
Dokter Sheina masuk ke dalam rumah dan disambut oleh asisten rumah tangganya yang bernama bi Mey.
" Kok baru pulang Mbak. Bukannya harusnya dari tadi pagi ya...?" tanya bi Mey sambil meraih tas kerja milik Sheina.
" Oh itu karena Aku ada urusan dulu tadi Bi...," sahut dokter Sheina.
" Sekarang Mbak mau makan dulu atau mandi dulu...?" tanya bi Mey.
" Emangnya Bibi masak apa hari ini...?" tanya dokter Sheina.
" Masak rawon Mbak...," sahut bi Mey.
" Ok, Aku mau makan sekarang Bi...," kata dokter Sheina dengan antusias hingga membuat Bi Mey tersenyum.
" Sebentar Saya siapin dulu ya Mbak...," kata BI Mey yang diangguki sang majikan.
Kemudian dokter Sheina melangkah menuju wastafel untuk mencuci tangan. Setelahnya ia duduk di ruang makan sambil mengamati bi Mey menyiapkan makan siangnya.
Tiba-tiba dokter Sheina menoleh kearah tasnya yang diletakkan di atas lemari karena mendengar suara ponselnya berdering. Dokter Sheina pun bangkit dari duduknya lalu mendekati lemari untuk meraih ponselnya.
Dokter Sheina nampak tersenyum saat melihat nama Rasyid di layar ponselnya. Sambil duduk di depan meja makan dokter Sheina pun mulai bicara dengan Rasyid melalui sambungan telepon.
Pembicaraan mereka berlangsung beberapa menit dan sedikit menunda makan siang sang dokter. Saat bi Mey memberi kode jika makan siangnya akan kembali dingin, dokter Sheina pun mengakhiri pembicaraan.
" Siapa sih Mbak yang nelepon, happy banget keliatannya...," kata bi Mey.
" Teman Bi, baru kenalan tadi...," sahut dokter Sheina sambil mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.
" Cowok atau cewek Mbak...?" tanya bi Mey penasaran.
" Cowok, masih muda, ganteng, Polisi lagi. Gimana Bi, puas kan dengernya...," sahut dokter Sheina sambil membulatkan matanya dengan mimik lucu.
Bi Mey tertawa mendengar jawaban sang majikan. Dalam hati ia merasa senang karena akhirnya sang majikan cantik bisa move on dari masa lalunya yang kelam dan menyakitkan itu.
" Semoga kali ini ga cuma jadi temen biasa tapi bisa jadi teman hidup alias Suami ya Mbak. Aamiin...," kata bi Mey dengan tulus.
__ADS_1
" Ga usah terlalu ngarep Bi...," sahut dokter Sheina ketus.
" Lho, namanya harapan dan doa yang baik kan memang harus diaminkan Mbak. Emangnya Mbak Sheina ga mau menikah lagi ?. Punya suami yang baik dan anak-anak yang lucu ?. Kalo Saya sih berharap Mbak Sheina bisa ketemu jodoh yang tepat secepatnya. Mumpung Saya masih sehat dan kuat buat gendong bayi...," kata bi Mey sambil menatap sang majikan dengan lekat.
Dokter Sheina terdiam. Dia bukan tak ingin menikah dan punya anak. Tapi trauma terhadap pernikahan masih membayang jelas di pelupuk matanya. Dan saat ini dokter Sheina merasa belum siap untuk membuka hati meski pun banyak pria yang berupaya memikat hatinya.
" Aku udah selesai. Makasih ya Bi. Masakan Bibi emang the best deh...," kata dokter Sheina dengan suara lirih lalu bangkit dari duduknya.
BI Mey menatap sang majikan yang berjalan gontai menuju ke kamar dengan tatapan iba. Kemudian ia menghela nafas panjang setelah dokter Sheina menutup pintu kamar.
Di dalam kamar dokter Sheina langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya wanita itu berbaring di atas tempat tidur. Kedua matanya menatap langit-langit kamar sambil menerawang ke masa lalu. Masa dimana ia dan suaminya masih hidup bersama.
Suami dokter Sheina bernama Deni. Seorang pria tampan dan mapan. Mereka berkenalan di sebuah seminar kesehatan. Saat itu dokter Sheina yang diundang sebagai pembicara datang terlambat karena mobil yang dikendarainya mogok di tengah jalan. Sedangkan Deni yang merupakan peserta seminar pun datang terlambat.
Keduanya berpapasan di pintu masuk. Karena jalan terburu-buru dokter Sheina terpeleset dan hampir jatuh di lantai. Beruntung Deni berhasil menarik pergelangan tangan dokter Sheina hingga wanita itu urung jatuh.
" Maaf, Anda gapapa kan...?" tanya Deni kala itu sambil melepaskan cekalan tangannya.
