
Rasyid memang menepati janjinya untuk tak membahas lagi tentang mantan suami dokter Sheina itu. Namun dia tetap mencari tahu penyebab kematian Deni. Dengan profesinya sebagai anggota kepolisian, Rasyid tak menemui kesulitan saat harus melacak Deni sang mantan suami dokter Sheina.
" Kematiannya ga terlacak. Dia hilang begitu aja tanpa jejak. Bukannya Sheina bilang mantan suaminya itu meninggal karena penyakit kelam*n kronis...," gumam Rasyid di depan lap topnya.
" Gimana Syid. Ketemu ga...?" tanya Raka salah seorang rekan Rasyid di kepolisian.
" Belum Ka...," sahut Rasyid sambil menghela nafas panjang.
" Nyari apaan sih, sini Gue bantuin...," kata Raka sambil mendorong tubuh Rasyid agar bangun dari posisi duduknya.
Rasyid pun bangkit dan membiarkan Raka menduduki kursinya. Raka adalah rekan Rasyid yang bertugas di Divisi Hukum, berbeda dengannya yang berada di Satlantas. Hubungan keduanya dekat sejak mereka sama-sama bertugas di kantor yang sama.
" Lo cari nama ini untuk apa...?" tanya Raka sambil menekan tuts keyboard beberapa kali.
" Mau tau aja...," sahut Rasyid cepat.
Raka menoleh kearah Rasyid sambil menatapnya tajam.
" Kalo Lo ga mau jujur Gue ga bakal bantuin...," kata Raka setengah mengancam.
" Ck, kenapa perhitungan banget sih sama temen...," keluh Rasyid sambil berdecak sebal.
" Terserah, mau dibantuin atau ga...," kata Raka sambil bersiap bangkit dari duduknya.
" Dia mantan Suaminya cewek Gue...," kata Rasyid sambil mencekal tangan Raka.
Raka tersenyum tipis lalu kembali ke posisi semula.
" Apa yang mau Lo tau...?" tanya Raka.
" Penyebab kematiannya...," sahut Rasyid.
" Mati ?. Di sini ga disebut mati. Tapi memang raib alias ga ada kabar. Darimana Lo tau kalo orang ini udah mati...?" tanya Raka sambil menoleh kearah Rasyid.
" Dari Sheina. Dia dapat kabar dari dokter lain yang tugas di kota dimana mantan suaminya itu tinggal...," sahut Rasyid.
" Gitu ya. Atau jangan-jangan cewek Lo dibohongin...," kata Raka.
__ADS_1
" Bisa juga. Tapi untuk apa temennya ngarang cerita, cuma untuk nyenengin Sheina doang ?. Ga mungkin lah...," sahut Rasyid.
" Iya juga. Kalo boleh tau mereka pisah karena apa ?. Udah diurus sampe pengadilan atau belum. Atau baru talak biasa aja yang belum tercatat...?" tanya Raka.
Rasyid tampak ragu sesaat untuk menceritakan semuanya. Namun melihat sikap Raka yang serius dan ia yakin Raka adalah orang yang amanah, maka Rasyid mengatakan yang sebenarnya.
" Mereka pisah karena Suaminya selingkuh. Sheina kabur ninggalin Suaminya itu dan dapat kabar mantan suaminya meninggal setelah beberapa tahun kemudian...," kata Rasyid.
" Masa sih. Tuh cowok buta atau gimana ya. Masa cewek secantik dan sesempurna Sheina diselingkuhin. Dasar ga punya ot*k...," maki Raka kesal.
" Itu juga yang jadi pertanyaan Gue Ka...," kata Rasyid.
" Jadi ceritanya Lo curiga nih sama Sheina...?" tanya Raka.
" Bukan curiga. Gue cuma ngerasa ada yang ditutupin sama Sheina. Kalo Gue tanya langsung, yang ada Gue bakal ribut lagi sama dia. Karena Sheina kan ga suka masa lalunya dikorek lagi. Apalagi masa lalu yang menyakitkan kaya gini...," sahut Rasyid.
" Gitu ya. Coba Kita cari lagi...," kata Raka sambil mengetik sesuatu.
Rasyid pun kembali mengamati layar lap top dan melihat deretan huruf yang menceritakan data diri mantan suami dokter Sheina.
" Ternyata dia pengusaha toh...," gumam Rasyid hingga membuat Raka menoleh.
" Bukan gitu Ka, Gue cuma minder aja. Ternyata kalo dibandingkan sama mantan suaminya itu, Gue ini ga punya apa-apa dan jauh tertinggal...," kata Rasyid sambil tersenyum kecut.
" Itu ga penting Syid. Yang Sheina cari itu cinta dan ketulusan. Dia ga butuh harta karena dia punya itu. Gue yakin Sheina nyaman sama Lo makanya dia milih Lo. Iya kan...," kata Raka memberi semangat.
