Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
260. Harus Istirahat


__ADS_3

Kemudian dokter Sheina meminta Aruna beristirahat beberapa hari sebelum nanti membantunya bicara dengan Alam. Kautsar pun setuju dengan ucapan dokter Sheina itu.


" Tapi Aku bisa mulai sekarang juga lho dok...," kata Aruna mencoba meyakinkan dokter Sheina.


" Aku percaya. Tapi kondisi fisikmu masih sangat lemah Aruna. Aku mau Kamu membantuku sampe tuntas dan ga setengah-setengah hanya karena terganggu dengan keluhanmu nanti...," sahut dokter Sheina.


" Aku setuju apa kata dokter Sheina. Lebih baik Kamu pulihkan dulu tenagamu dan kesehatanmu baru urus itu nanti...," sela Kautsar.


" Aku heran kenapa Kalian bisa sekompak ini. Tapi baik lah. Aku mengalah kali ini. Jadi Alam, bersabar lah sebentar lagi. Insya Allah saat Aku pulih Aku akan membantumu lepas dari ikatan yang membuatmu tertahan di sini...," kata Aruna.


Alam pun mengiyakan ucapan Aruna sambil tersenyum. Ia senang karena akan ada seseorang yang membantunya keluar dari belenggu yang mengikatnya selama ini.


\=\=\=\=\=


Kautsar dan Aruna tiba di rumah saat malam hari. Kedua orangtua mereka nampak tak sabar menanti kedatangan mereka.


" Assalamualaikum..., " sapa Aruna dan Kautsar bersamaan.


" Wa alaikumsalam. Kok sampe hari gini sih Nak, apa ada masalah sama kesehatan Aruna...?" tanya Diana sambil membantu Aruna masuk ke dalam rumah.


" Alhamdulillah semua baik-baik aja Ma. Kami makan malam sebentar di luar tadi. Soalnya Aruna kangen duduk di taman...," sahut Kautsar.


" Oh gitu...," kata Diana sambil menghela nafas lega.


" Apa Aruna harus melakukan sesuatu supaya cepat pulih Nak...?" tanya Ahmad.


" Banyak Yah. Aku udah hapal di luar kepala kok. Jadi Ayah tenang aja...," sahut Kautsar mantap hingga membuat semua orang tertawa.


" Tapi kalo dihapal aja percuma dong. Kamu juga harus menjaga dan mengawasi Aruna supaya ga melanggar aturan dokter. Apa Kamu sanggup Nak...?" tanya Ahmad lagi.


" Insya Allah sanggup Yah. Aku bisa ngajuin cuti khusus kalo diperlukan nanti...," sahut Kautsar lagi.


" Sekarang jangan ngomong terus, bawa Istrimu ke dalam kamar untuk istirahat. Kasian dia pasti lelah...," kata ibu Kautsar mengingatkan sang anak.


" Iya Bu. Ayo Sayang...," kata Kautsar sambil menggamit lengan Aruna dengan lembut.


" Tapi Aku masih mau di sini Sayang...," rengek Aruna.


" Kami masih di sini kok Nak. Sebaiknya Kamu istirahat ya biar cepat pulih...," bujuk ibu Kautsar dengan lembut.

__ADS_1


Tak enak hati mendengar ucapan mertuanya, Aruna pun mengangguk mengiyakan lalu masuk ke dalam kamar dibantu Kautsar.


Di dalam kamar Kautsar membantu Aruna berganti pakaian setelah sang istri membersihkan diri di kamar mandi.


" Jadi siapa Alam yang Kalian bicarakan tadi...?" tanya Kautsar tak sabar.


" Oh itu. Dia arwah penasaran yang selalu mengikuti dokter Sheina Sayang..., " sahut Aruna sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Apa dia baik...?" tanya Kautsar.


" Aku harap begitu. Dia tertahan di Rumah Sakit tanpa tau sebabnya. Aku ingin membantunya lepas dari sana dan kembali ke tempat seharusnya seperti biasa...," sahut Aruna.


" Gimana dokter Sheina bisa tau kalo dia diikuti arwah Alam...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Alam menyapanya lebih dulu...," sahut Aruna.


" Oh ya. Dan dokter Sheina ga takut sama sekali...?" tanya Kautsar yang diangguki Aruna.


" Iya. Hebat kan ?. Tapi sayangnya Alam lagi ngambek karena dokter Sheina memintanya untuk menjauh sementara waktu...," kata Aruna.


