Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
40. Akhirnya Datang


__ADS_3

Saat itu Aruna baru saja masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi kelasnya tahun ini. Saat masuk ruangan masih sepi karena sebagian siswa memilih berkumpul di luar kelas. Aruna mencari tempat duduk yang kosong dan meletakkan tasnya di sana.


“ Jangan duduk di sana...!” kata sebuah suara hingga mengejutkan Aruna.


Meja dan kursi dimana Aruna meletakkan tasnya terbalik tiba-tiba seolah ada satu kekuatan tak kasat mata yang membuat benda-benda itu terhempas. Aruna menghela nafas karena yakin jika itu bukan ulah manusia melainkan hantu.


“ Ga usah kasar, ngomong aja baik-baik kan bisa...!” kata Aruna galak sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas.


Tatapan Aruna terhenti pada sosok hantu siswi yang berdiri di sudut ruangan sambil menundukkan kepalanya. Dengan rambut panjang terurai menutupi wajahnya dan aroma tak sedap menguar dari tubuhnya. Saat dicermati bau itu berasal dari darah yang mulai mengering dari luka di tubuh hantu itu.


Perlahan hantu itu mendongakkan wajahnya hingga membuat Aruna menjerit tertahan sambil mundur beberapa langkah karena ngeri melihat wajah hantu itu. Wajah hantu itu terlihat menyeramkan dengan bibir yang sobek hingga ke pipi dan wajah penuh luka berdarah. Sebagian bibir bawahnya menjuntai ke bawah hingga memperlihatkan rongga mulut dan gigi yang semuanya berwarna merah. Kemudian hantu sisiwi itu melayang mendekati Aruna.


“ Kamu bisa lihat Aku...?” tanya hantu siswi itu dengan takjub.


“ I... iya...,” sahut Aruna gugup.


“ Sungguh...?” tanya hantu siswi itu tak percaya.


“ Iya...,” sahut Aruna sambil berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat.


“ Bagaimana rupaku...?” tanya hantu siswi itu.


“ Kamu ga akan mau mendengarnya...,” sahut Aruna sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena khawatir ada teman yang melihatnya bicara seorang diri.


“ Kamu takut...?” tanya hantu siswi itu.


“ Ga. Aku hanya ga mau dicap gila karena ngomong sendiri...,” sahut Aruna cepat.


“ Oh gitu...,” kata hantu siswi itu sambil tersenyum.


Aruna memejamkan mata saat melihat hantu siswi itu tersenyum. Karena bagi Aruna senyum hantu siswi itu malah lebih mirip seringai menakutkan daripada senyum malu-malu.


“ Ngapain Kamu di sini, tersesat ya. Namamu siapa...?” tanya Aruna sambil merapikan meja dan kursi yang tadi terhempas.


“ Namaku Mela. Aku juga siswi kelas tiga sama kaya Kamu...,” sahut hantu Mela.


“ Terus kenapa Kamu ga bolehin Aku duduk di sini...?” tanya Aruna.


“ Ini kursi pacar Aku. Sejak dulu kursi ini selalu kosong dan Aku ga ngijinin siapa pun untuk duduk di sini termasuk Kamu...,” sahut hantu Mela menjelaskan.


“ Kamu dan pacarmu itu udah lama lulus jadi ga berhak atas kursi ini...,” kata Aruna.


“ Tapi Aku ga bisa pergi karena Aku masih terikat janji dengan pacarku itu...,” sahut hantu Mela.

__ADS_1


“ Janji apa sih...?” tanya Aruna penasaran.


“ Pacarku janji akan menjemputku, Aku terus menunggunya tapi dia ga pernah datang sampe hari ini...,” sahut hantu Mela sedih.


Aruna masih ingin mendengar cerita hantu Mela namun bel tanda mulai pelajaran berbunyi hingga membuatnya menghentikan perbincangannya dengan hantu Mela.


