
Setelah ketiga karyawan gudang itu berlalu, tinggal Kenzo dan Drajat yang saling berhadapan. Drajat yang semula terlihat emosi kini nampak menciut seperti kerupuk kena air.
Kenzo hanya menatap datar kearah Drajat seolah menunggu apa yang ingin Drajat jelaskan.
" Mmm..., maaf kalo Saya lancang Pak Kenzo. Mereka bertiga udah keterlaluan Pak. Ini bukan kali pertama mereka membuat ulah. Saya udah sering kali ngingetin mereka supaya ga tidur saat jam kerja. Tapi mereka malah melanggar...," kata Drajat membuka percakapan.
" Begitu ya...," sahut Kenzo sambil menganggukkan kepalanya.
" Betul Pak. Mereka Kayanya sengaja mau bikin Saya marah...," kata Drajat seolah mendapat angin segar melihat sikap Kenzo yang sedikit 'lunak' itu.
Dari kalimat yang diucapkan nampaknya Drajat lupa apa yang pernah ia lakukan terhadap Kenzo. Drajat menganggap Kenzo tak tahu apa pun dan itu membuat Kenzo kesal.
" Sekarang apa Pak Drajat tau kenapa mereka bikin ulah dan bikin Pak Drajat marah...?" tanya Kenzo.
" Saya ga tau pasti. Mungkin mereka kesal karena Saya melarang mereka istirahat saat jam kerja...," sahut Drajat.
" Hanya itu...?" tanya Kenzo.
" Saya rasa hanya itu Pak Kenzo...," sahut Drajat cepat.
" Tapi bagaimana dengan upah lembur yang berkurang saat sampe ke tangan para karyawan itu Pak Drajat. Juga bagaimana dengan uang makan dan kopi untuk menemani mereka saat lembur...?" tanya Kenzo sambil mengusapkan telapak tangannya satu sama lain.
Pertanyaan itu diucapkan dengan santai oleh Kenzo tapi membuat Drajat terkejut bukan kepalang.
" Oh masalah upah lembur itu cuma kesalahan pahaman Pak. Perusahaan memang memberi seratus ribu, dan Saya sengaja menahannya separuh untuk tabungan mereka Pak. Mereka itu kan sering kasbon saat tengah bulan Pak. Makanya Saya sengaja menyimpan uang mereka supaya ga cepet habis dan ga perlu kasbon sama bendahara...," kata Drajat beralasan dan itu membuat Kenzo naik darah.
" Kayanya Kita perlu bicara di tempat yang tenang Pak Drajat...," kata Kenzo sambil mengepalkan tangannya.
" Maksud Pak Kenzo gimana ya...?" tanya Drajat bingung.
" Security...!" panggil Kenzo lantang hingga membuat Drajat terkejut bukan kepalang.
" Siap Pak...!" sahut dua security bersamaan sambil berlari cepat menghampiri Kenzo.
" Tolong bawa Pak Drajat ke Pos security sekarang...!" perintah Kenzo.
__ADS_1
" Baik Pak...," sahut kedua security itu bersamaan sambil menahan kedua tangan Drajat di belakang punggungnya.
" Sebentar Pak Kenzo. Penjelasan Saya belum selesai tadi. Ini cuma salah paham. Saya bisa jelaskan semuanya dengan detail kok...!" kata Drajat panik.
" Saya sudah punya bukti yang cukup untuk mengantar Anda ke penjara Pak Drajat. Sekarang tolong Kalian bawa dia dan interogasi dia. Kalo dia terus mengelak, laporkan dia ke Polisi...!" kata Kenzo sambil menatap kedua security di hadapannya dan mengabaikan Drajat.
" Siap Pak...!" sahut kedua security sambil menyeret Drajat dengan paksa.
Drajat nampak meronta sambil memaki. Sang security yang nampaknya telah mendengar sepak terjang Drajat yang menyimpang itu pun terlihat tak menggubris ucapan Drajat. Keduanya terus berjalan sambil menyeret Drajat hingga masuk ke Pos security.
Para karyawan yang menyaksikan tontonan gratis itu pun nampak bersorak gembira. Beberapa karyawan gudang bahkan nampak berlari menghampiri Kenzo lalu memeluknya erat termasuk tiga karyawan gudang yang dimarahi Drajat tadi.
" Makasih Ken. Makasih...," kata mereka sambil menjabat tangan Kenzo dengan erat.
