
# Assalamualaikum readers terlove..
Maaf ya baru bisa up lagi karena akunnya sempet keblokir kemarin. Makasih udah sabar menunggu. Insya Allah ke depannya ga ada hambatan lagi yaa...#
Berkali-kali Aruna menghela nafas panjang dan itu membuat Kautsar bingung. Ia menghentikan makannya lalu menatap Aruna dan bertanya.
" Kenapa Run, satenya ga enak ya...?" tanya Kautsar.
" Eh gapapa kok. Bukan soal sate, tapi itu...," sahut Aruna ragu.
" ltu apaan sih...?" tanya Kautsar sambil mengikuti arah tatapan Aruna yang terarah ke belakangnya.
" Bukan apa-apa...," sahut Aruna cepat.
" Aku ga percaya. Aku tau kalo Kamu peka sama makhluk halus lho Run...," kata Kautsar mencoba mengingatkan gadis itu.
" Kamu tau darimana...?" tanya Aruna.
" Kamu inget kan kalo Kita pernah sama-sama ngusir makhluk halus penunggu ruangan misterius di kampus dulu. Nah sejak saat itu Aku curiga kalo Kamu sebenernya bisa berkomunikasi sama makhluk tak kasat mata. Aku tambah yakin saat Ayahmu bilang semuanya sama Aku kemarin...," sahut Kautsar santai.
" Setelah tau, apa Kamu takut...?" tanya Aruna hati-hati.
" Ga lah...," sahut Kautsar mantap.
" Jadi Kamu paham kan apa tujuan orangtuaku menikahkan Kita...?" tanya Aruna sedih.
" Iya. Dan Aku ga keberatan kok...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Karena bagimu menjagaku adalah seperti sebuah pekerjaan rutin ya Tsar...," kata Aruna sinis sambil bersiap beranjak dari tempat itu.
" Bukan gitu Run...," sahut Kautsar sambil mencekal tangan Aruna.
" Terus apa...?" tanya Aruna gusar.
" Asal Kamu tau, Aku bakal tetep jagain Kamu meski pun tanpa status seperti sekarang...," kata Kautsar sambil menatap Aruna lekat hingga membuat wajah gadis itu merona.
" Ga usah ngegombal deh. Kamu ga jago untuk itu...," sahut Aruna sambil melengos karena berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah berubah warna itu.
" Aku emang ga jago ngegombal, tapi ternyata tetep berhasil bikin wajah Istriku ini merona kan...," goda Kautsar sambil tersenyum penuh makna.
" Tau ah. Pulang yuk, udah malam nih. Aku capek mau istirahat...," ajak Aruna.
" Ok siaaappp...!" sahut Kautsar sambil bersikap sempurna ala tentara saat menerima perintah dari komandannya.
Aruna pun tertawa melihatnya dan itu membuat Kautsar ikut tertawa. Setelah membayar makanan yang mereka makan, Kautsar dan Aruna pun kembali melaju dengan sepeda motor milik Kautsar.
" Jadi apa yang Kamu liat tadi Run...?" tanya Kautsar penasaran.
" Hantu, apalagi emangnya...," sahut Aruna sambil mencengkram erat jaket Kautsar.
" Dia ngikutin Kita ga...?" tanya Kautsar.
" Ga. Kenapa nanya gitu...?" tanya Aruna.
" Gapapa. Aku penasaran pengen liat bentuknya...," sahut Kautsar.
" Ck, Kamu ga usah ngomong kaya gitu. Ntar kalo dikasih liat beneran takut deh...," kata Aruna sambil berdecak sebal.
" Insya Allah ga takut, paling cuma kaget. Manusiawi kan...?" tanya Kautsar sambil melirik Aruna dari kaca spion.
__ADS_1
" Iya...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Untuk sesaat Aruna dan Kautsar terdiam. Keduanya nampak menikmati angin malam yang berhembus menerpa tubuh mereka.
Tiba-tiba Kautsar menarik tangan Aruna yang sedang mencengkram jaketnya lalu mengarahkan tangan Aruna agar melingkar di pinggangnya. Sikap Kautsar mengejutkan Aruna dan dia hampir menarik tangannya itu tapi ia urungkan saat Kautsar mengatakan sesuatu.
" Nah begini kan lebih aman, biar ga jatuh juga. Lagian Kita ini kan Suami Istri, udah halal kalo hanya sekedar pelukan kaya gini...," kata Kautsar.
" Iya...," sahut Aruna cepat.