Aruna pun melihat teman-temannya tak satu pun yang mau duduk di kursi ‘milik kekasih Mela’. Meski pun tak ada pengumuman resmi agar tak mengusik meja kursi itu, namun tak seorang pun yang mau duduk di sana.


Melihat hal itu membuat Aruna penasaran dan akhirnya berusaha mencari tahu tentang Mela. Dari penjaga sekolah Aruna mendapat informasi jika Mela dan kekasihnya yang bernama Santo adalah teman sekelas. Hubungan mereka terjalin sejak mereka duduk di bangku kelas satu SMA.


Hari di saat Mela meninggal adalah hari dimana Santo meninggalkannya di gerbang sekolah karena harus pergi ke bengkel untuk menambal ban motornya yang bocor. Santo meminta Mela menunggu dan berjanji akan kembali. Namun setelah lama menunggu Santo tak juga kembali.


Mela memutuskan menyusuri tepi jalan dan berharap bertemu Santo nanti. Sambil berjalan sesekali Mela menoleh kearah belakang karena khawatir Santo datang menjemputnya. Rupanya hal itu membuat kewaspadaan Mela menurun hingga ia tak memperhatikan sekelilingnya. Saat itu sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belawanan dan langsung menabrak Mela. Gadis itu tak sempat menghindar dan terlindas truk hingga tewas di tempat kejadian.


Rupanya arwah Mela tak sadar jika dirinya sudah meninggal. Ia masih tertahan di tempat itu dan terus menunggu Santo datang menjemputnya.


“ Jadi begitu ya Pak...,” kata Aruna prihatin.


“ Betul Run. Tapi ngomong-ngomong Kamu kok kenal sama Mela...?” tanya sang penjaga sekolah.


“ Ga sengaja aja, kalo gitu makasih ya Pak...,” kata Aruna sambil berlalu dan menyisakan tanda tanya di benak sang penjaga sekolah.


\=====


Aruna berhenti melangkah dan mulai mengamati pria berpakaian kusut itu karena tertarik dengan apa yang akan dilakukan pria itu. Tak lama kemudian pria berpakaian kusut itu berhenti sambil menatap gerbang sekolah Aruna. Bibirnya yang pucat terlihat bergetar saat ia menyebut sebuah nama.


“ Melaaa..., Melaaa..., Aku datang. Dimana Kamu Melaaa...,” panggil pria itu dengan suara lirih.


Aruna tersentak kaget mendengar pria itu menyebut nama Mela berulang kali. Aruna menoleh kearah dua pria yang bergegas menghampiri pria berpakaian kusut itu yang kini nampak terduduk di trotoar sambil menangis.


“ Jangan kaya gini terus To. Ikhlasin Mela, dia udah tenang di surga sana...,” kata salah seorang pria sambil mengusap punggung pria berpakaian kusut itu.


“ Mela mati gara-gara Gue Ed. Andai aja Gue ga ninggalin dia dulu, pasti sekarang Mela masih hidup...,” sahut pria yang diyakini Aruna sebagai Santo kekasih Mela.


“ Bukan salah Lo kok. Andai Lo di sampingnya pun ga akan bisa merubah takdir. Kalo Allah tetapkan Mela meninggal hari itu, ya dia pasti meninggal hari itu apa pun caranya...,” kata pria yang bertubuh besar sambil berusaha membantu Santo berdiri.


Semua orang yang berada tak jauh dari trotoar pun ikut memperhatikan Santo dan kedua temannya itu. Santo enggan bangkit meski pun kedua temannya berusaha menariknya agar mau berdiri. Di kejauhan, tepatnya di depan gerbang Aruna melihat hantu Mela tengah berdiri sambil menatap Santo dengan mata berkaca-kaca. Rupanya ia juga mengetahui kedatangan Santo dan bermaksud menyambut kedatangan sang kekasih.