" Eh gapapa. Makasih ya udah nolongin Saya...," sahut dokter Sheina.
" Sama-sama. Mau ikut seminar juga...?" tanya Deni.
" Kalo gitu Kita barengan aja. Saya juga mau ke sana kok...," kata Deni.
" Boleh...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.
Kemudian keduanya masuk ke dalam ruang seminar setelah sebelumnya mengisi buku tamu.
Saat masuk ke dalam aula tempat acara seminar digelar, beberapa orang nampak menyambut kedatangan dokter Sheina dengan antusias hingga membuat Deni sedikit bingung.
" Cewek ini kayanya orang penting. Kok panitya acara segitu hebohnya ngeliat dia datang...," kata Deni dalam hati.
" Silakan dok...," kata seorang panitya acara sambil mengarahkan dokter Sheina untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
Dokter Sheina nampak menoleh kearah Deni lalu melambaikan tangannya. Deni pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah acara seminar selesai Deni sengaja menunggu dokter Sheina di depan pintu masuk.
" Saya senang mendengar ulasan Anda tadi dok. Saya jadi semangat untuk berinvestasi di bidang kesehatan...," sapa Deni saat dokter Sheina mencapai pintu.
Dokter Sheina nampak terkejut melihat Deni masih berdiri di sana padahal seminar telah usai setengah jam yang lalu.
" Lho, masih di sini...?" tanya dokter Sheina.
" Saya sengaja menunggu Anda di sini karena ingin berbincang sedikit dengan Anda. Boleh kan dokter Sheina...?" tanya Deni penuh harap.
" Oh boleh...," sahut dokter Sheina.
Kemudian keduanya pun melangkah bersama menuju kafe yang ada di seberang gedung tempat seminar di gelar. Dan dari sana lah kedekatan mereka mulai terjalin.
Hubungan mereka berjalan lancar. Tak ada kendala apa pun selama mereka pacaran. Hingga setengah tahun kemudian keduanya memutuskan menikah.
Pesta pernikahan mereka digelar dengan mewah. Deni yang seorang pebisnis itu mengundang beberapa kolega bisnisnya. Semua memuji kecantikan dokter Sheina dan itu membuat Deni bangga. Sedangkan dokter Sheina juga mengundang teman terdekatnya untuk hadir di acara pernikahannya.
Kemegahan dan keindahan pesta pernikahan Deni dan dokter Sheina sempat menjadi buah bibir di kalangan teman dan kolega bisnis. Namun ternyata kehidupan pernikahan mereka tak seindah pesta yang mereka gelar.
Hubungan harmonis keduanya hanya berlangsung singkat. Saat pernikahan mereka masuk usia ke tiga bulan Deni mulai menampakkan sifat aslinya. Deni mulai bersikap seenaknya dan tak menghargai komitmen pernikahannya dengan dokter Sheina.
Deni mulai bersikap cuek dan tak peduli pada istrinya. Ia seringkali pulang larut malam dengan alasan meeting padahal dokter Sheina tahu jika suaminya baru saja keluar dari hotel bersama seorang wanita bayaran. Hati dokter Sheina pun hancur saat mengetahui pengkhianatan suaminya.
" Kenapa Den, apa salahku...?" tanya dokter Sheina.
" Kamu ngomong apaan sih. Ga paham Aku...," sahut Deni sambil menerobos masuk ke dalam rumah.
" Kamu mencari kepuasan dengan wanita di luar sana padahal Kamu punya istri di rumah. Terus Kamu anggap apa Aku ini Den...?!" tanya dokter Sheina lantang.
" Ga usah berlebihan lah. Aku bosan sama Kamu, makanya Aku cari sesuatu di luar sana supaya lebih variatif dan sedikit menantang...," sahut Deni enteng sambil melemparkan pakaiannya ke lantai.
" Kalo Kamu bosan ceraikan Aku. Jangan bertingkah seperti ini. Kamu tau kan kalo itu dosa Den...!" kata dokter Sheina gusar.
" Dosa ya tinggal dosa. Aku yang bakal menanggungnya nanti. Kalo Kamu ga suka sama caraku Kamu boleh pergi. Tapi jangan harap Aku bakal menceraikan Kamu Sheina. Ga akan pernah...!" kata Deni sambil membanting pintu kamar mandi.
__ADS_1
Dokter Sheina berusaha sabar menghadapi sikap suaminya. Namun saat Deni mengajak wanita selingkuhannya ke rumah, dokter Sheina pun tak kuasa menahan marah. Dan saat itu bertepatan dengan malam bulan purnama penuh, saat dimana darah serigala dalam diri Sheina bergolak hingga membuatnya berubah menjadi manusia serigala.
\=\=\=\=\=