Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
178. Memaafkan


__ADS_3

Sang dukun masih menjerit karena merasa jerih payahnya selama ini menjadi tak berarti. Ia menaruh banyak harapan pada raga Lian yang dipinjam ruh Dian. Selain bayaran mahal yang diberikan Dian, setidaknya dia juga bisa menikmati tubuh Dian yang dititipkan padanya.


Jeritan sang dukun terhenti saat pendaran cahaya warna warni itu perlahan meredup. Di saat bersamaan ruh Lian dan Dian melesat cepat kearah raganya masing-masing. Bukan, tapi ke raga Lian tepatnya.


Rupanya ruh Dian masih ingin masuk ke dalam raga Lian. Sedangkan ruh Lian sudah barang tentu ingin masuk ke dalam raganya sendiri.


Benturan kedua ruh terjadi dan menimbulkan kilatan yang menyilaukan mata. Kautsar menarik kepala Aruna agar berlindung di pelukannya sedangkan dia sendiri menyilangkan satu lengannya di atas kepala untuk menepis cahaya yang masuk ke matanya.


Di saat bersamaan terlihat tubuh sang dukun terpental ke udara lalu terbanting dengan keras ke lantai hingga menimbulkan suara berderak pertanda tulang punggung sang dukun patah. Sang dukun nampak mengerang kesakitan tanpa bisa bergerak. Dari sela bibir, hidung dan telinganya terlihat darah mengalir keluar. Rupanya selain punggung, benturan keras tadi juga mengenai kepala sang dukun hingga sang dukun terluka parah.


Setelah cahaya itu mereda Aruna menoleh kearah kedua ruh yang tadi berbenturan. Ruh Lian nampak baik-baik saja sedangkan ruh Dian sedang meringis menahan sakit.


" Menyerah lah Dian, raga itu bukan milikmu. Kembali lah kepada ragamu sendiri...!" kata Aruna.


" Jangan ikut campur Aruna. Ini urusanku dan bukan urusanmu. Pergi dari sini sekarang atau Aku akan membuatmu kehilangan pekerjaan...!" ancam ruh Dian.


" Aku ga takut. Silakan lakukan itu karena Aku masih bisa magang di tempat lain. Harusnya Kau yang berhati-hati Dian. Karena Aku kenal baik dengan pemilik perusahaan itu. Dan Aku khawatir justru Kamu lah yang akan tersingkir...," sahut Aruna santai.


" Sia*an. Tak ada seorang pun yang bisa mengancamku termasuk Kamu Aruna...!" kata ruh Dian marah lalu mulai menyerang Aruna.


Rupanya Aruna sengaja memancing emosi ruh Dian untuk mengalihkan perhatiannya. Saat ruh Dian menyerang Aruna, saat itu lah ruh Lian menerobos masuk ke dalam raganya. Melihat hal itu kemarahan ruh Dian memuncak, ia menyerang Aruna dengan brutal sambil menjerit histeris.


Tapi sesaat kemudian ruh Lian kembali melesat keluar dengan wajah bingung. Ruh Lian menatap kearah Aruna yang tengah berkelit menghindari serangan ruh Dian.


" Apa yang terjadi Aruna ?. Kenapa Aku ga bisa masuk...?!" tanya ruh Lian panik.


Mendengar pertanyaan ruh Lian membuat ruh Dian tertawa. Ia menghentikan serangannya kepada Aruna lalu menoleh kearah ruh Lian sambil mengatakan sesuatu.


" Raga itu udah ga mau nerima ruh Kamu karena ga cocok Lian. Raga itu lebih pantas untukku. Bersamaku dia bisa jadi lebih hebat dan berkelas dibanding saat bersamamu...!" kata ruh Dian di sela tawanya.


Ruh Lian mengabaikan ucapan ruh Dian. Ia tetap menatap kearah Aruna seolah menunggu penjelasan darinya. Aruna pun maju lalu menyentuh raga Lian.

__ADS_1


" Maaf Lian. Aku kan udah pernah bilang kalo Kamu udah meninggal. Jadi Kamu ga bisa lagi masuk ke dalam ragamu...," kata Aruna hati-hati namun tetap saja membuat ruh Lian kecewa.


" Terus kalo Aku ga bisa masuk ke dalam ragaku, apa itu artinya Dian yang akan kembali mengisinya...?" tanya ruh Lian sedih.


" Tidak, iya...!" sahut Aruna dan ruh Lian bersamaan.


Ruh Dian nampak menyeringai puas sedangkan Aruna nampak menatapnya dengan tatapan tajam.


" Aku yang akan mengisinya Lian. Lihatlah...!" kata ruh Dian dengan sombong lalu melesat masuk ke dalam raga Lian.


" Aku ga rela Kamu menguasai ragaku lagi Lian...!" sahut ruh Lian sambil bersiap menghadang ruh Dian namun Aruna menghentikan aksinya.


" Ga perlu bersusah payah menghadang Lian. Dia juga ga akan bisa kembali ke dalam ragamu atau pun ke dalam raganya sendiri...," kata Aruna hingga mengejutkan Lian.


" Begitu kah...?" tanya ruh Lian.


" Iya...," sahut Aruna sambil mengangguk.


" Tapi kenapa Aruna...?" tanya ruh Lian.


