Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
133. Alasan Jon


__ADS_3

Menyadari kondisi ruangan yang gelap dan gaduh membuat Kautsar tergerak untuk membawa Aruna keluar dari ruangan itu namun Aruna menolak.


" Terlalu bahaya buat Kamu...," kata Kautsar.


" Gapapa. Aku harus stay di sini untuk menuntaskan semuanya...," sahut Aruna.


" Itu bisa diomongin nanti. Tapi yang penting Kita menyingkir sebentar sekarang...," kata Kautsar setengah memaksa.


" Ga bisa Sayang. Bukan Kita yang harus menyingkir tapi mereka..., " sahut Aruna.


" Mereka siapa maksud Kamu...? " tanya Kautsar tak mengerti.


" Orang-orang yang ga berkepentingan. Biar Kakek Aldi, Hafiz dan Kita berempat yang ada di sini...," sahut Aruna.


" Tapi gimana caranya nyuruh mereka keluar, Kita kan cuma tamu di sini...," kata Kautsar bingung.


" Aku juga ga tau...," sahut Aruna pasrah.


Ternyata percakapan Aruna dan Kautsar didengar oleh Hafiz. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Kakeknya yang nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Bereskan ruangan ini dan bawa Jon ke kamar tamu. Panggil dokter untuk mengobati lukanya...!" perintah Kakek Aldi lantang.


" Baik Kek...!" sahut keluarga sang Kakek.


" Dan Kalian ikut Aku...," kata Kakek Aldi sambil menatap kearah Kautsar dan rombongan.


" Baik Kek...," sahut Kautsar.


" Ada apaan Fiz. Kakek Lo marah ya sama Kita...?" tanya Reymond sambil melangkah di samping Hafiz.


" Ga kok. Kakek ada perlu sama Lo berempat. Mau ngobrol sedikit makanya cari ruangan yang ga terlalu luas...," sahut Hafiz sambil tersenyum.


" Oh gitu...," kata Reymond sambil bernafas lega.


" Gue ga nyangka Kakek Lo orang yang dominan di keluarga ini Fiz. Padahal udah sepuh banget tapi keliatan berwibawa ya...," kata Reyhan kagum.


" Kakek kan mantan jawara dulu. Ilmu bela dirinya jangan ditanya deh. Selain tegas, Kakek juga penyayang, tapi beliau ga suka ngeliat ada penindasan atau sejenisnya di depan matanya. Makanya semua keluarga hormat dan patuh sama Kakek...," sahut Hafiz.


" Gimana reaksinya kalo dia tau yang sebenarnya tentang Aldi...," gumam Reyhan lirih namun masih didengar oleh Hafiz.


Hafiz menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Reyhan.


" Itu salah satu yang mau Kakek tau dari Kalian. Ngeliat kedatangan Jon bikin Kakek curiga. Beliau merasa kalo kematian Aldi dan Bang Moa saling berhubungan. Jadi tolong jujur tentang semuanya nanti ya...," pinta Hafiz.

__ADS_1


" Kalo Kita jujur Kakek Lo bakal marah ga Fiz...?" tanya Reymond cemas.


" Marah sih pasti. Tapi bukan sama Kalian lah...," sahut Hafiz berusaha menenangkan tamunya.


Reyhan dan Reymond saling menatap kemudian mengangguk sambil tersenyum. Keduanya merasa lebih tenang karena tak harus menjadi sasaran kemarahan Kakek Aldi.


" Sebaiknya Kita ngobrol di ruangan dimana Jon dirawat Fiz...," kata Aruna tiba-tiba.


" Kenapa begitu...?" tanya Hafiz tak mengerti.


" Lo bakal tau jawabannya sebentar lagi...," sahut Aruna.


Hafiz nampak menimbang sejenak kemudian mengangguk.


" Ok, ikut Gue ke sebelah sini...," ajak Hafiz sambil berbalik arah.


Kemudian tiba lah mereka di sebuah ruangan dimana Jon sedang diobati. Rupanya luka akibat tertimpa lampu hias lumayan parah hingga menyebabkan kepala Jon harus dibalut perban.


Luka-luka Jon sebelumnya juga mendapat pengobatan. Setelah memastikan Jon diobati dengan baik, dokter yang mengobati lukanya pun pamit undur diri.


Bersamaan dengan keluarnya sang dokter, Kakek Aldi masuk ke dalam ruangan. Semua menepi untuk memberi ruang pada sang Kakek. Jon yang berbaring pun ikut bangun dari posisi tidurnya lalu duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur.


" Jadi apa yang mau Kamu sampaikan Jon...?!" tanya Kakek Aldi.


" Ga usah berbelit-belit !. Langsung aja pada intinya...!" kata Kakek Aldi marah.


" I... iya Kek. Se... benernya Bang Moa udah melecehkan Aldi Kek...," sahut Jon hingga mengejutkan Hafiz dan kakeknya.


" Melecehkan bagaimana maksudmu...?" tanya Kakek Aldi penasaran.


