Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
209. Kutukan


__ADS_3

Narko memang memperoleh ilmu sesat itu langsung dari sang nenek. Dulu nenek Narko juga kuyang yang berkeliaran memangsa janin-janin di rahim para wanita hamil.


Narko yang yatim piatu itu memang tinggal bersama sang nenek hingga ia remaja. Hingga akhirnya sang nenek tertangkap dan dibakar massa saat tengah mengintai mangsanya.


Narko ingat malam sebelum kejadian sang nenek memintanya pergi jauh dari rumahnya yang memang terletak di pinggir hutan itu.


" Kamu harus pergi yang jauh Narko. Sangat jauh dan jangan kembali...," kata sang nenek.


" Kenapa Aku harus pergi Nek...?" tanya Narko.


" Aku merasa akan ada kejadian buruk yang akan menimpaku nanti. Dan Aku ga mau Kamu ikut terseret dalam kemarahan warga. Karena itu pergilah Narko...," sahut sang nenek.


" Kalo Nenek tau akan terjadi sesuatu, kenapa Nenek ga berhenti ?. Jangan menyerang mereka lagi Nek. Hiduplah dengan normal. Makan daging atau bangk*i pun tak apa asal jangan janin yang hidup di perut Ibunya...!" kata Narko gusar.


Ucapan Narko membuat sang nenek tertawa. Ia berdiri lalu menghadap kearah Narko.


" Daging binatang atau bangk*i itu ga seenak janin Narko. Ada kepuasan tersendiri saat memakannya. Dan sekarang Aku ga bisa berhenti karena sesuatu dalam diriku terus mendorongku untuk melakukannya lagi dan lagi...," kata nenek Narko sambil menyeringai.


Narko pun terkejut lalu memeluk sang nenek dengan erat.


" Aku mohon hentikan semuanya Nek. Jangan lakukan lagi, bisa kan...?" pinta Narko.


" Maaf, ga bisa Narko...," sahut sang nenek dengan mantap hingga membuat Narko terkejut lalu mengurai pelukannya.


" Terus gimana sama Aku Nek. Cuma Nenek yang Aku punya di dunia ini. Aku ga punya sodara, kerabat atau sahabat. Terus gimana caranya Aku hidup tanpa Nenek...?!" tanya Narko putus asa.


" Kamu akan terbiasa setelah ini Narko. Pergi lah...!" kata sang nenek sambil mendorong Narko keluar dari rumah lalu mengunci pintu.

__ADS_1


Akibat dorongan sang nenek membuat Narko terhempas ke tanah. Ia menatap pintu rumah sang nenek dengan perasaan sedih dan marah. Namun jiwa lelaki dalam diri Narko membuatnya pantang untuk meminta kembali. Narko bangkit lalu berjalan pelan meninggalkan rumah sang nenek yang selama belasan tahun ini menjadi tempat tinggalnya.


Rupanya Narko tak pergi jauh. Ia masih berada di sekitar sang nenek dan mengawasi gerak-gerik sang nenek.


Malam hari saat Narko sedang mengintai rumah sang nenek, ia melihat sebuah kepala melesat cepat keluar dari jendela rumah sang nenek. Narko tahu jika itu adalah kepala sang nenek yang telah berubah menjadi kuyang. Dengan hati-hati Narko mengikuti kuyang itu.


Narko terus mengikuti sang kuyang hingga kuyang itu berhenti tak jauh dari sebuah rumah yang Narko yakini sebagai rumah dimana mangsa sang nenek berada.


Rumah itu terlihat sangat sepi. Terlalu sepi hingga membuat Narko curiga. Narko mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan melihat banyak mata yang tengah mengawasi kuyang jelmaan sang nenek tengah sembunyi di balik pohon dan semak-semak. Narko terkejut dan bermaksud memberitahu sang nenek agar segera pergi. Namun terlambat.


Kuyang jelmaan nenek Narko melesat masuk ke dalam rumah dan saat bersamaan orang-orang yang bersembunyi di balik semak-semak itu keluar lalu mengepung rumah dengan membawa berbagai senjata tajam.


Narko mendengar jeritan histeris seorang wanita disusul jeritan sang nenek. Rupanya wanita di dalam rumah itu sengaja diumpankan untuk memancing sang kuyang. Dia menjerit ketakutan saat melihat kuyang menerobos masuk ke dalam rumah. Sedangkan kuyang itu menjerit karena sebuah tombak menancap tepat di batok kepalanya.


Orang-orang yang mengepung rumah pun bersorak gembira saat orang yang memegang tombak keluar dari dalam dengan membawa kepala kuyang yang menancap di ujung tombaknya.