" Betul juga. Dulu Gue ga kaya gini. Kenapa setelah membaca riwayat hidup mantan Suaminya Sheina malah bikin Gue ngedrop ya...," sahut Rasyid sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Itu artinya Lo cemburu dan khawatir Sheina balik lagi sama mantannya. Tapi percaya deh, Sheina ga bakal kaya gitu. Apalagi Suaminya sekarang udah meninggal, jadi Lo ga punya rival kan...," kata Raka sambil tertawa.
Rasyid pun ikut tertawa. Kekhawatiran jika Sheina akan meninggalkannya pun lenyap seketika.
\=\=\=\=\=
Malam itu Rasyid sengaja menunggu dokter Sheina di parkiran Rumah Sakit. Ia sengaja tak memberi tahu kedatangannya karena ingin memberi kejutan pada sang kekasih.
Sebelumnya Rasyid mendatangi receptionist dan menanyakan keberadaan dokter Sheina. Perawat di meja receptionist mengatakan jika dokter Sheina bertugas sore hingga malam hari.
__ADS_1
" Sampe jam berapa Sus...?" tanya Rasyid pura-pura tak tahu.
" Jam sebelas malam Pak...," sahut sang perawat.
" Oh gitu, makasih Suster...," kata Rasyid.
" Sama-sama Pak...," sahut sang perawat sambil tersenyum.
Kemudian Rasyid melangkah menuju parkiran karena saat itu jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Itu artinya sebentar lagi dokter Sheina selesai tugas. Rasyid memilih menunggu di parkiran dan berdiri tak jauh dari mobil dokter Sheina.
Saat sedang menunggu Rasyid mengedarkan pandangannya ke penjuru halaman Rumah Sakit yang lumayan luas itu. Halaman yang ditata apik menjadi beberapa bagian itu membuat pengunjung Rumah Sakit merasa nyaman. Rasyid tersenyum saat teringat di sana lah ia pertama kali mencium kening dokter Sheina.
Tiba-tiba Rasyid melihat beberapa security berlarian di sekitar Rumah Sakit. Instingnya sebagai polisi memancingnya untuk mengikuti seorang security yang berlari ke bagian dalam Rumah Sakit.
" Ada apa Pak...?" tanya Rasyid sambil berlari.
" Ada anak hilang Pak...," sahut sang security sambil terus berlari.
Sang security tak menghalangi Rasyid karena yakin jika Rasyid adalah salah satu aparat kepolisian.
Tak lama kemudian mereka tiba di depan toilet. Banyak orang di depan toilet hingga para petugas keamanan kesulitan untuk masuk ke dalam toilet.
" Maaf, minggir dulu ya Bapak-bapak Ibu-ibu. Kalo kaya gini malah bikin si penculik senang karena artinya Kalian menghambat pekerjaan Kami untuk menangkapnya...!" kata salah seorang security dengan lantang.
Ucapan sang security berhasil membuat warga yang memadati toilet menjauh dari TKP. Setelah warga menepi terlihat lah seorang wanita sedang menangis sambil memeluk baju anaknya yang bersimbah darah.
" Jadi Ibu yang kehilangan anak. Gimana kejadiannya Bu...?" tanya salah satu security.
" Anak Saya minta diantar pergi ke toilet, padahal Saya juga dipanggil sama dokter buat diperiksa Pak. Saya tinggalin Anak Saya di toilet karena dia memang udah bisa pipis sendiri. Saya pesen sama dia supaya nyusul ke ruangan dokter. Tapi anak Saya ga pernah datang. Setelah selesai diperiksa dokter Saya buru-buru nyusul ke toilet. Tapi Saya kaget karena ngeliat anak Saya ga ada lagi di sini. Lebih kaget lagi Saya nemuin potongan baju dan sandal Anak Saya di lantai. Ada darahnya juga makanya Saya teriak tadi...," sahut wanita itu sambil menangis.
Suara kasak kusuk pun memenuhi ruangan. Rasyid menoleh saat melihat kelebatan bayangan hitam di bagian belakang toilet. Diam-diam Rasyid keluar dari toilet untuk mengamati bagian belakang toilet.
Rasyid terkejut saat melihat sosok besar berbulu tengah berdiri membelakanginya sambil memeluk sesuatu. Rasyid yakin jika sesuatu itu adalah manusia karena warna pakaian yang dikenakan sama persis dengan sobekan pakaian yang ditemukan di toilet tadi.
" Hei, siapa di sana...!" bentak Rasyid hingga mengejutkan makhluk itu.
Makhluk itu membeku sesaat lalu melesat pergi meninggalkan tubuh mangsanya di tanah begitu saja.
__ADS_1
Suara lantang Rasyid membuat para security berdatangan. Mereka terkejut melihat tubuh anak perempuan yang hilang itu kini teronggok di tanah dalam keadaan tak bernyawa.
bersambung