Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
207. Kabar Yang Tertunda


__ADS_3

Langkah Aruna yang cepat berhasil menyusul Bianca. Nampaknya Bianca memang sengaja menunggu Aruna. Dan akhirnya Aruna berhasil menyamakan langkahnya dengan Bianca.


" Wanita itu..., bukannya Ibu juga mengawasinya sejak tadi. Kenapa bisa lolos...?" tanya Aruna.


Bianca berhenti melangkah lalu mengusap wajahnya. Sebelum menjawab pertanyaan Aruna dia nampak menghela nafas panjang.


" Ini kelalaian Saya. Ada seseorang yang mengajak Saya bicara tadi. Saat Saya lengah wanita itu malah pergi. Saya udah cari dia ke seluruh penjuru ruangan tapi ga ada. Yang terakhir Saya ingat adalah toilet karena wanita hamil biasanya memang sering ke toilet...," sahut Bianca dengan nada menyesal.


Aruna memberanikan diri menyentuh lengan Bianca untuk menenangkannya.


" Bukan salah Ibu. Sebelumnya Saya justru ngeliat Pak Hasby lagi nelephon seseorang sambil menatap wanita itu. Mukanya kacau dan berantakan. Tadinya Saya pikir wanita hamil itu adalah istri simpanannya...," kata Aruna salah tingkah.


" Jadi begitu ya. Rupanya dia yang mengutus orang lain supaya mengalihkan perhatian Saya. Saat Saya lengah dia menarik wanita itu ke tempat yang dia inginkan...," kata Bianca geram.


" Kayanya sih gitu Bu...," sahut Aruna.


" Sebentar. Kamu juga mengawasi Saya Aruna...?" tanya Bianca tiba-tiba.


" Eh itu. Mmm..., Saya ga sengaja mengawasi Ibu. Saya kebetulan lagi cari angin di luar. Nah saat itu Saya ngeliat Pak Hasby juga keluar ruangan sambil nelephon seseorang. Kayanya dia panik gitu. Saya liat dia menatap kearah wanita hamil itu berulang kali. Di saat yang sama Saya juga ngeliat Bu Bianca lagi ngeliatin wanita itu. Saya pikir justru Ibu disuruh menjaga wanita itu sama Pak Hasby...," sahut Aruna salah tingkah.


" Saya memang mengawasi wanita hamil itu Aruna. Saya juga berniat mengawasi Kamu mulai sekarang...," kata Bianca sambil tersenyum penuh makna.


" Silakan Bu. Saya senang jika Ibu mengawasi Saya. Karena itu artinya akan bertambah satu orang lagi yang sayang sama Saya. Makasih ya...," kata Aruna tersenyum sambil melambaikan tangannya dan berlalu.


" Eh jangan ge-er Kamu Aruna. Saya ga sayang sama Kamu...!" kata Bianca lantang.


Tapi Aruna terlihat mengabaikan ucapan Bianca. Ia terus melangkah menuju aula dimana pesta sedang digelar. Wajahnya nampak tersenyum mendengar Bianca menyangkal ucapannya tadi.


Tiba di ruang pesta Aruna melihat suasana masih normal. Itu artinya tak ada seorang pun yang tahu jika telah terjadi sesuatu yang mengerikan di toilet wanita tadi.


Bianca pun tiba di ruang pesta dan berdiri di samping Aruna.


" Sekarang apa selanjutnya Bu...?" tanya Aruna sambil terus mengamati sekelilingnya.


" Sebenernya Kita..., ehm, bukan. Sebenernya Saya masih harus mencari keberadaan tubuh Pak Hasby. Tapi keliatannya sulit. Karena dia pasti udah kabur jauh...," sahut Bianca.


" Jadi Ibu berencana mengejarnya sendiri. Apa Ibu meragukan kemampuan Saya...?" tanya Aruna sedikit tersinggung.

__ADS_1


" Bukan itu maksud Saya Aruna. Saya juga harus mempertimbangkan kehamilan Kamu yang keliatannya ga Kamu sadari...," sahut Bianca sambil melirik kearah perut Aruna yang masih terlihat rata itu.


Aruna tersentak lalu refleks meraba perutnya sendiri. Ada rasa hangat di dalam hatinya mendengar ucapan Bianca. Walau diucapkan dengan nada yang tak menyenangkan tapi Aruna tahu jika Bianca juga mencemaskan dirinya dan janin dalam rahimnya itu. Dan menyadari itu Aruna pun tersenyum.


" Hentikan senyum Kamu Aruna !. Saya ga suka ngeliatnya...!" kata Bianca sambil mendelikkan matanya.


Ucapan Bianca justru membuat Aruna tertawa. Dan itu disaksikan oleh Ria, Kenzo dan Kautsar dari kejauhan.


