Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
154. Pasukan Bantuan ?


__ADS_3

Setelah membeberkan rencananya, Aruna pun keluar dari kamar untuk menjemput Kautsar.


Sebelum pergi Aruna meminta semua temannya merahasiakan apa yang akan mereka lakukan dari kedua orangtua Kenzo. Selain karena tak ingin membuat cemas, Kenzo yang sudah tahu siapa orang yang membuatnya sakit pun tak ingin kedua orangtuanya lebih membenci Edi.


" Biar ini jadi urusan Gue...," kata Kenzo sambil menerawang jauh.


" Tapi orangtua Kamu harus tau siapa yang udah bikin Kamu sakit Yang...," protes Ria.


" Ga perlu Sayang. Biar Aku yang urus semuanya nanti. Aku punya cara sendiri yang ga perlu melibatkan orangtuaku. Kasian, mereka udah cukup lelah mengurus penyakitku...," kata Kenzo.


" Emangnya Kamu udah tau siapa yang ngirim penyakit ga wajar ini...?" tanya Ria penasaran.


" Udah...," sahut Kenzo cepat.


" Siapa...?" kejar Ria.


" Udah Ri, jangan Lo desek kaya gitu terus. Kenzo juga punya privacy kali...," kata Fadil menengahi.


Seolah tersadar jika sikapnya berlebihan, Ria pun mengangguk.


" Maafin Aku ya. Ga seharusnya Aku terlalu ikut campur sama urusan Kamu. Maaf...," kata Ria sambil menggenggam jemari Kenzo erat.


" Iya, gapapa. Aku ngerti kok. Kamu begini kan karena Kamu care sama Aku...," sahut Kenzo sambil mengusap pipi sang kekasih dengan lembut.


Apa yang dilakukan Kenzo membuat Ria tersipu malu, sedang keempat temannya nampak melengos sebal melihat kemesraan dua sejoli di hadapannya itu.


Mereka membubarkan diri dari kamar. Galang, Fadil dan Agung memilih ke kantin Rumah Sakit. Sedangkan Aruna memilih menunggu suaminya di loby Rumah Sakit.


\=\=\=\=\=


Kautsar tiba di Rumah Sakit menjelang Maghrib. Aruna yang setia menunggu di loby Rumah Sakit nampak tersenyum melihat kehadirannya. Kautsar langsung meraih Aruna ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya dengan sayang.


" Lama banget sih...," kata Aruna.


" Maaf ya, jalanan macet tadi...," sahut Kautsar sambil tersenyum.


" Ok gapapa...," sahut Aruna sambil melingkarkan kedua tangannya ke punggung Kautsar hingga membuat Kautsar sedikit heran karena biasanya Aruna enggan membalas pelukannya di tempat umum.


" Tumben, lagi kangen ya...?" bisik Kautsar sambil menatap Aruna dengan tatapan lembut.


Seperti tersadar akan sikapnya, Aruna pun tersenyum lalu mengurai pelukannya.


" Aku seneng Kamu datang. Itu artinya pasukanku bertambah satu...," kata Aruna sambil tersenyum.

__ADS_1


" Tapi Aku kan beda sama yang lain. Selain pasukan setia, Aku juga pendamping Kamu Aruna...," sahut Kautsar bangga sambil menepuk dadanya hingga membuat Aruna tertawa.


" Udah makan belum...?" tanya Aruna sambil menggenggam jemari suaminya lalu membawanya melangkah.


" Masih kenyang. Kamu sendiri udah makan belum...?" tanya Kautsar.


" Udah tadi. Kita langsung ke masjid ya. Abis sholat Maghrib aja Kita ke kamarnya Kenzo...," kata Aruna.


" Ok...," sahut Kautsar.


Kemudian Kautsar dan Aruna melangkah menuju masjid yang ada dalam lingkungan Rumah Sakit.


Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, Aruna mengajak Kautsar ke kantin Rumah Sakit untuk membicarakan rencananya.


Di sana Aruna menjabarkan dengan detail apa dan bagaimana mereka akan bertindak nanti. Kautsar nampak tersenyum melihat Aruna yang bicara dengan antusias dan itu membuat Aruna bingung.


" Kamu nyimak ga sih apa yang Kubilang tadi...?" tanya Aruna.


" Nyimak...," sahut Kautsar cepat.


" Kalo nyimak kenapa senyum-senyum gitu...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Emang iya...?" tanya Kautsar.


Kautsar pun tertawa lalu mengecup sekilas pipi Aruna hingga membuat Aruna membelalakkan matanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Kamu ngapain sih, ini kan tempat umum. Malu tau...," kata Aruna gemas.


