
Elan pun menyusun rencana untuk mempertemukan istrinya dengan kedua orangtuanya di sebuah tempat di luar kota H. Ia sengaja melakukan itu agar keberadaannya dan keluarganya tak terlacak oleh Edi dan istrinya.
" Nanti jangan katakan apa pun tentang dimana Kita tinggal. Kamu ingat itu...," pesan Elan pada istrinya saat mereka tiba di sebuah rumah makan.
" Kenapa...?" tanya Nina tak mengerti.
" Aku ga mau Edi dan istrinya tau keberadaan Kita dan mencoba mengirim ilmu hitam untuk mencelakaimu dan bayi Kita...," sahut Elan cemas.
Nina terharu melihat kecemasan suaminya. Ia mengulurkan tangannya untuk menenangkan suaminya.
" Jangan cemas Sayang. Semua akan baik-baik aja. Apa Kamu ga ingin orangtuamu datang berkunjung ke rumah Kita...?" tanya Nina.
" Pasti ingin Sayang. Tapi bukan sekarang saatnya. Please turuti permintaanku kali ini aja...," kata Elan penuh harap.
" Baik lah, Aku janji ga akan cerita apa pun. Aku hanya ingin bertemu dengan mereka dan memeluk mereka. Sisanya Aku serahkan padamu. Gimana...?" tanya Nina dengan mimik wajah lucu.
" Ok setuju...," sahut Elan antusias hingga membuat Nina tertawa.
Tak lama kemudian kedua orangtua Elan tiba. Elan berdiri menyambut keduanya dan memeluk mereka bergantian.
" Lama sekali Nak. Apa Kamu ga kangen sama Mama...?" tanya sang mama sambil menangis di pelukan Elan.
" Maaf Ma. Aku ga bisa ke sana karena Aku selalu teringat sama mendiang istriku...," sahut Elan sambil mendudukkan sang mama di kursi.
" Tapi itu udah lama banget Nak. Kamu harus bangkit dan cari pendamping hidup lain. Hidupmu masih panjang dan Kami yakin Kamu pasti bahagia nanti...," kata mama Elan sambil mengusap kepala Elan dengan sayang.
" Iya, Aku tau Ma. Aku udah nemuin orang yang tepat. Dan Aku bahagia sama dia...," sahut Elan sambil merengkuh bahu Nina.
Kedua orangtua Elan terkejut seolah baru menyadari ada orang lain bersama mereka saat itu. Mereka menatap Nina penuh haru. Mereka makin terkejut saat melihat perut Nina yang membuncit.
" Kalian...," ucapan ayah Elan terputus saat Elan memotong cepat.
" Ayah ga usah khawatir. Dia Istriku, namanya Nina. Dia hamil setelah Aku menikahinya enam bulan yang lalu...," kata Elan sambil tertawa.
__ADS_1
" Apa, menikah. Kenapa Kami ga dikabarin...?!" tanya kedua orangtua Elan bersamaan.
" Maaf Ma, Yah. Duduk dulu ya biar Aku jelasin semuanya nanti...," pinta Elan.
Kedua orangtua Elan mengangguk lalu duduk di hadapan Elan dan istrinya. Tiba-tiba Nina mengguncang lengan Elan seolaj mengingatkan Elan tentang tujuan utama pertemuan mereka kali ini.
Elan tersenyum sambil mengusap pipi Nina dengan lembut lalu mengatakan sesuatu yang membuat kedua orangtuanya terharu.
" Tapi sebelum Aku cerita semuanya, bolehkan Nina memeluk Mama dan Ayah. Aku mengatur semua ini karena Nina ngidam mau ketemu Mama sama Ayah...," kata Elan malu-malu.
Kedua orangtua Elan nampak saling menatap lalu tersenyum. Mereka berdiri sambil merentangkan kedua tangan mereka seolah siap menyambut Nina.
" Kemari lah Nak...," kata kedua orangtua Elan.
Nina pun langsung menghambur memeluk kedua orangtua Elan bergantian.
" Maafkan Nina ya Ma, Ayah. Nina baru bisa datang memperkenalkan diri. Maaf...," kata Nina sambil menangis.
" Betul. Tolong jaga calon Cucuku ini ya Nak. Turuti apa yang dibilang Suamimu. Karena dia punya pengalaman buruk dengan kehamilan almarhumah istrinya dulu. Jadi harap maklum kalo Elan jadi lebih cerewet nanti...," kata mama Elan sambil mengusap perut buncit Nina dengan lembut.
