Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
126. Tendangan Kautsar


__ADS_3

Saat melihat jasad Aldi menyerang Aruna, Kautsar terlihat cemas. Ia ingin membantu Aruna namun ia teringat kalimat yang diucapkan George tadi.


Kautsar pun menoleh kearah George dan Matilda untuk minta persetujuan keduanya. Namun sayangnya George menggelengkan kepalanya.


" Jangan sekarang. Liat aja dulu...," kata George.


Kautsar pun mengangguk meski sejuta rasa tak rela menghinggapi hatinya. Ia tak rela jika istrinya disentuh oleh jasad Aldi yang mulai membusuk itu apalagi jika sampai Aruna terluka.


Di depan sana Aruna dan jasad Aldi terlihat mulai saling serang. Kalimat-kalimat yang diucapkan arwah pria besar yang menghuni jasad Aldi terdengar menjijikkan di telinga Aruna dan itu sempat membuat emosinya terpancing.


" Aku memang ga suka perempuan. Buatku mereka itu bod*h, t*lol dan merepotkan. Tapi melihatmu Aku berubah pikiran...," kata arwah pria besar itu.


" Aku ga heran kalo Kau punya pikiran kotor kaya gitu. Karena hidupmu kan dihabiskan untuk melakukan hal yang kotor dan akhir hidupmu pun dalam keadaan kotor...," sahut Aruna sambil tersenyum mengejek.


Ucapan Aruna membuat arwah pria besar itu tertawa.


" Sungguh menarik. Aku jadi penasaran, apakah rasamu sama nikmatnya dengan laki-laki yang pernah Aku cicipi...," kata arwah pria besar itu sambil menjilati bibirnya.


Aruna meradang seketika dan bersiap menyerang jasad Aldi. Jika sebelumnya Aruna selalu menjaga jarak aman agar tak bersentuhan dengan jasad Aldi, namun ucapan terakhirnya membuat Aruna kesal.


Arwah pria besar dalam tubuh Aldi pun merasa senang karena mengira Aruna masuk dalam jebakannya. Ia sengaja menanti serangan Aruna dengan kedua tangan direntangkan tanpa melakukan apa pun seolah siap menyambut tubuh Aruna. Tapi nampaknya dia lupa jika saat itu Aruna tak sendiri. Ada Kautsar yang mengawasi dan siap mendukungnya.


Tiba-tiba Kautsar melesat masuk ke dalam arena pertempuran. Ia mendahului Aruna menyerang jasad Aldi. Satu tendangan yang mematikan pun dilancarkan dan tepat mengenai jasad Aldi yang nampak tak siaga itu.


Jasad Aldi pun terpental beberapa meter ke belakang saking kerasnya tendangan Kautsar tadi. Aruna terpaku melihat jasad Aldi terkapar tak bergerak.


" Sayang, apa yang Kamu lakukan...?!" tanya Aruna sambil menyentuh lengan Kautsar.


" Aku ga suka mendengar kalimat yang dia ucapkan tadi Sayang. Itu melecehkan Kamu dan bikin Aku marah...," sahut Kautsar sambil melirik kearah Aruna.


" Tapi...," ucapan Aruna terputus.


" Maaf kalo terkesan gegabah. Tapi Aku ga rela tubuh busuknya itu 'menyentuh' Kamu Aruna...!" kata Kautsar tegas.


Aruna tersentak sesaat lalu tersenyum. Ia meraih jemari Kautsar lalu menggenggamnya erat.


" Makasih Sayang..., " bisik Aruna dan itu membuat kemarahan yang sempat menguasai Kautsar tadi menguap entah kemana.

__ADS_1


Kautsar mengangguk sambil tersenyum namun tak melepaskan tatapannya dari jasad Aldi.


Tak lama kemudian jasad Aldi nampak bergerak lalu berdiri. Sedikit mengejutkan karena akibat tendangan Kautsar tadi menyebabkan tulang dada Aldi melesak ke dalam hingga membentuk rongga sebesar telapak kaki di bagian dada.


Kautsar dan Aruna nampak saling menatap seolah tak percaya jika jasad Aldi nampak baik-baik saja dengan luka separah itu.


" Dia kan bukan manusia, jadi wajar kalo ga ngerasa sakit sama sekali...," kata Kautsar seolah menjawab rasa penasaran di benak istrinya.


" Iya. Kalo manusia biasa pasti pingsan dan ga mungkin bisa bergerak bebas karena itu pasti rasanya sakit banget...," sahut Aruna sambil meringis.


" Apa bisa diselesaikan secepatnya Sayang ?. Aku ga tahan ngeliat Kamu berlama-lama berinteraksi sama dia...," kata Kautsar dengan nada cemburu.


" Insya Allah bisa...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Aku bakal stay di sini dan Kamu ga boleh ngusir Aku. Paham kan...?!" tanya Kautsar tegas.