" Sama-sama. Saya senang akhirnya bisa mengakhiri kezholiman Pak Drajat...," sahut Kenzo sambil tersenyum.
" Iya Ken. Maafin Gue yang ga percaya sama omongan Lo waktu itu. Gue ngeremehin Lo yang bilang bakal menjarain Pak Drajat saat Lo punya power nanti. Dan sekarang Lo buktiin semua omongan Lo itu Ken. Makasih ya Ken...," kata salah satu karyawan sambil menepuk pundak Kenzo.
" Santai aja, lupain semuanya. Gue juga tau kalo Lo cuma bercanda waktu itu...," sahut Kenzo cepat dan mereka kembali berpelukan.
" Eh, lepasin Pak Kenzo. Lo mau dipecat ya...," kata salah seorang diantara karyawan itu sambil berbisik.
" Oh iya. Maaf ya Pak Kenzo...," kata mereka bersamaan sambil mulai mengurai pelukan mereka dan berdiri menjauh dari Kenzo.
" Jangan sungkan. Kita tetap temen kok...," sahut Kenzo tak enak hati.
" Tapi Kita ga bakal bisa kaya dulu lagi Pak. Kan sekarang Pak Kenzo adalah Direktur sedangkan Kami kan cuma karyawan rendahan...," kata salah seorang diantara mereka dengan mimik sedih.
" Kita bisa tetap berteman kok. Di perusahaan dan selama jam kerja Kita bersikap profesional layaknya karyawan dan atasan. Tapi di luar perusahaan dan di luar jam kerja Kalian bisa panggil Saya Kenzo aja seperti biasa tanpa embel-embel Pak. Gimana, setuju ga...?" tanya Kenzo sambil menatap karyawan gudang satu per satu.
" Setuju dong...!" sahut para karyawan gudang sambil bersorak gembira.
Sesaat kemudian Kenzo dan para karyawan gudang pun tertawa bersama. Mereka adu toast sebagai tanda sepakat dengan perjanjian tak tertulis yang baru saja diucapkan Kenzo.
Setelahnya Kenzo pamit undur diri dan tak lupa mengingatkan ketiga karyawan yang tadi dimarahi Drajat untuk menemuinya di ruangan direktur.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Kenzo nampak tersenyum puas sambil bersandar pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam seolah tengah menikmati alunan musik yang lembut dan melenakan.
Kenzo membuka matanya saat mendengar pintu ruangannya diketuk.
" Masuk...," kata Kenzo dan pintu pun terbuka.
Aruna dan Ria nampak berdiri menghadap kearah Kenzo dengan wajah yang penasaran. Kenzo melirik jam dinding dan tersenyum melihat kedua wanita di hadapannya itu hanya mematung di ambang pintu.
" Kenapa Kalian, ga usah pasang muka kaya gitu deh. Jelek tau...," kata Kenzo sambil melangkah menghampiri Aruna dan Ria.
" Ada apaan sebenernya sih Ken. Gue denger karyawan gudang demo hari ini. Emang bener ya...?" tanya Aruna.
" Bukan demo Run. Lo salah denger tuh...," sahut Kenzo..
" Terus apaan dong...?" tanya Aruna.
" Duduk dulu yuk. Ntar Gue ceritain semuanya deh...," sahut Kenzo.
Aruna dan Ria pun mengangguk lalu duduk di atas sofa sambil mendengarkan penjelasan Kenzo. Sesaat kemudian keduanya nampak mengangguk tanda mengerti lalu tersenyum.
" Aku salut banget sama yang Kamu lakuin Sayang...," kata Ria sambil mengusap pipi Kenzo dengan lembut.
" Makasih Sayang...," sahut Kenzo sambil tersenyum.
" Terus Pak Drajat dipenjara dong...?" tanya Aruna.
" Karena dia janji mau ngembaliin semua uang karyawan yang udah dia makan, kayanya dia ga jadi masuk bui...," sahut Kenzo.
" Terus apa perusahaan masih mau mempekerjakan karyawan mata duitan kaya dia...?" tanya Ria.
" Ga mungkin lah Sayang. Perusahaan ga akan memberi kesempatan sama Pak Drajat untuk masuk apalagi menduduki jabatannya itu lagi. Jadi dengan kata lain Pak Drajat dipecat dengan tidak hormat...," sahut Kenzo tegas.
Ria dan Aruna saling menatap kemudian tersenyum. Mereka bangga karena Kenzo berhasil menyelesaikan salah satu masalah krusial yang ada di perusahaan itu dengan cepat dan tepat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=