
Malam terasa makin mencekam saat lolongan serigala terdengar saling bersahutan di kejauhan. Perlahan Aruna melangkah mendekati rumah megah yang diyakini sebagai kediaman Shofia.
Suasana di sekitar rumah Shofia terlihat sunyi. Aruna nampak tersenyum saat melihat dua security yang berjaga di pos rumah Shofia tengah duduk membungkuk tak bergerak. Itu karena ia telah membuat mereka tertidur.
Aruna mendongakkan kepalanya sekali lagi sebelum akhirnya melompati pagar besi rumah Shofia. Dalam kondisinya sebagai makhluk setengah serigala, melompati pagar setinggi tiga meter itu adalah hal yang sangat mudah untuk Aruna.
Aruna nampak mengedarkan pandangan ke penjuru halaman rumah Shofia dan melihat motor milik Kautsar terparkir manis di depan garasi.
" Katanya ga bakal masuk perangkap, tapi motornya nangkring di sini malam-malam begini. Dasar keras kepala...," gumam Aruna kesal.
Kemudian Aruna melangkah menghampiri motor Kautsar dan melihat kunci motor masih menggantung di sana. Aruna yakin jika Kautsar telah masuk dalam perangkap ilmu hitam Shofia karena Kautsar tak akan seceroboh itu meninggalkan motor lengkap beserta kuncinya.
Aruna menoleh saat mendengar suara berdebum di dalam rumah. Kedua matanya nampak membulat saat melihat pemandangan menjijikkan di dalam rumah.
Di dalam kamar terlihat Shofia yang nyaris telan*ang tengah duduk di atas pangkuan Kautsar. Kedua tangan Shofia nampak bergerak ke sana kemari seolah sedang berusaha memancing hasrat Kautsar. Shofia juga tampak asyik menciumi wajah Kautsar yang mematung dengan tatapan kosong.
Aruna menggeram marah meski pun ia tahu Kautsar sama sekali tak merespon tindakan Shofia pada tubuhnya. Dengan beringas Aruna menerjang jendela dan masuk ke dalam kamar.
Suara pecahnya kaca jendela membuat Shofia tersentak kaget dan menoleh kearah sumber suara. Shofia nampak terkejut saat melihat sesosok makhluk aneh berwujud manusia yang dipenuhi bulu nampak berlutut di lantai.
Dan saat makhluk itu mendongakkan kepalanya Shofia nampak bergidik ngeri. Tanpa sadar ia beringsut turun dari pangkuan Kautsar dan bergeser menjauh. Aruna nampak menyeringai memperlihatkan gigi taringnya hingga membuat Shofia menggigil ketakutan.
" Si... siapa Kamu. A... pa mau mu...?" tanya Shofia terbata-bata.
Aruna tak menjawab. Ia melirik kearah Kautsar yang saat itu tampak duduk mematung dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan. Kancing kemeja Kautsar terbuka hingga memperlihatkan sebagian tubuhnya. Dan itu membuat Aruna marah karena ia melihat bagaimana Shofia menyentuh Kautsar tadi.
Shofia tahu jika makhluk jadi-jadian di depannya tertarik pada Kautsar. Meski ia sedikit tak rela karena 'harus berbagi' dengan makhluk menyeramkan itu, namun Shofia memilih mengalah agar ia tak ikut menjadi santapan makhluk menyeramkan itu.
" Dia..., Kamu suka dia kan. Ambil aja, bawa pergi yang jauh. Tapi kumohon, jangan ganggu Aku...," kata Shofia sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Ucapan Shofia membuat Aruna mendengus marah. Perlahan Aruna berdiri lalu berjalan mendekati Shofia yang nampak gemetar ketakutan.
__ADS_1
Tatapan mata Aruna menghujam tepat kearah mata Shofia dan itu membuatnya mematung tanpa bisa bergerak. Dari tempatnya berdiri Shofia bisa melihat wujud makhluk jadi-jadian itu dengan jelas.
Sosok berwujud manusia dengan wajah menyeramkan dan tubuh berbulu itu nampak makin mendekat. Shofia mulai menangis saking takutnya. Dan tangis Shofia kian menjadi saat Aruna menyentuh dagunya.
Ada rasa pedih saat ujung kuku Aruna yang berwujud manusia serigala itu menyentuh kulitnya. Shofia memejamkan mata karena tak sanggup menatap kedua mata Aruna yang berwarna merah itu. Hembusan udara panas menguar dari sela mulut yang dipenuhi taring itu dan membuat Shofia menahan nafas karena takut.