" Bang Moa sering melakukan kekerasan se*ual ke Aldi. Dia juga sering nyuruh Saya, Jan, Jen dan Jun untuk menjemput Aldi. Kami membawanya ke tempat yang telah disepakati lalu Bang Moa melecehkannya di sana...," sahut Jon dengan suara bergetar.


" Kurang ajarrr...!" maki Kakek Aldi sambil melayangkan tinjunya ke dinding hingga dinding itu berlubang.


Reymond dan Reyhan nampak beringsut mundur karena terkejut. Sedangkan Kautsar, Aruna dan Hafiz terlihat tenang.


" Dan sialnya lagi Lo dan ketiga temen Lo itu ikut ambil bagian melecehkan Aldi...," tebak Hafiz hingga membuat semua orang terkejut kecuali Aruna.


" Iya, maaf. Tapi Gue nyesel sekarang...," sahut Jon mulai menangis.


Tiba-tiba Kakek Aldi melayangkan tinjunya ke wajah Jon dan membuat Jon terjengkang di atas tempat tidur dengan dua gigi tanggal dan hidung mengeluarkan darah.


Tak ada yang melerai. Semua merasa apa yang dilakukan Jon tak sepadan dengan penderitaan almarhum Aldi.

__ADS_1


Jon menangis lalu memeluk kaki Kakek Aldi sambil memohon ampun.


" Siapa yang berani menyakiti Cucuku maka dia harus berani menanggung akibatnya...!" kata Kakek Aldi lantang sambil menendang Jon hingga membentur dinding.


Jon tak menyerah memohon pengampunan Kakek Aldi meski pun saat itu wajah dan tubuhnya telah berlumuran darah.


" Saya terima hukuman dari Kakek apa pun itu. Tapi tolong maafkan Saya Kek...," kata Jon menghiba.


" Percuma minta maaf karena Aldi sudah meninggal. Apa maaf dariku bisa mengembalikan Aldi...?!" tanya sang Kakek.


" Saya tau, tapi tolong ampuni Saya Kek. Saya ga mau mati konyol kaya mereka...," kata Jon di sela tangisnya.


" Mereka siapa lagi yang Kau maksud...? " tanya Kakek Aldi gusar.


" Jan, Jen dan Jun udah meninggal Kek. Mereka mati karena dikejar hantu Aldi yang menuntut balas. Saya ga bohong Kek. Aldi memang datang dan membuat mereka mati...," sahut Jon hingga membuat semua orang bingung antara percaya atau tidak.


" Jangan mengarang cerita Jon. Mana mungkin orang meninggal bisa membalas dendam apalagi menyakiti Kalian...," kata Kakek Aldi sambil melengos.


" Kalo cerita itu benar, kenapa Lo masih hidup Jon. Bukannya Lo juga ikut ngelecehin Aldi...?" tanya Hafiz sinis.


" Gue juga ga tau Fiz. Tapi waktu Gue siuman, Gue ga ngeliat orang lain di sana. Gue mencoba nyari Jan, Jen dan Jun tapi ga ketemu. Gue justru denger suara Aldi yang nyuruh Gue pulang ke rumah Kakek dan nyeritain semuanya...," sahut Jon sambil mengusap darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya.


" Jadi itu alasan Lo datang dan ceritain semuanya. Lo ga akan begini kalo ga diancam sama Aldi kan...?" tanya Hafiz kesal.


" Iya...," sahut Jon lirih.


Suasana ruangan menjadi hening sesaat. Kakek Aldi nampak berusaha menguasai diri agar tak larut dalam kemarahan dan kekecewaan.


Tak lama kemudian Kakek Aldi berjalan keluar ruangan tanpa bicara apa pun. Hafiz mengejar sang Kakek sedangkan Kautsar dan rombongan juga ikut keluar dari ruangan dan meninggalkan Jon sendiri.


" Arwah Aldi sengaja memberinya kesempatan hidup untuk menceritakan semuanya. Selain itu, diantara keempat bawahan Moa dia lah yang memperlakukan Aldi dengan baik. Meski terkadang ikut melecehkan Aldi, namun itu dilakukan dalam keadaan mabuk dan terpaksa...," kata Aruna.


" Jadi sejatinya dia juga ga mau melakukan itu...?" tanya Kautsar.


" Betul. Dia terlalu lemah untuk menolak. Makanya dia melakukannya dalam kondisi mabuk supaya ga perlu mengingat semuanya...," sahut Aruna.


" Tetep aja itu ga bikin keadaan lebih baik. Toh Aldi tetap kesakitan dan menderita akibat ulahnya dan genknya...," kata Kautsar kesal.


" Kamu betul. Tapi setelah Jon menceritakan berarti semuanya tugasku selesai. Kita bisa pergi dari sini setelah tahlilan nanti...," kata Aruna sambil memeluk lengan Kautsar.


" Ok Sayang...," sahut Kautsar sambil tersenyum lalu mengecup kening Aruna.


Aruna pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Sedangkan Reymond dan Reyhan nampak berdiri mematung sambil berusaha mencerna apa yang diceritakan Jon tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2