
Lamunan Rama buyar saat menyadari rumah sang majikan saat itu terasa lebih lengang dari biasanya. Bukan hanya karena ketiadaan anak dan istri sang majikan, tapi juga karena ada sesuatu yang membuat Rama sedikit bergidik.
Suasana mencekam tiba-tiba menyapa dan itu membuat Rama tak nyaman. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru halaman seolah mencoba mencari sesuatu.
" Aneh, kok sepi banget ya. Tapi sepinya kaya gimana gitu. Sepi mencekam, malah cenderung angker. Mana gelap banget lagi. Ga ada angin, gerah tapi dingin. Rasanya gimana sih, sampe bingung Gue...," gerutu Rama lalu bergeser menjauh dari pintu pagar.
Saat Rama bermaksud duduk di dekat jendela, sekilas ia melihat gerombolan lintah di dinding bawah jendela.
" Tumben banyak banget lintah. Kalo Bu Puri di sini pasti udah koit nih lintah. Dia mana mungkin biarin sesuatu yang berbahaya ada di sekitar anak-anaknya. Apalagi di sini kan tempat favoritnya anak-anak...," gumam Rama sambil menggedikkan bahunya lalu mencari tempat lain untuk duduk.
Rama menemukan tempat yang nyaman dan bermaksud duduk di sana. Namun Rama mengurungkan niatnya saat melihat sebuah bayangan hitam melintas di dalam rumah sang majikan. Bayangan itu terlihat jelas karena rumah dalam kondisi terang benderang.
" Eh siapa tuh ?. Kok malam-malam gini berkeliaran di dalam rumah. Ga mungkin Bi Ijah kan...," gumam Rama sambil mengamati bayangan hitam yang melesat cepat menuju ruangan tengah.
Merasa ikut bertanggung jawab dengan keamanan rumah sang majikan, Rama pun bergegas masuk ke dalam rumah Edi melalui pintu samping. Sebelum masuk Rama sempat mengambil pipa besi yang bertengger di belakang pintu untuk pegangan jika diperlukan.
Memasuki ruangan tengah lagi-lagi Rama dibuat terkejut karena melihat banyak lintah yang melata di lantai dan sebagian menempel di perabotan rumah tangga milik Edi. Jumlahnya sangat banyak hingga membuat Rama jijik. Rama pun mengurungkan niatnya mengejar bayangan hitam yang diyakininya sebagai pencuri itu.
" Banyak lintah, kalo pencuri itu lewat pasti lintah-lintah itu bakal nempel di badannya terus menghisap darahnya. Kalo satu mungkin ga sakit, tapi kalo banyak pasti bikin panik. Mendingan Gue tunggu di sini aja deh...," gumam Rama lalu duduk menunggu di teras rumah.
Saat itu Rama tak berpikir apa pun atau berprasangka buruk pada penghuni rumah. Ia merasa kehadiran lintah dalam jumlah banyak itu adalah hal yang wajar karena bagian dalam rumah Edi memang tak banyak terpapar cahaya matahari.
Karena lelah menunggu Rama pun tertidur dalam posisi duduk hingga menjelang fajar. Rama membuka mata saat mendengar suara orang membaca Al Qur'an dari pengeras suara yang ada di musholla di lingkungan tempat tinggal Edi.
Tak lama kemudian adzan Subuh pun berkumandang. Rama bergegas bangkit lalu berjalan menuju musholla. Di jalan ia berpapasan dengan beberapa orang yang juga punya tujuan yang sama.
Setelah menunaikan sholat Subuh berjamaah di musholla, Rama pun kembali ke rumah Edi. Saat itu bersamaan dengan bi Ijah yang datang dan sedang membuka pintu pagar.
Bi Ijah adalah asisten rumah tangga yang bekerja paruh waktu di rumah Edi. Ia bekerja mulai jam lima pagi hingga jam lima sore. Tugas utama bi Ijah adalah memasak dan mencuci pakaian. Sisanya akan dikerjakan secara acak oleh Rama dan karyawan lain.
__ADS_1
" Assalamualaikum Bi Ijah...," sapa Rama.
" Wa alaikumsalam, eh Mas Rama...," sahut bi Ijah sambil tersenyum.
" Kenapa ga langsung masuk Bi, tumben...?" tanya Rama karena melihat bi Ijah yang masih berdiri di depan pintu pagar.