Aruna mendekatkan wajahnya ke wajah Shofia dan memaksa wanita itu membuka mata.
" Buka matamu dan lihat Aku...," kata Aruna dengan suara serak.
Shofia menolak dengan menggelengkan kepalanya. Aruna tak kehabisan akal. Ia menjambak rambut Shofia ke belakang hingga wanita itu terpaksa mendongakkan kepala dan membuka matanya.
" Kubilang lihat Aku...!" kata Aruna galak.
" I... iya. A...Aku lihat...," sahut Shofia gugup hingga membuat Aruna tersenyum.
Senyum Aruna terlihat sebagai seringai maut di mata Shofia dan itu membuatnya menelan saliva dengan sulit.
" To... tolong ja... ngan sa... ki... ti Aku...," kata Shofia sambil menangis.
" Apa imbalan yang akan Kau berikan jika Aku tak menyakitimu...?" tanya Aruna sambil mendekatkan wajahnya.
" Semuanya..., apa pun...," sahut Shofia cepat.
" Apa pun...?" ulang Aruna sambil memiringkan kepalanya.
" Iya. Termasuk pria itu jika Kau mau...," sahut Shofia sambil menunjuk Kautsar.
" Semudah itu Kau menyerahkan pria itu padaku. Apa kah dia tak berharga untukmu...?" tanya Aruna.
" Dia berharga untukku, sangat berharga. Tapi nyawaku lebih berharga dari apa pun di dunia ini...," sahut Shofia.
__ADS_1
" Nyawamu lebih berharga dari apa pun di dunia ini...," ulang Aruna.
" Iya...," kata Shofia tegas.
Aruna menyeringai lalu mengangkat tangannya yang dipenuhi kuku panjang dan runcing itu. Kemudian Aruna mencakar wajah Shofia hingga wanita itu memalingkan wajahnya sambil menjerit kesakitan.
" Aaaahhh...!" jerit Shofia sambil memegangi pipinya yang terluka.
" Kau bilang nyawamu lebih berharga dari apa pun. Jadi tak masalah kan jika Aku sedikit memberi tanda di wajah dan tubuhmu ini.Wajah dan tubuh ini lah yang telah menyesatkan banyak pria di luar sana...," kata Aruna sambil mulai mencakar tubuh Shofia.
Jeritan Shofia membahana di dalam kamar diiringi darah yang muncrat membasahi dinding kamar. Namun anehnya tak seorang pun datang untuk membantu. Padahal di rumah itu Shofia tinggal bersama beberapa asisten rumah tangga.
" Ampuni Aku, tolong hentikan...!" jerit Shofia sambil menangis.
Aruna menghentikan aksinya dan menatap Shofia yang tersungkur di lantai dengan tubuh dan wajah bersimbah darah. Aruna nampak tersenyum puas lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Kautsar.
Perlahan Aruna mengangkat tubuh Kautsar lalu berjalan kearah jendela tempat dimana ia masuk tadi. Sekali lagi Aruna menoleh kearah Shofia dan mengatakan sesuatu sambil menatap mata Shofia.
" Lupakan apa yang Kau lihat dan alami malam ini. Tak ada yang terjadi dan Kau bisa melanjutkan hidupmu dengan lebih baik. Bertobat lah selagi masih ada kesempatan...," kata Aruna lalu melompat keluar sambil menggendong Kautsar.
Setelah Aruna pergi Shofia pun jatuh pingsan.
Shofia siuman keesokan harinya dan langsung menjerit hingga membuat semua asisten rumah tangganya terkejut. Mereka terpaksa mendobrak pintu kamar karena Shofia tak kunjung membuka pintu.
Semua asisten rumah tangga Shofia tampak shock saat melihat kondisi kamar yang berantakan. Tubuh Shofia yang dipenuhi luka cakaran dan darah itu nampak terduduk di lantai. Yang memprihatinkan Shofia nampak menatap nanar ke penjuru ruangan sambil mengucapkan kalimat yang sama berulang kali.
" Tak ada yang terjadi, bertobat lah. Tak ada yang terjadi, bertobat lah...," kata Shofia berulang-ulang.
" Astaghfirullah aladziim. Kasian Nyonya...," kata salah satu asisten rumah tangga dan diangguki asisten rumah tangga lainnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1