" Aku tau itu Aruna. Maksudku kenapa ruh Dian ga bisa masuk ke dalam ragaku atau raganya sendiri. Apa itu artinya Dian juga sudah meninggal...?" tanya ruh Lian.


" Bisa dibilang begitu. Dia dan dukun itu telah melampaui batas. Mempermainkan nasibmu dan wanita-wanita lain. Menjadikan ruh-ruh Kalian sebagai permainan bukan kah itu sudah keterlaluan ?. Makanya jangan heran kalo Allah murka dan memberinya hukuman yang setimpal untuk mereka...," sahut Aruna kesal.


Ruh Lian mengangguk tanda mengerti. Ada kelegaan di wajahnya saat mengetahui ruh Dian tak akan bisa lagi mengusai raganya.


Di depan sana terdengar jeritan histeris ruh Dian. Berkali-kali ia mencoba masuk ke dalam raga Lian tapi selalu gagal. Nampaknya ia masih terobsesi ingin menjadi Lian dan memiliki semua kehidupan Lian yang menurutnya sangat sempurna itu.


" Tak ada yang sempurna di dunia ini Dian. Sadar lah...!" seru Aruna berusaha mengingatkan ruh Dian.


" Diaaammm...!" sahut ruh Dian sambil terus melesat di atas jasad Lian yang mulai membusuk itu.

__ADS_1


Melihat perubahan jasad Lian membuat ruh Dian panik. Ia tersadar jika tak akan mungkin kembali ke dalam raga Lian. Tak ingin pengorbanannya sejauh ini sia-sia, ruh Dian mencoba peruntungan dengan melesat masuk ke dalam raganya sendiri.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ternyata raga Dian pun tak memberi respon saat ruhnya mencoba masuk. Ruh Dian terpental ke atas dengan sangat keras. Dian terkejut tapi masih berusaha mencoba. Ia kembali melesat menuju raganya, namun gagal. Untuk sejenak ruh Dian berputar-putar di atas raganya seolah mencari celah untuk masuk.


Ruh Dian menatap raganya yang tanpa busana itu dengan tatapan nanar. Seolah sadar jika semuanya terlambat, ruh Dian pun mulai menangis. Ia bahkan melesat kearah Aruna dan tak segan meminta bantuan padanya.


" Bantu Aku Aruna. Tolong bantu Aku. Aku ga mau mati, Aku masih mau hidup Aruna...," kata ruh Dian sambil menangis.


" Maaf Dian. Itu bukan wewenang ku. Aku ga bisa bantu Kamu Dian, maaf...," sahut Aruna sambil menggelengkan kepalanya.


Mendengar jawaban Aruna membuat ruh Dian marah. Ia mulai memaki Aruna.


" Dasar wanita jahat. Aku tau Kamu dukun handal Aruna. Kamu bisa membantu Lian tapi kenapa Kamu ga mau membantuku ?. Atau Kamu marah karena selama ini Aku memperlakukanmu dengan buruk Aruna...?!" kata ruh Dian.


" Kamu salah paham Dian. Aku bukan dukun. Aku ga bisa membolak balikkan ruh ke raga orang lain semauku seperti yang dukun itu lakukan. Aku membantu Lian karena dia adalah ruh yang tersesat. Aku hanya akan membantu mengarahkannya ke jalan pulang...!" sahut Aruna tegas.


" Jalan pulang...," gumam ruh Dian sambil menatap Aruna dan ruh Lian bergantian.


Rupanya jawaban Aruna membuat ruh Dian tersadar. Dia menatap ruh Lian dengan sedih. Entah mengapa ruh Dian pun teringat akan kebaikan Lian padanya dan itu membuatnya menangis menyesali perbuatannya.


" Maafkan Aku Lian. Aku memang jahat. Aku akui Aku iri dengan semua yang Kamu miliki. Aku ga tau diri, serakah, sombong. Aku bahkan membalas kebaikanmu dengan kejahatan. Maafkan Aku Lian...," kata ruh Dian sedih.


" Iya Dian. Aku memaafkanmu. Yang Aku mau sekarang adalah Aku bisa kembali kepada Sang Khaliq dengan tenang bersama jasadku...," sahut ruh Lian.


" Maaf kalo mengganggu acara reuni Kalian. Tapi waktumu sudah tiba Lian. Bersiap lah...," kata Aruna menengahi.


Ruh Lian mengangguk. Sesaat kemudian ruh Lian terangkat ke atas. Cahaya putih keperakan nampak menyelimuti ruhnya. Menyilaukan tapi tetap sejuk. Ruh Dian menatap kagum kearah ruh Lian yang perlahan melayang jauh ke atas. Saat itu ruh Lian tampak tersenyum sangat cantik.


" Aku memaafkanmu Dian. Jika Kamu masih diberi kesempatan untuk hidup, hidup lah dengan baik. Selamat tinggal. Terima kasih Aruna. Sampaikan salam terima kasih juga untuk Suami hebatmu itu...," kata ruh Lian sambil melambaikan tangannya.


" Insya Allah Aku sampaikan nanti. Selamat jalan Lian...!" sahut Aruna sambil melambaikan tangan kanannya sedang tangan kirinya erat menggenggam jemari Kautsar.

__ADS_1


Untuk sesaat ruangan itu dipenuhi cahaya putih keperakan. Sedetik kemudian cahaya itu menghilang dan suasana kembali ke kondisi semula.


bersambung


__ADS_2