" Ga tau Mas. Saya takut mau masuk ke dalam, kaya ada sesuatu yang ga beres..., " sahut bi Ijah.
" Sesuatu yang ga beres tuh apaan Bi...?" tanya Rama tak mengerti.
" Saya juga bingung Mas. Cuma pas mau masuk Saya kok mendadak merinding ya. Kayanya ada hantu deh di sekitar sini...," sahut bi Ijah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gelisah.
" Ck, apaan sih Bi Ijah ini. Ga ada apa-apa kok. Saya semalaman duduk di teras tapi ga nemu apa-apa..., " kata Rama sambil membuka pintu pagar.
" Ngapain Mas Rama duduk di teras...?" tanya bi Ijah.
" Lho, kenapa emangnya...?" tanya bi Ijah tak mengerti.
" Soalnya di dalam rumah banyak lintah Bi. Banyak banget sampe Saya jijik. Makanya daripada Saya jadi korban lintah-lintah itu, lebih baik Saya nunggu di luar aja. Ntar kalo malingnya keluar kan tinggal Saya tangkep dan serahin sama security...," sahut Rama.
" Lintah apaan Mas Rama. Saya sering bersihin rumah lho ya. Masa bisa ada lintah. Saya juga rajin semprotin ruangan pake pembasmi serangga, jadi mana mungkin ada lintah di sana...," kata bi Ijah.
" Tapi emang gitu kenyataannya Bi. Masa Saya bohong. Buat apa Saya ngarang cerita, kan ga ada untungnya buat Saya...," sahut Rama.
" Iya juga sih. Terus Bapak tau ga kalo ada lintah di dalam rumah...?" tanya bi Ijah.
" Untungnya sih ga tau. Bapak ga keluar kamar dari Maghrib sampe sekarang. Mungkin capek dan ketiduran di kamar...," sahut Rama.
" Terus Ibu sama Anak-anak gimana...?" tanya bi Ijah.
__ADS_1
" Ibu sama anak-anak pergi keluar kota...," sahut Rama cepat.
" Kok aneh, biasanya Bapak ga ngasih ijin Ibu keluar...," kata bi Ijah.
" Ya mana Ku tau Bi. Mungkin lagi khilaf...," sahut Rama asal.
" Keluar kotanya kemana Mas Rama...?" tanya bi Ijah lagi.
" Ga tau Bi. Saya cuma boleh nganter sampe depan terminal. Setelah itu Ibu dan Anak-anak masuk sendiri ke dalam terminal...," sahut Rama.
Rama dan Bi Ijah pun masuk ke dalam pekarangan rumah. Langit mulai benderang karena matahari mulai terbit. Bi Ijah pun bergegas masuk melalui pintu samping lalu menuju ke dapur.
Namun sesaat kemudian terdengar jeritan bi Ijah. Rama yang sedang mematikan lampu teras pun terkejut dan langsung mendatangi bi Ijah.
" Ada apa Bi Ijah...?!" tanya Rama lantang.
" A... ada lin... tah Mas. Itu di sana...," sahut bi Ijah dengan suara bergetar sambil telunjuknya mengarah ke meja kompor.
Rama nampak membelalakkan matanya melihat banyak lintah yang bertebaran di dapur. Tidak hanya di meja kompor tapi juga di dinding dapur dan semua perabotan yang ada di dapur. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan saking banyaknya.
Lintah berwarna hitam dan basah itu tampak bergerak menggeliat seolah sedang mencari mangsa. Bi Ijah nampak bergidik jijik menyaksikan lintah yang keberadaan dan jumlahnya tak lazim itu.
" Ini sama persis kaya yang Saya liat semalam di ruang tengah Bi...," kata Rama.
" Saya jijik ngeliat binatang melata kaya gitu Mas. Apalagi lintah itu kan menghisap darah. Kayanya Saya ga jadi masak deh. Gapapa dimarahin sama Bapak daripada Saya digigit sama lintah...," kata bi Ijah sambil berlari keluar rumah.
Rama nampak mengerutkan keningnya sebentar seolah sedang berpikir bagaimana cara mengatasi lintah-lintah itu. Sesaat kemudian terlihat Rama mengambil cairan pembasmi serangga yang ada di belakang pintu lalu menyemprotkannya kearah ratusan lintah yang menggerombol di dapur. Bi Ijah hanya bisa menyaksikan aksi Rama dari luar karena tak berani mendekat.
\=\=\=\=\=
__ADS_1