Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
30. Devia Dan Derry


__ADS_3

Jaka yang menyadari dirinya sedang diamati oleh Aruna pun terlihat salah tingkah dan membuang tatapannya kearah lain.


Tiba-tiba Derry bertanya sesuatu yang membuat semua orang balik menatap Aruna dengan tatapan cemas.


“ Kalo emang Kak Deon nemuin Kak Aruna dalam wujud hantu, artinya Kak Aruna bisa bicara sama hantu dong. Apa Kakak bisa bantuin Kami bicara sama dia sekarang...?” tanya Derry penuh harap.


“ Mmm..., itu. Apa Kalian yakin mau berkomunikasi sama dia...?” tanya Aruna.


“ Iya...,” sahut Derry dan Devia bersamaan.


“ Aku tanya dulu sama Deon ya...,” kata Aruna lalu diam sejenak sambil menatap tempat kosong di sisi kirinya.


Semua orang menunggu dengan cemas. Istri Jaka nampak merapat kearah suaminya karena tak sanggup membayangkan hantu Deon muncul di hadapan mereka.


“ Dia ga akan bisa diliat tapi hanya bisa dirasakan aja Tante...,” kata Aruna sambil tersenyum.


“ Oh gitu...,” sahut istri Jaka sambil menghela nafas lega.


“ Kalian liat ke sana ya. Deon akan menjawab semua pertanyaan Kalian melalui tulisan di white board itu...,” kata Aruna sambil menunjuk papan tulis tempat Devia mengajarkan Derry berhitung.


Semua orang mengangguk lalu melihat kearah white board. Aruna nampak menyerahkan spidol kepada sesuatu yang tak kasat mata dan spidol itu mulai bergerak.


“ Hai...,” sebuah sapaan tertulis di sana.


“ Kamu beneran Deon...?” tanya Devia dengan suara bergetar.


“ Iya...,”


“ Kak Deon sayang sama Aku ga...?” sela Derry dengan antusias.


“ Iya...,”


“ Makasih udah bantuin Kakak dan Derry ya Deon. Maaf kalo selama ini Kakak selalu musuhin Kamu dan ga dengerin omongan Kamu...,” kata Devia sambil terisak.


“ Sama-sama...,”

__ADS_1


“ Sekarang Kakak ada dimana...?” tanya Derry.


“ Di sini...,”


“ Di sini itu dimana Kak...?” tanya Derry penasaran.


“ Deon ada di samping white board dan lagi ngeliatin Kamu Derry. Deon hanya bisa menjawab dengan singkat dan dia butuh tenaga extra untuk bisa menulis kata. Jadi tolong jangan paksa dia menjawab dengan kalimat yang panjang ya...,” kata Aruna.


“ Ok, maaf ya Kak...,” kata Derry sambil menatap white board dengan mata berkaca-kaca.


Tiba-tiba spidol itu terjatuh saat ponsel Jaka berdering. Aruna menoleh kearah Jaka dan mengamati perubahan wajahnya saat melihat nama seseorang di layar ponselnya.


“ Maaf, Saya harus terima telephon dulu. Kalian lanjutkan aja ya...,” kata Jaka sambil bergegas keluar rumah.


Hantu Deon nampak melayang mengikuti Jaka untuk mendengarkan pembicaraan Jaka dengan pria yang menelephonnya. Jaka terlihat mencari tempat yang agak jauh dari pintu rumah dan itu membuat hantu Deon makin curiga.


“ Hallo Jaka...,” panggil suara di seberang telephon yang dikenali hantu Deon sebagai sang papi.


“ Hallo Pak...,” sahut Jaka.


“ Kenapa lama sekali sih. Kamu dimana sekarang...?” tanya papi Deon.


“ Oh, kebetulan. Tolong bilang sama Devia kalo Saya perlu uang. Suruh dia transfer uang ke rekening Saya sekarang ya...,” kata papi Deon.


“ Devia ga punya uang, gimana dia bisa transfer Pak...,” sahut Jaka kesal.


“ Ayo lah Jaka. Saya tau kalo Devia punya uang, buktinya dia bisa membiayai operasi Derry kan...,” kata papi Deon.


“ Itu betul Pak. Dan harusnya itu jadi tanggung jawab Anda selaku Ayahnya...,” sahut Jaka sinis.


“ Iya. Tapi Saya lagi kepepet nih. Kamu tau kalo Saya sembunyi karena dikejar-kejar hutang. Jadi tolong bantu Saya ya, lagian kan itu bukan uang Kamu. Itu uang Devia...,” kata papi Deon.


