia langsung berkoordinasi dengan kepolisian untuk menangani kasus kematian anak itu...," sahut sang perawat.


" Oh ya. Kalo boleh tau siapa namanya...?" tanya dokter Sheina panik.


" Namanya..., sebentar ya dok. Saya tanya sama temen Saya dulu...," kata sang perawat.


Dokter Sheina mengangguk walau ia tahu lawan bicaranya tak akan bisa melihat anggukkannya itu.


Sesaat kemudian sang perawat kembali bicara.


" Hallo dokter Sheina, masih di sana kan...?" tanya sang perawat dari seberang telepon.


" Iya, gimana Sus...?" tanya dokter Sheina.


" Kata security namanya Rasyid dok...," sahut sang perawat hingga membuat tubuh dokter Sheina bergetar hebat.


" Kalo gitu makasih ya Suster...," kata dokter Sheina di akhir kalimatnya.


Kemudian dokter Sheina mengembalikan ponsel milik George. George langsung melempar ponsel itu entah kemana dan itu membuat dokter Sheina terkejut sekaligus bingung.


" Kenapa membuangnya begitu aja. Kamu tau ga berapa harganya ponsel itu...?!" tanya dokter Sheina setengah menjerit.


" Aku ga peduli karena ponsel itu bukan milikku...," sahut George dengan santai.


" Kalo bukan milikmu terus punya siapa ?. Jangan bilang Kamu mencurinya tadi...!" kata dokter Sheina dengan tatapan tak suka.


" Aku ga mencurinya. Aku nemu di lantai loby Rumah Sakit tadi. Aku membawanya karena merasa akan bermanfaat untukmu nanti. Ternyata terbukti kan...?" tanya George.


" Ya Allah, kenapa Aku harus punya saudara seperti Kamu sih George..., " kata dokter Sheina sambil menggelengkan kepalanya.


" Eh, siapa saudaramu. Jangan ngaku-ngaku ya...," kata George sambil membulatkan matanya.


" Apa Kau lupa kalo Aku dan Aruna sekarang bersaudara. Itu artinya pamannya Aruna ya pamanku juga. Bukan begitu Matilda...? " tanya dokter Sheina sambil menoleh kearah Matilda.


" Aku ga ikutan Shei...," sahut Matilda sambil tersenyum.

__ADS_1


Dokter Sheina menatap George sambil tersenyum penuh kemenangan, sedangkan George nampak memutar bola matanya dengan enggan. Matilda dan dokter Sheina pun tertawa melihatnya. Untuk sesaat dokter Sheina bisa melupakan hal buruk yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu.


\=\=\=\=\=


__ADS_2