" Iya iya...," sahut Aruna sambil mulai fokus menghadapi arwah pria besar itu.


Di depan sana jasad Aldi nampak melangkah cepat mendekati Aruna dengan sedikit bungkuk karena tulang dadanya remuk. Aruna pun menyambutnya dengan bubuk halus berwarna putih yang telah ia siapkan sebelumnya.


Saat bubuk halus itu mengenai jasad Aldi, jeritan kesakitan pun terdengar membahana di tanah lapang itu. Jasad Aldi nampak bergetar hebat dengan kulit yang meletup-letup. Sesaat kemudian bayangan hitam nampak melesat keluar dari rongga mata, hidung, mulut dan telinga. Setelahnya jasad Aldi ambruk ke tanah.


Aruna menyeringai puas saat melihat arwah pria besar yang menghuni jasad Aldi itu berhasil ia keluarkan. Sedangkan arwah pria besar itu nampak marah dan mulai menyerang Aruna.


Kautsar berdecak kesal melihat bayangan hitam itu mendatangi Aruna. Namun ia menghela nafas lega saat melihat Aruna berhasil melumpuhkan bayangan hitam yang tak lain adalah arwah pria besar penghuni jasad Aldi itu.


" Sekarang pergi lah...!" kata Aruna sambil membuka telapak tangannya di atas kepala.


Bayangan hitam yang tak lagi utuh itu pun berhamburan keluar dari telapak tangan Aruna dan melesat pergi ke berbagai arah. Suara jeritan terus menggema di udara hingga semua serpihan bayangan hitam itu menghilang entah kemana.


" Alhamdulillah...," gumam Aruna sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Apa ini artinya udah selesai Sayang...?" tanya Kautsar hati-hati.


" Insya Allah untuk arwah jahat itu selesai. Tapi Aku bingung kemana mencari arwah Aldi yang tersesat itu...," sahut Aruna.


" Apa itu harus...?" tanya Kautsar.

__ADS_1


" Bukan harus. Tapi Aku merasa bertanggung jawab dan harus bisa mengantarnya pergi. Kenapa, Kamu ga suka Aku membantunya...?" tanya Aruna.


" Gapapa. Aku cuma pengen tau aja...," sahut Kautsar salah tingkah hingga membuat Aruna tersenyum.


" Aku mau membantu Aldi sampe tuntas. Arwahnya pasti sedang berkeliaran menuntut balas. Kalo semua dendamnya udah terbalas, tapi dia ga bisa menemukan jalan pulang kan kasian. Dia bisa kebablasan dan sembarangan melampiaskan dendam ke semua orang yang bahkan ga pernah mengenalnya...," kata Aruna sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Kautsar.


Kautsar pun balas memeluk pinggang Aruna sambil mengatakan sesuatu.


" Ok, Aku ngerti. Tapi tolong libatkan Aku dalam setiap tindakan Kamu ya. Walau menurutmu ga bahaya, tapi tolong jangan abaikan Aku...," pinta Kautsar sambil menatap Aruna dengan lembut.


" Ok...," sahut Aruna cepat dan itu membuat Kautsar tersenyum lalu mendaratkan ciuman di bibir Aruna.


Di sisi lain terlihat George dan Matilda yang berdiri sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua sejoli di hadapannya itu.


" Ck, Aku yakin Kautsar ga bakal sabaran. Tapi ngeliatnya menyela serangan Aruna tadi bikin Aku pengen ketawa..., " kata George sambil tertawa kecil.


" Tapi Aku salut sama Kautsar. Dia berani melanggar larangan Kamu karena ga rela Aruna disentuh oleh mayat hidup itu...," sahut Matilda.


" Eh, maksud Kamu apa nih. Aku juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama andai Kita dalam posisi seperti mereka..., " kata George tak mau kalah.


" Masa sih...," sahut Matilda sambil beranjak menjauhi suaminya itu.


Menyadari istrinya sedang merajuk, George pun tersenyum lalu mengejar Matilda.


" Aku serius Sayang...," kata George sambil menarik jemari Matilda.


" Tapi seinget Aku, Kamu diem aja waktu mereka menyerang Aku. Padahal mereka keroyokan dan ga cuma satu George..., " sahut Matilda.


" Itu karena Aku juga sibuk menangkis serangan mereka. Lagi pula Aku yakin kalo Istri cantikku ini pasti bisa mengalahkan musuh yang jumlahnya ratusan itu sendirian...," kata George sambil mencuri ciuman ringan di bibir Matilda.


" George hentikan. Apa Kamu ga malu kalo Aruna dan Kautsar melihat Kamu kaya gitu...?!" kata Matilda sambil membulatkan kedua matanya.


" Ga tuh. Kan mereka duluan yang mulai...," sahut George santai sambil tersenyum penuh makna.


Matilda melengos mendengar ucapan suaminya. Namun diam-diam Matilda tersenyum sambil menggelengkan kepala.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2