“ Itu memang bukan uang Saya Pak, tapi uang Deon !. Lagian Saya ga tega ngomong sama Devia supaya transfer ke Papinya karena Papinya butuh uang buat biayain Istri barunya. Kalo Saya jadi Bapak, Saya ga akan ngerecokin Devia dan Derry dengan urusan remeh itu. Saya akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga Saya dan bukan minta sama anak Saya, apalagi anak itu udah Saya buang...!” sahut Jaka dengan marah.


“ Jangan kurang ajar Kamu ya. Saya ga butuh nasehat Kamu karena Kamu bukan siapa-siapa Saya. Sekarang Saya mau bicara sama Devia, kasih dulu ponselmu sama Devia...,” kata papi Deon gusar.

__ADS_1


“ Maaf, Saya ga mau...,” sahut Jaka cepat.


“ Jaka...!” panggil papi Deon.


“ Kan Bapak sendiri yang bilang kalo Saya bukan siapa-siapa. Jadi Saya ga punya kewajiban menuruti perintah Bapak yang bukan siapa-siapa lagi sekarang...,” sindir Jaka lalu mengakhiri sambungan telephon dengan kesal.


Hantu Deon yang mendengar pembicaraan Jaka dengan papinya nampak sedih. Ia tak menyangka jika Devia dan adiknya diusir oleh sang papi yang kini telah beristri lagi. Hantu Deon melayang mendekati Aruna dan mengatakan sesuatu pada Aruna.


“ Sebenernya Aku harus pergi Deon, ini udah sore banget...,” kata Aruna sambil menatap ke depan.


“ Apa Deon mengatakan sesuatu Aruna...?” tanya Jaka yang baru saja masuk ke dalam rumah.


“ Iya Om. Deon bilang Kak Devia ga boleh kasih uang ke Papinya. Itu uang Deon, dan dia mau uang itu hanya untuk membiayai keperluan Kak Devia dan Derry...,” sahut Aruna gusar hingga mengejutkan Jaka.


“ Kamu tenang aja Deon. Om akan melindungi Kakak dan Adikmu ini dari Papi Kalian yang ga waras itu. Sebaiknya Kalian pindah dari sini, yang jauh sekalian biar laki-laki breng*ek itu ga bisa nemuin Kalian dan merongrong hidup Kalian...,” kata Jaka kesal.


“ Aku setuju Om...,” sahut Devia cepat.


“ Terus rumah ini gimana Kak...?” tanya Derry yang masih keberatan meninggalkan rumah peninggalan sang kakek.


“ Dikontrakin aja biar Kalian masih punya penghasilan...,” sahut Jaka yang disetujui Devia dan Derry.


“ Iya Om. Aku yakin suatu saat Mami pasti pulang ke sini karena ini kan rumahnya. Di sini Mami lahir dan besar, Mami pasti bakal balik ke sini buat nyari Kita...,” kata Devia dengan mata berkaca-kaca.


“ Udah Kak, jangan nangis lagi ya. Kakak ga sendirian kok. Sekarang Aku udah sembuh, Aku yang bakal jagain Kakak...,” kata Derry sambil memeluk Devia erat.


“ Iya Der. Sejak Kita diusir sama Papi, Kakak ga punya mimpi lain selain hidup sama Kamu...,” sahut Devia sambil mempererat pelukannya.


Hantu Deon nampak terharu lalu ikut memeluk Devia dan Derry dengan erat. Devia dan Derry saling menatap lalu tersenyum karena merasa ada sesuatu yang melingkupi mereka saat itu dan mereka yakin itu adalah Deon.


\=====


Jaka segera mengatur kepindahan Devia dan Derry. Ia sengaja memindahkan Devia dan Derry ke kota lain dengan harapan sang papi tak bisa menemukan mereka. Dari uang sisa pengobatan Derry dan uang sewa rumah sang kakek, mereka hanya mampu membeli rumah kecil dan sederhana. Namun Devia dan Derry tak mempermasalahkan hal itu. Mereka nampak antusias menempati rumah baru itu.


Di kota itu Derry mendaftar masuk SMP, meski terlambat tapi Derry nampak semangat sekolah. Sedangkan Devia mengikuti kursus tata boga. Ia berniat membuka toko kue untuk menopang kehidupannya dan Derry kelak.

__ADS_1


Jaka dan istrinya masih sering mengunjungi mereka dan itu membuat hantu Deon senang. Meski kini Devia dan Derry hidup tanpa orangtua, tapi mereka terlihat lebih bahagia.


\=====


__ADS_2