Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
219. Tamu


__ADS_3

Di lapangan sepak bola Kautsar terlihat sama gelisahnya dengan Aruna. Beberapa kali ia membuat kesalahan yang membuat teamnya kalah. Hingga seorang teman bernama Ali menegurnya.


" Lo kenapa sih Tsar, dari tadi Lo ga fokus tau ga...?!" tanya Ali gusar.


" Sorry Li. Gue cuma ngerasa ga enak badan aja...," sahut Kautsar asal namun cukup mengejutkan Ali.


" Ga enak badan, bukannya tadi Lo bilang lagi fit dan pengen main sampe malam...?" tanya Ali tak mengerti.


" Iya sih. Tapi itu tadi Li. Kalo sekarang Gue malah pengen pulang nih. Gue keingetan terus sama Istri Gue di rumah. Dia kan lagi mabok dan ga bisa diajak kemana-mana. Makanya tadi dia minta ditinggal aja di rumah. Tapi kalo tau kaya gini rasanya, mendingan Gue ga usah jalan aja tadi...," sahut Kautsar lalu meneguk air dalam botol dengan cepat.


" Aruna mabok, emangnya Istri Lo lagi hamil Tsar...?" tanya Ali.


" Iya Li. Udah jalan tiga bulan...," sahut Kautsar sambil tersenyum.


" Wah selamat ya Bro. Belom dua tahun nikah udah mau punya baby aja...," kata Ali antusias sambil menepuk punggung Kautsar beberapa kali.


" Alhamdulillah. Ini juga di luar prediksi Li. Lo tau kan Aruna itu masih belum lulus kuliah. Jadi Gue sama dia ngerencanain kehamilan setelah Aruna diwisuda. Ga taunya Allah berkehendak lain. Pas Aruna sibuk magang malah Kita dikasih baby...," kata Kautsar sambil tertawa.


" Wah pasti Aruna shock banget ya Tsar. Kan Istri Lo orangnya aktif ga bisa diem...," sahut Ali sambil membayangkan wajah shock Aruna.


Kautsar pun tertawa mengingat betapa gigihya Aruna menyangkal kehamilannya yang jelas-jelas sudah dicurigai banyak orang.


" Jadi gapapa kan kalo Gue balik sekarang Li...?" tanya Kautsar.


" Iya gapapa. Abis Gue juga ga tega nahan Lo yang udah jelas pikirannya ketinggalan di Rumah...," sahut Ali sambil cemberut.


Ucapan Ali membuat Kautsar kembali tertawa. Setelah bersalaman dengan seluruh anggota teamnya, Kautsar pun langsung melangkah cepat keluar lapangan.


Tak lama kemudian Kautsar terlihat melajukan motornya di jalan raya dengan kecepatan tinggi.


\=\=\=\=\=


Kautsar tiba di rumah saat hari menjelang Maghrib. Saat itu ia melihat Aruna sedang berdiri di dekat jendela kamar sambil menatap kosong kearah luar.


Melihat hal itu membuat Kautsar khawatir. Ia berlari cepat ke dalam rumah yang memang tak dikunci itu.


" Assalamualaikum...! " sapa Kautsar sambil membuka pintu dengan kasar.


" Wa alaikumsalam, ya Allah Sayang. Pelan-pelan dong buka pintunya. Ngagetin aja sih...," kata Aruna sambil meraba dadanya untuk menetralkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


" Lho Kamu di sini Sayang...?" tanya Kautsar.


" lya. Emangnya maunya Kamu Aku ada dimana...?" tanya Aruna sambil menghampiri Kautsar lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


" Tapi barusan Aku ngeliat Kamu lagi duduk di dekat jendela kamar Kita lho Sayang...," kata Kautsar dengan wajah bingung.


" Kamu yakin itu Aku...?" tanya Aruna hati-hati.

__ADS_1


" Yakin seratus persen. Emangnya itu bukan Kamu ya...?" tanya Kautsar seolah baru saja tersadar.


Aruna hanya menggedikkan bahunya karena bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba Aruna teringat jika baru saja bermimpi bertemu wanita cantik misterius yang menanyakan keberadaan bayinya. Aruna ingin menceritakan semuanya namun di saat bersamaan terdengar adzan Maghrib berkumandang dari pengeras suara masjid. Aruna pun mengurungkan niatnya dan bergegas menyiapkan perlengkapan sholat untuk Kautsar.


" Aku mandi dulu Yang, gerah banget rasanya...," kata Kautsar.


" Jangan mandi pas adzan Maghrib gini Sayang. Ga baik...!" kata Aruna mengingatkan.


" Terus gimana dong, badanku lengket banget nih...?" tanya Kautsar.


" Sebaiknya Kamu sholat Maghrib berjamaah dulu kaya biasanya. Ntar pulang dari masjid Kamu bisa mandi deh. Selain sholat berjamaah ga telat, sambil jalan ke masjid kan sekalian bisa ngeringin keringet juga...?" tanya Aruna.


