Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
301. Gagal Surprise


__ADS_3

Namun tawa dokter Sheina memudar saat ia teringat Rasyid. Polisi muda yang juga kekasihnya itu terlibat dalam penemuan jasad anak perempuan di belakang toilet. Bahkan Rasyid menjadi saksi mata utama.


" Kenapa diam...?" tanya Matilda.


" Gapapa...," sahut dokter Sheina cepat.


" Jangan bohong Shei. Aku liat tubuhmu gemetar tadi saat menerima telephon..., " kata Matilda.


" Apa jelas terlihat...?" tanya dokter Sheina mencoba mengalihkan pembicaraan.


Matilda dan George tak menjawab. Mereka memilih mengalihkan tatapan mereka kearah lain dan dokter Sheina mengerti jika sepasang suami istri di hadapannya itu tak suka dengan pertanyaannya tadi.


" Maaf, ga seharusnya Aku menyembunyikan semuanya dari Kalian. Tapi Aku malu mengakui jika pria yang dekat denganku justru menjadi saksi utama penemuan jasad anak perempuan yang jadi mangsaku tadi...," kata dokter Sheina sambil menundukkan kepalanya.


Matilda dan George saling menatap sejenak kemudian keduanya mengangguk. Keduanya merasa iba di saat bersamaan namun keduanya tak bisa berbuat banyak.


" Nasi udah jadi bubur Shei. Ini jadi pelajaran penting untukmu. Semoga ke depannya Kamu lebih hati-hati lagi dan ga terpancing untuk menghabisi manusia lain di saat Kamu berubah...," kata George.


" Iya George, Aku tau ini semua salahku. Aku janji akan belajar mengendalikan diri nanti...," sahut dokter Sheina.


" Bagus. Sekarang sebaiknya Kamu pulang ke rumah dan ga usah kembali ke Rumah Sakit. Kami yang akan mengantarmu pulang...," kata George.


" Baik. Makasih George, makasih juga Matilda..., " kata dokter Sheina dengan tulus.


" Sama-sama Shei...," sahut Matilda dan George bersamaan.


Tak lama kemudian George dan Matilda kembali melesat cepat dengan membawa dokter Sheina pergi meninggalkan tempat itu.


\=\=\=\=\=


Rasyid nampak melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jam sebelas lebih dan ia yakin jika dokter Sheina pasti telah meninggalkan Rumah Sakit.


" Kenapa ngeliatin jam tangan terus dari tadi ?. Jam tangan itu ga bakal berubah jadi emas kan Syid...?" tanya Raka yang berdiri di samping Rasyid.


" Apaan sih Ka. Gue cuma khawatir Sheina pulang duluan. Bakal sia-sia dong Gue ke sini. Padahal kan niat Gue ke sini buat jemput Sheina bukannya ngeliat mayat anak perempuan itu...," sahut Rasyid sambil mengerucutkan bibirnya.


" Sabar dikit lah Syid. Sebentar lagi kan selesai. Emang gitu resikonya jadi saksi mata, bakal diinterogasi lama bahkan sampe berjam-jam lho Syid...," kata Raka menakut-nakuti Rasyid.


" Ck, ga usah lebay deh Ka. Gue tau harusnya udah bisa cabut dari tadi. Tapi gara-gara akal bulus Lo itu Gue jadi tertahan di sini sampe berjam-jam..., " sahut Rasyid kesal.


" Ya Allah, belum berjam-jam kok Syid. Jangan fitnah deh Lo ya...," kata Raka sambil bertolak pinggang.


Rasyid tertawa puas melihat sikap Raka yang salah tingkah itu. Namun sesaat kemudian tawa Rasyid terhenti karena ia teringat sesuatu. Raka yang melihat perubahan sikap Rasyid pun mengerutkan keningnya lalu bertanya.

__ADS_1


" Kenapa Syid, apa ada yang mau Lo sampein lagi...?" tanya Raka.


" Mmm..., bisa ga kalo info ini Lo simpen sendiri untuk sementara waktu...? " tanya Rasyid ragu.


" Info apaan ?. Apa ada kaitannya sama anak perempuan yang meninggal di belakang toilet tadi...?" tanya Raka.


" Ada...," sahut Rasyid cepat.


" Kalo ada hubungannya sama kejadian tadi Gue ga bisa diem aja Syid. Sorry, Gue ga bisa bantu...," kata Raka sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke atas.


" Bukan gitu Ka. Masalahnya apa yang bakal Gue bilang justru malah bikin orang lain ga percaya...," kata Rasyid setengah berbisik.


" Maksud Lo apaan sih Syid, ga mudeng Gue...," kata Raka.


" Makanya dengerin dulu dong. Dipotong terus dari tadi kapan Gue ceritanya nih...," sahut Rasyid kesal.


" Iya iya. Buruan apa yang mau Lo bilang...," kata Raka.


Kemudian Rasyid menarik lengan Raka agar menjauh dari rekan-rekan mereka. Kali ini Raka tak protes karena tahu Rasyid akan mengamuk jika ia melakukannya. Setelahnya Rasyid mengatakan sesuatu yang membuat bulu kuduk Raka meremang.


