Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
123. Melawan


__ADS_3

Saat batu besar itu mengenai belakang kepalanya, pria bertubuh besar itu sempat menoleh kearah Aldi.


Aldi yang masih tergolek di tanah itu pun nampak terkejut dan takut jika pria besar itu akan berbalik menyerangnya.


" Ampuunn Ba...," ucapan Aldi terputus karena tiba-tiba tubuh pria besar itu merosot jatuh ke tanah.


Aldi membelalakkan matanya saat melihat pria besar yang tadi melecehkannya itu terkapar di tanah sambil memegangi kepalanya.


" Aaarrgghh..., sakiiittt...!" jerit pria itu sambil berguling-guling di tanah.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Aldi untuk meraih pakaiannya dan mengenakannya secepat mungkin.


Melihat Aldi bersiap kabur, pria besar itu pun mencoba menghalangi. Ia menarik kaki Aldi yang sedang berusaha mengenakan pakaian dalamnya hingga Aldi kembali terjengkang di atas tanah.


Aldi mengerang kesakitan dan itu membuat kemarahannya bangkit. Ia langsung memukul tangan pria besar itu dengan batu yang ada di dekatnya hingga pria itu menjerit kesakitan dan melepaskan cekalan tangannya. Setelahnya Aldi menind*h tubuh pria besar itu lalu mulai memukulnya dengan kuat.


Pria itu membalas pukulan Aldi hingga membuat tubuh Aldi kembali terhempas ke tanah.


" Hanya monyet kecil yang ingin bermain-main denganku. Kau pikir luka ini cukup membuatku lemah dan kehilangan tenagaku Aldi...?!" kata pria besar itu dengan lantang sambil berusaha bangkit untuk mengejar Aldi yang beringsut menjauh.


Di saat bersamaan tangan Aldi menyentuh sebuah dahan kering. Bagian ujung dahan itu meruncing akibat patah dari induk pohonnya. Dengan sigap Aldi meraih dahan itu untuk mempersenjatai diri.


Pria itu tertawa mengejek saat melihat Aldi memegang dahan pohon yang ia yakini rapuh itu.


" Senjata mu itu sungguh lembut Aldi. Apa Kau yakin akan memakainya untuk melawan ku. Daripada terus menghindar dan sakit, kenapa Kau tak menyerah dan menjadi piaraanku yang siap melayani ku Aldi. Aku janji akan memperlakukanmu dengan lembut nanti...," kata pria besar itu sambil berusaha menjangkau Aldi.


" Jangan mimpi. Lebih baik Aku mati daripada jadi piaraan anj*ng kotor sepertimu...!" sahut Aldi lantang sambil mulai memukulkan dahan pohon yang dipegangnya.


Di luar dugaan, ternyata dahan kayu yang dipegang Aldi sangat keras hingga mampu membuat pria besar itu kesakitan. Aldi makin semangat memukul dan itu membuat pria besar itu mundur ke belakang lalu jatuh terjengkang ke tanah karena kakinya tersangkut akar pohon.

__ADS_1


" Berhenti Aldi !. Atau...," ucapan pria besar itu terputus saat Aldi memotong cepat.


" Atau apa ?!. Kau akan memanggil teman-temanmu yang sakit jiwa itu untuk memperk*saku lagi. Aku ga takut !. Panggil mereka ke sini sekarang kalo Kau mampu...!" kata Aldi lantang sambil terus memukul.


Pria besar itu menyilangkan kedua lengannya di atas kepala untuk melindungi kepalanya itu. Lalu pria itu memiringkan tubuhnya karena tak kuasa menahan serangan Aldi yang bertubi-tubi.


Aldi menyeringai penuh makna saat melihat posisi tubuh pria besar itu. Dengan kekuatan penuh Aldi menusukkan dahan kayu yang dipegangnya itu kearah dub*r pria besar itu.


Jerit kesakitan terdengar dari mulut pria besar itu saat dahan kayu yang runcing itu melesat masuk tepat di dub*rnya. Merobek cela*anya dan terus masuk hingga merobek bagian belakang tubuhnya.


Darah nampak mengalir keluar dari dub*r pria besar itu saat Aldi menarik dan menusuknya berulang kali dengan dahan kayu yang dipegangnya.


" Berhenti Aldi...!!" jerit pria besar itu dengan lantang.


