Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
92. Masih Tentang Kautsar


__ADS_3

Saat makan bersama kali ini Ahmad dan Arka mengatakan sesuatu yang mengejutkan Aruna dan Kautsar.


" Saya ingin secepatnya menggelar resepsi pernikahan untuk anak-anak Kita...," kata Ahmad tiba-tiba.


" Saya setuju...," sahut Arka cepat.


" Betul. Ini udah empat bulan dan Kalian harus punya status yang jelas biar ga ada ulat yang mengganggu...," kata Hardini.


" Iya Bu. Jujur Kami jadi kepikiran kalo ngeliat mereka selalu didekati lawan jenis yang ga tau status mereka sesungguhhya...," sela Diana.


" Maksud Mama apa sih...?" tanya Aruna.


" Walau pun Kami jauh di Jakarta, tapi Kami tau banyak tentang Kalian lho Nak. Kami punya mata-mata yang handal...," sahut Diana.


Aruna terdiam karena tahu persis siapa yang dimaksud sang mama. Siapa lagi kalo bukan George dan Matilda.


" Saya sih ikut aja gimana baiknya...," kata Kautsar.


" Itu yang terbaik. Kamu setuju kan Aruna...?" tanya Diana.


" Apa Aku bisa nolak Ma...?" tanya Aruna.


" Jangan ngomong kaya gitu dong Nak. Kok kesannya kaya terpaksa gitu sih...," kata Diana.


" Iya Ma Aku setuju...," sahut Aruna sambil tersenyum.


Akhirnya malam itu disepakati jika resepsi pernikahan Aruna dan Kautsar akan digelar dua minggu lagi di Jakarta.


\=\=\=\=\=


Saat perjalanan pulang Aruna kembali berboncengan dengan Kautsar. Dan kali ini Kautsar meminta Aruna agar tak terlalu dekat dengan Robi.


" Aku ga deket, kan baru kenal sama dia...," kata Aruna.


" Iya. Tapi Aku ga mau Robi salah sangka dengan kebaikan Kamu Aruna...," sahut Kautsar ketus hingga membuat Aruna mengerutkan keningnya.


" Dari nada bicaramu Kamu terdengar kaya orang cemburu lho Tsar...," kata Aruna sambil tersenyum simpul.


Kautsar menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang.


" Aku emang cemburu Aruna. Aku ga suka ada laki-laki lain yang deketin Kamu dan nyoba nyari perhatian Kamu...," kata Kautsar sambil menatap Aruna lekat.

__ADS_1


" Ok, Aku ngerti...," sahut Aruna cepat.


" Janji jangan bikin Aku khawatir ya Run...," pinta Kautsar.


" Insya Allah. Tapi Kamu juga jangan terlalu possesif dong. Percaya deh Aku ga bakal mendua kok...," kata Aruna sungguh-sungguh.


Kautsar tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


" Ok...," sahut Kautsar mantap hingga membuat Aruna tersenyum.


\=\=\=\=\=


Malam itu Aruna gelisah dan tak bisa tidur. Bukan karena keberadaan Kautsar di sisinya tapi karena Aruna merasa jika ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.


Perlahan Aruna bangkit dan berjalan menuju ke jendela untuk melihat suasana di luar rumah. Saat itu langit begitu cerah dihiasi bulan purnama. Aruna tersenyum karena merasa damai dalam hatinya.


Namun tiba-tiba kedua mata Aruna membulat melihat Muca dan Mici tengah bersandar di pohon besar tak jauh dari rumahnya.


Aruna pun bergegas membuka pintu lalu keluar menghampiri kedua siluman musang itu.


" Kalian di sini...?" tanya Aruna tak percaya sambil menatap Muca dan Mici bergantian.


" Tolong Kami Aruna. Muca terluka...," sahut Mici hingga mengejutkan Aruna.


" Panjang ceritanya. Tapi Kamu bisa nolongin Kami kan Aruna...?" tanya Mici.


Belum sempat Aruna menjawab sebuah angin kencang menghempas tubuh Mici hingga terjengkang ke belakang.


Melihat istrinya jatuh sedemikian rupa membuat Muca terkejut dan berusaha bangkit untuk membantu. Namun belum sampai ujung jarinya menyentuh Mici, sebuah serangan menghampirinya hingga membuatnya ikut tersungkur ke tanah.


Aruna nampak terkejut karena yakin jika sesuatu yang menyerang sepasang siluman musang itu memiliki kekuatan yang sangat besar.


Belum lagi rasa terkejut Aruna hilang, tubuh Mici dibawa pergi oleh sesuatu yang melesat cepat. Muca nampak menggeram marah sambil melancarkan serangan namun sayangnya serangan itu hanya mengenai angin.