" Abisnya Kamu duluan yang mulai...," sahut Kautsar santai.


" Ck, iya iya, Aku yang salah deh. Percuma berdebat, Aku pasti kalah sama Kamu. Terus gimana, Kamu paham kan maksudku...?" tanya Aruna mengalihkan topik pembicaraan.


" Paham. Cuma kenapa harus melibatkan semua teman-temanmu...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Oh itu karena mereka yang minta...," sahut Aruna.


" Apa mereka juga tau kalo penyakitnya Kenzo bukan penyakit medis...?" tanya Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna.


" Kok bisa...?" tanya Kautsar.


" Semua orang juga bisa nebak kalo ada yang ga beres sama Kenzo. Selama ini dia menjalani pola hidup sehat, suka olah raga, ngejaga asupan gizi dan makanan yang masuk ke dalam tubuhhya. Selain itu dia rutin check up ke dokter. Terus mendadak dia ngedrop dan sakit parah tanpa terdeteksi awal mula penyakitnya. Siapa pun pasti mikirnya ke sana Tsar...," sahut Aruna.

__ADS_1


Kautsar nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Tak lama kemudian Galang, Fadil dan Agung ikut bergabung dengan Aruna dan Kautsar. Mereka terlihat serius kali ini.


" Terus Gue ngapain Run. Daritadi Gue denger Lo ga nyebut nama Gue sama sekali...?" tanya Ria tiba-tiba dari belakang punggung Aruna.


" Kalo tugas buat Lo mah gampang Ri. Lo cuma harus mengalihkan perhatian orangtuanya Kenzo. Bikin mereka sibuk untuk sementara waktu sampe urusan Kita selesai. Gimana...?" tanya Aruna.


" Itu mah gampang. Berapa lama...?" tanya Ria.


" Gue belum tau Ri. Mudah-mudahan Kita ga butuh waktu lama buat nuntasin semuanya...," sahut Aruna.


" Jadi waktunya ga bisa diprediksi ya Run...?" tanya Ria.


" Iya Ri...," sahut Aruna.


" Gimana kalo Gue kasih waktu dua jam buat Kalian musnahin pengaruh ilmu hitam itu dari Kenzo...?" tanya Ria.


" Ya udah deal. Tapi Lo juga harus mastiin ga ada perawat atau dokter yang masuk ke ruangan Kenzo ya Ri...," pinta Aruna.


" Beres lah itu, tenang aja Run...," sahut Ria hingga membuat Aruna tersenyum.


Setelah memastikan semuanya siap, mereka pun melangkah beriringan menuju kamar rawat inap Kenzo. Ria masuk lebih dulu untuk mengajak kedua orangtua Kenzo menyingkir dari kamar itu. Kemudian Aruna mengajak Kautsar dan ketiga temannya masuk ke dalam ruangan Kenzo.


Saat masuk ke dalam ruangan Aruna membelalakkan matanya karena melihat siluman lintah itu sudah ada dan melekat di belakang tubuh Kenzo. Walau belum melakukan apa-apa karena saat itu Kenzo fokus berdzikir, namun kehadirannya membuat Aruna kesal.


" Kenapa Run, apa ada yang ga beres...?" tanya Kautsar saat melihat perubahan mimik wajah istrinya.


" Dia udah di sini Tsar...," sahut Aruna lirih.


" Siapa...?" tanya Kautsar sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.


" Siluman lintah. Dia lah yang selama ini bikin kepala Kenzo sakit sampe divonis kena kanker otak segala.Ternyata selama ini dia menghisap otak Kenzo sedikit demi sedikit. Tujuannya ya cuma satu yaitu bikin Kenzo celaka. Pertama dia membuat Kenzo lemah, terus cacat atau lumpuh lalu mati...," sahut Aruna sambil berbisik.


" Astaghfirullah aladziim, jadi itu ulah makhluk melata itu Run...?" tanya Kautsar sambil menggelengkan kepalanya.


" Iya. Tapi gapapa, sebentar lagi juga dia bakal kena batunya dan orang yang ngutus dia juga bakal kena imbasnya...," sahut Aruna santai.


" Kamu betul. Kejahatan yang melibatkan kemusyrikan pasti bakal dapat hukuman langsung di dunia. Ga usah nunggu lama-lama, hukumannya juga bakal keliatan...," kata Kautsar.


Kemudian Aruna mulai memberi isyarat kepada suami dan kedua temannya kapan mereka harus bergerak.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2