" Kenapa Bang. Apa kah sakit ?. Begini lah rasanya saat Aku harus melayani nafsu iblis Kau dan teman-teman g*lamu itu...," kata Aldi sambil terus menyiksa pria itu.


Jerit kesakitan dari mulut pria besar itu pun makin melemah. Kedua bola mata pria besar itu nampak mendelik ke atas seolah rasa sakit yang ia rasakan sudah mencapai puncaknya. Sesaat kemudian tubuh pria itu mengejang lalu diam tak bergerak. Pria besar itu tewas dalam kondisi mengenaskan.


Kemudian Aldi mengenakan pakaiannya dan bergegas pergi dari tempat itu.


Belum jauh melangkah Aldi kembali berpapasan dengan para pria yang merupakan teman segenk pria besar yang tadi melecehkannya itu. Aldi nampak menghela nafas panjang karena merasa sangat lelah.


" Hallo pria cantik...!" sapa salah satu pria di hadapan Aldi.


Aldi hanya melengos tanpa menjawab sapaan pria itu. Salah seorang diantara mereka maju lalu menyentuh wajah Aldi.


" Lo liat Bos ga...?" tanya pria itu.


" Mati...," sahut Aldi ketus hingga membingungkan para pria di hadapannya.

__ADS_1


" Siapa yang mati ?. Bos, Gue, atau Lo yang mati...?!" tanya pria di hadapan Aldi sambil mendorong tubuh Aldi.


" Bos Lo udah mati...!" sahut Aldi sambil tersenyum penuh makna.


" Jangan ngaco Lo ya !. Ngomong yang bener, dimana Bos...!" kata salah seorang pria di hadapan Aldi sambil menampar wajah Aldi.


" Tuh di sana, Gue baru aja membunuhnya...," sahut Aldi sambil menunjuk kearah pohon besar dimana ia meninggalkan jasad pria besar itu di sana.


Dua orang bergegas berlari menghampiri pohon besar itu. Sesaat kemudian terdengar jeritan tertahan dari keduanya dan itu membuat semua pria yang ada di hadapan Aldi terkejut lalu ikut mendatangi pohon besar itu.


" Bang*at, an*ing. Siapa yang ngelakuin ini. Sia*an. Tangkap dia...!" kata salah satu pria itu sambil menunjuk kearah Aldi yang berjalan tertatih-tatih di atas trotoar.


Sontak para pria itu berlari mengejar Aldi. Menyadari dirinya terancam, Aldi pun bermaksud menghindar dengan cara lari menyebrang jalan. Namun di saat bersamaan sebuah truk pengangkut pasir lewat dan menabrak Aldi dengan keras.


Tubuh Aldi melayang lalu jatuh terhempas ke atas jalan beraspal dan tewas seketika. Arwah Aldi nampak melayang menyaksikan jasadnya terkapar penuh luka. Sedangkan di atas trotoar terlihat para pria yang mengejarnya mematung sejenak. Detik berikutnya mereka membalikkan tubuh kearah lain lalu pergi entah kemana.


Melihat tak seorang pun mendatangi lokasi kecelakaan, supir truk pengangkut pasir dan seorang temannya turun dari atas truk. Kemudian mereka memindahkan jasad Aldi ke semak-semak di pinggir trotoar.


" Gapapa nih Bang. Apa ga sebaiknya Kita telephon Rumah Sakit biar ngirim Ambulans ke sini...?" tanya pria teman sang supir.


" Ga perlu. Lo liat preman-preman itu kan ?. Kayanya orang ini adalah target mereka. Gue yakin orang ini udah dipukulin sebelumnya. Dia lari terus ga sengaja ketabrak sama Kita..." sahut sang supir truk.


" Iya juga...," kata teman sang supir truk.


" Makanya Kita ga usah ikut campur. Lebih baik Kita cabut dari sini sekarang...," ajak supir truk itu yang diangguki temannya.


Setelahnya memastikan jasad Aldi diletakkan dengan benar, mereka langsung meninggalkan tempat itu. Sang supir truk melajukan kendaraannya dan meninggalkan jasad Aldi begitu saja di pinggir trotoar.


Arwah Aldi nampak melayang sejenak di atas jasadnya. Ia juga menatap kepergian truk yang tadi menabraknya dengan tatapan hampa. Setelahnya arwah Aldi melesat pergi untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2