Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
212. Wanita Berjarik Batik


__ADS_3

Setelah mendapat kabar kekosongan pemimpin di perusahaan cabang, Kakek Kenzo pun meminta Erlan untuk menduduki posisi itu. Erlan menolak dengan alasan dia juga adalah karyawan di perusahaan lain dan tak mungkin cuti dalam waktu lama.


" Hanya sementara aja Erlan. Sampe Anakmu benar-benar siap dan mau menduduki posisi itu...," pinta Kakek Kenzo.


" Tapi Aku ga bisa lama-lama Ayah. Paling lama hanya dua Minggu...," sahut Erlan.


" Dua Minggu Ayah rasa cukup untuk membujuk Kenzo. Sekarang pergi lah ke Malang secepatnya..., " pinta Kakek Kenzo.


" Jangan lupa ajak Istrimu. Dia pasti seneng bisa ketemu sama Kenzo...," kata nenek Kenzo mengingatkan.


" Iya Bu. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum..., " pamit Erlan setelah mencium punggung tangan kedua orangtuanya.


\=\=\=\=\=


Sementara itu Bianca telah berhasil mengendus jejak keberadaan Hasby. Semula ia ingin bekerja sendiri. Tapi sikap Aruna yang terus menatap curiga kearahnya membuat Bianca tak nyaman dan mengatakan semuanya pada Aruna.


" Kenapa ngeliatin Saya kaya gitu Aruna...?" tanya Bianca pagi itu.


" Saya pikir Ibu pasti tau sesuatu tentang Pak Hasby...," sahut Aruna.


" Ck, Saya emang ga bisa sembunyi dari Kamu Aruna...," kata Bianca sambil berdecak sebal hingga membuat Aruna tersenyum.


" Jadi ada akabar apa Bu Bianca...?" tanya Aruna.


" Saya udah nemu tempat persembunyian Pak Hasby. Saya berniat ke sana sore nanti Aruna...," sahut Bianca.


" Saya ikut ya Bu...," kata Aruna antusias.


" Jangan Aruna !. Kamu tetep di rumah dan biar Saya yang menyelesaikan semuanya...," kata Bianca tegas.


" Ga bisa Bu. Bukannya Ibu bilang Pak Hasby juga mengancam Saya dan janin Saya ?. Selama dia masih berkeliaran Saya ga bakal bisa duduk tenang. Jadi Saya maksa buat ikut...," sahut Aruna.


" Tapi Aruna...," ucapan Bianca terputus karena dipotong cepat oleh Aruna.


" Ibu ga usah khawatir. Saya bakal ngajak Suami Saya. Jadi Ibu bisa tetep fokus mengurus kuyang itu. Lagipula Ibu juga butuh umpan kan...?" tanya Aruna sambil tersenyum penuh makna.


" Jangan g*la Kamu Aruna. Masa Kamu mau jadiin janin Kamu itu umpan...?!" kata Bianca marah.


" Itu jauh lebih baik daripada Kita mengorbankan janin lainnya Bu. Insya Allah bayi Saya kuat kok...," kata Aruna mantap.


" Dasar keras kepala. Saya ga bakal tanggung jawab kalo terjadi sesuatu sama Kamu dan bayimu Aruna...!" kata Bianca sambil berlalu.


" Lihat Nak. Mama Bianca ternyata sayang banget sama Kamu sampe ga ngijinin Bunda ikut. Kamu buktiin sama Mama Bianca nanti kalo Kamu tetep kuat ya Nak. Jadi Bunda ga dimarahin lagi sama Mama Bianca...," kata Aruna sambil mengusap perutnya dengan lembut.


Walau diucapkan lirih namun masih bisa di dengar oleh Bianca. Dan diam-diam Bianca pun tersenyum mendengar 'panggilan manis' yang disematkan Aruna untuknya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sore itu Bianca sudah duduk di dalam mobil sambil menunggu kedatangan Aruna dan Kautsar. Kali ini Bianca tak sendiri. Ia mengajak seorang paranormal yang merupakan adik sepupunya bernama Pasko.


" Nunggu siapa lagi Mbak...?" tanya Pasko dari balik kemudi.


