Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
60. Menikah


__ADS_3

Pernikahan Aruna dan Kautsar digelar secara sederhana dan di tempat yang sederhana yaitu di rumah yang telah disiapkan oleh Ahmad dan Hardini. Dan di rumah itu lah nanti Aruna dan Kautsar akan tinggal untuk sementara waktu.


Di dalam kamar hotel terlihat Arka, Diana dan Aruna tengah bersiap menuju ke tempat ijab kabul. Saat itu Aruna terlihat anggun dalam balutan kebaya warna putih dan bawahan batik. Wajahnya terlihat segar dengan make up ringan. Sanggul di kepalanya dihiasi susunan bunga mawar merah dan untaian melati hingga membuat Aruna terlihat makin cantik.


Sedangkan Diana dan Arka tampil serasi dengan batik couple yang memiliki motif dan warna senada. Pakaian yang mereka kenakan sama persis dengan yang dikenakan Ahmad dan Hardini. Sebelumnya Diana dan Hardini sepakat untuk mengenakan ‘seragam’ di acara pernikahan Aruna dan Kautsar.


“ Sudah siap semua...?” tanya Arka.


“ Siap Pa...,” sahut Aruna dan Diana bersamaan.


“ Kalo gitu Kita berangkat sekarang ya...,” kata Arka yang diangguki Aruna dan Diana.


“ Apa Ayahmu akan datang Nak...?” tanya Diana saat mobil melaju meninggalkan hotel tempat mereka menginap.


“ Insya Allah datang Ma. Ayah udah janji kok...,” sahut Aruna.


“ Kamu jangan berharap banyak ya Nak. Tapi Kamu tenang aja, Kami udah nyiapin wali hakim jika Ayahmu ga datang. Kami maklum, mungkin Ayahmu canggung dengan kehadiran Kami...,” kata Diana.


“ Iya Ma. Walau sebenernya Aku berharap Ayah lah yang menjadi waliku untuk menikahkan Aku karena Papa ga mau jadi waliku...,” sahut Aruna lirih.


“ Maafin Papa ya Sayang. Bukan Papa ga mau, tapi memang begitu lah aturannya dalam agama. Papa bukan Ayah kandungmu jadi ga berhak menjadi walimu...,” kata Arka dengan sabar.


“ Iya Pa...,” sahut Aruna sambil menundukkan kepalanya.


“ Jangan sedih gitu dong. Ntar cantiknya hilang lho...,” kata Diana sambil mengusap punggung tangan Aruna hingga gadis itu kembali tersenyum.


Tak lama kemudian mobil memasuki halaman sebuah rumah yang telah dihias cantik. Di teras rumah terlihat genk Comot dan Barri tengah duduk menunggu sambil berbincang. Saat melihat mobil yang membawa Aruna datang, mereka nampak tersenyum lalu berdiri untuk menyambut kehadiran calon pengantin wanita.


“ Lo cantik banget Run, manglingi tau ga...,” puji Ria sambil mengamati Aruna dari atas kepala hingga ujung kaki.


“ Alhamdulillah..., makasih Ri...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Ntar aja ngobrolnya Ri, biar pengantinnya masuk dulu...,” kata Fadil mengingatkan.


Ria pun tersipu malu karena tersadar telah menghalangi Aruna yang akan masuk ke dalam rumah. Ria pun menepi dan membiarkan Aruna masuk ke dalam rumah. Setelahnya genk Comot mengiringi langkah Aruna dari belakang.


Saat melangkahkan kakinya Aruna terlihat gugup. Namun rasa gugup itu seolah lenyap saat Aruna tiba di dalam rumah dan melihat Orion, George dan Matilda tengah duduk bersama Ahmad dan Hardini.

__ADS_1


“ Ayah...!” panggil Aruna lalu menghambur memeluk Orion.


“ Ups, hati-hati Nak...,” kata Orion sambil tertawa karena khawatir Aruna jatuh.


Semua pun ikut tertawa melihat tingkah Aruna. Sedangkan Aruna nampak tersipu malu dan itu membuat Kautsar terpana melihatnya. Hardini menyenggol lengan Kautsar hingga membuat Kautsar yang mengenakan setelan gamis warna putih itu tertunduk malu.


“ Kenapa Nak, cantik ya...,” goda Hardini sambil mengedipkan sebelah matanya.


“ Iya Bu...,” sahut Kautsar malu-malu hingga membuat Hardini tersenyum.


“ Nah pengantinnya udah lengkap nih Pak Ustadz. Kayanya Kita bisa mulai sekarang...,” kata Ahmad.


“ Baik, kalo gitu Kita bisa mulai sekarang ya...,” sahut ustadz Azam yang merupakan pegawai KUA.


Kemudian Kautsar dan Aruna duduk berdampingan berhadapan dengan Orion dan ustadz Azam. Di sebelah kanan dan kiri nampak Ahmad dan Arka duduk sebagai saksi pernikahan. Sedangkan George dan Matilda nampak duduk bersama Diana, Hardini dan tamu lainnya.


Suasana mulai hening saat proses ijab kabul berlangsung. Orion nampak menjabat tangan Kautsar dengan erat lalu mulai melafaskan kalimat sakral itu.


