
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian di toilet masjid, genk Comot menunaikan sholat Maghrib dan Isya yang digabung menjadi satu secara berjamaah. Kemudian mereka tampak berjalan menuju sebuah rumah makan untuk mengisi perut.
Sambil menunggu pesanan diantar, Aruna mencoba mengecek ponselnya. Ia nampak menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat banyak panggilan dan pesan Kautsar yang menanyakan keberadaannya.
" Kenapa senyum-senyum Run...?" tanya Ria.
" Gapapa, lagi baca pesennya Kautsar nih. Lucu aja ngebayangin dia panik plus kesel karena Gue ga ngerespon WA sama telephonnya daritadi...," sahut Aruna sambil tersenyum jahil.
" Oh iya. Kan dia pesen suruh aktifin HP ya Run. Tapi kalo diinget-inget, selama Kita nyasar tadi Gue ga denger suara notifikasi apa pun dari HP Kita. Iya ga sih guys...?" tanya Ria.
" Iya...," sahut Aruna dan keempat temannya bersamaan.
" Kok bisa gitu ya Run. Padahal semua HP aktif kan sejak awal...," kata Ria bingung.
" Kan Kita lagi diajak main sama setan bingung tadi Ri. Makanya ga denger suara HP sama sekali. Kalo Kita bisa denger sesuatu, artinya misi mereka buat bikin Kita bingung gagal dan mereka pasti dihukum sama Bosnya nanti...," sela Fadil sok tahu hingga membuat kelima temannya tertawa.
" Masuk akal juga sih...," kata Kenzo sambil menggigit kerupuk.
" Sekarang cepetan Lo telephon Suami Lo Run. Kautsar pasti bingung karena ga bisa denger suara Lo daritadi...," kata Ria mengingatkan.
" Ntar aja deh, Gue makan dulu Ri. Lapar banget rasanya. Gue harus nyiapin tenaga buat ngejawab pertanyaan Kautsar nanti...," sahut Aruna.
" Terserah Lo kapan mau telephon, yang penting kabarin dia biar ga suudzon sama Kita...," kata Ria cuek sambil mulai menyantap hidangan yang tersaji di atas meja.
Aruna mengangguk dan ikut menyantap hidangan yang mereka pesan dengan lahap. Tak butuh waktu lama untuk genk Comot menghabiskan semua makanan yang tersaji.
Setelah menghabiskan makanan, genk comot masih bertahan di rumah makan itu sambil berbincang santai. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Aruna untuk menghubungi Kautsar.
" Assalamualaikum Aruna. Kamu kemana aja sih, kok baru telephon sekarang ?. Kamu kan janji mau ngaktifin HP tapi kenapa ga bisa dihubungi daritadi...?" tanya Kautsar beruntun hingga membuat Aruna menjauhkan ponselnya dari telinga.
" Wa alaikumsalam. Sabar dong Tsar. Satu-satu nanyanya...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Aku khawatir sama Kamu Run. Kalo tau ditinggal Kamu begini rasanya, mending Aku ikut Kamu aja sekalian...," kata Kautsar kesal.
" Emang apa rasanya, asin atau pahit...?" goda Aruna.
" Arunaaa..., awas Kamu ya...," sahut Kautsar gemas hingga membuat Aruna tertawa.
__ADS_1
Di seberang telephon Kautsar nampak tersenyum mendengar Aruna tertawa. Ia bahagia bisa mendengar suara sang istri.
" Apa ada kejadian buruk tadi Run...?" tanya Kautsar tiba-tiba.
" Kok Kamu nebak kaya gitu...?" tanya Aruna.
" Feeling Aku ga enak sejak tadi sore Run. Apalagi Kamu ga bisa dihubungi. Dichat ga dibaca, ditelephon ga diangkat. Aku yakin kalo sesuatu terjadi sama genk Comot...," sahut Kautsar.
" Mmm..., Kami emang sempet tersesat tadi. Tepatnya disesatkan oleh sesuatu. Alhamdulillah Kami bisa keluar dengan selamat dan dalam kondisi baik-baik aja...," sahut Aruna.
" Alhamdulillah, makasih Ya Allah. Engkau telah mengabulkan doa Hamba Mu ini...," kata Kautsar lirih namun masih bisa didengar oleh Aruna.
" Kamu berdoa untuk Kami Tsar. Doa apaan...?" tanya Aruna penasaran.
" Aku hanya berdoa sederhana aja kok Run. Mungkin karena Aku berdoa dengan tulus untuk Istriku dan teman-temannya, maka Allah hijabah doaku hingga Kalian bisa selamat...," sahut Kautsar merendah namun tak ayal membuat jantung Aruna berdesir.
" Doa yang tulus ya...," kata Aruna.
