
George berhasil menemukan Kautsar. Saat itu Kautsar tengah beristirahat di pinggir sebuah sungai tak jauh dari hutan. Rupanya ia kelelahan setelah berlari cepat selama beberapa waktu.
" Keliatannya Kamu sangat kelelahan Nak...," sapa George sambil tersenyum.
Kautsar terkejut lalu segera bangkit dari posisi duduknya. Ia menatap George dengan tatapan waspada. Namun perlahan kewaspadaannya mengendur saat tahu George hadir dalam wujud manusia biasa.
" Om George...," panggil Kautsar lirih sambil mengamati sekelilingnya.
" Iya Nak, ini Aku...," sahut George.
" Dimana Aruna ?. Apakah dia baik-baik aja Om...?" tanya Kautsar dengan suara bergetar.
Di satu sisi Kautsar masih merasa takut dan tak percaya jika Aruna berniat menghabisinya. Namun di sisi lainnya Kautsar merasa khawatir akan keselamatan istrinya.
" Sayangnya Aku datang sendiri kali ini. Aruna ada bersama Matilda. Saat ini dia butuh waktu untuk sendiri. Aku harap Kamu mengerti dan bersedia memberikan Aruna waktu untuk memahami semuanya...," kata George.
" Iya Om Aku paham. Aku akan kasih waktu untuk Aruna sebanyak apa pun yang dia mau...," sahut Kautsar cepat hingga membuat George terharu.
" Apa Kamu membencinya Nak...?" tanya George hati-hati.
" Aku ga bisa membencinya Om...," sahut Kautsar tegas.
" Meski pun dia telah berusaha membunuhmu tadi...?" tanya George sambil menatap Kautsar dalam-dalam.
" Itu dilakukan di luar kesadarannya Om. Dan Aku maklum kok. Andai dalam keadaan sadar Aruna ga akan membunuhku meski pun dia membenciku...," sahut Kautsar sambil menatap lurus ke depan.
" Kenapa Kamu seyakin itu ?. Kamu tau dalam diri Aruna ada darah makhluk pembunuh yang haus darah dan suatu saat bisa mendesak keluar bahkan mungkin bisa melukaimu...," kata George.
" Aku mengenal Aruna sebagai wanita yang cerdas. Dia ga akan melakukan sesuatu yang bod*h hanya untuk memenuhi ambisinya. Apalagi pada orang yang pernah dia cintai...," sahut Kautsar sambil tersenyum tipis.
George mengangguk mengiyakan ucapan Kautsar. Ia juga percaya ucapan Kautsar karena Aruna memang membuktikan itu saat berhadapan dengan Kalisha.
George ingat bagaimana Aruna memberi Kalisha banyak kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ia mengakhiri semuanya. Itu karena Aruna sadar jika Kalisha pernah menjadi teman dekatnya. Hingga akhirnya kesabaran Aruna habis karena ulah Kalisha sendiri.
" Sekarang Aku antar Kamu pulang ya...," kata George menawarkan diri.
" Iya Om. Tapi bisa kan kalo Kita lewat jalur normal...?" tanya Kautsar.
" Jalur normal apa maksudmu...?" tanya George tak mengerti.
__ADS_1
" Aku ingin pulang ke rumah lewat jalur darat Om. Aku ingin menikmati perjalananku kali ini. Bukan kah Aruna telah kembali ke wujud manusia, jadi Aku ga perlu takut Istriku itu akan memburuku seperti tadi...," sahut Kautsar hingga membuat George tersenyum.
" Baik lah kalo memang itu maumu...," sahut George.
" Makasih Om...," kata Kautsar antusias.
" Sama-sama. Ayo Kita ke sana, ada jalan setapak yang biasa dilalui warga jadi Kita ga perlu menerobos hutan...," ajak George yang diangguki Kautsar.
Perlahan George dan Kautsar pun melangkah menuju jalan yang dimaksud George. Keduanya terus melangkah menembus kegelapan malam. Sesekali Kautsar harus membiarkan George menggunakan kemampuannya ketika mereka harus melewati jalan yang sulit. Biasanya George akan menggenggam tangan Kautsar lalu membawanya melesat cepat melewati rintangan yang ada di depan mereka.
Pembicaraan santai mewarnai perjalanan keduanya hingga mereka tiba di depan rumah Kautsar.
" Alhamdulillah akhirnya Kita sampe juga. Makasih ya Om udah mau nganterin Aku pulang...," kata Kautsar.
" Sama-sama Nak. Kalo begitu Aku pergi sekarang ya...," sahut George sambil bersiap pergi.
" Sebentar Om...!" panggil Kautsar.
" Ada apa lagi Kautsar...?" tanya George.
" Mmm..., tadi Om bilang kalo Aruna butuh waktu untuk sendiri. Terus gimana cara Aku tau kondisinya karena dia kan ga mau ketemu sama Aku...?" tanya Kautsar malu-malu.
" Aku akan datang untuk memberimu kabar Nak...," sahut George sambil tersenyum maklum.
" Insya Allah sesering mungkin...," sahut George sambil tertawa.
