
Ambulans yang membawa tubuh Kenzo nampak melaju cepat menuju Rumah Sakit. Saat itu Ria ikut menemani Kenzo di dalam Ambulans.
" Sadar dong Yang, bangun. Maafin Aku yang gagal narik tangan Kamu tadi. Kenzo bangun dong...," pinta Ria sambil menepuk pipi Kenzo dengan lembut.
Kenzo masih memejamkan mata. Dehidrasi parah yang dialaminya selama terjebak di ruangan itu membuatnya jatuh pingsan.
" Pacarnya ya Mbak...?" tanya seorang perawat yang bertugas di dalam Ambulans itu dengan ramah.
" Iya Sus...," sahut Ria malu-malu.
" Kok bisa terjebak di ruangan itu sih...?" tanya sang perawat sambil mengecek aliran cairan infus di selang berwarna putih itu.
" Saya juga ga ngerti Sus. Eh, kok Suster ngomong kaya gitu seolah-olah Suster tau tempat itu. Emangnya Suster juga pernah ada di situasi ini sebelumnya...?" tanya Ria penasaran.
" Mmm, ga juga. Sepupu Saya pernah kerja di sana dan ceritain semuanya...," sahut sang perawat.
" Oh gitu. Apa sepupu Suster udah ga kerja di sana lagi...?" tanya Ria.
" Saya ga tau Mbak. Sepupu Saya dinyatakan hilang. Padahal terakhir dia terlihat di sekitar penginapan itu. Saya ga tau dia kemana karena sampe detik ini ga ada kabar apa pun tentang dia. Saya dan keluarga udah nyoba nyari info ke penginapan itu tapi nihil. Mereka semua bungkam. Saya yakin ada sesuatu yang disembunyiin tapi Saya ga tau apa itu...," sahut sang perawat dengan mimik wajah sedih.
" Maaf Sus, sepupu Suster itu laki-laki atau perempuan...?" tanya Ria.
" Perempuan, kenapa Mbak...?" tanya sang perawat.
" Gapapa. Saya ikut prihatin atas nasib sepupu Suster itu. Semoga segera ada kabar dimana keberadaannya supaya Suster dan keluarga ga bingung lagi...," sahut Ria sambil menyentuh punggung tangan sang perawat.
" Aamiin, makasih doanya ya Mbak...," kata sang perawat sambil tersenyum.
" Sama-sama Suster...," sahut Ria ikut tersenyum.
Tiba-tiba mobil Ambulans itu berhenti. Tak lama kemudian pintu terbuka dan nampak dua perawat laki-laki berdiri menyambut di depan pintu. Kemudian perawat yang bersama Ria tadi mempersilakan Ria turun lebih dulu sedang dia membantu mendorong brankar keluar mobil.
Setelahnya Kenzo dibawa masuk ke ruang UGD untuk ditangani. Ria mengikuti dari belakang dan hanya bisa menunggu di ruang tunggu sesuai instruksi perawat tadi.
\=\=\=\=\=
Sementara itu Fadil, Agung dan Galang masih bertahan di depan penginapan. Mereka ingin mengambil barang-barang milik mereka yang tertinggal di dalam kamar.
" Sabar sebentar lagi ya Mas. Setelah ini Mas dan tamu lain bisa mengambil barang-barang milik Kalian...," kata salah seorang polisi dengan santun.
__ADS_1
" Baik Pak, makasih...," sahut Fadil mewakili dua temannya.
Tak lama kemudian polisi nampak keluar bersama Coleng dan karyawan lain dalam keadaan tangan terborgol.
" Eh, kemana karyawan yang nyuguhin minuman beracun tadi pagi...?" tanya Fadil sambil mengamati Coleng dan teman-temanya dengan lekat.
" Iya ya. Kemana dia, jangan-jangan udah kabur...," sahut Agung sambil mengepalkan tangannya karena kesal.
Salah seorang polisi mendatangai Galang, Fadil dan Agung lalu mempersilakan ketiganya mengambil barang milik mereka di kamar penginapan. Ditemani beberapa orang polisi ketiga teman Aruna itu pun masuk ke dalam penginapan.
Fadil, Galang dan Agung bergegas mengambil barang milik mereka dan tak lupa membawa tas milik Kenzo. Kemudian ketiganya masuk ke kamar sebelah dimana sebelumnya ditempati Aruna dan Ria.
" Masih ada lagi Mas...?" tanya salah seorang polisi.
" Udah ga ada Pak. Insya Allah udah beres semua. Makasih ya Pak...," kata Galang.
" Sama-sama Mas. Mari lewat sini...," kata polisi itu lalu mengarahkan Galang, Fadil dan Agung keluar melalui jalan yang berbeda.