" Bakar sekarang. Bakaarrr...!" seru orang-orang itu dengan semangat.


" Apa ga sebaiknya Kita telusuri dulu kepala siapa ini sebenarnya...?" tanya sang pemilik tombak.


" Ga perlu !. Itu Kita bisa urus nanti. Yang penting sekarang memusnahkan kuyang itu dulu baru Kita cari badannya...!" kata seorang pria dengan lantang.


Semua menatap kearah pria yang tadi bicara itu dengan tatapan maklum. Rupanya istri pria itu juga menjadi korban kuyang hingga meninggal dunia. Dan dia adalah orang yang paling tak sabar ingin memusnahkan kuyang itu karena marah dan dendam.


Setelah mendapat persetujuan dari semua orang mulai lah disiapkan perapian. Kepala kuyang yang masih menancap di ujung tombak itu langsung dibakar dalam api yang menyala seperti sedang membuat kambing guling.


Jerit kesakitan pun membahana di malam itu saat api mulai membakar sang kuyang. Api tampak melahap habis rambut sang kuyang lalu perlahan terus menyelimuti kepala, kemudian lanjut lagi hingga ke organ dalam yang menggantung itu. Dalam sekejap kepala kuyang itu diselimuti api yang merah menyala.

__ADS_1


Semua orang nampak termenung mengamati hangusnya sang kuyang. Di kejauhan Narko nampak menangis menyaksikan kepala nenek yang ia cintai hangus dibakar massa.


Setelah api padam terlihat tengkorak kepala yang menghitam. Tanpa menunggu tengkorak itu menjadi dingin, mereka langsung menumbuknya dengan batu hingga tulang tengkorak hancur berkeping-keping dan rasanya sulit untuk disatukan kembali.


Kemudian para pria itu menyebar untuk mencari tubuh si pemilik kepala kuyang. Dan pencarian mereka pun berakhir di rumah nenek Narko.


Dari kejauhan Narko melihat tubuh tanpa kepala sang nenek dibawa keluar lalu dihempaskan ke tanah. Para pria yang marah itu juga mendaratkan beberapa pukulan ke tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Dan lagi-lagi Narko harus menyaksikan tubuh neneknya dibakar hingga habis tak tersisa.


Narko pergi meninggalkan tempat itu saat melihat tubuh sang nenek dilalap api. Ia mengembara ke tempat yang jauh dan berharap tak ada yang mengenalinya sebagai cucuk sang nenek. Hingga akhirnya ia bertemu Iroh dan jatuh cinta pada gadis itu lalu menikahinya.


Narko yang sadar dirinya mengemban kutukan dalam dirinya mencoba hidup normal layaknya manusia biasa. Dia berharap dengan menikah takdir buruknya akan sirna. Tapi Narko salah.


Narko ingat saat pertama kali ia menghirup aroma berbeda dari tubuh Iroh saat wanita itu keluar dari kamar mandi. Aroma yang berbeda dan itu membuat Narko tak henti mengamati istrinya. Narko sangat menyukai aroma yang menguar dari tubuh Iroh dan terus mengekorinya sepanjang hari.


Saat malam hari Narko masih terus melekat dengan sang istri. Ia baru menjauh saat Iroh mengatakan jika ia hamil.


" Kita ga bisa itu dulu ya Mas. Kata Ibu kalo lagi hamil muda jangan sering berhubungan karena berbahaya untuk janinnya...," kata Iroh sambil mengusap perutnya.


" Kamu hamil...?" tanya Narko.


Iroh mengangguk dan Narko pun menghela nafas panjang. Akhirnya Narko mengerti mengapa aroma tubuh Iroh terasa berbeda di Indra penciumannya.


" Iya Mas. Ini akan jadi anak pertama Kita. Kamu juga seneng kan Mas...?" tanya Iroh sambil menarik tangan Narko lalu menyentuhkan ke perutnya.


Seperti ada sengatan listrik saat Narko menyentuh perut Iroh. Dan sesuatu dalam dirinya meronta dan memaksanya terus menatap perut Iroh. Sedangkan Iroh nampak tersenyum manis karena tak tahu ada bahaya mengancam janinnya.


Malam itu Narko tak bisa memejamkan mata karena terus diterror oleh hasrat aneh dalam dirinya. Akhirnya saat dinihari Narko yang tak kuasa membendung hasrat jahatnya itu pun melahap janin dalam rahim Iroh saat sang istri terlelap. Entah bagaimana caranya Narko melakukannya hingga Iroh tak terusik sama sekali bahkan tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2