" Temen. Nah itu dia...," sahut Bianca sambil menunjuk Aruna dan Kautsar yang berjalan kearah mobil sambil menautkan jari.


" Jangan ngaco Kamu Mbak !. Perempuan itu masih muda banget dan dia lagi hamil sekarang...!" kata Pasko gusar.


" Gapapa, dia bukan perempuan sembarangan Pasko. Kamu bakal buktiin sebentar lagi. Kita bisa fokus ngejar kuyang itu. Biar dia dan Suaminya mengurus bagiannya...," sahut Bianca sambil tersenyum penuh makna.


" Terserah Kamu lah Mbak...," kata Pasko pasrah.


" Maaf terlambat...," kata Kautsar basa-basi.


" Gapapa Mas. Ayo masuk. Mas Kautsar di depan ya, biar Aruna duduk di samping Saya...," kata Bianca.


" Baik Bu...," sahut Kautsar sambil membantu Aruna duduk di dalam mobil.


" Aku bisa kok...," bisik Aruna karena tak enak hati dengan Bianca dan Pasko.


" Iya Aku tau...," sahut Kautsar sambil mengusap kepala Aruna dengan sayang.


Setelah menutup pintu, Kautsar pun bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Pasko. Kemudian Kautsar menyapa Pasko dengan santun sambil mengulurkan tangannya. Pasko tersenyum dan menyambut uluran tangan Kautsar dengan hangat.


" Kita jalan sekarang ya...," kata Pasko yang diangguki Bianca, Aruna dan Kautsar.


Satu jam kemudian mereka telah tiba di sebuah tempat yang lumayan jauh dari jalan raya. Tempatnya sangat terpencil dan sepi. Hanya ada beberapa rumah yang kondisinya sudah rapuh dan hampir roboh.


" Di sini tempatnya...," kata Pasko sambil menghentikan mobilnya.


" Ga heran kalo dia milih tempat kaya gini. Suasana dan letaknya jauh dari keramaian. Orang normal pasti ga bakal berani datang ke sini...," kata Kautsar sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.


" Jadi Kita bukan orang normal ya Mas...," sahut Pasko sambil tertawa.


" Keliatannya sih gitu Mas...," kata Kautsar ikut tertawa.


" Dia ada di Rumah yang mana Bu...?" tanya Aruna.


" Yang pasti dia ada di salah satu rumah itu Aruna. Asal Kamu tau ya, tanah ini dan semua rumah yang berdiri di atasnya adalah milik Hasby...," sahut Bianca.


" Semua rumah itu Bu...?" tanya Aruna sambil menatap enam rumah yang letaknya berjauhan itu secara bergantian.


" Semula hanya satu, tapi keliatannya Hasby memang sengaja menjadikan tempat ini sebagai tempat persembunyian ternyamannya selama ini. Tiap kali dia selesai memangsa janin dia pasti ke sini. Mungkin untuk memulihkan tenaganya...," sahut Bianca.


" Tapi Saya justru ngeliat ada yang lain Bu...," kata Aruna sambil menatap kejauhan.


Bukan tanpa alasan Aruna mengatakan itu. Saat itu Aruna melihat sosok wanita dengan jarik batik dan kebaya lusuh nampak berdiri di depan salah satu rumah. Dan Aruna yakin jika itu bukan manusia melainkan arwah penasaran pemilik salah satu rumah yang ada di lahan itu.

__ADS_1


" Begitu ya. Tapi fokus Saya dan Pasko hanya kuyang itu Aruna...," kata Bianca.


" Iya Bu, Saya mengerti..., " sahut Aruna.


Kemudian mereka segera berpencar untuk mencari keberadaan Hasby. Kautsar sudah tentu tak membiarkan istrinya seorang diri. Dia selalu berada dekat dengan Aruna kemana pun sang istri melangkah.


Rupanya kehadiran mereka berempat sudah diketahui Hasby.


Awalnya Hasby hanya mengendus aroma janin dalam rahim Aruna. Saat ia melihat keluar melalui jendela wajahnya nampak menegang karena ia melihat Aruna tak datang sendiri.


