
Setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit Jiwa dan dinyatakan sembuh, Shofia pun diijinkan pulang dengan berbagai catatan.
Pengacara Shofia yang bernama Lucas datang menjemput bersama asisten pribadi Shofia yang bernama Aida.
Saat melihat kondisi Shofia yang jauh lebih baik, Lucas dan Aida nampak tersenyum bahagia. Namun saat melihat luka di wajah dan sebagian lengan Shofia, keduanya nampak sedih.
" Jangan menatapku dengan tatapan mengasihani kaya gitu. Aku ga suka dikasihani...!" kata Shofia lantang hingga membuat Aida gemetar ketakutan.
" Ehm, Kami ga mengasihani Anda Nyonya...," sahut Lucas dengan berani hingga membuat Shofia mendengus kesal.
" Terus mana pakaian mahalku Aida. Apa Aku harus pulang pake pakaian pasien ?. Atau Kamu sengaja ya biar semua orang tau kalo Aku pernah jadi pasien Rumah Sakit Jiwa...?!" tanya Shofia marah.
" Maaf, i... ini Nyonya...," sahut Aida gugup lalu menyerahkan paper bag berisi pakaian branded dari boutique terkenal.
Shofia menyambut paperbag dengan cepat lalu melirik isinya. Senyum nampak tersungging di bibirnya saat ia melihat pakaian yang sesuai dengan seleranya.
" Ini bagus. Pas dengan kondisi kulitku yang banyak bekas luka. Kamu emang pintar memilih Aida...," puji Shofia hingga membuat Aida bernafas lega.
Kemudian Lucas dan Aida keluar dari ruangan untuk memberi kesempatan pada Shofia berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian Shofia pun membuka pintu dan mempersilakan keduanya masuk ke dalam ruangan.
" Aku masih merasa tak nyaman dengan luka di kulitku. Apa Kamu punya sesuatu untuk menutupi wajahku Aida...?" tanya Shofia.
" Saya cuma punya ini Nyonya...," sahut Aida sambil melepas scarf yang melilit lehernya.
" Mmm, Kurasa ini lebih baik...," kata Shofia sambil mengamati sejenak kain milik Aida itu.
" Mau Saya bantu Nyonya...?" tanya Aida menawarkan diri.
" Boleh. Usahakan jangan memperlihatkan wajahku...," sahut Shofia.
" Baik Nyonya...," kata Aida.
Kemudian Aida mulai melipat scarf miliknya itu dan memasangkannya di wajah Shofia. Kedua ujung scarf diikat sedemikian rupa di belakang kepala. Setelahnya dengan ragu Aida menghadap Shofia dan bertanya.
" Apa seperti ini cukup Nyonya...?" tanya Aida takut.
" Ok gapapa...," sahut Shofia.
Setelah memastikan Shofia siap, Lucas dan Aida pun membawa Shofia keluar dari Rumah Sakit Jiwa.
Saat dalam perjalanan menuju ke rumah, Shofia meminta pengacaranya mengurus kepergiannya keluar negeri.
__ADS_1
" Mau apa Anda keluar negeri Nyonya, Anda kan masih dalam pengawasan dokter...?" tanya Lucas.
" Aku mau operasi plastik...," sahut Shofia cepat.
" Saran Saya sebaiknya Anda menunda perjalanan hingga dokter menyatakan Anda sembuh Nyonya...," kata Lucas.
" Aku ga bisa menunggu terlalu lama Lucas. Wajah dan tubuhku adalah aset terpenting dalam hidupku. Bagaimana bisa Kau melarangku memperbaiki semuanya...?!" tanya Shofia gusar.
" Tapi Nyonya...," ucapan Lucas terputus saat Aida memotong cepat.
" Tolong diurus ya Pak Lucas. Saya yang akan menemani Nyonya di sana. Mungkin Anda ga paham betapa pentingnya ini untuk Nyonya Shofia. Bagi para wanita seperti Kami kesehatan kulit adalah modal utama dan wajah cantik adalah bonus...," kata Aida.
Shofia nampak menoleh kearah Aida dan tersenyum senang karena mendapat dukungan.
" Ternyata Kamu lebih mengerti Aku dibanding Lucas...," kata Shofia sambil tersenyum.
" Saya mengerti apa yang Anda rasakan karena Saya kan wanita Nyonya...," sahut Aida merendah hingga membuat Shofia tertawa.
" Bagus. Aku memang perlu seseorang yang memahami semua tentang Aku dan kebutuhan ku...," kata Shofia di sela tawanya.
Mendengar ucapan Shofia dan Aida membuat Lucas mengangguk. Ia berjanji akan mengurus semua yang diperlukan Shofia selama ia berobat di luar negeri nanti.