" Buruan ke sana Tsar. Gue khawatir sama Aruna...," kata Ria setengah memaksa.


" Gapapa sebentar lagi. Keliatannya Aruna lagi ngobrol sama orang penting di perusahaan ini...," sahut Kautsar santai.


" Dia itu Bu Bianca. Sekretaris senior yang diperbantukan di perusahaan ini Tsar...!" kata Ria gemas.


" Oh ya. Kalo gitu Aku ke sana dulu ya...," pamit Kautsar.


" Ok...," sahut Ria cepat.


" Kenapa Kautsar keliatan panik gitu pas Kamu bilang kalo yang ngobrol sama Aruna itu Bu Bianca...?" tanya Kenzo tak mengerti.


Kenzo pun mengangguk tanda mengerti. Sedang di depan sana terlihat Kautsar melangkah cepat menghampiri Aruna.


" Sayang...!" panggil Kautsar lantang hingga membuat Aruna menghentikan tawanya lalu menoleh.


Aruna nampak membulatkan matanya karena terkejut. Sedetik kemudian senyum bahagia nampak menghias wajah cantiknya. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menyambut Kautsar.


" Kamu datang juga Sayang...?" sapa Aruna.


" Alhamdulillah proyeknya bisa selesai lebih cepat. Aku telephon Kamu tadi, mau nanyain Kamu ada dimana tapi ga diangkat. Terus Aku telephon Kenzo dan dia bilang Kalian masih di sini. Ya udah, Aku nyusul deh ke sini...," sahut Kautsar sambil tersenyum.


Bianca nampak mengamati interaksi Aruna dengan Kautsar. Keduanya terlihat saling manautkan jari saat bicara. Dan itu membuat Bianca tersenyum karena bahagia melihat kebahagiaan sepasang anak manusia di hadapannya itu.


" Oh iya, kenalin dulu ini Bu Bianca. Sekretaris senior yang dikirim pusat untuk ngajarin Aku Sayang. Dan Bu Bianca, kenalkan ini Suami Saya. Namanya Kautsar...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Selamat malam Bu. Saya Kautsar...," sapa Kautsar dengan santun sambil mengulurkan tangannya.


" Selamat malam, Saya Bianca...," sahut Bianca ramah sambil menjabat tangan Kautsar erat.

__ADS_1


" Tolong bersabar mengajari Istri Saya ya Bu. Mungkin ada kalanya dia bakal terkesan ndablek...," kata Kautsar sambil melirik Aruna.


" Oh tenang aja Mas Kautsar. Saya udah nyiapin jurus khusus buat menghadapi murid yang nakal kaya Aruna ini...," gurau Bianca sambil bersedekap.


" Eh, jangan gitu dong Bu. Saya jadi tambah takut nih sama Ibu...," sahut Bianca.


" Kok takut, emangnya Saya monster yang menyeramkan...?" tanya Bianca.


" Bukan monster. Tapi siapa pun pasti bilang kalo Ibu ini super galak...," sahut Aruna dengan berani.


" Dan diantara semua orang yang pernah Saya kenal, cuma Kamu yang bertahan sejauh ini Aruna...," kata Bianca setengah memuji hingga membuat Aruna tertawa.


" Saya merasa tersanjung Bu...," kata Aruna di sela tawanya.


Kautsar dan Bianca ikut tertawa mendengar ucapan Aruna.


" Saya harus ke sana menyapa Pak Erlan dan Istrinya. Jadi silakan lanjutkan pesta Kalian ya...," kata Bianca.


" Siap Bu, makasih...," sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.


" Oh iya. Tolong awasi Istrimu Mas Kautsar. Jangan biarkan dia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya juga bayinya...," kata Bianca sambil menepuk bahu Kautsar sebelum berlalu.


Ucapan Bianca mengejutkan Kautsar. Saking terkejutnya Kautsar tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya menganga dan matanya menatap lekat kearah Aruna yang nampak tersenyum manis sambil menunjuk perutnya sendiri.


" Jadi Kamu beneran hamil Sayang...?" tanya Kautsar sambil meraih pinggang Aruna agar mendekat kearahnya.


" Katanya sih gitu..., " sahut Aruna santai.


" Jadi ini baru dugaan...?" tanya Kautsar sedikit kecewa.


" Bukan dugaan, tapi Aku yakin apa yang Bu Bianca bilang emang bener. Ada Kautsar junior di sini...," sahut Aruna lirih sambil mengusap perutnya.


" Alhamdulillah..., " kata Kautsar sambil tersenyum lalu memeluk Aruna erat.


Kautsar merasa lega mendengar kabar ini. Dan menurutnya ini adalah kabar bahagia yang tertunda. Karena beberapa hari ini dia harus berjuang untuk memastikan kehamilan Aruna.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2