
Kautsar tengah duduk bersandar di atas tempat tidur sambil mengamati Aruna yang sibuk membereskan kamar mereka. Sesekali Aruna melirik kearah Kautsar namun saat tatapan mereka bertemu dengan cepat Aruna mengalihkan tatapannya kearah lain.
Kautsar menghela nafas panjang karena tahu jika istrinya sedang dalam mode 'ngambek parah'.
" Sayang ini udah malam lho. Apa ga sebaiknya diterusin besok aja. Emangnya Kamu ga capek...?" tanya Kautsar.
" Tapi ini harus selesai sekarang...," sahut Aruna.
" Tumben. Ada apa sih, lagi mencoba menghindari Aku ya...?" tanya Kautsar.
" Siapa yang menghindari Kamu. Aku emang lagi beresin pakaian kok. Ini kan udah dicuci, yang ini udah disetrika, kalo yang itu baju kotor. Mana mungkin digabungin jadi satu. Itu namanya jorok tau ga...," sahut Aruna cepat.
" Oh gitu. Mau Kubantu...?" tanya Kautsar sambil mendekati Aruna.
" Ga usah. Kamu di situ aja...!" kata Aruna lantang.
" Kenapa...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Deket-deket sama Kamu bikin emosiku naik ke ubun-ubun..., " gerutu Aruna lirih namun masih bisa didengar oleh Kautsar.
Bukannya tersinggung mendengar ucapan istrinya, Kautsar justru tersenyum lalu memeluk Aruna dari belakang.
" Apaan sih, lepasin ga...?!" kata Aruna marah sambil terus berontak.
" Ga mau. Aku kangen sama Kamu Sayang...," kata Kautsar sambil mulai mencumbu Aruna.
" Bodo amat !. Lepasin atau Aku teriak nih...," ancam Aruna sambil mendelikkan matanya.
" Teriak aja. Ga bakal ada yang mau nolongin karena tetangga pikir Kamu teriak karena lagi itu sama Aku...," sahut Kautsar cuek.
Ucapan Kautsar membuat Aruna meradang. Ia membalikkan tubuhnya lalu menggigit pundak Kautsar dengan keras hingga Kautsar meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya.
" Rasain...," gumam Aruna lalu segera keluar dari kamar meninggalkan Kautsar sendiri di kamar.
Setelahnya Aruna melangkah cepat menuju ruang makan untuk mengambil air minum. Ia meneguk air dengan cepat lalu membanting gelas di meja dengan keras untuk menyalurkan rasa kesalnya.
" Kenapa Gue marah ya. Ngeliat Kautsar tuh kesel aja bawaannya. Pengen mukul tapi kasian, ga mukul tapi nyebelin...," gumam Aruna sambil mengacak rambutnya.
Kemudian Aruna menoleh kearah jendela karena melihat sekelebat bayangan melintas pelan di balik jendela.
Karena merasa bayangan itu sedikit tak biasa, Aruna bergegas menghampiri jendela untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi sumber bayangan di gorden jendela tadi.
__ADS_1
Aruna menyibak gorden jendela dengan lebar lalu mengamati semua benda di samping rumah yang mungkin mirip dengan bayangan yang tadi melintas.
" Apa Gue salah liat ya. Masa iya...," gumaman Aruna terhenti saat Kautsar berdiri di belakangnya dan ikut menatap keluar rumah.
" Kamu cari apa sih malam-malam begini...?" tanya Kautsar tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna.
" Kamu lagi. Ngapain sih ngikutin Aku terus...?!" kata Aruna dengan galak.
" Lho kok kenapa sih. Kamu kan Istri Aku. Wajar dong kalo Aku juga pengen tau apa yang terjadi. Bisa aja ini buruk buat Kamu...," sahut Kautsar kesal.
" Ck, alasan...," kata Aruna sambil melengos.
Kautsar tak menanggapi ucapan Aruna dan memilih ikut mengawasi kondisi di samping rumah.
Tiba-tiba tatapan Kautsar terpaku pada sosok hitam berambut yang mirip kepala manusia sedang bergerak di bawah sana. Tinggi tubuh Kautsar yang melebihi Aruna memungkinkannya untuk melihat lebih jelas semua benda yang ada di samping rumah termasuk sosok hitam mirip kepala manusia itu.
Kautsar terkejut saat mendengar pintu rumah dibuka. Rupanya Aruna yang penasaran berniat melihat langsung benda mencurigakan yang tadi dilihatnya. Melihat hal itu Kautsar langsung berlari menghampiri Aruna. Lalu dengan sigap ia menarik Aruna masuk ke dalam rumah. Pintu yang terbuka pun segera ditutup dengan keras.
" Apa-apaan sih Tsar. Lepasin ga...?!" kata Aruna marah.
" Ga...!" kata Kautsar tak kalah lantang hingga mengejutkan Aruna.