" Iya Ma. Elan memang lebih cerewet dari biasanya. Tapi Aku suka Ma, karena itu terlihat menggemaskan...," sahut Nina malu-malu hingga membuat wajah Elan merona.
Mendengar jawaban Nina membuat kedua orangtua Elan tertawa sedangkan Elan nampak memalingkan wajahnya kearah lain.
Setelahnya perbincangan pun mengalir lancar. Nina nampak bahagia karena keinginan kecilnya terpenuhi. Berkali-kali ia memeluk mama Elan dengan gemas hingga membuat Elan tak enak hati. Namun sang mama nampak tak keberatan dan pasrah saja saat Nina menyentuh wajah dan rambutnya berulang kali.
" Jangan marahi Istrimu Elan. Keinginan seperti ini cuma dimengerti oleh sesama wanita. Jadi biarkan Nina melakukan apa yang dia mau. Mungkin itu pertanda kalo nanti Cucuku akan mirip Aku...," kata mama Elan bijak.
" Makasih Ma. Aku ĵuga ga keberatan kalo Anakku mirip sama Omanya...," sahut Nina sambil mengarahkan telapak tangan mama Elan ke perutnya hingga membuat semua orang terharu.
Saat hendak berpisah, Elan meminta kedua orangtuanya merahasiakan pertemuan mereka.
" Kenapa...?" tanya ayah Elan tak mengerti.
__ADS_1
Elan nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ayahnya.
" Aku ga mau Edi atau Puri tau lalu melukai anak dan istrilu lagi Yah...," kata Elan lirih.
" Astaghfirullah aladziim. Sampe kapan Kamu akan mencurigai mereka Elan. Kematian Istrimu adalah takdir. Jangan jadi orang yang kufur nikmat Nak. Karena bagaimana pun kepergian istrimu membawa Nina masuk ke dalam hidupmu...," kata ayah Elan gusar.
" Maaf Yah. Tapi instingku sebagai laki-laki mengatakan itu. Tolong hargai keputusanku atau Kita ga usah ketemu lagi...," sahut Elan dengan nada tajam.
Mama Elan segera maju untuk melerai perdebatan anak dan suaminya itu. Sedangkan Nina tampak terdiam karena tak tahu harus bicara apa.
" Sudah jangan berdebat. Ayah tolong hargai keputusan Elan. Nanti ada saatnya Edi dan istrinya tau. Lagipula itu baik untuk mereka biar ga iri saat tau istri Elan hamil. Dan Kamu Elan. Jangan mengancam begitu. Kami ini orangtuamu bukan musuhmu. Bersikap lah dewasa. Ingat, Kamu sudah berkeluarga sekarang. Jangan bawa anak dan istrimu dalam dendam yang tak berujung...," kata mama Elan sambil menatap kearah Elan dan ayahnya bergantian.
" Iya Ma...," sahut Elan dan ayahnya bersamaan.
" Sekarang baikan...!" perintah mama Elan tegas.
Dengan cepat Elan dan ayahnya saling memeluk beberapa saat. Elan juga mencium punggung tangan sang ayah sambil memohon maaf berulang kali.
Nina yang mengamati sikap suami dan mertuanya nampak tersenyum simpul. Ia kagum pada mama Elan yang bisa menyudahi kekacauan kecil yang terjadi tadi.
" Mama hebat...," bisik Nina.
" Mama udah biasa menghadapi tingkah konyol ayah dan anak itu Nina. Kamu pasti ga percaya kalo Mama juga bisa ngamuk kalo mereka bertiga termasuk Edi ga nurut sama Mama...," kata mama Elan bangga.
" Aku percaya Ma. Tolong ajari Aku gimana cara menaklukkan ayah dan anak supaya ga terjadi perang dunia di rumah nanti...," pinta Nina.
" Nalurimu yang akan menuntunmu melakukan itu nanti Nak. Mama ga punya resep khusus untuk menghadapi mereka...," sahut mama Elan sambil tertawa.
Nina pun ikut tertawa lalu memeluk mama Elan sekali lagi sebelum sang mertua masuk ke dalam mobil.
Setelahnya mereka berpisah dan berjanji untuk tetap saling memberi kabar.
\=\=\=\=\=
__ADS_1