“ Saudara Muhammad Alkautsar bin Ahmad, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung Saya Aruna Genara binti Orion dengan mas kawin satu set perhiasan emas dibayar tunai...,” kata Orion dengan suara bergetar.


“ Saya terima nikah dan kawinnya Aruna Genara binti Orion dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai...!” sahut Kautsar lantang.


“ Barakallahu laka wa baarokaa alaika wa jama’a bainakuma fii khoir. Semoga Allah memberkahi Kalian dalam suka maupun duka dan mengumpulkan Kalian dalam kebaikan...,” kata ustadz Azam.


“ Aamiin yaa Robbal’alamiin...,” sahut sepasang pengantin dan semua orang bersamaan.


Setelah melantunkan doa yang panjang untuk kebahagiaan sepasang pengantin, ustadz Azam pun menyodorkan dokumen pernikahan ke hadapan Aruna dan Kautsar. Jari lentik Aruna terlihat bergetar saat ia meraih pena dari tangan Kautsar yang baru saja usai menandatangani dokumen pernikahan mereka.


“ Kamu gapapa Run...?” tanya Kautsar setengah berbisik sambil menatap Aruna dengan lembut.


“ Mmm..., gapapa...,” sahut Aruna gugup.


Aruna terkejut saat mendengar Kautsar menyebut kata ‘kamu’ padahal biasanya ia dan Kautsar saling ber ‘lo –


gue’ saat bicara. Menyadari Aruna yang terkejut saat ia merubah cara bicaranya, Kautsar pun maklum.


Setelah menandatangani dokumen pernikahan, Aruna dan Kautsar pun berdiri saling berhadapan. Kemudian Kautsar menyerahkan satu set perhiasan yang menjadi mahar pernikahan mereka kepada Aruna. Sorak sorai genk Comot pun terdengar saat Aruna terlihat malu menerima pemberian Kautsar. Apalagi saat Barri ikut mengompori Kautsar agar mencium Aruna.

__ADS_1


“ Cium Tsar, kan udah sah jadi Istri. Halal kok...!” kata Barri lantang disambut tawa semua orang.


“ Lo ga mungkin ngelakuin itu kan Tsar...?” tanya Aruna sambil berbisik.


“ Kenapa, ga mau atau ga boleh...?” tanya Kautsar ikut berbisik.


“ Ck, apaan sih Lo...,” sergah Aruna sambil membulatkan matanya dan itu membuat Kautsar tertawa.


“ Cium tangan Suamimu Nak...,” kata Diana mengingatkan Aruna yang masih mematung dengan tatapan menghunus kearah Kautsar.


“ l... iya Ma...,” sahut Aruna lalu beregas meraih tangan Kautsar dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


“ Nah sekarang Kautsar boleh cium Aruna...,” kata Hardini santai tapi mengejutkan Aruna.


“ Di kening aja kok sedikit...,” sela Diana seolah mengerti perasaan tak nyaman yang dirasakan Aruna.


Kautsar nampak tersenyum penuh kemenangan saat mendengar kalimat yang diucapkan Diana dan Hardini. Perlahan Kautsar mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna lalu mengecup kening Aruna dengan lembut. Aruna terlihat memejamkan mata karena tak sanggup melihat sepasang mata Kautsar yang menatap lekat kearahnya.


Sorak sorai kembali menggema di ruangan itu saat Kautsar mengecup kening Aruna untuk beberapa saat.


“ Udah Nak, ga usah lama-lama juga kali...,” kata Hardini hingga membuat Kautsar dan Aruna salah tingkah.


Acara pun berlanjut. Sepasang pengantin menghampiri orangtua mereka untuk meminta restu. Sambil berlutut Aruna dan Kautsar mencium punggung tangan orangtua mereka bergantian. George dan Matilda yang mendampingi Orion pun mendapatkan perlakuan yang sama dari Aruna dan Kautsar.


Setelah menyampaikan khutbah nikah ustadz Azam pamit undur diri karena harus kembali ke kantor. Ahmad dan Arka pun mengantar kepergian ustadz Azam hingga ke halaman. Sedangkan pengantin dan para tamu mulai menyantap hidangan yang tersedia. Sesekali tawa terdengar saat Kautsar dan Aruna kembali menjadi ‘bahan candaan’ teman-temannya.


Ria pun berinisiatif mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya. Orion, George dan Matilda terlihat tak nyaman saat melihat Ria mengarahkan kamera ponselnya kearah mereka. Aruna yang melihatnya pun mencoba memberi pengertian kepada Ria.


“ Jangan foto Ayah Gue dan saudaranya Ri...,” pinta Aruna sambil menarik tangan Ria dengan lembut.


“ Kenapa Run, padahal Gue suka lho liat mereka. Penampilan mereka tuh unik tau ga. Postur tubuh, warna kulit dan rambut yang berbeda bikin Gue penasaran. Apalagi Tante Lo itu cantik banget kaya boneka Barbie...,” sahut Ria.


“ Tapi mereka ga suka difoto Ri...,” kata Aruna.


“ Oh gitu, sorry ya Gue ga tau. Tapi kalo foto Lo sama Kautsar boleh kan...?” tanya Ria.


“ Boleh, Kita ke sana aja yuk...,” ajak Aruna sambil menggamit lengan Ria untuk menjauh dari Orion, George dan Matilda.

__ADS_1


\=====


__ADS_2