
Kautsar dan Aruna mempercepat langkah kaki mereka agar segera sampai di dekat brankar tempat Robi berbaring.
" Maaf sebelumnya. Om sama Tante ini kan orangtuanya Robi ya...?" sapa Kautsar dengan santun.
" Betul. Kamu siapa...?" tanya ayah Robi.
" Saya Kautsar temennya Robi di kampus. Kata temen-temen Robi dirawat di Rumah Sakit ini, apa bener Om...?" tanya Kautsar.
" Iya. Tapi sayangnya sekarang Robi udah ga ada...," sahut ayah Robi dengan suara serak.
" Maksud Om, ini jenasahnya...," ucapan Kautsar terputus saat mama Robi mendongakkan wajahnya.
" Tolong jangan tanya lagi. Dan tolong maafin semua kesalahan Robi ya...," kata mama Robi sambil terisak.
" I... iya Tante...," sahut Kautsar gugup karena ia tak menyangka jika mama Robi akan mengucapkan permintaan maaf yang bagi Kautsar terdengar tulus.
Sementara itu Aruna yang berjalan di samping Kautsar nampak menatap kearah jasad Robi. Di sana ia melihat sosok bayi berwarna merah sedang menelungkup di atas wajah Robi hingga membuat Robi kesulitan bernafas.
" Dia masih hidup...!" kata Aruna lantang dan membuat perawat, Kautsar dan kedua orangtua Robi menoleh kearah Aruna.
" Siapa dia, tolong jangan bikin suasana di sini jadi ga enak...," kata ayah Robi.
" Maaf Om, ini Istri Saya...," sahut Kautsar tak enak hati.
Tapi berbeda dengan ayah Robi, mama Robi justru nampak tersenyum dan mengiyakan ucapan Aruna.
" Tuh kan apa Mama bilang. Robi itu masih hidup Pa. Hanya ada sesuatu yang menghalanginya untuk bernafas normal...," kata mama Robi antusias.
" Maaf Bu, bukan ga sopan. Tapi semua orang pasti berpendapat seperti itu jika ada keluarganya meninggal dunia. Mereka belum bisa terima kondisi ini makanya kadang mereka berhalusinasi...," kata seorang perawat dengan hati-hati sambil terus mendorong brankar menuju kamar jenasah.
Sepuluh meter menjelang masuk ke kamar jenasah, Aruna segera menghentikan laju brankar itu hingga membuat semua orang terkejut.
" Tolong jangan halangi tugas Kami ya Mbak...," pinta salah satu perawat sambil mendekati Aruna.
" Stop di situ Suster...!" kata Aruna galak hingga membuat sang perawat terkejut dan menghentikan langkahnya.
Kautsar dan mama Robi pun segera mendekati Aruna lalu berupaya melindunginya. Mereka seolah mengerti apa yang akan Aruna lakukan dan memberi kesempatan pada Aruna untuk membuktikan ucapannya tadi.
Sedangkan Aruna nampak bergerak cepat seolah menarik sesuatu dari atas wajah Robi. Dan sesaat kemudian terdengar helaan nafas disertai suara dengusan Robi yang terlihat dari selimut yang bergerak.
__ADS_1
" Haaahhh...," kata Robi.
Melihat tanda pergerakan pada pasien membuat kedua perawat yang ada dekat kepala brankar bergegas menyibak selimut. Mereka terkejut saat melihat Robi telah membuka mata dan sedang bernafas terengah-engah.
Mama Robi langsung mendekati Robi dan menangis saat melihat sang anak kembali hidup. Ayah Robi pun tak kalah terkejutnya. Air mata yang tadi telah mengering kini kembali mengalir. Hanya bedanya kali ini yang mengalir adalah air mata kebahagiaan.
" Panggil dokter, Kita bawa pasien ke ruangan aja...," kata salah satu perawat yang diangguki dua rekannya.
Kemudian ketiga perawat kembali mendorong brankar. Hanya kali ini mereka berbalik arah, berlawanan dengan kamar jenasah.
Mama Robi menoleh lalu memeluk Aruna dengan erat. Sedangkan ayah Robi nampak tersenyum.
" Terima kasih Nak. Semoga Allah membalas jasamu...," kata mama Robi sambil mencium kepala Aruna beberapa kali.
" Sama-sama Tante. Saya hanya melakukan sesuatu yang sederhana...," sahut Aruna merendah sambil mengepalkan tangan di belakang punggungnya.
" Jangan pulang dulu, Kita bicara lagi nanti ya...," kata mama Robi sambil menepuk lembut pipi Aruna.