" Sia*an. Mau apa mereka. Liat saja. Kalian yang memancing ku keluar. Jadi jangan salahkan Aku jika memberi Kalian pelajaran yang tak akan terlupakan. Terutama Kamu Aruna. Kamu sengaja datang hanya untuk mengantar nyawa...," gumam Hasby geram.


Kemudian Hasby masuk ke dalam lemari kayu dan menutup pintu lemari. Rupanya ia sengaja sembunyi di sana untuk merapal mantra. Tak lama kemudian kepala Hasby yang sudah lepas dari tubuhnya terlihat keluar dari belakang lemari lalu melesat cepat keluar rumah.


Kuyang jelmaan Hasby nampak melayang di balik rimbun pepohonan sambil mengamati keempat orang yang ada di hadapannya. Hasby menyeringai saat melihat Kautsar berada di sekitar Aruna. Meski pun dalam posisi dekat tapi Kautsar lebih sering berada di samping atau belakang Aruna dan bukan di depan.


Sesaat kemudian Hasby nampak melesat cepat menuju Aruna yang saat itu tengah melihat-lihat ke dalam salah satu rumah. Hasby sengaja masuk melalui lubang ventilasi yang ada di bagian belakang rumah. Ia melakukan itu untuk menyambut Aruna yang masuk melalui pintu depan.


Saat hendak Aruna membuka pintu terdengar jeritan dari sosok arwah wanita berjarik batik itu.


" Hati-hati !. Dia ada di sana...!" kata arwah wanita berjarik batik itu.


Aruna pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Ia berubah posisi dengan Kautsar dan membiarkan suaminya berada di depan untuk menyambut sang kuyang dengan linggis besi yang diambilnya dari mobil Pasko tadi.


Kautsar yang paham apa yang terjadi pun nampak mengeratkan pegangannya pada linggis. Saat ia membuka pintu, sebuah serangan mampir kearah perutnya. Kautsar langsung menepis serangan itu dan menyabetkan linggis dengan kekuatan penuh.


Suara berdebum terdengar saat kepala Hasby membentur dinding kayu. Nampak cairan kehitaman mengalir deras dari kepala sang kuyang pertanda jika dia terluka akibat sabetan linggis tadi.


Bianca dan Pasko yang mendengar suara berdebum dari rumah dimana Aruna dan Kautsar berada pun bergegas berlari menghampiri. Keduanya terkejut saat melihat Kautsar berdiri di depan Aruna sambil memegang linggis yang sudah berlumuran cairan hitam. Sedangkan di bagian dalam rumah terlihat kepala Hasby tengah tergolek di lantai tanah dalam kondisi yang mengenaskan.


Kemudian Pasko dan Bianca menerobos masuk ke dalam rumah. Pasko berhasil menangkap kepala Hasby tanpa perlawanan berarti. Sedangkan Bianca nampak menancapkan beberapa jarum perak di potongan leher dan organ dalam sang kuyang.


" Kita tinggal cari badannya Mbak...!" kata Pasko lantang.


" Badannya ada di sana...," kata Aruna sambil menunjuk rumah yang tadi didatangi Bianca.


" Ga ada apa-apa di sana Aruna. Saya udah ngecek ke sana tadi...," sahut Bianca.


" Badannya ada di dalam lemari pakaian Bu...," sahut Aruna yang memang mendapat info langsung dari arwah wanita berjarik batik itu.


Bianca dan Pasko saling menatap sejenak lalu bergegas pergi ke sana sambil membawa kepala Hasby.


Kautsar menggamit tangan Aruna lalu membawanya mengikuti Bianca dan Pasko.


Saat Bianca membuka pintu lemari pakaian terlihat tubuh Hasby sedang duduk dalam posisi kaki tertekuk. Kautsar terlihat menahan nafas karena ngeri, sedangkan Aruna nampak tak kuasa menahan mual saat melihat leher tanpa kepala yang berlumuran darah itu.


Aruna pun berlari keluar rumah dan muntah hebat di sana. Di sampingnya terlihat Kautsar yang setia menemani sambil memijit tengkuk Aruna dengan lembut.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2