Kautsar ikut tertawa lalu sesaat kemudian ia membiarkan George melesat cepat meninggalkannya.
\=\=\=\=\=
Aruna nampak membelalakkan matanya saat Matilda membawanya ke sebuah tempat yang terlihat unik. Sebuah bangunan yang mirip seperti kastil berdiri kokoh di hadapannya. Aruna menatap ke sekelilingnya dan tersadar jika saat itu tengah berada di atas bukit.
" Tempat apa ini Tante...?" tanya Aruna.
" Ini tempat Aku dan Suamiku istirahat selama ini Nak. Jika Kami lelah dari rutinitas maka Kami datang ke sini. Fasilitas dan persediaan makanan di rumah ini lumayan lengkap, jadi Kami ga perlu kemana-mana untuk sekedar makan atau minum kopi...," sahut Matilda sambil tersenyum.
" Aku ga nyangka di tempat terpencil dan tersembunyi kaya gini ada sebuah tempat yang indah dan nyaman untuk ditempati...," kata Aruna sambil menatap kagum kearah bangunan klasik di hadapannya.
" Simpan dulu rasa kagummu itu Aruna. Karena masih ada sesuatu yang akan membuatmu terpana di dalam sana...," kata Matilda.
__ADS_1
" Oh ya. Apa itu Tante...?" tanya Aruna penasaran.
" Nanti Kamu juga tau. Sebaiknya Kita masuk sekarang yuk...," ajak Matilda.
Aruna mengangguk lalu mengikuti Matilda yang menggamit tangannya untuk masuk ke dalam rumah itu.
Saat pintu dibuka terlihat sebuah pemandangan yang membuat Aruna tersenyum senang. Bagaimana tidak. Saat itu di hadapannya terpampang nyata sebuah ruangan dengan dekorasi antik yang memanjakan mata.
" Ini bagus banget Tante. Aku merasa dibawa ke masa lampau saat dimana peradaban modern di jaman kuno dimulai...," kata Aruna sambil tersenyum.
" Designer interior ruangan ini adalah Suamiku Aruna. Dia adalah pria yang selalu mengembara ke berbagai tempat sebelum terikat pernikahan denganku. Karenanya Aku mempercayakan semuanya sama dia dan Kamu liat kan hasilnya...?" tanya Matilda dengan bangga.
" Om George memang hebat. Di sini Aku merasa berada entah di jaman apa tapi anehnya di saat bersamaan Aku juga merasa nyaman...," puji Aruna sambil menyentuh satu per satu perabotan yang ada di ruangan itu.
Ruangan bernuansa gold dan merah maroon itu terlihat mewah sekaligus klasik. Dinding ruangan yang dingin dan kedap suara membuat ruangan terasa sejuk meski pun tanpa pendingin ruangan.
Matilda pun melangkah menuju jendela lalu mendorong daun jendela hingga terbuka lebar. Matilda juga mengikat gorden jendela berwarna gold itu ke sisi jendela. Sesaat kemudian angin beraroma daun pun berhembus masuk ke dalam ruangan hingga membuat perasaan menjadi tenang.
" Aku senang kalo Kamu merasa nyaman di sini Nak. Tinggal lah selama yang Kamu mau. Kami akan senang menerimamu di sini Sayang...," kata Matilda.
" Terima kasih Tante. Rasanya Aku akan betah di sini...," sahut Aruna malu-malu hingga membuat Matilda tertawa.
" Gapapa Nak. Rumah ini kan juga rumahmu. Ayahmu pun betah berada di sini..., " kata Matilda di sela tawanya.
" Jadi Ayah sering ke sini Tante...?" tanya Aruna.
" Ga sering. Hanya beberapa kali. Kemarin dia juga datang setelah menjengukmu...," sahut Matilda sambil berlalu.
Aruna mengikuti Matilda yang melangkah ke bagian dalam rumah. Lagi-lagi Aruna dibuat takjub dengan design interior di rumah itu. Matilda berhenti melangkah tepat di depan sebuah pintu.
" Ini kamarmu Nak. Kamu bisa istirahat di sini. Jika perlu sesuatu bilang aja ga usah sungkan. Ok...?" tanya Matilda sambil membukakan pintu untuk Aruna.
" Baik Tante. Makasih sekali lagi...," sahut Aruna.
" Sama-sama Sayang...," sahut Matilda lalu meninggalkan Aruna di kamar itu.
Perlahan Aruna menutup pintu kamar lalu mengamati ruangan sambil tersenyum. Kemudian ia melangkah ke jendela dan melihat pemandangan indah di balik jendela.
Namun sayang keindahan yang tersaji di depannya tak membuatnya lupa pada sosok Kautsar.
__ADS_1
" Maafkan Aku Sayang. Aku masih perlu waktu untuk memahami semuanya. Maaf karena meninggalkanmu tanpa penjelasan. Bersabar lah sebentar. Aku akan kembali dan menjelaskan semuanya nanti...," gumam Aruna sambil menitikkan air mata.
\=\=\=\=\=