" Iya Tante...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Kemudian kedua orangtua Robi nampak berbalik mengejar brankar tempat Robi berbaring yang kini telah berjalan semakin jauh.
Kepalan tangan yang Aruna sembunyikan di belakang punggungnya tadi ia bawa ke depan lalu diangkat tinggi-tinggi.
Rupanya Aruna berhasil menangkap sosok jin berwujud bayi merah yang mengganggu Robi. Bayi merah itu nampak berusaha melepaskan diri sambil mengeluarkan suara mendesis. Sesekali Aruna nampak menjauhkan kepalan tangannya dari wajah karena bayi merah itu mulai menyerang Aruna dengan cara mencakar.
" Berhenti berulah !. Jangan Kau pikir karena wujudmu yang seperti bayi ini, Aku jadi iba dan ga tega menyakitimu...," kata Aruna setengah mengancam.
Bayi merah itu berhenti bergerak karena takut dengan ancaman Aruna.
" Katakan apa maumu. Kenapa terus mengejarnya...?" tanya Aruna.
" Dia membuatku terluka...," sahut bayi merah itu.
" Terluka, mana mungkin...?" tanya Aruna tak percaya.
" Memang bukan dia yang melakukannya. Tapi gara-gara menjalani permintaannya Aku jadi terluka...," sahut bayi merah itu sambil mendesis.
" Maksudmu Kamu terluka saat menyerangku...?" tanya Aruna.
__ADS_1
" Iya...," sahut bayi merah itu.
" Ck, itu kan salahmu sendiri. Tak semua yang Kita mau akan berjalan sesuai rencana termasuk niat jahatmu itu. Kali ini Kau kena batunya karena Aku ga selemah mangsamu sebelumnya. Iya kan...?!" tanya Aruna kesal.
" Iya. Aku akui Kau memang hebat. Selama ini Aku selalu berhasil menjalankan perintah..., " sahut bayi merah itu sambil melengos.
" Selalu. Apa itu artinya Robi sering melakukan hal semacam ini...?" tanya Aruna.
" Sering. Salah satu diantara gadis yang ia kerjai namanya Wenni. Tanyakan pada Suamimu itu siapa Wenni sebenarnya...," sahut bayi merah itu sambil menyeringai.
Rupanya jin berwujud bayi merah itu mencoba memprovokasi Aruna dan membuatnya bertengkar dengan Kautsar. Namun Aruna nampak tersenyum tipis karena ia tahu apa yang diinginkan oleh jin di hadapannya.
" Aku mau tau langsung dari Kamu. Jujur lah atau Aku akan membuatmu benar-benar ga bisa berguna sama sekali walau hanya untuk dirimu sendiri...," kata Aruna.
Bayi merah itu nampak marah. Ia kembali berusaha menyerang Aruna. Dengan gemas Aruna menekan kepalan tangannya hingga jin berwujud bayi merah itu menjerit kesakitan.
" Sekarang...!" kata Aruna galak hingga membuat Kautsar yang berada di sampingnya menggelengkan kepala.
" Baik, tapi tolong jangan sakiti Aku...," pinta bayi merah itu.
" Tergantung bagaimana isi ceritamu itu. Tapi karena Kau terus membantah, kayanya Aku berubah pikiran. Lebih baik Aku lempar keluar aja supaya tubuhmu hancur dan ga berbentuk lagi...," kata Aruna sambil membuat gerakan ingin melempar sesuatu hingga membuat bayi merah itu mengeratkan pegangan pada lengan Aruna.
" Robi membuat Wenni jatuh ke pelukannya dengan cara kotor. Setelahnya Robi juga membuat gadis itu hamil. Saat gadis itu sadar dirinya hamil dan mencoba minta pertanggung jawaban Robi, laki-laki itu justru mengancamnya. Wenni memutuskan berhenti kuliah karena malu hamil di luar nikah...," kata bayi merah itu dengan cepat hingga membuat Aruna terpana.
" Sampe sejauh itu...?" tanya Aruna tak percaya.
" Iya. Dan hal yang sama akan dia lakukan padamu...," sahut bayi merah itu.
Aruna mendengus kesal lalu mengendurkan cekalan tangannya hingga bayi merah itu akhirnya terlepas.
Bayi merah itu tampak melayang di udara sambil mengepakkan sayapnya seolah enggan pergi.
" Pergi lah. Apa Kau mau Aku melukaimu lagi...?" tanya Aruna sinis.
" A... Aku pergi...," sahut bayi merah itu gugup lalu melesat cepat meninggalkan Aruna.
Aruna memalingkan wajahnya kearah Kautsar sambil tersenyum kecut hingga membuat Kautsar bingung.
bersambung
__ADS_1