Kautsar tersenyum mendengar jawaban singkat Aruna. Kemudian Kautsar mempercepat laju motornya saat merasakan lingkaran tangan Aruna di pinggangnya makin mengerat. Dalam hati Kautsar bersorak senang karena Aruna menyambut baik keinginannya.
Tiba di rumah Aruna bergegas masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Kautsar yang sedang tersenyum simpul. Kautsar menatap punggung Aruna yang menjauh tanpa mengatakan apa pun karena maklum dengan sikap Aruna.
Setelah mengunci pintu dan memadamkan lampu, Kautsar pun masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Aruna.
\=\=\=\=\=
Malam telah larut saat Aruna tersentak bangun karena merasakan bau busuk yang masuk ke indra penciumannya. Bau busuk yang semula samar itu makin pekat dan membuat tidur Aruna terganggu. Aruna pun membuka mata dan menyalakan lampu kamar untuk mencari asal sumber bau busuk itu.
Saat kamar terang benderang, Aruna melihat sosok hantu yang dilihatnya di kedai sate tadi kini tengah berdiri di samping jendela kamarnya. Aruna pun menghela nafas panjang lalu meraih gelas berisi air dan meneguk isinya. Setelah meletakkan gelas di atas meja nakas, Aruna mulai berkomunikasi dengan hantu itu.
" Apa ada yang bisa Kubantu. Kamu kenapa...?" tanya Aruna sambil mengamati hantu itu.
" Akuuu..., tolong cari tubuhku...," pinta hantu itu.
"Dimana. Aku harus mencarinya...?" tanya Aruna bingung.
Hantu itu mendongakkan kepalanya lalu perlahan melayang mendekati Aruna. Dari jarak yang lebih dekat Aruna bisa melihat tubuh dan wajah hantu itu dipenuhi darah dan nanah yang telah mengering. Aruna sedikit bergidik lalu memalingkan wajahnya kearah lain karena merasa ngeri.
" Cukup, stop di sana...!" kata Aruna lantang saat dilihatnya hantu itu akan kembali mendekat kearahnya.
" Tok... tok... tok..."
" Buka pintu Aruna. Kamu baik-baik aja kan ?. Aruna...!" panggil Kautsar berulang-ulang.
Aruna pun bergegas membuka pintu. Saat pintu terbuka dengan cepat Kautsar melesat masuk ke dalam kamar Aruna dengan posisi siaga hingga membuat Aruna bingung.
" Kamu ngapain Tsar...?" tanya Aruna.
" Aku denger Kamu marah-marah tadi.
Kamu marah sama siapa Run...?" tanya Kautsar sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar.
" Oh itu. Aku ga marah kok, cuma lagi ngasih tau hantu yang tadi di kedai sate supaya ga deketin Aku...," sahut Aruna santai.
" Hantu itu ikut ke sini, dimana dia...?" tanya Kautsar.
" Di depan Kamu persis. Emang Kamu ga ngerasain sesuatu...?" tanya Aruna.
" Mmm..., ngerasa ada bau busuk gitu sih. Emangnya hantu itu bau ya Run...?" tanya Kautsar sambil memijit hidungnya untuk mengusir bau yang tiba-tiba masuk menyapa indra penciumannya itu.
Pertanyaan Kautsar membuat Aruna tertawa geli. Kautsar hanya menggaruk tengkuknya karena bingung melihat Aruna tertawa.
Setelah beberapa saat membiarkan Aruna tertawa, Kautsar pun mulai terlihat kesal.
" Udah dong ketawanya Run. Kupikir semua hantu itu bau, makanya Aku ngomong kaya gitu tadi...," kata Kautsar.
" Sorry, abis Kamu lucu banget sih. Asal Kamu tau ya, ga semua hantu itu bau lho. Hanya beberapa aja. Kalo yang ada di depan Kamu itu kebetulan tubuh dan wajahnya dipenuhi luka, darah dan nanah. Makanya bau busuk. Kayanya arwahnya belum bisa pergi dengan tenang karena jasadnya belum ditemuin...," kata Aruna panjang lebar.
__ADS_1
" Terus...?" tanya Kautsar.
" Dia ke sini mau minta tolong dicariin jasadnya...," sahut Aruna.
" Emangnya Kamu tau dimana jasadnya, kok dia bisa datengin Kamu...?" tanya Kautsar.
" Aku juga harus cari informasi dulu tentang hantu ini. Setelah dapet petunjuk dimana jasadnya, baru Aku datangi tempatnya. Siapa tau dia udah meninggal ratusan tahun yang lalu dan jasadnya udah ga mungkin ditemuin lagi kan...," sahut Aruna.