" Jangan bercanda Tsar. Aku mau liat sesuatu yang dari tadi melintas di luar sana. Sekarang Minggir atau Aku benar-benar marah sama Kamu...," kata Aruna sambil mendorong tubuh Kautsar agar menepi.
Melihat hal itu membuat Aruna marah. Ia berusaha merebut anak kunci itu namun terlambat karena Kautsar telah memasukkannya ke dalam saku celan*nya.
Lalu tanpa aba-aba Kautsar membungkukkan tubuhnya dan menggendong Aruna layaknya menggendong sekarung beras yang ia letakkan di pundaknya. Aruna makin marah dan memukuli punggung Kautsar dengan keras.
Tiba di kamar Kautsar langsung meletakkan tubuh Aruna di atas tempat tidur. Supaya Aruna tak lari lagi, Kautsar sengaja menind*h tubuh sang istri dengan tubuhnya.
Aruna berhenti meronta. Kini tatapannya menghunus tajam ke netra Kautsar yang berada tepat di atasnya.
" Kenapa ga jadi marah...?" tanya Kautsar sambil tersenyum usil.
" Ck, minggir dulu. Aku mau muntah...," sahut Aruna sambil melengos dan menutup mulutnya.
Kautsar terkejut mendengar jawaban Aruna. Dengan sigap ia menggulingkan tubuhnya ke samping untuk memberi ruang pada Aruna. Setelah sang suami bergulir ke samping, Aruna pun bergegas lari ke kamar mandi dan muntah hebat di sana.
Kautsar pun bergegas menyusul Aruna. Ia membantu memijit tengkuk Aruna agar bisa mengeluarkan rasa tak nyaman di perutnya itu.
Setelah mengeluarkan isi perutnya Aruna terlihat lebih baik. Tubuhnya berkeringat namun kelegaan terlihat di wajahnya.
__ADS_1
" Kamu baik-baik aja Sayang...?" tanya Kautsar.
" Hmm..., makasih ya...," sahut Aruna sambil mengangguk kemudian tersenyum.
" Sama-sama. Sekarang balik lagi ke kamar ya...," kata Kautsar sambil memapah Aruna keluar dari kamar mandi.
" Tapi kakiku lemes banget...," rengek Aruna manja hingga membuat Kautsar mengerutkan keningnya karena sedikit bingung.
" Bukannya tadi galak banget ya. Disentuh dikit aja langsung meledak. Eh, sekarang malah manja banget kaya gini...," kata Kautsar dalam hati.
" Sayang...!" panggil Aruna lantang hingga mengejutkan Kautsar.
" Eh, oh iya. Sini Aku gendong...," kata Kautsar lalu segera menggendong Aruna.
Aruna pun tersenyum senang dalam gendongan Kautsar. Setelah meletakkan Aruna di atas tempat tidur Kautsar bergegas mengambil baju ganti dari lemari untuk Aruna.
" Ganti baju ya Sayang, baju Kamu basah tuh kena air. Ntar malah masuk angin lho...," kata Kautsar sambil meletakkan daster kesukaan Aruna di sampingnya.
" Gapapa kok cuma sedikit...," tolak Aruna.
Tapi Kautsar tak menerima penolakan. Dengan sigap ia membantu Aruna berganti pakaian. Setelahnya ia keluar dari kamar dan tak lama kemudian ia kembali dengan segelas teh manis hangat di tangannya.
" Minum ini biar perut Kamu lebih nyaman...," kata Kautsar.
Aruna mengangguk. Ia menerima gelas berisi teh manis hangat itu lalu meneguknya perlahan. Kautsar nampak tersenyum melihat sikap Aruna yang berubah jadi penurut.
Setelah meneguk teh manis hangat, Aruna kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kautsar pun ikut berbaring di sisinya dan membiarkan Aruna memeluknya.
" Sayang...," panggil Aruna.
" Hmmm...," sahut Kautsar sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.
" Kamu tau ga kalo Aku tadi ngeliat sesuatu yang mencurigakan di samping rumah. Makanya Aku maksa mau keluar tadi...," kata Aruna.
Kautsar menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap punggung Aruna lalu menatap wajah Aruna dengan lekat.
" Aku juga liat sesuatu yang mencurigakan. Makanya Aku ga mau Kamu keluar karena yakin kalo sesuatu itu sedang mengincar Kamu dan...," ucapan Kautsar terputus.
" Dan apa...?" tanya Aruna penasaran.
" Dan bayi Kita...," sahut Kautsar sambil mengusap lembut perut Aruna.
__ADS_1
Aruna terkejut mendengar ucapan Kautsar. Saking terkejutnya Aruna membelalakkan matanya dan menatap nanar tangan Kautsar yang sedang mengusap lembut perutnya.
\=\=\=\=\=