
Suasana di dalam ruangan yang sengaja dibooking Arka masih terasa menegangkan. Aruna dan Kautsar yang menjadi objek pembicaraan mereka kali ini hanya diam tanpa berani bersuara. Menyadari jika Aruna tak siap mendengar pembicaraan mereka, Ahmad dan keluarganya pun pamit undur diri.
“ Maafkan Saya Pak Ahmad...,” kata Arka sambil menjabat erat tangan Ahmad.
“ Gapapa Pak, santai aja. Kami maklum dengan sikap Aruna. Mungkin ini terlalu mendadak dan di luar dugaan...,” sahut Ahmad bijak sambil mengusap punggung Arka dengan lembut.
“ Tolong kasih Kami kesempatan untuk menjelaskan semuanya sama Aruna ya Bu...,” pinta Diana.
“ Iya Bu. Ga usah buru-buru biar Aruna ga kaget. Dan tolong jangan dimarahin juga ya...,” pesan Hardini sambil mengeratkan pelukannya.
“ Insya Allah Bu, makasih atas pengertiannya...,” sahut Diana sambil tersenyum.
Aruna dan Kautsar nampak mematung di tempat saat menyaksikan kedua orangtua mereka saling memberi suport dengan kalimat yang menenangkan. Kautsar memberanikan diri menatap Aruna yang saat itu terlihat gusar.
“ Maafin Gue Aruna. Gue ga tau apa-apa soal ini...,” kata Kautsar dengan suara tercekat.
Aruna hanya membisu dan mengabaikan ucapan Kautsar karena tak tahu harus bagaimana merespon kalimat yang diucapkan Kautsar tadi.
Setelah mencium punggung tangan Arka dan Diana, Kautsar bergegas keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan pada Aruna.
“ Apa-apaan ini Pa, Ma...?” tanya Aruna sesaat setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan.
“ Kamu udah denger kata Papa tadi kan Sayang. Masa belum paham juga sih...?” tanya Diana sambil mencubit hidung Aruna dengan gemas.
“ Aku dengar Ma. Tapi ada apa ini, kenapa mendadak nikahin Aku sama Kautsar...?” tanya Aruna.
“ Lho kenapa memangnya. Kautsar itu pinter, ganteng, sopan, bertanggung jawab, soleh lagi. Apa yang kurang dari dia Nak. Kalo Mama masih muda dan single, Mama pasti mau dijodohin sama Kautsar...,” sahut Diana dengen kenesnya.
“ Mama...,” panggil Arka dan Aruna bersamaan tapi dengan intonasi berbeda.
“ Ups, sorry...,” sahut Diana sambil tersenyum.
“ Kalo hanya dijodohin mungkin masih ada peluang menolak Ma. Tapi ini apa, Papa sama Mama malah langsung mau nikahin Aku sama Kautsar. Ga masuk akal banget sih...,” gerutu Aruna.
“ Apanya yang ga masuk akal sih Nak...?” tanya Arka sambil mengusap kepala Aruna dengan sayang.
“ Aku sama Kautsar itu hanya berteman Pa, ga lebih. Malah kalo Papa mau tau, sebelumnya Aku sama Kautsar itu musuhan hebat lho di SMA. Kami musuhan sampe setahun pertama Aku kuliah. Pas masuk tahun kedua baru Aku bisa berdamai sama Kautsar...,” kata Aruna gusar.
“ Syukur lah kalo begitu. Artinya saat Kalian menikah nanti Kalian udah ga musuhan lagi. Iya kan...,” sela Diana sambil tersenyum.
Mendengar ucapan sang mama membuat Aruna kesal lalu menyandarkan tubuhnya dengan kasar ke sandaran kursi. Arka pun mencoba menengahi.
“ Mengerti lah Aruna. Papa sama Mama punya alasan khusus mengapa memintamu menikah dengan Kautsar...,” kata Arka dengan lembut.
“ Alasan apa Pa...?” tanya Aruna penasaran.
__ADS_1
“ Ayahmu, Orion...,” sahut Arka cepat.
“ Ayah, maksud Papa...,” ucapan Aruna terpotong oleh kalimat Arka.
“ Ayah kandungmu datang menemui Papa dan Mama secara pribadi Nak. Dia mengatakan semuanya dan Kami shock banget waktu itu. Tapi setelah dia memberi pengertian akhirnya Kami mengerti dan bisa nerima semuanya. Ayahmu juga yang meminta Papa agar mengatur pernikahanmu dengan Kautsar...,” kata Arka dengan suara bergetar.
“ Tak ada yang disembunyikan dari Kami Nak...,” sela Diana sambil membelai kepala Aruna dengan lembut.
“ Jadi Mama sama Papa udah tau siapa Aku sebenernya...?” tanya Aruna dengan mata berkaca-kaca.
“ Iya Nak...,” sahut Arka dan Diana bersamaan.
“ Tapi Kami ga peduli semua itu. Kamu tetap anak Kami sampai kapan pun Aruna...,” kata Arka tegas.
“ Betul Sayang. Cinta Kami untukmu tak akan habis hingga dunia berakhir...,” kata Diana sambil menangis.
“ Mama..., Papa...,” panggil Aruna lirih lalu menghambur memeluk Arka dan Diana.
Mereka bertiga pun menangis sambil saling memeluk. Sesekali Arka dan Diana menciumi Aruna dengan sayang seolah takut Aruna akan pergi meninggalkan mereka. Aruna kembali bertanya saat pelukan mereka terurai.