" Miciii...!" panggil Muca marah lalu ikut mengejar si penculik.


Aruna yang khawatir pada keselamatan Muca dan Mici pun ikut mengejar.


Di malam yang gelap itu tampak tiga bayangan melompat cepat dari pohon ke pohon. Aruna yang berada paling belakang nampak mulai mengalami perubahan dikarenakan tersentuh langsung oleh cahaya bulan purnama.


Akhirnya penculik Mici berhenti di suatu tempat lalu melemparkan tubuh Mici ke tanah begitu saja. Rintihan terdengar saat tubuh Mici membentur akar pohon yang menyembul di tanah.

__ADS_1


Muca berhenti berlari begitu pun Aruna. Dari tempatnya berdiri Aruna bisa melihat penampilan si penculik. Terlihat mirip dengan Muca dan Mici hingga Aruna yakin jika penculik itu berasal dari kubu yang sama dengan Muca dan Mici. Bertubuh manusia dengan sebagian bulu hitam kecoklatan yang menutupi sebagian punggungnya.


Perlahan penculik itu membalikkan tubuhnya hingga menghadap kearah Aruna dan Muca. Untuk sesaat Aruna tertegun karena tak percaya melihat makhluk jadi-jadian di depannya mirip dengan Shofia.


Meski saat itu Shofia berwujud makhluk setengah manusia setengah musang dengan bulu hitam kecoklatan di sebagian punggungnya. Namun warna dan bentuk rambutnya masih sama. Kulit Shofia yang pucat itu nampak kontras dengan bulu hitam yang tumbuh acak di sekujur tubuh dan wajahnya.


" Shofia...," gumam Aruna tanpa sadar.


" Ternyata Kamu masih bisa mengenaliku dengan baik Aruna...," kata Shofia sinis.


" Jadi itu benar-benar Kau Shofia ?. Maksudku Nyonya Shofia...?" ralat Aruna.


" Iya. Kenapa, Kamu heran ya ngeliat wujudku yang kaya gini Aruna...?" tanya Shofia sambil mendengus.


" Ga juga. Cuma herannya kenapa Kamu menyakiti Mici dan Muca. Padahal kan mereka sekubu denganmu Shofia...?" tanya Aruna tak mengerti.


Shofia tertawa keras mendengar pertanyaan Aruna. Ia mendongakkan kepalanya sejenak lalu menoleh kearah Muca dan Mici bergantian.


" Jika mereka sekubu denganku harusnya mereka tak mengkhianantiku. Bukan kah begitu Aruna...?" tanya Shofia.


" Aku tak mengerti kemana arah pembicaraanmu Shofia..., " sahut Aruna pura-pura tak tahu.


" Aku yakin Kau tau apa maksudku Aruna. Aku telah mengutus mereka untuk mengawasimu dan membuatmu celaka. Tapi apa yang mereka lakukan ?. Mereka justru berteman denganmu dan mengabaikan perintah ku...!" kata Shofia marah.


" Itu karena perintahmu tak masuk akal Shofia. Lagi pula apa statusmu hingga berani menyuruh mereka...?" tanya Aruna sinis.


" Status. Aku adalah putri raja siluman musang. Jadi sudah sewajarnya jika mereka mematuhiku layaknya mematuhi rajanya...!" sahut Shofia lantang.


" Oh ya. Tapi kudengar Kau bukan anak kandung raja siluman musang Shofia. Jadi keberadaanmu dan statusmu sama dengan mereka...," kata Aruna tenang.


" Aku jelas berbeda dengan mereka Aruna...!" kata Shofia marah.


" Baik lah jika Kau memaksaku untuk percaya. Aku juga tau apa tujuanmu menyakiti Muca dan Mici. Kau ingin memancing ku keluar kan ?. Nah sekarang Aku ada di depanmu Shofia. Katakan apa maumu...!" tantang Aruna.


" Bagus kalo Kau sadar itu. Aku ingin membalas dendam karena Kau telah menyakitiku dulu. Selain itu Aku ingin menantang duel. Siapa yang menang dia lah yang berhak memiliki Kautsar...," kata Shofia.


" Ternyata ini masih tentang Kautsar...," sahut Aruna sambil berdecak sebal.


" Tentu saja. Aku menginginkannya menjadi pendampingku, tapi kehadiranmu membuyarkan semuanya...," kata Shofia.


" Dia Suamiku dan Kau lah yang pengganggu...!" sahut Aruna kesal sambil melancarkan serangan.

__ADS_1


Shofia nampak terkejut lalu melompat menghindari serangan Aruna.


\=\=\=\=\=


__ADS_2