Aruna melihat jika hantu Mela nampak melayang mendekati Santo lalu berhenti tepat di depan pria itu. Hantu Mela mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Santo yang kini dipenuhi kumis dan jenggot yang tak teratur. Kemudian Aruna mendekati Santo dan kedua temannya lalu bicara dengan mereka dari hati ke hati.


“ Maaf kalo Saya lancang. Apa Om ini kekasihnya almarhumah Mela...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Iya Dik. Kamu kenal sama Mela juga...?” tanya teman Santo yang bernama Agus.

__ADS_1


“ Iya Om. Kenalin, nama Saya Aruna. Mela selalu nemuin Saya tiap hari dan bilang belum bisa pergi karena masih nunggu pacarnya...,” sahut Aruna setengah berbisik.


Mendengar jawaban Aruna membuat tiga pria di hadapannya itu tersentak dan saling menatap bingung. Ketiganya menjabat tangan Aruna lalu terjadi lah perbincangan diantara mereka.


“ Tapi Mela kan udah meninggal, masa bisa ngobrol sama Kamu...,” kata Deni tak percaya.


“ Bisa aja Den, mungkin anak ini indigo dan bisa berkomunikasi dengan makhluk halus...,” kata Agus menengahi.


“ Betul kata Om Agus. Allah kasih Saya kelebihan bisa berkomunikasi sama makhluk tak kasat mata termasuk Mela...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Kalo gitu, Kamu bisa kan mempertemukan Saya dan Mela. Saya mau minta maaf sama dia...,” kata Santo tiba-tiba sambil menggenggam jemari Aruna erat.


“ Insya Allah bisa Om. Tanpa diminta pun Mela udah datang sendiri dan sekarang dia lagi berdiri di depan Om...,” sahut Aruna sambil menepis tangan Santo dengan lembut.


“ Oh ya, dimana dia ?. Mela..., Mela...!” panggil Santo sambil berputar ke kanan dan ke kiri.


“ Ehm, maaf ya Om. Bisa ga Kita cari tempat lain aja. Ga enak diliatin sama orang kaya gini. Dan kalo bisa jangan jauh-jauh ya Om, karena Mela hanya bisa pergi ke sekitar sini aja...,” pinta Aruna.


“ Oh gitu. Gimana kalo Kita ke taman di seberang sana...,” usul Deni.


Semua pun mengangguk setuju lalu bergegas pergi ke taman di seberang sekolah. Saat tiba di taman Santo pun langsung menanyakan keberadaan Mela kepada Aruna.


“ Dimana Mela sekarang Run...?” tanya Santo tak sabar.


“ Dia ada di depan Om. Dia tanya kenapa Om baru datang, padahal dia nunggu lama di depan sekolah...,” sahut Aruna.


Mendengar apa yang disampaikan Aruna membuat Santo menangis. Agus dan Deni pun nampak berusaha menenangkan Santo.


“ Selama ini Santo dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Dia depresi berat saat menyaksikan Mela terlindas truk dan meninggal di depan matanya. Santo terus menyalahkan dirinya sendiri karena telat menjemput Mela dulu...,” kata Agus menjelaskan.


“ Santo dinyatakan sembuh dan baru kemarin keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Pas sampe rumah yang diinget ya cuma Mela. Santo maksa ke sini karena mau minta maaf sama Mela. Santo yakin kalo arwah Mela pasti masih di sini  nungguin dia...,” kata Deni dengan mata berkaca-kaca.


“ Itu betul Om. Mela dan Om Santo terikat sama janji untuk bertemu di depan sekolah. Dan itu yang bikin Mela ga mau pergi...,” sahut Aruna.


“ Jadi apa yang bisa Kita lakukan Runa...?” tanya Agus.


“ Mengantar Mela pergi ke tempat seharusnya Om...,” sahut Aruna.


“ Gimana caranya...?” tanya Deni.


Aruna terdiam sejenak sambil menatap hantu Mela yang juga tengah menangis di hadapan Santo. Aruna bisa melihat cinta yang besar antara Santo dan Mela meski pun kini mereka berbeda dimensi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2