
Detik-detik berlalu begitu saja. Sedangkan Aruna masih berjibaku dengan rasa sakit dalam upayanya melahirkan sang bayi.
" Jika masih seperti ini dua menit ke depan, Kita harus segera ambil tindakan ya Pak...," kata dokter Fitria sambil menatap Kautsar.
" Iya dok. Saya percaya dojter akan melakukan yang terbaik untuk membantu menyelamatkan Istri dan Anak-anak Saya...," sahut Kautsar mantap.
Dokter Fitria tersenyum mendengar jawaban Kautsar. Ia merasa senang karena Kautsar mempercayai keputusannya.
Dan waktu yang ditentukan pun terlewat begitu saja. Dengan terpaksa Aruna harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan kedua bayinya.
Setelah penantian yang mendebarkan akhirnya kedua bayi bisa lahir dengan selamat ke dunia. Kautsar nampak menitikkan air mata saat melihat kedua bayinya bergerak sambil menangis.
" Kembar sepasang Pak. Selamat ya...," kata dokter Fitria saat bayi kedua berhasil dikeluarkan.
" Alhamdulillah..., makasih dok. Sayang, Kamu denger kan apa kata dokter. Bayi Kita laki-laki dan perempuan lho...," kata Kautsar sambil mencium pipi Aruna yang basah dengan air mata.
" Alhamdulillah, Iya Aku denger..., " sahut Aruna lirih.
Kedua bayi pun dibersihkan lalu diberikan kepada Kautsar untuk diadzani dan diiqomati. Setelahnya kedua bayi diletakkan di dada Aruna untuk disusui.
Aruna pun tak kuasa menahan tangis melihat kedua bayinya menyusu dengan lahap. Ia juga tak henti bersyukur saat menyaksikan kedua bayinya sehat dan lengkap.
" Alhamdulillah, terima kasih ya Allah...," gumam Aruna berkali-kali.
Setelah proses inisiasi menyusu dini selesai, kedua bayi dan ibunya dipindahkan ke ruang rawat inap.
\=\=\=\=\=
Kedua bayi Aruna diletakkan di box bayi yang berbeda. Orion, George dan Matilda nampak berdiri sambil memandangi kedua bayi tersebut dengan tatapan kagum.
" Mereka terlihat istimewa, bukan begitu Sayang...?" tanya Matilda.
" Iya Sayang. Mereka juga terlihat berbeda dari bayi kebanyakan...," sahut George.
" Tentu saja Om. Kan ada darah klan Kita mengalir di dalam tubuhnya...," kata Orion dengan bangga hingga membuat Matilda dan George ikut tersenyum.
" Apa Kalian sudah menyiapkan nama untuk si kembar...?" tanya Matilda sambil menatap Aruna dan Kautsar bergantian.
__ADS_1
" Sudah Tante...," sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.
" Oh ya, siapa namanya...?" tanya Matilda penasaran.
" Muhammad Khaizuran yang artinya raja atau pemimpin untuk anak lelaki ku. Dan Kanaya Safira yang artinya jalan hidup yang damai, tentram dan mulia untuk anak perempuanku...," sahut Kautsar sambil menatap kedua bayinya dengan tatapan sayang.
Orion, Matilda dan George tampak bahagia mendengar nama indah yang disematkan Kautsar untuk si kembar.
" Kenapa harus memiliki arti raja. Kamu ga berniat menyuruh anakmu untuk menggantikan posisi Ayahku kan Nak...?" tanya Orion sambil menyipitkan matanya.
Ucapan Orion mengejutkan Kautsar namun membuat George, Matilda dan Aruna tertawa. Sesaat kemudian tawa mereka terhenti saat Kautsar menjelaskan alasannya memilih nama itu untuk bayi laki-lakinya.
" Justru Aku terinsipirasi dari sana Yah. Kakek Arnold adalah raja. Ayah pun calon raja. Kalo akhirnya Khaizuran menjadi raja, itu adalah takdir. Tapi Aku ga berpikir sejauh itu. Aku hanya berharap Khaizuran bisa menjadi raja untuk keluarganya. Semoga dia bisa memimpin keluarganya kearah yang baik dan diridhoi Allah. Apalagi dia adalah anak pertama di keluarga kecil Kami...," sahut Kautsar sambil membelai kepala bayinya dengan lembut.
" Dan Kanaya hadir untuk mengingatkan Kakaknya jika salah jalan. Dia akan menuntun Khaizuran kembali ke jalan yang diridhoi Allah, yaitu jalan yang damai dan tentram tanpa huru hara. Kami mau mereka hidup saling melengkapi dan saling bergantung satu sama lain supaya ga ada yang bisa memecah belah keluarga Kita kelak...," kata Aruna menambahkan.
Ucapan Kautsar dan Aruna membuat Orion, Matilda dan George terharu. Kini mereka yakin jika Aruna dan Kautsar telah siap menjadi orangtua untuk bayi kembar mereka.