“ Terus apa alasan Ayah memilih Kautsar untuk jadi Suamiku Pa...?” tanya Aruna.
“ Ayahmu bilang hanya Kautsar yang bisa mengendalikanmu saat Kamu berubah nanti Nak...,” sahut Arka.
“ Tapi Aku belum siap menikah Pa. Kenapa ga tunangan aja dulu sih...,” protes Aruna.
“ Kenapa harus ngomongin sentuh-sentuh gitu sih Pa, Aku risih dengernya...,” kata Aruna dengan wajah merona hingga membuat Arka dan Diana tertawa.
“ Ternyata anak Mama udah paham dengan istilah sentuh menyentuh ya...,” goda Diana sambil mencubit pipi Aruna.
“ Apaan sih Mama...,” sahut Aruna sambil melengos.
“ Maksud Papa, kalo perubahan itu terjadi kan Kautsar bisa segera membantumu agar Kamu ga melukai orang lain atau dirimu sendiri Nak. Saat itu terjadi mustahil rasanya kalo Kautsar ga nyentuh Kamu...,” kata Arka dengan sabar.
“ Gitu toh. Apa Kautsar dan orangtuanya tau semuanya Pa...?” tanya Aruna cemas.
“ Sampe detik ini mereka belum tau apa-apa Nak...,” sahut Arka.
“ Apa Papa berencana ngasih tau mereka tentang rahasiaku itu Pa...?” tanya Aruna.
“ Papa hanya bakal ngasih tau Kautsar tapi orangtuanya ga perlu tau...,” sahut Arka.
“ Kapan Papa bakal ngasih tau Kautsar...?” tanya Aruna.
“ Setelah Kalian menikah dong...,” sahut Arka cepat.
__ADS_1
“ Gimana kalo Kautsar ketakutan bahkan membenciku...?” tanya Aruna sambil menggigit bibir.
“ Insya Allah itu ga akan terjadi Nak...,” sahut Diana sambil memeluk Aruna erat.
“ Kenapa Mama seyakin itu...?” tanya Aruna.
“ Karena Kami melihat cinta di mata Kautsar untukmu Nak. Dan Kami percaya Kautsar akan menjagamu dengan baik bahkan mungkin membantu mencari solusi yang terbaik untukmu...,” sahut Diana sambil tersenyum.
Arka mengangguk dan itu membuat Aruna terkejut. Sesaat kemudian Aruna membenamkan dirinya ke dalam pelukan Diana seolah ingin menenggelamkan perasaannya yang kacau saat itu.
\=====
Di dalam mobil yang membawa keluarga Ahmad terlihat Kautsar yang duduk di kursi tengah sambil membisu. Di sampingnya Hardini duduk dengan santai sambil memejamkan mata.
Tak lama kemudian mobil tiba di sebuah penginapan. Ahmad membawa keluarganya masuk ke dalam kamar yang telah disewanya. Setelah membersihkan diri mereka melanjutkan pembicaraan yang tertunda tadi.
“ Duduk lah Nak. Ayah tau Kamu punya banyak pertanyaan di kepalamu itu...,” kata Ahmad sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
“ Ada apa ini Yah, kenapa memintaku menikah. Aku baru aja lulus...,” kata Kautsar gusar.
“ Lho apa salahnya, Kamu kan juga udah bekerja dan punya penghasilan. Jadi Aruna ga akan kelaparan jadi Istrimu. Iya kan...?” tanya Ahmad sambil tersenyum.
“ Emangnya Kamu ga suka sama Aruna. Dia itu paket komplit lho Nak, cantik, pinter, sopan dan taat beragama. Apa lagi yang Kamu cari sih...?” tanya Hardini setengah kesal.
“ Bukan itu masalahnya Bu...,” sahut Kautsar.
“ Terus apa...?” tanya Hardini tak mengerti.
“ Aku khawatir Aruna marah dan membenciku Bu...,” sahut Kautsar sambil mengacak rambutnya.
“ Kamu ga perlu khawatir, Om Arka dan Tante Diana janji bakal ngasih pengertian sama Aruna kok...,” kata Ahmad cepat.
“ Tapi...,” ucapan Kautsar dipotong cepat oleh sang ibu.
“ Apalagi sih Nak, Kamu khawatir ditolak sama Aruna ya ?. Jangan ngaco Kamu ya. Mana ada perempuan yang bisa nolak pesona anak Ibu yang ganteng ini...!” kata Hardini bangga.
“ Ck, Ibu nih kepedean banget sih...,” sergah Kautsar.
“ Lho apa yang Ibu bilang tadi emang bener kan...?” tanya Hardini.
“ Ga seratus persen ya Bu. Buktinya Aruna dulu nolak Aku dan Kami sempet musuhan bertahun-tahun...,” sahut Kautsar.
“ Itu kan dulu. Sekarang Kalian kan udah berdamai. Buktinya Kalian mau jalan bareng meski pun ditemenin banyak orang...,” kata Hardini tak mau kalah.
Kautsar hanya menghela nafas panjang karena kalah berdebat dengan sang ibu. Kemudian Kautsar beranjak keluar dari kamar meninggalkan Ahmad dan Hardini yang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Kautsar mencoba menenangkan diri sambil menatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam itu. Sejujurnya ia tak menolak perjodohan yang diatur oleh orangtuanya karena ia memang mencintai Aruna diam-diam. Namun saat mengingat wajah Aruna yang mengeras saat mendengar niat orangtua mereka tadi membuat Kautsar sedikit ragu.
Bersambung