\=\=\=\=\=
Hal itu membuat Kautsar senang bukan kepalang. Ia merasa jalannya untuk mendapatkan hati Aruna sebentar lagi akan berbuah manis. Hanya butuh sedikit waktu agar Aruna melihat ketulusannya.
Malam itu Kautsar baru saja menunaikan sholat Isya di musholla. Kemudian ia menghampiri Aruna yang duduk di ruang tengah sambil mengerjakan tugas kuliahnya.
" Hari ini Aku dapat bonus dari kantor Run. Nih, Kamu pegang ya...," kata Kautsar sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang kepada Aruna.
" Bonus dari kantor, emangnya Kamu ngapain kok bisa dapet bonus...?" tanya Aruna sambil membuka amplop dan menghitung isinya.
" Aku kan pernah bilang kalo Aku berhasil bikin perusahaan dapetin proyek gede. Makanya Aku dapet bonus...," sahut Kautsar sambil mengambil keripik pisang di toples yang ada di samping Aruna.
" Tapi ini banyak banget Tsar. Ini buat Kamu sendiri atau dibagi lagi sama temen Kamu...?" tanya Aruna.
" Itu buat Aku Run. Temenku juga udah dapat bonus sendiri dari kantor...," sahut Kautsar.
" Siapa namanya...?" tanya Aruna.
" Reyhan...," sahut Kautsar cepat.
__ADS_1
" Reyhan...?" tanya Aruna mencoba mengingat.
" Iya. Kamu kan udah Aku kenalin sama dia tempo hari...," sahut Kautsar.
" Oh Reyhan yang itu, iya Aku inget. Berarti ini bonus dari proyek yang Kamu bahas sama Reyhan dan Nyonya Shofia itu Tsar...?" tanya Aruna.
" Betul...," sahut Kautsar sambil mengecup pipi Aruna dengan cepat.
" Aku ga mau pegang. Kamu aja yang pegang dan abisin sendiri...," kata Aruna sambil meletakkan amplop berisi uang itu di telapak tangan Kautsar.
" Lho kok gitu sih Run, kenapa...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Gapapa. Cuma males aja beli sesuatu dari uang itu. Bikin Aku inget sama kejadian saat Kamu kejebak di rumahnya waktu itu...," sahut Aruna dengan enggan.
" Ya ampun itu lagi yang dibahas. Tapi ini murni hasil kerja keras Aku lho Sayang. Aku dapetin uang ini karena kerja bukannya melakukan sesuatu yang ga bener sama dia...," kata Kautsar mencoba meyakinkan.
" Iya Aku tau. Tapi Aku ga mau terima karena ga nyaman aja...," sahut Aruna.
" Apa bedanya sih. Uang ini kan hanya kertas yang bisa dibelanjain ini itu. Ga akan ngaruh juga kan. Emangnya kalo belanja sayur atau pakaian pake uang ini terus barangnya berubah gitu...?" tanya Kautsar bingung.
" Bukan itu intinya Kautsar !. Kok Kamu ga ngerti juga sih. Aku ga mau belanja sesuatu atau pake sesuatu yang asalnya itu berkaitan sama Shofia, tau ga...!" kata Aruna lantang sambil menatap Kautsar lekat.
Untuk sejenak keduanya terdiam sambil saling menatap.
" Kamu cemburu Aruna...?" tanya Kautsar hati-hati.
" Ga...!" sahut Aruna sambil melengos hingga membuat Kautsar tersenyum.
" Tapi sikap Kamu nunjukin kalo Kamu cemburu Aruna...," goda Kautsar.
" Apaan sih Kamu. Ga usah ge er ya...," sahut Aruna sambil melempar bantalan sofa kearah Kautsar hingga Kautsar tertawa.
Melihat Kautsar terus tertawa membuat Aruna kesal lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamar. Namun langkah Aruna terhenti saat Kautsar mencekal tangannya.
" Aku suka dicemburuin sama Kamu Aruna...," kata Kautsar sambil menatap kedua mata Aruna dengan lembut.
" Ck, Aku ga cemburu...!" bantah Aruna lagi.
" Gapapa kalo Kamu ga mau ngaku...," kata Kautsar sambil menarik Aruna ke dalam pelukannya.
Aruna pun tersenyum diam-diam. Sesungguhnya ada yang lebih Aruna khawatirkan dibanding rasa cemburu yang diucapkan Kautsar tadi. Aruna merasa akan ada sesuatu yang besar yang memaksanya bertemu lagi dengan Shofia.
__ADS_1
\=\=\=\=\=