" Ga nyangka tugasmu begitu berat Run...," kata Kautsar sambil menatap Aruna dengan tatapan kagum.
" Apaan sih Kamu...," sahut Aruna salah tingkah.
" Tapi Aku ga ngeledek Kamu, Aku justru lagi kagum sama Kamu Run...," kata Kautsar sungguh-sungguh.
" Iya iya. Minggir sedikit, Aku mau ngobrol sama hantu itu...," kata Aruna sambil mendorong tubuh Kautsar agar bergeser menjauh dari hantu itu.
Kautsar pun menepi lalu mulai memperhatikan cara Aruna berinteraksi dengan hantu itu. Dari tempatnya berdiri Kautsar melihat Aruna memejamkan mata beberapa saat lalu kembali membuka matanya dengan mimik wajah sedih.
" Kenapa Run...?" tanya Kautsar hati-hati.
" Dia... meninggal dibunuh Tsar. Terus mayatnya ditumpuk sama mayat lain dan ditinggalin gitu aja tanpa dukubur sama sekali...," sahut Aruna sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Jadi dia meninggal dibunuh, pantesan arwahnya gentayangan...," gumam Kautsar prihatin.
" Sebenernya saat ditumpuk sama mayat lain dia belum meninggal Tsar. Sebelumnya wajah dan sekujur tubuhnya dilukai dengan senjata tajam. Lalu saat sekarat ditumpuk di atas mayat lain yang juga mengalami penderitaan yang sama. Para penyiksanya mengira dia udah meninggal. Padahal dia masih bernafas saat mereka datang dan terus menumpuk mayat lain di atas tubuhnya. Dia meninggal karena ga bisa bernafas dan kehabisan darah...," kata Aruna dengan suara parau.
" Astaghfirullah aladziim..., kejam banget sih mereka. Siapa orang-orang itu Aruna...?" tanya Kautsar.
" Kalo diliat dari postur tubuh, cara bicara dan seragam yang mereka pake keliatannya mereka pasukan tentara Jepang Tsar...," sahut Aruna.
" Maksud Kamu, hantu ini berasal dari jaman penjajahan ?. Itu kan udah lama banget Run...," kata Kautsar tak percaya.
" Tapi emang gitu kenyataannya Tsar. Dan gambaran masa lalu yang diperlihatkan ga mungkin bohong. Bukannya di buku sejarah juga diceritain tentang kekejaman penjajah Jepang saat mendarat di Indonesia...?" tanya Aruna sambil menatap Kautsar lekat.
" Iya sih. Terus apa yang bakal Kamu lakuin Run...?" tanya Kautsar.
" Membantu menemukan tempat pembantaian itu lah...," sahut Aruna cepat.
" Jangan pergi sendiri ya Run. Biar Aku temani nanti...," pinta Kautsar hingga membuat sisi hati Aruna berdesir.
" Ok, makasih Tsar...," sahut Aruna sambil memalingkan wajahnya kearah lain karena tak kuasa menatap wajah Kautsar.
" Sama-sama. Kapan Kita bisa mulai...?" tanya Kautsar tak sabar.
" Insya Allah besok malam Kita ke sana...," sahut Aruna.
" Kamu udah tau tempatnya, kok cepet banget...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Gambaran yang Aku liat tadi udah cukup ngasih informasi dimana tempat itu. Dan hantu itu juga bakal nunjukin tempatnya, jadi Kita ga akan tersesat besok...," sahut Aruna sambil menguap.
" Oh gitu. Ya udah, sebaiknya Kamu tidur sekarang. Aku juga mau tidur. Jangan lupa kunci pintu ya Run...," kata Kautsar sambil melangkah ke pintu karena yakin Aruna akan segera tidur.
" Biasanya juga Aku kunci pintu kok, ga perlu diingetin juga kali...," sahut Aruna sambil menutup pintu kamar dan menguncinya.
Kautsar nampak mengulum senyum sambil bergumam.
" Emang sih, tapi Kamu kan ga tau apa yang bisa dilakukan seorang Suami sama wanita yang udah jelas berstatus Istrinya di malam dingin kaya gini Run. Aku ga mau egois dan memaksakan kehendak karena Aku ga mau Kamu terluka dan menjauhiku Run...," gumam Kautsar dengan suara lirih sambil menatap pintu kamar Aruna yang tertutup rapat.
Kemudian Kautsar melangkah gontai menuju kamarnya. Malam ini Kautsar tertidur dengan membawa debaran jantung yang bertalu cepat.
__ADS_1
bersambung