
Arnold dan Orion membawa Aruna berkeliling istana. Sedangkan George dan Matilda memilih tinggal untuk mengawasi Khai dan Kanaya.
Dari tempatnya berdiri George dan Matilda bisa menyaksikan Khai dan Kanaya tertawa. Pasukan manusia serigala benar-benar memanjakan mereka dengan berbagai permainan hingga membuat si kembar tak henti tertawa.
" Mereka anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Bertambah usia makin bertambah pula kemampuan mereka berinteraksi dengan orang lain...," kata George sambil tersenyum.
" Yang mengejutkan Aku tadi adalah karena mereka ga takut sama sekali ngeliat penampakan manusia serigala dan serigala sungguhan yang ada di depan mereka...," kata Matilda menambahkan.
" Jiwa dan darah manusia serigala mengalir deras dalam diri mereka Sayang. Itu yang menyebabkan mereka tak takut melihat makhluk malam seperti Kita...," sahut George.
Khai dan Kanaya memang sedang bermain bersama manusia serigala dan serigala. Bermain dengan sosok manusia berkepala serigala dan bertubuh manusia yang ditumbuhi bulu lebat tak membuat si kembar takut. Seolah ada ikatan batin diantara mereka walau pun mereka bicara dengan bahasa yang berbeda.
Setelah memberi kesempatan Khai dan Kanaya bermain dengan pasukan manusia serigala, George dan Matilda pun meminta si kembar untuk masuk ke dalam istana.
" Cukup ya Anak-anak. Sekarang Kita susul Bunda yuk...," ajak George sambil mengulurkan kedua tangannya.
Dengan sigap Khai melompat ke dalam pelukan George diikuti Kanaya yang masuk ke dalam pelukan Matilda. Kemudian kedua batita itu melambaikan tangannya kearah pasukan manusia serigala yang telah menemaninya bermain tadi.
" Dadah Om..., dadah Tante...!" kata Khai dan Kanaya bersamaan sambil tersenyum.
" Dah Khai..., dadah Kanaya...," sahut semua pasukan serigala sambil membalas lambaian tangan si kembar.
Sesaat kemudian pasukan manusia serigala itu melesat pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke posisi masing-masing.
Khai dan Kanaya dibuat terkesima dengan cara pergi pasukan manusia serigala itu. Sedangkan George dan Matilda hanya tersenyum melihat tingkah lucu batita kembar itu.
" Hilang...!" seru Khaizuran takjub.
" Iya hilang...!" sahut Kanaya tak kalah hebohnya.
" Om dan Tante harus kembali ke tempat masing-masing. Sekarang Khai dan Kanaya nyusul Bunda sama Kakek ya...," kata Matilda.
Khai dan Kanaya nampak menganggukkan kepala. Meski sudah hampir setahun tak bersua, namun keduanya terlihat akrab dengan George dan Matilda. Mereka tertawa saat diajak menemui sang Bunda.
" Ndaaa...!" panggil Khai dan Kanaya bersamaan saat melihat Aruna di halaman belakang istana.
__ADS_1
Aruna menoleh dan tersenyum melibat kedua anaknya berada dalam gendongan George dan Matilda.
" Wah anak-anak Bunda udah bangun. Senang ya main sama Om dan Tante tadi...?" tanya Aruna sambil meraih Khai dan Kanaya.
" Senang tapi hilang...," sahut Khai dengan mimik lucu.
" Hilang, apanya yang hilang...?" tanya Aruna.
" Om sama Tante...," sahut Kanaya dengan mimik wajah sedih.
Matilda menjelaskan apa yang terjadi pada Aruna. Semua orang yang mendengar penjelasan Matilda pun tertawa.
" Om sama Tante kan harus kerja lagi. Jadi Khai dan Kanaya ga boleh ganggu ya...," kata Aruna yang diangguki kedua buah hatinya.
Kemudian Arnold membawa keluarganya masuk ke ruang makan. Mereka menikmati makan malam yang istimewa. Khai dan Kanaya didudukkan di kursi khusus dengan seorang pelayan di sisinya.
Aruna bahagia karena akhirhya bisa menginjakkan kaki di tanah leluhurnya. Aruna tersenyum mengamati keindahan istana.
" Kenapa senyum-senyum sendiri Nak...?" tanya Orion.
" Oh ya. Itu artinya Kita sama Nak...," sahut Orion.
" Awalnya Aku pikir karena Aku terpengaruh dongeng yang dibacakan Mama menjelang tidur, makanya Aku bisa mimpi istana ini. Tapi Aku juga bingung kenapa mimpi yang sama terus terulang. Dan saat melihat istana ini dari jarak dekat, bahkan masuk ke dalamnya, Aku mengerti kalo mimpiku itu adalah pertanda jika Aku berhubungan dengan semua ini...," kata Aruna dengan mata berbinar.
" Mimpi itu untuk mengingatkan Kalian agar mengenal tanah leluhur Kalian. Saat itu sedang terjadi perang antar klan di sini hingga Arnold memutuskan untuk membiarkan Kalian tetap tinggal di sana. Arnold tak ingin Kalian datang ke sini dan terluka karena perang antar klan itu...," kata George.
" Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Kalo dulu Arnold yang akan datang mengunjungi Kalian tapi sekarang justru Kita yang diminta datang ke sini...," kata Matilda menambahkan.
" Betul Aruna. Aku sengaja menahan Kalian di sana karena tak ingin Kalian terluka. Alhamdulillah akhirnya semuanya bisa dikendalikan. Kondisi aman seperti ini sudah berlangsung lama. Bahkan Orion sudah bisa pulang pergi ke istana ini...," kata Arnold.
" Tapi Aku juga sempet kabur karena pasukan setia Ayah mengira Aku akan mengadakan kudeta...," sela Orion sambil mencibir.
Arnold, George dan Matilda pun tertawa mendengar ucapan Orion. Mereka ingat bagaimana paniknya semua pasukan serigala saat Arnold mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai raja. Pasukan manusia serigala mengira Orion lah yang mendesak sang ayah untuk mundur hingga terjadi lah aksi penggeledahan tiap kali Orion datang mengunjungi ayahnya.
" Maafkan Aku untuk ketidak nyamananmu itu Nak...," kata Arnold sambil menepuk punggung Orion dengan lembut.
__ADS_1
" Lupakan Yah. Aku baik-baik aja kok...," sahut Orion sambil tersenyum.
Aruna ikut tersenyum sambil menatap semua orang satu per satu. Usia mereka terpaut jauh. Namun Aruna takjub karena mereka tampil dalam usia yang sama.
Seolah mengerti apa yang ada di kepala Aruna, Arnold pun menjelaskan.
" Usia manusia serigala di klan Kita mencapai ratusan tahun Nak. Hanya sedikit yang meninggal sebelum usianya mencapai dua ratus tahun. Makanya sebagian orang menyebut Kita makhluk abadi karena rentang usia Kita yang panjang itu. Masuk akal sih, karena dengan usia sepanjang itu Kita bisa menyaksikan berbagai perubahan dan gejolak yang terjadi di seluruh belahan dunia. Anggap saja Kita saksi sejarah tiap peradaban manusia...," kata Arnold sambil tersenyum.
" Jadi Kamu jangan heran jika Kakek dan Ayahmu lebih mirip adik kakak dibanding Ayah dan Anak...," sela George sambil tertawa.
" Itu juga sebabnya mengapa Kami memintamu memanggil Kami Om dan Tante. Karena Kami merasa penampilan Kami masih muda dan tak layak dipanggil Kakek atau Nenek...," kata Matilda.
Aruna pun tersenyum sambil mengangguk. Namun sedetik kemudian ia teringat pada Kautsar.
" Jadi Aku dan Kautsar..., " ucapan Aruna terputus saat Arnold memotong cepat.
" Kamu ga perlu khawatir Nak. Kamu akan tampil sesuai dengan usia manusia pada umumnya. Saat Kautsar tua, Kamu pun akan tua. Tapi saat Kautsar meninggal nanti, mungkin Kamu masih hidup dan berumur panjang. Kamu bisa kembali ke sini untuk melanjutkan hidup atau justru membuka lembaran hidup baru bersama pria lain. Karena saat itu terjadi penampilanmu telah kembali muda seperti sekarang...," kata Arnold.
Aruna nampak tertegun mendengar penjelasan sang kakek. Aruna tak bisa membayangkan dirinya akan menikahi pria lain setelah Kautsar. Karena bagi Aruna, Kautsar adalah cinta sejatinya. Satu-satunya cinta dan untuk selamanya.
" Jangan pikirkan itu sekarang Nak. Nikmati saja hidupmu bersama keluarga kecilmu itu. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Syukuri apa yang Kamu miliki sekarang karena semuanya tak akan sama jika waktunya tiba nanti...," kata Orion bijak.
" Iya Ayah...," sahut Aruna dengan suara bergetar.
" Baik lah. Sudah cukup berbincangnya. Sekarang sudah waktunya Kita pulang karena Aku ga mau menanggung kemarahan Kautsar saat melihat anak istrinya raib tanpa kabar...," kata Orion setengah bergurau.
Semua tertawa mendengar ucapannya. Setelah saling memeluk mereka pun kembali dengan cara yang sama ke hotel tempat Aruna dan keluarga kecilnya menginap.
Beruntung saat tiba di hotel hari masih gelap dan sepi. Aruna menghela nafas lega karena ternyata Kautsar belum kembali. Itu artinya ia tak harus memberi penjelasan apa pun kepada suaminya itu.
Kautsar kembali ke kamar hotel saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Saat itu si kembar telah bangun dan wangi usai dimandikan oleh Aruna.
Aruna menyambut kedatangan suaminya dengan pelukan hangat hingga membuat Kautsar bahagia. Namun Kautsar harus susah payah mencerna ucapan si kembar saat keduanya berebut untuk menceritakan pengalaman mereka bertemu pasukan manusia serigala semalam.
bersambung
__ADS_1