Tiba-tiba ponsel Aruna berdering. Ada nama Kakak di layar ponselnya dan Aruna tahu siapa yang menghubunginya saat itu.
" Siapa...?" tanya Matilda.
" Kenapa dia menelepon jam segini. Apa dia lupa kalo sedang honey moon...," kata Matilda bingung.
" Keliatannya Kakak tau kalo Aku sudah melahirkan Tante. Pasti dokter Fitria yang ngasih tau...," sahut Aruna sambil mengaktifkan tombol speaker.
" Assalamualaikum Aruna. Kamu udah melahirkan ya...?!" tanya Sheina dari seberang sana.
" Wa alaikumsalam, iya Kak. Rupanya Anak-anakku ga sabar mau ketemu sama keluarganya...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Tapi harusnya Aku yang mereka liat pertama kali Aruna. Kan selama ini Aku yang rutin ngecek kondisi mereka...," kata Sheina kesal.
" Aku minta maaf Kak. Tapi ini bukan mauku...," sahut Aruna sambil tertawa.
" Baik lah, Aku mengalah kali ini...," kata Sheina.
" Aku akan kirimkan foto mereka nanti. Sekarang sebaiknya Kakak menemani Suami Kakak supaya dia ga kabur karena merasa diabaikan...," kata Aruna.
__ADS_1
" Arunaaa...!" panggil Sheina lantang namun membuat Aruna dan semua orang yang mendengarnya tertawa.
Akibat suara tawa yang menggema di ruangan itu menyebabkan kedua bayi yang terlelap itu terusik dan mulai menangis. Matilda dan Kautsar pun sigap menggendong mereka.
" Sudah dulu Kak. Anakku nangis nih gara-gara jeritan Kakak...," kata Aruna di akhir kalimatnya dan itu berhasil membuat Sheina tertawa puas.
\=\=\=\=\=
Rasyid dan Sheina kembali ke Malang usai berbulan madu. Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya Rasyid mengalah. Ia bersedia tinggal di rumah sang istri, sedangkan rumah miliknya akan disewakan kepada orang lain.
" Alasan utamanya kan karena jalan menuju rumah Rasyid ga bisa dilewatin mobil. Makanya dia ngalah dan tinggal di rumahku...," kata Sheina saat Matilda menanyakan tempat tinggalnya sekarang.
" Rasyid pasti sangat mencintai Kamu hingga mau berkorban begitu banyak untukmu Shei...," kata Matilda.
" Iya Sist, Aku rasa juga begitu. Dia rela mengorbankan harga dirinya sebagai laki-laki hanya untuk membuatku nyaman. Karena itu Aku jadi tambah sayang sama dia...," sahut Sheina dengan wajah berbinar bahagia.
Kemudian Matilda menyentuh lengan Sheina dan bertanya satu hal.
" Malam itu apa Kamu berubah Shei ?. Bukan kah itu saatnya bulan purnama..., " kata Matilda dengan suara lirih.
Sheina mematung sejenak. Ia teringat saat dirinya melewatkan malam bulan madunya dengan sulit. Sheina ingat tak lama setelah dia berhasil mengusir Rasyid keluar kamar, wujudnya pun berubah.
Kemudian Sheina melesat pergi untuk melepaskan emosinya dan berhasil. Walau butuh waktu lumayan lama untuk mengendalikan hasrat liarnya, toh Sheina kembali ke hotel dalam kondisi bersih.
" Jadi Kamu berhasil mengendalikan rasa haus dan lapar yang menyiksa itu Shei...?" tanya Matilda.
" Iya Sist. Butuh waktu lumayan lama, tapi gapapa. Yang penting Aku ga menjadi manusia serigala yang buas lagi kan...," kata Sheina bangga.
" Kemana Kamu pergi malam itu Shei...?" tanya Matilda.
" Karena hotel tempatku menginap letaknya ga jauh dari pantai, Aku pun lari ke sana. Kebetulan saat itu pantai sepi karena air laut sedang pasang. Mungkin warga khawatir terseret ombak jika berada di pantai...," sahut Sheina sambil tersenyum simpul.
" Terus...?" tanya Matilda.
" Aku berdiri di atas batu karang lalu menjerit sepuasku sambil menghadang ombak. Setelah beberapa kali menjerit Aku merasa perasaanku jauh lebih baik. Tekanan yang ada dalam diriku berangsur lenyap dan hilang sama sekali. Aku juga melihat diriku mulai kembali ke wujud asliku sebagai manusia. Sebelum wujud manusiaku kembali sempurna, Aku buru-buru balik ke hotel. Pas sampe di hotel Aku liat Rasyid sedang kebingungan mencariku...," kata Sheina.
" Apa Rasyid tau semuanya...?" tanya Matilda.
__ADS_1
Sheina menggelengkan kepalanya dan itu membuat Matilda gusar. Matilda sadar tak bisa memaksa Sheina jujur pada suaminya. Namun Matilda juga khawatir dengan reaksi Rasyid jika ia melihat wujud lain Sheina sebagai manusia serigala kelak.
bersambung