" Iya, doa yang tulus. Emangnya Kamu ga pernah doain Aku Run, kok kayanya kaget gitu pas tau Aku doain Kamu...?" tanya Kautsar.
" Ga kaget, biasa aja kali...," sangkal Aruna.
" Emangnya Aku harus teriak-teriak kalo lagi doa. Lagian doa itu kan urusan manusia sama Allah. Jadi ga usah kepo ya...," kata Aruna kesal namun membuat Kautsar tertawa.
" Aku yakin Kamu pasti doain yang baik-baik buat Aku kan Run. Makasih doanya Istriku Sayang...," kata Kautsar di sela tawanya.
" Apaan sih Kamu, ga lucu tau. Udah dulu ya, Aku mau lanjut cari tempat tinggal dulu. Ntar ga usah telephon lagi, Aku capek mau tidur...," kata Aruna.
" Ok, met tidur ya. Jangan lupa mimpiin Aku. Assalamualaikum Istriku...," kata Kautsar di akhir kalimatnya.
" Wa alaikumsalam...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas Aruna menoleh kearah Galang yang nampak sedang bersiap-siap.
" Kita lanjut kemana lagi Lang...?" tanya Aruna.
" Kita cari penginapan dulu buat istirahat malam ini ya Run. Insya Allah besok pagi Kita lanjut lagi...," sahut Galang.
__ADS_1
" Ok, Gue setuju...," sahut Aruna.
Setelah membayar makanan yang mereka makan, genk Comot pun pergi menuju penginapan yang letaknya tak jauh dari rumah makan itu.
\=\=\=\=\=
Genk Comot memilih bermalam di sebuah penginapan sederhana. Mereka menyewa dua kamar untuk menghemat pengeluaran. Satu kamar ditempati Aruna dan Ria, satu kamar lagi ditempati Galang, Kenzo, Agung dan Fadil.
Aruna langsung terlelap saat merebahkan tubuhnya di atas kasur sedangkan Ria masih berbalas pesan dengan Kenzo yang tinggal di kamar sebelah.
Aruna terbangun saat mendengar suara orang berbincang di luar kamar. Ia menajamkan pendengarannya dan berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh orang-orang di luar sana.
" Kita harus cepat. Waktu Kita ga lama lagi. Besok malam adalah waktu yang dijanjikan...," kata suara seorang wanita hingga membuat Aruna terkejut.
Karena penasaran Aruna pun turun dari tempat tidur lalu merapat ke samping jendela. Beruntung kamar dalam keadaan gelap hingga ketiga orang itu tak menyadari kehadiran Aruna di balik jendela.
Dari sela gorden jendela ia bisa melihat tiga orang dewasa sedang bicara. Dua orang pria bernama Zaldi dan Amar bersama satu orang wanita bertubuh tambun dengan riasan mencolok bernama Yusi.
" Tapi Kami harus cari kemana Bu...?" tanya Zaldi.
" Kalian nih gimana sih. Bukannya di sini banyak tamu malam ini. Ambil aja salah satu dari mereka dan bawa ke Pak Tuo. Saya liat ada dua wanita cantik dalam rombongan terakhir. Kalian bisa pilih salah satu diantara mereka kan...," sahut Yusi ketus.
" Pilih acak ya Bu...?" tanya Amar.
" Iya. Ingat jangan telat. Saya ga mau Pak Tuo marah gara-gara Kalian telat nyerahin orang pilihan itu...," ancam Yusi sebelum berlalu.
Zaldi dan Amar yang merupakan karyawan Yusi hanya bisa menatap kepergian wanita itu dengan tatapan bingung.
" Yang kaya gini nih yang Saya ga suka dari Bu Yusi. Maksa nyari orang di tengah malam buta. Dia pikir gampang apa cari orang yang suka rela menyerahkan diri ke laki-laki cab*l itu...," kata Amar.
" Iya. Kalo ga inget anak istri di rumah rasanya udah lama Saya pengen berhenti kerja. Gaji ga seberapa tapi kerjaan dan resikonya berat banget...," keluh Zaldi.
" Bukan waktunya ngeluh Zal. Sekarang Kita harus cepet cari orang pilihan seperti kata Bu Yusi. Kalo ga, bisa-bisa dia ngamuk dan gaji Kita yang ga seberapa itu dipotong kaya bulan kemaren...," ajak Amar sambil berjalan lebih dulu.
Zaldi nampak menghela nafas berat lalu melangkah gontai mengikuti Amar.
Setelah kepergian tiga orang itu Aruna pun menyibak gorden untuk memastikan tak ada orang lain lagi di sana. Aruna yakin jika ia dan Ria lah orang yang dimaksud Yusi tadi.
__ADS_1
Kemudian Aruna kembali ke tempat tidur. Sayangnya Aruna tak bisa lagi terpejam setelah mengetahui rencana jahat Yusi dan kedua anak buahnya itu.
bersambung