" Lho kenapa emangnya...?" tanya Kautsar.


" Aneh. Kok bisa gitu sih...?" tanya Kautsar tak percaya.


" Mungkin ada yang iri atau justru terlalu kagum sama kehebatan dokter Sheina...," sahut Aruna sambil menguap.


Kautsar tersenyum melihat Aruna yang mulai mengantuk. Ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Aruna dengan sayang.


" Tidur lah, Kita lanjut obrolannya besok ya...," bisik Kautsar.


" Ok...," sahut Aruna sambil memejamkan kedua matanya.


Tak lama kemudian Aruna pun terlelap. Setelah menyelimuti tubuh sang istri, Kautsar perlahan turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar. Ia bergabung dengan mertua dan kedua orangtuanya yang sedang berbincang di ruang tengah.


" Aruna udah tidur Nak...?" tanya Arka.


" Udah Pa...," sahut Kautsar.


" Cepet banget. Mungkin karena pengaruh obat ya Nak...," kata Arka sambil tersenyum.

__ADS_1


" Kayanya sih gitu Pa. Tadi dokter memang menambah dosis obat untuk Aruna karena menurut dokter Aruna masih terlalu lincah dan kurang istirahat...," sahut Kautsar sambil menahan tawa.


Mendengar ucapan Kautsar keempat orangtua itu pun tertawa. Mereka mengerti mengapa dokter melakukan itu. Sesungguhnya selama tiga hari di rumah Aruna tak seratus persen bedrest. Keempat orangtua itu sudah berkali-kali meminta Aruna untuk tidur tapi nampaknya Aruna tak bisa tidur. Ia berkali-kali terjaga dan itu membuat Diana sedikit kesal.


" Mama setuju sama dokter. Aruna memang harus tidur untuk memulihkan kesehatannya...," kata Diana.


" Mungkin dia masih teringat sama bayinya Ma. Makanya jadi gelisah dan ga bisa tidur...," kata Arka.


" Betul Bu. Mungkin di alam bawah sadarnya Aruna masih sulit melepaskan kepergian bayinya. Wajar sih. Apalagi ini anak pertama...," kata ibu Kautsar bijak.


Kelima orang itu terus berbincang hingga larut malam. Sesekali Kautsar mengecek Aruna yang terlelap di kamar untuk memastikan jika sang istri tak terjaga atau memerlukan bantuannya. Sikap Kautsar membuat Diana dan Arka terharu. Sedangkan Ahmad dan istrinya nampak tersenyum bangga.


\=\=\=\=\=


Sedangkan di tempat lain tampak sepasang pengantin baru Kenzo dan Ria tengah duduk bersama sambil menikmati makan malam yang tertunda.


Kenzo nampak bahagia melihat kondisi Ria yang terlihat jauh lebih baik.


" Kapan Kita menjenguk Aruna, Ken. Aku udah ga sabar mau ketemu dan ngeliat langsung kondisinya...," kata Ria sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


" Insya Allah besok kalo Kamu udah siap dan sehat...," sahut Kenzo.


" Aku siap dan sehat kok. Kamu liat kan gimana makanku...?" tanya Ria antusias hingga membuat Kenzo tersenyum.


" Iya Aku tau. Kalo gitu besok Kita jenguk Aruna ya...," sahut Kenzo sambil mengusak rambut Ria dengan sayang.


" Ok. Makasih ya Ken...," kata Ria dengan tulus.


" Sama-sama Sayang. Aku juga kepikiran sama nasib Aruna. Secara ga langsung Kita yang udah bikin dia kehilangan bayinya. Walau pun itu semua udah takdir Allah, tapi Aku tetap aja merasa bersalah...," kata Kenzo.


" Iya Sayang. Andai aja waktu itu Aku ga ke rumah itu, pasti Aruna ga akan nekad nyusul Aku ke sana. Dan kemungkinan bayi Aruna akan baik-baik aja sampe detik ini..., " kata Ria penuh sesal.


" Eh, kok malah ngelantur gini sih. Aku yakin Aruna bakal marah kalo tau Kita menyalahkan diri Kita sendiri atas kepergian bayinya. Besok saat ketemu Aruna jangan perlihatkan muka sedih Kamu ya Sayang...," kata Kenzo mengingatkan.


" Iya. Aku janji ga bakal bikin Aruna sedih lagi...," sahut Ria sambil tersenyum.


Kenzo pun ikut tersenyum saat melihat Ria kembali ceria.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2