" Penginapan ga layak gini kok bisa banyak peminatnya. Bingung Saya...," kata polisi yang menunjukkan jalan sambil mengamati sekelilingnya.
" Kalo diliat dari kaca mata logis mah harusnya ga bisa Pak. Tapi sayangnya pemilik penginapan ini kan pake cara ga logis alias ilmu hitam. Jadi wajar kalo penginapan ini banyak peminatnya. Buktinya Saya sama temen-temen Saya aja ketipu sama penampilan luar penginapan ini...," sahut Galang kesal.
" Terus pemiliknya udah ketangkep Pak...?" tanya Agung penasaran.
" Belum Mas. Pemiliknya langsung kabur dan belum tau dimana dia sekarang. Tapi tenang aja Mas, cepat atau lambat si pemilik penginapan pasti tertangkap. Dia kan harus bertanggung jawab atas semua kejadian yang terjadi di penginapan ini...," sahut sang polisi.
" Maksudnya di penginapan ini sering terjadi tindakan kriminal Pak...?" tanya Fadil.
" Kalo itu masih dalam tahap penyelidikan Mas. Karena sebelum Kalian melapor, sudah ada beberapa laporan orang hilang yang masuk ke kantor. Rata-rata mereka yang hilang adalah orang yang sempat terlihat di penginapan ini...," sahut sang polisi hingga membuat Galang, Fadil dan Agung saling menatap bingung.
" Mmm, apa Kami boleh sedikit nambahin informasi Pak...?" tanya Fadil ragu.
" Oh ya, tentu aja boleh. Sekecil apa pun informasi itu selalu penting dan berharga buat Kami. Siapa tau justru informasi kecil itu yang menjadi kunci utama dari kasus ini. Iya kan...?" tanya sang polisi.
" Iya Pak...," sahut Fadil, Galang dan Agung bersamaan.
" Jadi info apa yang Kalian punya...?" tanya sang polisi.
" Pagi sebelum kejadian itu, Kami disuguhin sejenis minuman tradisional oleh salah satu karyawan penginapan Pak...," kata Fadil.
__ADS_1
" Yang mana orangnya...?" tanya sang polisi.
" Sayangnya orang itu ga ada diantara mereka yang tadi diamankan polisi Pak...," sahut Agung sedikit kecewa.
" Masa sih. Padahal pengakuan mereka yang ditangkap ga ada lagi karyawan lain yang terlibat..," kata sang polisi.
" Mungkin udah kabur Pak...," kata Galang.
" Bisa jadi. Apa Kalian ingat nama atau ciri-ciri karyawan itu...?" tanya sang polisi.
" Ingat Pak...," sahut Agung cepat.
" Kalo gitu Kamu bisa bantu Kami kan. Setelah ini jangan kemana-mana ya, biar keteranganmu dicatat dulu...," kata sang polisi.
" Baik Pak...," sahut Agung antusias.
Kemudian Agung, Fadil dan Galang dipersilakan menunggu di teras penginapan. Tak lama kemudian seorang polisi yang bertugas mencatat informasi yang masuk dalam kasus ini pun datang menghampiri mereka.
" Terima kasih ya Mas. Informasi dari Anda sangat membantu Kami...," kata sang polisi sambil menjabat tangan Agung, Fadil dan Galang bergantian.
" Kami juga berharap pihak Kepolisian segera menemukan satu teman Kami yang lain yang bernama Aruna Pak...," kata Agung penuh harap.
" Apa teman yang Kalian maksud itu seorang wanita...?" tanya sang polisi.
" Betul Pak...!" sahut Agung, Fadil dan Galang antusias.
" Kalo ga salah tadi ada seorang wanita berbaju abu-abu dan celana denim biru keluar dari dalam sana. Rambutnya berombak dan berkulit putih. Sekarang dia lagi ditanyai oleh rekan Saya...," kata sang polisi.
" Dimana dia Pak...?" tanya Agung tak sabar.
" Tuh di sana...," sahut sang polisi sambil menunjuk kerumunan polisi di gazebo yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Sontak Agung, Fadil dan Galang mengikuti arah telunjuk sang polisi. Wajah ketiganya berbinar bahagia saat melihat kondisi Aruna baik-baik saja. Setelah mengucapkan terima kasih, ketiganya bergegas menghampiri Aruna.
" Arunaaaa...!" panggil Galang lantang hingga semua mata menoleh kearahnya termasuk Aruna.
" Hei guys...!" sahut Aruna sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
Kemudian keempatnya berpelukan sambil membaca hamdalah berulang kali.
__ADS_1
\=\=\=\=\=