" Sebenernya Gue liat siapa yang melukai anak perempuan itu Ka...," kata Rasyid lirih.


" Oh ya, siapa Syid...?" tanya Raka.


" Maksud Lo genderuwo Syid ?. Jangan ngaco Lo ya. Mana mungkin genderuwo makan orang...," kata Raka sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena khawatir sosok yang sedang dibicarakan tiba-tiba menampakkan diri.


" Gue ga bohong Ka. Waktu Gue datang dia lagi meluk anak itu sambil melakukan sesuatu. Mungkin saat itu dia lagi menggigit leher anak itu sama persis seperti luka yang Kita liat tadi...," kata Rasyid.


" Iya sih. Kalo soal luka Gue percaya. Tapi kalo makhluk berbulu itu kayanya...," ucapan Raka terputus karena Rasyid memotong cepat.


" Gapapa kalo Lo ga percaya Ka. Yang penting Gue udah nyampein semuanya. Terus kapan Gue bisa balik Ka ?. Udah malam nih, ntar Sheina keburu pulang...," kata Rasyid cemas.


" Ck, ga sabaran banget sih jadi orang. Sekali-kali nemenin Gue kan bisa...," sahut Raka sambil berdecak sebal.


" Kalo malam ini ga bisa Ka. Gue lagi kangen sama dia...," kata Rasyid dengan mimik lucu.


Raka pun tertawa melihat bagaimana bucinnya Rasyid pada kekasihnya yang cantik itu. Tak lama kemudian Rasyid diijinkan pergi karena sudah menandatangani berkas laporan. Rasyid nampak bahagia karena bisa lepas dari Raka yang coba menahan kepergiannya sejak tadi.


Rasyid pun melangkah cepat menuju ruangan dokter Sheina. Saat itu lah Rasyid berpapasan dengan suster Mita.


" Assalamualaikum Suster Mita...," sapa Rasyid dengan ramah.


" Wa alaikumsalam Pak Rasyid. Mau jemput dokter Sheina ya...?" tanya suster Mita.

__ADS_1


" Iya Sus. Apa dokter Sheina masih di ruangannya...?" tanya Rasyid tak sabar.


" Maaf Pak. Dokter Sheina udah pergi. Mendadak banget karena sampe ninggalin tasnya di ruangannya. Beliau bahkan minta Saya secara khusus buat nyimpen tas dan ponselnya di tempat yang aman. Keliatannya dokter Sheina lagi buru-buru tadi...," sahut suster Mita cepat.


" Gitu ya. Kapan dia pergi...?" tanya Rasyid.


" Sekitar lima menit sebelum penemuan jasad anak yang hilang itu Pak...," sahut suster Mita.


" Katanya dia pergi kemana...?" tanya Rasyid lagi.


" Ga tau Pak, dokter Sheina ga bilang apa-apa tadi...," sahut suster Mita.


" Oh gitu. Makasih ya Suster Mita...," kata Rasyid.


" Sama-sama Pak...," sahut suster Mita.


Kemudian Rasyid bergegas menuju parkiran dimana motornya berada. Ia sempat menatap mobil dokter Sheina sejenak sebelum akhirnya memacu kendaraannya meninggalkan Rumah Sakit. Ada rasa kecewa di hatinya karena gagal bertemu sang kekasih malam itu.


" Niat mau ngasih surprise malah Gue sendiri yang dapat surprise. Dasar apes...," gerutu Rasyid sambil memacu kendaraannya.


Setelah lama memacu motornya, Rasyid berhenti di pinggir jalan. Ia membuka helmnya lalu duduk di sebuah kursi setelah sebelumnya memesan kopi pada penjual kopi. Kedai kopi itu langganan Rasyid. Ia biasa mampir ke sana tiap kali merasa penat.


" Silakan kopinya Mas...," kata penjual kopi.


" Makasih Pak...," sahut Rasyid.


Sang penjual kopi mengangguk lalu kembali duduk di balik gerobak dagangannya. Sesekali ia menoleh kearah Rasyid yang saat itu terlihat kacau.


" Keliatannya ada masalah ya Mas...?" sapa sang penjual kopi.


" Dikit Pak. Biasa lah masalah sama pasangan...," sahut Rasyid sambil tersenyum.


Sang penjual kopi ikut tersenyum lalu mulai menyanyikan lagu dalam bahasa Jawa andalannya. Rasyid merasa tenang tiap kali mendengar suara sang penjual kopi menyanyi. Ia bahkan memejamkan mata untuk meresapi makna tersirat di dalam lagu itu.


Setengah jam kemudian Rasyid berdiri dan bersiap pulang.


" Ini uangnya Pak, kembaliannya ambil aja. Anggap aja buat hadiah karena Bapak udah nembang bagus malam ini...," kata Rasyid sambil tersenyum lalu meletakkan uang lima puluh ribuan di atas meja.


" Wah, makasih lho Mas Rasyid...!" kata penjual kopi itu sambil melambaikan uang yang diberikan Rasyid tadi.


" Sama-sama Pak...!" sahut Rasyid sambil melajukan kendaraannya meninggalkan kedai kopi langganannya itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2