" Pinter banget Istriku ini. Ok deh, Aku ikutin saran Kamu ya...," kata Kautsar sambil memijit ujung hidung Aruna dengan gemas.


Aruna nampak tersenyum simpul mendengar pujian suaminya. Sesaat kemudian Kautsar bergegas melangkah ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan berwudhu.


\=\=\=\=\=


Kautsar nampak sangat terkejut saat Aruna menceritakan mimpinya. Kautsar khawatir jika mimpi Aruna adalah pertanda buruk untuk kehidupan rumah tangga mereka.


" Wanita cantik tapi misterius...?" tanya Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Apa Kamu pernah ketemu sama dia Sayang...?" tanya Kautsar.


" Aku khawatir bakal terjadi sesuatu yang buruk sama Kamu dan bayi Kita Sayang...," kata Kautsar sambil menyentuh perut Aruna dengan lembut.


" Semoga ini bukan apa-apa ya...," kata Aruna sambil menatap Kautsar.


" Apa ga sebaiknya Kamu tanyain sama Om George dan Tante Matilda Sayang...?" tanya Kautsar.


Belum sempat Aruna menjawab permintaan Kautsar, tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah disusul ketukan di pintu. Untuk sejenak Aruna dan Kautsar saling menatap.


" Ada tamu ya ?, tapi kok selarut ini...?" tanya Aruna.


" Biar Aku aja yang buka pintu. Kamu tunggu di sini...," kata Kautsar sambil mengecup kening Aruna.


" Hati-hati Sayang...," kata Aruna yang diangguki Kautsar.


Kautsar tampak mengintip dari balik gorden jendela lalu ia pun tersenyum. Setelahnya ia bergegas membuka pintu.


" Assalamualaikum...!" kata tamu yang datang dengan suara lantang.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Kautsar dengan wajah berbinar.


Mendengar suara yang dikenalnya membuat Aruna tersenyum senang lalu bangkit menghampiri tamunya.

__ADS_1


" Mama, Ibu...!" panggil Aruna.


Diana dan Hardini menoleh lalu sama-sama tersenyum. Diana lebih dulu menghambur memeluk Aruna sedangkan Hardini nampak menunggu dengan sabar.


" Mama kok ga ngasih tau kalo mau ke sini sih...?" tanya Aruna.


" Surprise dong. Iya kan Bu...," kata Diana sambil menoleh kearah Hardini.


" Betul, bagaimana kabar Cucu Ibu...?" tanya Hardini saat Aruna memeluknya.


" Kok cuma Cucu Ibu yang ditanyain. Kabar Aku ga ditanyain...?" protes Aruna hingga membuat semua orang tertawa.


" Ibu udah liat kondisi Kamu dan Kautsar baik-baik aja. Makanya Ibu tanyain yang ada di dalam perut dong, kan dia belum keliatan...," kata Hardini tak mau kalah.


" Alhamdulillah sehat Bu. Cuma lagi susah makan karena mual tiap kali makan...," sahut Kautsar menengahi.


" Oh itu wajar di awal kehamilan. Tapi dikasih obat pereda mual juga kan sama dokter...?" tanya Hardini.


" Iya Bu. Aruna rajin kok minum obatnya...," sahut Kautsar bangga sambil merengkuh pundak Aruna dengan sayang.


" Bagus kalo gitu...," kata Hardini sambil mengusap lembut pipi Aruna.


" Ibu sama Mama datang berdua aja...?" tanya Aruna.


" Kami berempat Nak. Papa sama Ayahmu lagi ngobrol di luar sama Pak Suryo yang punya kost-kostan itu lho...," sahut Diana.


" Kok tumben Pak Suryo mau ngobrol sama orang. Biasanya dia paling anti ngobrol sama orang lho Ma. Apalagi orang asing kaya Papa sama Ayah...," kata Aruna.


" Masa sih...?" tanya Diana.


" Iya Ma...," sahut Aruna cepat.


" Itu karena aura Papa sama Ayah kan positif jadi membuat Pak Suryo nyaman Sayang...," kata Kautsar.


" Maksud Kamu Pak Suryo itu selalu berprasangka buruk sama orang Nak...?" tanya Hardini tak mengerti.


" Kurang lebih sih gitu Bu. Sejak kejadian meninggalnya salah satu penghuni kamar kost, Pak Suryo jadi tertutup dan jarang ngobrol sama tetangga...," sahut Kautsar.


" Oh cewek cantik yang katanya primadona kampus itu ya...?" tanya Hardini yang diangguki Kautsar.


" Kamu kok ga pernah cerita sama Aku kalo pernah ada yang meninggal di sana...?" tanya Aruna.


" Oh itu. Kejadiannya sebelum Kita nikah Sayang. Aku pikir bukan hal penting makanya Aku ga cerita sama Kamu...," sahut Kautsar.


Aruna terdiam sesaat. Detik berikutnya ia nampak tersenyum melihat kehadiran Arka dan Ahmad di ambang pintu rumah.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2